
"Brengsek, sialan!" Sabrina terus mengumpat. Ia masih sangat kesal pada lelaki itu. "Berani sekali dia menciumku, dia pikir dia siapa huh?"
Gadis itu berjalan menuju studionya dengan langkah cepat. Kemudian mengambil lukisan lelaki itu dan meletakkan dengan kasar di atas easel. Lalu mengambil kuas dan cat.
"Hey, kau. Kau itu sangat brengsek. Wajahmu saja yang tampan, tapi kau tidak punya sopan santun. Dan apa kau bilang tadi? Kau ingin menikah denganku kan? Sampai kau kejar ke neraka pun aku tak akan sudi. Mati saja kau, Alfarez. I hate you." Sabrina mencoret wajah itu sampai tak berbentuk. Hatinya benar-benar puas karena sudah melampiaskan kekesalannya pada lukisan itu.
"Huh, andai saja itu wajah aslimu. Aku akan mencakarmu sampai wajah tampanmu itu menjadi buruk rupa. Cih, mengingat wajahnya saja membuatku muak." Timpalnya sembari menendang easel sampai lukisan itu terjatuh. Kemudian ia pun beranjak pergi dari sana.
Sabrina menjatuhkan diri di atas pembaringan setelah berganti pakaian. Menatap langit-langit kamar cukup lama. Hingga suara deringan ponsel berhasil menariknya dari lamunan. Dengan malas ia bangun dari posisinya, mengambil ponsel di atas meja belajar. Alisnya terangkat sebelah saat melihat nama orang yang paling ia hindari ada dilayar ponselnya, yaitu Ibu tirinya. Dengan malas ia menggulir tombol hijau. Lalu meletakan ponsel ditelinga.
"Halo."
"Hey anak haram!" Sabrina memejamkan mata saat mendengar hinaan yang sudah lama tak ia dengar. Dan perlahan mata indah itu terbuka kembali.
"Ada apa?" Tanyanya datar.
"Cih, sungguh penghinaan saat aku memutuskan untuk menghubungimu. Tapi tidak apa, aku juga membutuhkanmu saat ini. Eh anak haram, besok pulang ke L.A. Aku dan suamiku sudah menjodohkanmu dengan salah satu pengusaha besar asal New York. Meskipun usia lelaki itu tak muda lagi, tapi dia masih terlihat tampan. Cepat pulang, kau harus tahu balas budi sedikit. Jangan terus menyusahkan Daddymu."
Sabrina sama sekali tidak terkejut mendengar itu, karena sudah sangat sering Ibu tirinya itu berbuat sesuka hati padanya. "Jodohkan saja lelaki itu dengan putrimu. Aku tidak butuh lelaki kaya. Aku sudah punya kekasih." Sahut Sabrina asal.
"Kurang ajar. Jika besok kau tidak pulang, jangan harap kau akan mendapatkan uang dari Daddymu."
"Terserah." Sabrina hendak menutup telepon itu. Namun ia urungkan niatnya saat mendengar suara berat milik lelaki yang amat ia cintai. Sudah tiga tahun lebih ia tak pernah mendengar suara itu lagi.
"Dad." Suara Sabrina mendadak bergetar.
"Sab, apa kabarmu?"
"Ba__baik, Dad. Daddy bagaimana?" Sabrina berjalan menuju ranjang, duduk di sana dengan perasaan berkecamuk.
"Daddy baik-baik saja, bagaimana kuliahmu di sana? Daddy dengar kau sudah hampir menyelesaikannya huh?" Suara lembut itu berhasil membuat hatinya menghangat.
"Ya, Dad."
"Besok... bisa tidak kalau kamu pulang?"
Sabrina terdiam sejenak. "Jadi perjodohan itu sungguhan, Dad?"
"Ya. Maafkan Daddy, Sab. Daddy terpaksa melakukan ini, perusahaan diambang kehancuran karena adikmu menipu seseorang yang berpengaruh di L.A. Hanya lelaki itu yang bisa membantu kita, dan dirimu yang bisa membantu Daddy. Kau tahu kan Queen masih seperti anak kecil."
Buliran air bening menetes begitu saja dari pelupuk matanya. "Bagaimana jika aku menolak, Dad?"
Tidak ada sahutan di sana.
"Dad?"
"Sab, apa kau sudah punya kekasih?"
Pertanyaan itu berhasil membuatnya kalah telak. Namun tiba-tiba bayangan Arez melintas begitu saja dalam pikirannya.
Jadilah istriku.
Jangan terlalu percaya diri, aku membutuhkan seorang wanita untuk menghindari perjodohan. Jadilah istirku selama satu tahun, setelah itu kau bebas memilih hidupmu.
"Ya, Dad. Dan kami sudah merencanakan pernikahan." Jawabnya dengan cepat. Sebenarnya Sabrina tak tega harus berbohong pada Daddynya. Hanya saja ia belum siap untuk menikah, apa lagi menikahi lelaki tua.
__ADS_1
Apa aku manfaatkan saja lelaki itu? Lagi pula dia mengatakan pernikahan itu hanya sementara. Aku juga tidak mau menikahi lelaki tua yang Daddy maksud. Huh, kenapa nasibku sangat persis seperti di novel-novel yang sering aku baca sih? Menyebalkan.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan itu padaku, Sab?"
"Apa Daddy pernah bertanya? Daddy tidak pernah ingin tahu kehidupanku kan? Sudahlah Dad, maaf aku tak bisa membantumu. Di sini sudah larut, aku sangat mengantuk. Aku mencintaimu, Dad." Perlahan Sabrina menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Tunggu, Sab."
Sabrina mendekatkan kembali ponselnya ke telinga. "Ada apa, Dad?"
"Jaga diri baik-baik, aku__ aku juga mencintaimu. Katakan pada Daddy jika kalian akan menikah, Daddy akan berusaha untuk datang. Daddy harap kamu selalu bahagia."
Sabrina terdiam, bahkan air matanya kembali menetes. Untuk pertama kalinya sang Daddy mengatakan cintanya. "I miss you, Dad."
"Miss you to, Honey. Sudah sana tidur, aku akan tetap mengirim uang bulanan untukmu."
"Thank you, Dad."
Tut! Sambungan pun terputus. Sabrina menjatuhkan ponselnya di atas ranjang. Dan seketika tangisannya pecah. "Maafkan aku, Dad."
Setelah puas menangis, Sabrina bangun dari posisinya. Beranjak mendekati sebuah potret wanita cantik yang terpajang di dinding kamarnya. "Mom, apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa semuanya serba kebetulan seperti ini?"
Ya, wanita dalam potret itu adalah mendiang Ibu Sabrina, yaitu Gebrina Elvara. Wanita hebat yang sudah melahirkan Sabrina dua puluh tahun lalu.
"Mom, apa aku terima saja tawaran lelaki brengsek itu? Dia memang sangat tampan, tapi menyebalkan. Bukankah dia lebih baik dari pada lelaki tua yang sama sekali tak kukenali? Berikan aku solusi Mom." Sabrina menatap wajah mendiang Ibunya lamat-lamat, wajah yang amat mirip dengannya.
"Ck, aku mengantuk." Gadis itu menguap. "Setelah ini aku tidak akan menangis lagi. Huh, jika sudah mendengar suara Daddy, air mataku selalu saja jatuh. Apa karena aku merindukannya? Mom, apa dulu kau mencintai Daddy? Jika kalian saling mencintai, kenapa Daddy menikahi orang lain? Ingin rasanya aku bertanya hal itu padanya, Mom. Tapi itu tidak mungkin, Daddy tidak pernah mau bicara panjang lebar saat bertemu denganku." Sabrina menghela napas berat.
"Mom, aku tahu Daddy mencintaiku. Tadi dia mengatakan itu, meski nadanya sedikit ragu. Buktinya dia terus memberikan fasilitas mewah padaku, tempat ini, makanan enak dan pakaian bagus. Semuanya pemberian Daddy, Mom. Hidupku selalu terjamin." Untuk yang kesekian kalinya gadis itu menguap.
"Good night, Mom." Ucapnya sebelum memejamkan mata. Beberapa detik kemudian gadis itu mulai terlelap.
****
"Cla." Sapa Alexella saat melihat Clara hendak masuk kelas. Clara dan Alexella memang kuliah di kampus yang sama dan jurusan yang sama.
Clara yang merasa terpanggil pun menoleh. "Ya, Xella?" Sahut Clara dengan senyuman ramah.
"Bisa kita bicara? Ah, maksudku kita bicara setelah kau selesai kelas. Aku akan menunggumu di kafe depan."
Clara terdiam sejenak. "Okay, kau tunggu saja di sana, nanti aku menyusul."
"Okay."
Seperti janjinya, setelah selesai kelas Clara pun bergegas menuju kafe di depan kampus untuk menemui Alexella.
"Hey, maaf membuatmu menunggu lama." Sapa Clara duduk di depan Alexella yang hanya terhalang meja bundar. Di sana juga sudah ada dua gelas minuman yang sengaja Alexella pesan.
"Tidak jadi masalah."
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Clara menatap Alexella penasaran. Kemudian menarik gelas minuman itu dan meminumnya sedikit.
"Ini masalah Kakakku" Jawab Alexella memberikan tatapan serius. Kening Clara pun mengerut kala mendengar itu.
"Ya? Kenapa dengan Kakakmu?"
__ADS_1
"Apa kau mencintainya?"
Deg! Clara terhenyak mendengar pertanyaan itu. "Em... kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Jawab saja pertanyaanku, apa kau mencintai Kakakku?" Tegas Alexella.
Clara menghela napas gusar dan tak langsung menjawabnya.
"Cla?"
"Jika aku mengatakan iya? Apa Kakakmu akan setuju? Aku rasa tak penting kita membahas masalah ini, Xella." Clara menatap Alexella sendu. "Aku tidak pernah berharap pada Kakakmu, aku tahu posisiku."
Alexella menarik tangan Clara, lalu menggenggamnya dengan erat. "Aku mengenalmu sejak kecil, aku percaya padamu. Perjuangkan cintamu, karena aku akan selalu mendukungmu. Aku tak akan membiarkan Kakakku jatuh dalam pelukan orang yang salah."
Clara tersenyum getir. "Kakakmu tidak pernah menyukaiku, untuk apa aku perjuangkan lagi? Biarkan dia memilih jalannya sendiri. Aku sudah membatalkan perjodohan itu." Clara menarik tangannya dari genggaman Alexella.
"Aku akan membantumu mendapatkan hatinya, Cla. Aku akan mengatur waktu agar kalian sering bertemu. Saat ini Kakakku sedang menjalankan projeck besar, peluncuran mobil sport terbaru. Aku akan merekrutmu menjadi brand ambassador. Aku harap kau setuju."
Clara terdiam, sama sekali tak berminat dengan tawaran Alexella.
"Manfaatkan kesempatan." Imbuh Alexella menatap Clara penuh harap.
"Baiklah, aku akan mencobanya." Putus Clara yang berhasil membuat Alexella bernapas lega.
"Syukurlah, aku akan menyelipkan namamu dalam daftar nama para model. Kau akan menjadi model utama. Kakakku akan menemui secara langsung."
Clara tersenyum tipis, kemudian mengangguk pelan.
Hah, aku harap kalian memang berjodoh. Aku tak ingin kau jatuh cinta pada orang yang salah, Kak. Biarkan aku membantumu kali ini.
Setelah kepergian Clara, Alexella pun hendak beranjak dari sana. Namun pergerakkannya tertahan karena ia melihat Jarvis memasuki kafe dengan seorang wanita cantik dan seksi.
Cih, dasar lelaki brengsek. Alexella pun melanjutkan niatnya untuk pergi dari sana. Dan sialnya ia harus melewati meja di mana Jarvis berada. Namun saat ia melewati meja itu, matanya tak sengaja bertemu dengan mata tajam Jarvis. Alexella terkejut dan langsung memutus pandanngan. Gadis itu mempercepat langkahnya untuk meninggalkan kafe.
"Baby, bukankah yang lewat tadi itu putri bungsu keluarga Digantara? Yang terkenal sombong dan angkuh. Cih, aku rasa tak akan ada lelaki yang berani mendekatinya. Aku saja takut melihat wajahnya yang dingin." Ujar wanita yang saat ini duduk di hadapan Jarvis.
"Kau benar, Sayang. Tidak akan ada lelaki yang berani mendekatinya, atau bahkan menyentuhnya." Kecuali aku. Lanjut Jarvis dalam hati.
"Huh, aku dengar dia sudah dijodohkan. Kasihan sekali lelaki itu. Pasti senjata lelaki itu langsung ciut saat malam pertamanya nanti." Imbuh sang wanita yang terlihat jelas tak menyukai Alexella.
Sialan! Kau mengataiku saat aku ada dihadapanmu. Apa katanya? Senjataku ciut saat malam pertama dengan Xella? Bahkan dia selalu bangun meski hanya melihat wajah cantik itu. Apa lagi melihat bagian lainnya. Sialan wanita ini. Jika tahu mulutnya sepedas ini tak akan aku pilih tadi.
"Baby, malam nanti kita main di apartementku saja ya? Aku tidak suka aroma hotel." Rengek wanita itu seraya menggenggam tangan Jarvis.
Cih, seleraku terhadapmu hilang setelah kau mengataiku.
"Sayang, aku minta maaf. Sepertinya malam ini aku tidak jadi menghabiskan malam denganmu. Aku lupa jika malam ini ada balapan." Jarvis menarik tangannya dari wanita itu. Tentu saja wanita itu merasa kecewa.
"Cih, katakan saja kau ingin bermalam dengan wanita lain kan?" Kesal wanita itu melipat kedua tangannya di dada.
"Ya... em maksudku tidak. Aku benar-benar harus mengikuti pertandingan. Jika kau tak percaya, ikut saja denganku."
"Tidak perlu, di sana sangat membosankan."
Huh, padahal aku bisa menjadikanmu taruhan. Lumayan juga jika kutukar dengan sebuah lambourghini. Pikir Jarvis.
__ADS_1
"Baiklah, lain waktu aku akan mendatangimu. Sekarang aku sangat lapar, mari makan." Ajak Jarvis saat kebetulan pesanan mereka sudah sampai. Lalu keduanya pun makan dalam kesunyian.