Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 31


__ADS_3

Sabrina menggeliat, membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan cahaya mentari yang mulai mengintip dibalik celah gorden. Ia bangun dari posisinya dan meregangkan ototnya yang terasa kaku.


"Apa dia sudah kembali?" Gumamnya yang langsung bangkit dari pembaringan dan melangkah pasti menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lebih dulu sebelum kembali beraktivitas. Ya, meski aktivitas itu lebih banyak di ranjang. Arez benar-benar memanfaatkan waktu bulan madu mereka dengan baik.


Usia berganti pakaian, Sabrina keluar dari kamar. Dan terus beranjak sampai depan rumah. Kemudian memutuskan untuk berdiri di dekat pintu pagar bercat biru. Bibirnya mengulas senyuman indah saat melihat pegunungan dan tepian laut yang mengelilingi kota Zurich. Indahnya pemandangan itu benar-benar membuat suasana hatinya menghangat. Dan ingin berlama-lama di sana.



"Aku pikir dia hanya bercanda ingin membawaku ke sini?"


"Dalam hidupku terlalu sukar untuk sekadar bercanda, Sayang." Sabrina terperanjat kaget karena Arez memeluknya secara tiba-tiba. Tangan kekar itu melingkar sempurna diperut rata Sabrina. Lalu memberikan kecupan di pundak sang istri yang tak tertutup kain karena wanita itu mengenakan pakaian dengan belahan dada yang randah.


"Jam berapa kau pulang? Kenpa tadi aku tak melihatmu? Aku pikir kau akan lama di sana. Bagaimana pestanya?" Sabrina berbalik, menatap Arez dengan senyuman yang mengembang.


"Membosankan, karena malam tadi aku tidak bisa menyentuhmu." Arez membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.



"Ck, aku tidak tahu kau semesum ini. Aku lapar, Al." Sabrina merengek dengan manja.


"Aku juga lapar, ingin melahapmu sampai habis." Bisik Arez membuat sebuah tanda di leher sang istri.


"Al, aku serius."


"Aku lebih serius, Sayang."


"Ck, aku akan pergi sendiri mencari makanan." Sabrina mendorong dada suaminya dan hendak pergi. Namun tangannya lebih dulu dicekal oleh Arez.


"Jangan membuatku marah, Sabrina. Aku benci penolakan." Ucap Arez datar nyaris tanpa ekspresi.


"Dan aku juga benci pemaksaan." Sinis Sabrina menepis tangan Arez kemudian bergegas pergi.


Arez menggeram kesal dan dengan langkah besar menyusul istrinya. Membawa wanita itu dalam gendongannya. Tentu saja Sabrina memekik kaget dan mengumpatinya.


"Sialan! Lepaskan aku, Al, apa yang akan kau lakukan? Ini masih pagi."


"You make me angry. And this is how you are going to pay it. Mengulang kembali pagi pertama kita." Arez merapatkan mulunya dan langsung membopong Sabrina ke dalam rumah.


"You crzy, Al. I hate you...."


"Itu lebih baik."


"Hah?" Sabrina benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepala suaminya. Ia juga terlihat pasrah saat Arez melemparnya di atas pembaringan. "Al, please. Aku sangat lapar."

__ADS_1


"Aku lebih lapar karena tidak mendapat jatah malamku. I want you now, Sabrina." Sahut Arez membuka kaos hitamnya.


"Al, bisa kita tidak melakukan ini satu hari saja? Aku ingin jalan-jalan dan menikmati pemdangan kota ini. Hampir setiap malam dan pagi kau memintanya. Aku lelah, kau selalu bermain kasar." Ocehan Sabrina sama sekali tak memengaruhi lelaki itu. Bukan Arez namanya jika tak mendapat apa yang diinginkannya.


"Al... please."


"Aku sudah memberimu waktu satu malam untuk bersantai." Bisik Arez tepat ditelinga Sabrina. Memberikan gigitan kecil di sana. Tanpa sadar Sabrina memejamkan mata.


"Mulutmu terus menolakku, tapi tubuhmu tak bisa menolaknya, Sayang." Bisik Arez lagi. Sabrian membuka matanya perlahan.


"Aku mohon, lembutlah." Sabrina memberikan tatapan memohon. Arez tersenyum penuh kemenangan. Tanpa banyak berpikir, ia melepaskan hasratnya yang terpendam. Dirinya selalu haus akan kehangatan sang istri. Ingin terus menyentuhnya lebih... dan lebih dalam lagi. Sabrina seolah menjadi candu untuknya. Semalaman penuh ia terus memikirkan istrinya. Dan dipagi hari ia baru bisa kembali ke Swiss karena sang Mommy memintanya untuk tinggal.


Sabrina mengatur napasnya setelah Arez menghabiskan waktu berjam-jam di atas dirinya. Ia memiringkan tubuhnya, menatap Arez yang sudah tertidur dengan posisi terlentang. Sabrina memberanikan diri menyantuh rahang tegas suaminya. "Apa kau tidur nyenyak malam tadi?" Tanyanya dengan mata yang sayu karena rasa lelah.


Arez mengubah posisinya menghadap sang istri, tetapi matanya masih tetap terpejam. "Tidak, kau tidak ada disisiku."


"Ck, jangan gombal." Sabrina membenamkan wajah di leher jenjang suaminya. Ia menyukai aroma maskulin Arez yang memabukkan.


"Jangan menggodaku, aku akan melahapmu kembali sampai kau tak bisa bergerak." Ancam Arez.


Sabrian menjauhkan wajahnya dari sana. "Ck, kau sangat pelit." Bibirnya terlihat mengerucut menandakan dirinya kesal. Namun Arez masih tertidur dengan sebelah tangan merengkuh pinggang ramping Sabrina.


"Al."


"Kapan kita pulang?"


Arez membuka matanya perlahan, dan tatapan keduanya saling mengunci satu sama lain.


"Besok aku wajib hadir ke kampus, ada event yang tidak boleh di lewatkan. Malam tadi dosenku terus menghubungi dan menanyakan keberadaanku. Aku tidak bisa mengabaikan tugasnya. Tugas akhirku harus selesai dalam bulan depan. Jika tidak, aku harus mengulang dari awal."


Arez mengecup bibir cerewet itu dengan lembut. "Kita akan pulang besok pagi."


Seketika senyuman di wajah wanita itu mengembang. "Terima kasih, Al." Arez menatap Sabrina sejenak, kemudian mata elang itu tertutup kembali.


"Al, kau melupakanku. Aku sangat lapar. Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu di luar? Aku belum puas berkeliling, kau selalu menyita waktu kita di ranjang. Aku bosan tahu."


"Biarkan aku tidur satu jam."


Sabrina terdiam. "Kau tidak tidur malam tadi huh?" Jemari lentik itu terus bergerak menyusuri setiap lekuk wajah tampan suaminya. "Kau sangat tampan, Al." Bisik Sabrina nyaris tanpa suara.


Sabrina tersenyum saat matanya terpatri pada bibir tipis Arez. Mengusap gumpalan daging kenyal itu dengan lembut. Mengecupnya sekilas sebelum matanya ikut terpejam.

__ADS_1


***


"Kau tidak makan?" Tanya Sabrina dengan mulut yang hampir penuh. Ia merasa heran karena sejak tadi Arez tak menyentuh makanannya. Padahal hidangan kali ini benar-benar lezat menurutnya, mungkin karena efek lapar.


Arez tidak menjawab dan terus memperhatikan istrinya yang lahap.


"Oh iya, Al. Aku punya kabar gembira." Sabrina menghentikan makannya sejenak. "Lukisanku masuk dalam kategori pertama. Setengah jam yang lalu Mr. A mengirim pesan padaku, jika karyaku memenangkan kontes. Aku sangat bahagia." Pekiknya dengan pancaran kebahagian penuh. Sabrina kembali melanjutkan makannya karena perutnya masih lapar.


Arez tersenyum tipis. Ia merasa bangga karena bisa membuat wanitanya sebahagia ini.


"Aku akan menyumbangkan uang itu ke panti asuhan. Anak-anak pasti senang karena aku akan membelikan mereka kasur baru, pakaian baru, mainan baru dan tentunya suasana yang baru."


"Panti asuhan?" Arez mengerut bingung.


"Hm. Sudah beberapa bulan aku mengajari mereka melukis. Mereka sangat menggemaskan. Sesekali kau harus bertemu mereka."


"Tidak, aku benci anak kecil. Mereka membuat gendang telingaku pecah."


Sabrina melotot saat mendengar itu. "Mereka itu menggemaskan tahu? Kau saja yang terlalu introvert." Sabrina memutar bola matanya malas.


"Jika kau menyukai anak kecil, kita bisa membuatnya banyak-banyak." Kata Arez dengan entengnya.


Sabrina terkekeh geli mendengar itu. "Kau pikir melahirkan anak itu semudah membuka dan menutup mata huh? Aku dengar itu sangat menyakitkan. Aku sendiri tak bisa membayangkannya."


Arez menatap istrinya lamat-lamat.


"Al, apa kau ingin memiliki anak denganku?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Sabrina. Dan seperti biasa Arez tak menjawabnya.


"Hah, mana mungkin kau ingin memiliki anak dengan wanita sepertiku kan? Aku...."


"Keturunanku hanya akan lahir dari rahimmu, Sabrina."


Sabrina terdiam mendengar itu. "Al, kau...."


"Lahirkan penerus untukku." Potong Arez tanpa ragu.


"Kenapa aku, Al?" Tanya Sabrina dengan tatapan sendu.


"Karena kau istriku."


Dan etah mengapa Sabrina kecewa dengan jawaban Arez. Bukan itu yang ingin ia dengar, tetapi hal lain. Entahlah, ia sendiri tidak tahu apa yang ia harapkan dari lelaki itu?

__ADS_1


"Habiskan makananmu, setelah ini kita berkeliling seperti keinginanmu."


Sabrina tersenyum samar, kemudian mengangguk pelan. Semangatnya mendadak hilang.


__ADS_2