
Jarvis melempar sebuah surat kabar tepat di hadapan Alexella. Lelaki itu memberikan tatapan tajam pada istrinya. Kemudian duduk di sofa dengan gaya sensual.
Alexella menatap surat kabar itu dengan seksama. Di sana terdapat sebuah berita panas tentang seorang model ternama terlibat scandal dengan lelaki tua di sebuah hotel mewah. Keduanya terpergok sedang memadu kasih, dan lekaki ini sudah beristri.
Alexella langsung menatap suaminya. "Kenapa kau menunjukkan ini padaku? Bukankah model ini yang pernah bercinta denganmu? Cih, ternyata seleramu murahan."
"Oh ya? Aku tak percaya kau mengingat wajah wanita itu. Bahkan aku saja lupa." Ujar Jarvis memberikan tatapan intimidasi.
"Tentu, ingatanku masih bagus." Sahut Alexella dengan santainya.
Jarvis tersenyum sinis mendengar itu. "Jadi kau tidak tahu scandal ini huh?"
"Nope." Jawab Alexella dengan cepat. Ia juga memalingkan wajahnya dari Jarvis.
"Kau cemburu padanya, Xella?"
Alexella sama sekali tak merespon.
"Kau tahu siapa lelaki tua yang kau jebak itu, Xella? Dia adalah ketua gangster. Saat ini mereka sedang mencari orang yang sudah menjebaknya. Karena kasus ini dia kehilangan istrinya, mereka bercerai." Jelas Jarvis yang berhasil membuat Alexella kaget.
"Ketua gangster?"
"Ya, kau dalam zona bahaya Xella."
Sialan kau Cla. Dasar bodoh, bagaimana bisa dia melibatkan orang berbahaya.
"Aku tidak tahu apa-apa." Sahut Alexella dengan nada dingin.
"Jangan menutupi apa pun dariku, aku tahu semuanya, Xella. Kau mengecam Clara dan memintanya untuk menjebak wanita itu. Rasa cemburu itu menarikmu dalam jurang kematian, Xella."
"Dan kau senang kan kalau aku mati? Kau tak perlu bertanggung jawab atas anak ini dan diriku. Kau jahat, Jarvis. Kau pikir aku tidak tahu, kau akan menaruh obat peluruh kandungan diminumanku kan? Aku tahu itu Jarvis. Kau biadab dan tak punya hati Jarvis." Sarkas Alexella bangun dari posisinya. Kilatan amarah terlihat jelas di matanya. Sedangkan Jarvis terkejut dengan ungkapan istrinya. Ia tak pernah menyangka Alexella tahu rencananya.
"Kau jahat, Jarvis. Aku membencimu. Jika kau tak menginginkan aku, kenapa kau tak menolak perjodohan itu huh? Kenapa Jarvis?" Timpal Alexella yang sudah dikuasi emosi.
"Karena aku mencintaimu, Xella." Jawab Jarvis dengan nada tinggi.
Alexella berdecih mendengar itu. "Cinta? Jika kau mencintaiku, kau tak akan tega membunuh anak kita, Jarvis. Cinta seperti apa yang kau maksud huh? Kau hanya cinta tubuhku." Bentak Alexella kemudian menyentuh perutnya yang kram.
"Xella." Jarvis hendak menyentuh Alexella. Namun wanita itu langsung menghindar.
__ADS_1
"Jangan dekati aku, biarkan aku pergi." Alexella beranjak dari kamar suaminya. Ya, sejak kemarin mereka memang tinggal di mansion keluarga Schwarz. Gerald yang meminta mereka untuk tinggal di sana.
Alexella terus malangkah cepat, mengabaikan Vanessa yang menatapnya bingung.
Kenapa dia? Bertengkar lagi? Huh, aku harap dia tak akan kembali lagi ke sini. Vanessa tersenyum miring seraya menatap kepergian Alexella.
"Honey," sapa Gerald saat berpapasan dengan menantunya. Namun Alexella sama sekali tak peduli. Wanita itu mempercepat langkahnya meninggalkan mansion.
"Ada apa lagi ini? Apa si brengsek itu membuat ulah?" Gerald memijat keningnya dengan lembut. Ia benar-benar bingung harus bersikap seperti apa lagi pada putra semata wayangnya itu.
****
Di lain tempat, lebih tepatnya di apartemen Arez. Sabrina terlihat gusar dengan ponsel yang menempel di telinganya.
"Sab, aku tahu siapa yang menjebakmu. Lelaki itu, lelaki yang kau lihat bersamaku tempo lalu. Dialah orangnya. Dia menipuku, Sab. Orang itu ingin menjadikan kita kambing hitam. Mereka sedang mengejarku, Sab. Dia juga memberikan nama palsu padaku. Aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Yang jelas dia bermarga Digantara. Mereka masih keluarga suamimu."
"Deena, kau di mana sekarang? Katakan padaku." Sabrina semakin panik saat mendengar suara tembakan dari balik telepon.
"Sab, mereka akan segera menangkapku. Target selanjutnya anak bungsu mertuamu, Sab. Aku tak sengaja mendengar percakapan mereka. Kau harus menghubungi suamimu. Akh...."
Suara Deena pun menghilang bersamaan dengan suara dentuman yang kuat.
"Ya Tuhan, apa lagi ini?" Dengan gemetar Sabrina mencoba untuk menghubungi Arez. Namun ponsel lelaki itu tak bisa dihubungi. "Please, Al. Kau di mana? Apa yang harus aku lakukan sekarang."
Sabrina menekan tombol end, kemudian menghubungi Alexella langsung. Beruntung ia sempat meminta nomor ponsel Alexella pada Arez. Sabrina menggingit ujung jarinya saat terdengar nada sambung.
"Halo."
"Halo, Xella. Ini aku, Sabrina."
"Kau! Mau apa kau menghubungiku?"
"Dengarkan aku dulu, Xella. Kau harus percaya padaku. Ada seseorang yang sedang menargetkanmu. Kau di mana sekarang?" Ungkap Sabrina dengan nada cemas.
"Aku akan percaya jika yang menargetkanku tak lain adalah dirimu. Jika kau berani, muncul di depanku dan lawan aku dengan tanganmu sendiri. Jangan jadi pengecut." Tukas Alexella.
Sabrina memejamkan mata saat mendengar tuduhan itu. "Xella, aku bersungguh-sungguh. Seseorang telah menargetkanmu."
"Omong kosong."
__ADS_1
"Kau di mana sekarang?"
"Ada apa? Kau ingin membunuhku sekarang huh? Akan aku terima tantanganmu, datanglah ke pemakaman keluargaku sekarang juga." Pungkas Alexella yang langsung memutuskan panggilan. Sabrina menggeram kesal.
"Nona, saatnya makan siang." Seru seorang wanita dari arah luar. Wanita itu tak lain adalah suster titahan Arez yang bertugas untuk menjaga Sabrina.
"Masuk." Titahnya seraya duduk di ranjang. Kemudian tak lama suster itu menyembul dari balik pintu dengan sebuah nampan berisi makanan yang khusus di sediakan untuk Sabrina. Wanita itu meletakkan nampan di nakas.
Entah bagaimana ide gila itu muncul. Sabrina bangun dari posisinya dan langsung memukul tengkuk wanita itu sampai jatuh pingsan. Dengan susah payah ia mengangkat wanita itu ke atas ranjang. Dan dengan gerak cepat ia melucuti pakaian wanita itu dan segera memakaianya. Tanpa banyak berpikir, Sabrina keluar dari kamar. Kemudian mencari hoodie wanita itu dan memakai makser.
Sabrina menghela napas panjang sembelum membuka pintu. Setelah mendapat keberanian penuh, ia pun bergegas keluar dari apartemen. Sabrina sempat berdebar karena takut ketahuan oleh para penjaga. Namun keberuntungan berada di pihaknya karena para penjaga itu sama sekali tak menaruh curiga. Sabrina pun berjalan santai menuju lift. Lalu menghela napas lega karena dirinya bisa berhasil lepas dari penjara itu.
"Jangan salahkan aku mengabaikanmu, Al. Kau sendiri yang lebih dulu mengabaikanku. Aku harus membuktikan diriku tak bersalah." Sinisnya seraya membuka pakaian suster itu. Lalu menggantinya dengan hoodie kebesaran milik suster tadi. Untuk yang kesekian kalinya ia menghela napas gusar.
Beberapa menit kemudian, Sabrina benar-benar mendatangi pemakaman keluarga Digantara. Manik kelabunya itu terus bergerak menyelisik ke setiap penjuru tempat. Namun ia tak melihat keberadaan Alexella.
Klik!
Tubuh Sabrina membeku saat sebuah benda menempel dengan sedikit tekanan di punggungnya.
"Jadi kau benar-benar datang huh?"
"Xella, apa yang kau lakukan?"
"Membunuhmu."
"Dengarkan aku dulu, Xella. Seseorang sedang mengincarmu. Kau harus lebih waspada, karena itu aku datang ke sini." Jelas Sabrina berusaha meyakinkan Alexella.
"Apa aku harus percaya pada pembunuh sepertimu huh?" Alexella semakin menekan benda itu. "Dalam hitungan detik, aku pastikan kau akan ikut berbaring di sebelah Daddyku."
"Xella, aku bukan pembunuh. Kau harus percaya. Aku tahu siapa pembunuh sebenarnya."
Perlahan Alexella menjauhkan benda itu, kemudian berdiri di hadapan Sabrina. "Katakan siapa?"
"Aku tidak tahu pasti, tapi dia bermarga Digantara. Dia masih satu keluarga denganmu?"
"Ah, jadi kau ingin mengadu domba keluargaku?" Alexella langsung melayangkan tatapan membunuh pada Sabrina.
"Tidak, bukan itu. Aku benar-benar tidak berbohong. Lelaki itu, aku tidak tahu pasti siapa namanya. Deena, dia sahabatku. Dia yang tahu siapa lelaki itu. Tapi saat ini di sedang dalam bahaya. Percayalah padaku, Xella. Dan saat ini kaulah target selanjutnya."
__ADS_1
"Bukan aku, Sabrina. Tapi kaulah target selanjutnya." Alexella tersenyum miring seraya menekan pelatuk. Dan beberapa detik kemudian Sabrina ambruk ke tanah. Beberapa orang berpakaian hitam pun muncul dan langsung membawa Sabrina ke sebuah mobil hitam.