Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 38


__ADS_3

"Makanlah," perintah Alex saat melihat Sweet yang hanya memandangi makanan di hadapannya. Ya, saat ini mereka sudah berada dalam ruangan Alex. Dalam perjalanan tadi, Alex sengaja berhenti untuk membeli lunch box dan berniat untuk menikmati hidangan bersama Sweet.


"Apa perlu aku yang menyuapimu?" timpal Alex saat tak mendapat respon dari Sweet. Dengan kesal, Sweet pun langsung menyantap hidangan. Bukan menu makanan yang membuatnya tak selera makan, tapi sikap Alex yang selalu berubah setiap detik membuatnya enggan untuk berdekatan dengan lelaki itu.


"Anna, apa kau membenciku?" Pertanyaan itu berhasil mencuri perhatian Sweet. Gadis itu langsung berhenti makan, menatap Alex penuh intimidasi. Namun tidak berniat untuk mengeluarkan suara.


"Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak," ucap Alex frustrasi karena tak kunjung mendapat jawaban. Sedangkan Sweet, ia memilih untuk melanjutkan makan. Membuat kesabaran Alex semakin menipis. Beruntung ia bisa meredam rasa kesal dihatinya.


"Kau diam, itu artinya kau tidak membenciku. Aku rasa tidak sulit mendapatkan hatimu," perkataan Alex membuat Sweet tersedak. Dengan tergesa Sweet mengambil air mineral dan meneguknya perlahan. Melihat itu, Alex tersenyum geli. Rasa kesal tadi pun meluap begitu saja.


"Tidak buruk memiliki istri kecil sepertimu." Kali ini Alex benar-benar mendapatkan tatapan membunuh diri Sweet. Gadis itu bangun dari kursi dan bergegas untuk pergi meninggalkan ruangan Alex. Jika lebih lama di sana, mungkin bisa mati berdiri.


"Berhenti di tempatmu," perintah Alex. Namun tidak menggoyahkan pendirian gadis itu. "Mari kita mulai dari awal?"


Langkah kaki Sweet tertahan, lalu berbalik untuk menatap lelaki yang selalu membuat perasaannya tak karuan. Kemudian gadis itu pun mulai bersuara.


"Maaf, Tuan. Bukankah sejak awal kita memang sudah masuk dalam sebuah permainan? Permainan yang tidak akan pernah ada akhirnya, kecuali dengan perpisahan."


Alex tersenyum, berjalan mendekati Sweet dengan langkah lebar. Sweet tetap diam, membiarkan Alex menyapu jarak di antara mereka. Tangan besar milik Alex terulur untuk menyentuh helaian rambut Sweet. Namun gadis itu tampak mengelak. Alex kembali menjatuhkan tangannya, namun matanya masih mengunci netra coklat milik Sweet.


"Ini sudah waktunya untuk bekerja, selamat siang Tuan Digantara." Sweet berbalik dan hendak menyentuh handle pintu. Namun tangan kekar Alex lebih dulu melingkar di perutnya. Lelaki itu memeluk erat tubuh ramping Sweet. Membuat sang pemilik membeku di tempat.


"Aku tidak pernah berbohong dengan ucapanku, mari kita mulai dari awal.


Aku akan mengurus pernikahan kita, dan tidak akan ada lagi lelaki yang melirikmu selain aku."


Hah, apa dia sudah gila? Itu bukan memulai dari awal namanya, bilang saja kau tidak mau mainanmu ada yang merebut. Sungguh kekanakan.


"Maaf, aku harus bekerja." Sweet melepaskan diri dari Alex dan langsung bergegas pergi. Sedangkan Alex memasang senyuman mautnya.


Tidak ada penolakan? itu artinya dia memberikan lampu hijau. Yah, aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dari tanganku. Apa pun yang sudah menjadi milikku, tidak akan pernah aku lepas. Alex tertawa riang, beruntung ruangannya kedap suara, jika tidak ia akan dianggap gila oleh para karyawan yang mendengar.


***


"Sweet, kau tidak pulang?" tanya Adeline muncul dari balik pintu. Sweet menoleh, kemudian ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Ia cukup kaget saat melihat jam kerja sudah habis satu jam yang lalu.


"Ah, thank you, Adel." Ucap Sweet pada Adeline yang telah mengingatkan dirinya. Ia pun bergegas merapikan berbagai dokumen yang berserakan di meja. Sedangkan Adeline berdiri di ambang pintu.


"Kau tahu? Tuan sudah keluar setengah jam yang lalu. Kantor juga hampir tutup, beruntung aku melihatmu terlebih dahulu. Jika tidak aku akan terkunci di sini sendirian," omel Adeline yang menyaksikan kesibukan rekan kerjanya. Sweet melirik gadis itu sekilas. Adel mulai terbiasa dengan sikap cuek Sweet, jadi tidak heran jika ia lebih banyak bicara dan mengabaikan sifat dingin Sweet.


"Hey, kau pulang dengan siapa?" tanya Adel merasa heran. Alex sudah pulang lebih dulu, lalu Sweet dengan siapa? Pikirnya.


"Aku masih punya dua kaki," sahut Sweet. Lalu mereka pun bergerak meninggalkan kantor setelah mematikan lampu ruangan.


"Hey, aku penasaran dengan hubungan kalian? Apa kalian baik-baik saja?" tanya Adel tidak berhenti bicara. Sedangkan Sweet masih seperti biasa, ia tetap bungkam jika ditanya mengenai hubungannya dengan Alex. Saat ini mereka sudah sampai di lobi perusahaan.


"Jika ada masalah jangan terlalu berkepanjangan, cepat selesaikan dan kembali pokus untuk membuat Alex Junior. Membayangkannya saja seperti ingin terbang," ujar Adeline tanpa rasa malu. Berbeda dengan Sweet, seluruh bulu kuduknya berdiri mendengar perkataan Adeline. Alex Junior? Hah, sama sekali tidak ada dalam bayanganku. Sweet bergumam dalam hati.


"Hey, bukankah itu mobil suamimu? Ya tuhan, aku tidak pernah menyangka jika Tuan begitu romantis. Eh tunggu, dia keluar." Adeline begitu antusias saat melihat Alex keluar dari mobil. Bahkan mulut gadis itu terbuka lebar saat melihat Alex membawa sebuah buket bunga yang cukup besar. Sweet, ia masih terdiam sambil terus menatap Alex.

__ADS_1


Apa yang dia Lakukan?


"Sweet, sepertinya aku harus pulang lebih dulu. By honey, aku rasa Alex junior akan segera hadir," ujar Adeline yang langsung pergi. Sweet hendak menahan wanita itu, namun langkahnya begitu cepat, dalam hitungan detik sudah menghilang. Ia pun memilih untuk menghampiri Alex dengan langkah pasti.


"Apa kau lelah?" tanya Alex tersenyum manis. Sweet cukup kaget dengan sikap manis lelaki itu. Mungkinkah ini hanya jebakan?


"Aku harap kau menyukai ini, aku tidak tahu bunga apa yang kau suka. Jadi aku memilih mawar merah, kebanyakan wanita menyukai ini." Alex memberikan buket mawar pada Sweet. Bohong jika Alex tidak tahu bunga kesukaan Sweet, ia bukan tipe lelaki yang peka pada pasangan. Alex sengaja mencari tahu bunga kesukaan Sweet dari Grace, tentu melalui Josh yang notabennya kekasih Grace.


Gadis itu sempat terdiam dan merasa ragu untuk menerima pemberian Alex.


"Ambil ini, jika kau tidak menyukainya kau bisa membuang ini di tong sampah." Timpal Alex memberikan buket itu secara paksa. Sweet menatap buket itu nanar. Ia menyukai bunga itu, tapi masih ragu dengan sikap Alex yang kapan saja bisa berubah.


"Masuklah, ini hampir malam." Alex membukakan pintu untuk Sweet. Lagi-lagi Sweet terdiam, bingung dengan perubahan sikap Alex. Sweet hanya takut lelaki itu sedang melakukan permainan dan menjebaknya dalam jurang kehancuran. Setelah lama berpikir, ia pun masuk ke dalam mobil. Seulas senyuman terbit dari sudut bibir Alex, senyuman yang begitu penuh arti.


Seperti biasa, Sweet memilih diam selama perjalanan. Sejak tadi ia hanya sibuk memandangi keindahan langit jingga di kota Berlin. Perlahan Awan gelap mulai menggantikan sang senja. Sesekali terdengar helaan napas Sweet. Alex mencuri pandang pada gadis di sampingnya.


"Malam ini kita makan di luar," ucap Alex membuka suara. Sweet menoleh, menatap Alex penuh curiga.


"Hanya makan malam, siang ini kau tidak banyak makan. Aku tidak mau kau sakit dan membuatku cemas," ujar Alex memasang senyuman mautnya. Sweet yang mendengar itu terperangah. Seperti melihat sosok orang lain dalam dirinya? Apa dia sadar, atau mungkin kerasukan? Pikir Sweet.


"Tidak perlu menatapku seperti itu," lanjut Alex masih pokus menyetir. Entah setan apa yang merasukinya, hingga memutuskan untuk mengendarai mobil sendiri. Biasanya kemana pun ia pergi akan membawa seorang driver.


"Sebaiknya kita pulang," tolak Sweet datar tanpa ekspresi. Tidak ada yang spesial dari kelembutan Alex. Permainan yang selalu Alex mainkan membuat gadis itu selalu waswas. Alex begitu pandai membuat orang terbang setinggi langit, dan dengan mudahnya menghempas kembali tanpa rasa belas kasihan.


"Tidak, aku tidak yakin kau akan makan di Mansion saat Kakakku masih ada di sana. Lebih baik dengarkan perkataanku," timpal Alex menolak sanggahan Sweet.


Ya tuhan, kenapa dia begitu cerewet hari ini? Apa ini sifat aslinya? Aku tidak percaya itu, semua orang tahu jika lelaki ini adalah iblis.


"Stop!" Tanpa sadar Sweet menempelkan jari telunjuknya di sudut bibir Alex. Membuat lelaki itu membeku seketika, desiran hangat mengalir deras hingga ke jantung. Dunia seakan berhanti bergerak dan beribu kelopak bunga bertaburan di sepanjang jalan.


Cup!


Dengan sengaja Alex mengecup jari telunjuk Sweet yang masih menempel di sana. Sontak sang pemilik pun kaget dan menarik kembali tangannya. Sweet juga tidak sadar dengan apa yang ia perbuat. Tubuh dan hatinya seakan berlainan arah.


"Aku ingin kecupan seperti pagi tadi," pinta Alex yang kembali membuat Sweet terhenyak. Seketika pipinya merona, kejadian pagi tadi kembali menggerayangi ingatannya. Dengan cepat Sweet memalingkan wajah.


Hah, jadi pagi tadi dia sadar? Ya ampun, apa yang aku lakukan? Dasar bodoh kau Sweet. Gerutu Sweet dalam hati, ia benar-benar mengutuk kebodohannya sendiri.


"Kau sangat manis saat sedang malu, aku suka itu."


"Berhenti bicara, aku bosan mendengar ocehanmu." Sweet terlihat kesal. Bagaimana tidak, ia harus menahan rasa malu, tetapi Alex malah mengoloknya.


"Istriku, aku menyukai semua yang ada dalam dirimu."


"Aku bukan istrimu, berhenti bicara."


"Istriku, meski tidak tercatat dalam agama. Kau tetap istriku di mata hukum, aku sudah memastikan itu. Akta pernikahan kita asli, jadi aku suami aslimu."


"Itu tidak adil, aku tidak setuju menikah denganmu." Sweet semakin dibuat kesal oleh Alex. Lelaki itu sepertinya menemukan titik kesenangan baru dari sang gadis.

__ADS_1


"Cukup adil, kau istriku dan aku suamimu. Aku milikmu dan kau milikku, adil bukan?" celetuk Alex tanpa rasa ragu.


"Sudah aku katakan berhenti bicara, aku bukan Istrimu!" kali ini Sweet benar-benar marah. Ia memiringkan tubuhnya, menghadap ke arah Alex. Lalu ia pun berusaha melepas cincin pertunangan mereka, tetapi sayang sekali cincin itu tidak dapat di lepas. Alex yang melihat itu tertawa lepas.


"Kau tidak akan bisa melepaskan itu tanpa izin suamimu, Sayang."


"Berhenti bicara," ketus Sweet. Ia masih terus berjuang untuk melepas cincin itu. Namun hasilnya tetap sama, cincin itu begitu sulit untuk di lepas. Entah apa yang Alex lakukan pada cincin itu?


"Berhenti melakukan itu, kau akan terluka. Jatuh cintalah padaku, maka cincin itu akan menyatu dengan hatimu dan mudah kau kendalikan."


Sweet mendengus kesal mendengarnya, jari manisnya terlihat memerah. Ia menyerah, membiarkan benda itu tetap di sana.


Beberapa menit kemudian, mereka pun tiba di sebuah restoran mewah. Sweet tampak bingung saat tidak menemukan seorang pun di sana. Apa mungkin tempat ini sudah tutup? Tapi kenapa para pelayan masih berdiri di depan pintu? Pikirnya.


"Aku memesan tempat ini khusus untuk kita," ujar Alex tersenyum bangga. Sweet cukup terkejut mendengar itu. Alex sangat berlebihan, pikirnya.


Ah, aku hampir lupa. Lelaki ini pasti tidak ingin orang lain mengetahui hubungan tidak jelas ini. Dia pikir aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirkannya, huh menyebalkan. Gerutu Sweet dalam hati.


Sebuah meja bulat telihat begitu indah yang didekorasi dengan bunga mawar merah, hampir semua alat makan dan hiasan di sana berwarna merah dan hitam. Tidak lupa sepasang lilin ikut serta menemani. Merah adalah warna kesukaan Sweet, dan hitam merupakan warna andalan Alex. Lelaki itu dengan sengaja menggabungkan keduanya.


Sweet sempat terdiam melihat penampakan yang hampir menghipnotis dirinya. Jujur, Sweet menyukai semua dekorasi yang sudah di siapkan oleh Alex.


Suara gesekan kursi berhasil menarik Sweet dari lamunan. Alex mempersilakan Sweet untuk duduk. Malam ini Alex benar-benar melepas jubah iblisnya, toh tidak ada orang yang berani melihat bahkan mengintip sehelai rambut mereka saat ini. Para pelayan yang ada di sana juga sudah Alex atur sedemikian rupa.


Dengan perasaan ragu, Sweet duduk di kursi yang masih Alex pegang. Ia melirik lelaki itu sekilas, sejak tadi Alex tidak berhenti tersenyum. Lelaki itu pun memutari meja dan duduk bersebrangan dengan Sweet. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain saat Alex menatapnya lekat.


Apa ia sedang bermimpi? Seorang Alex tersenyum begitu tulus? Permainan apa sebenarnya yang sedang Alex perankan? Beribu pertanyaan terus muncul dalam pikiran Sweet.


Mungkin Sweet akan terpesona dan merasa kagum jika lelaki yang ada dihadapannya saat ini bukan Alex. Atau mungkin sosok yang ia cintai, tetapi lelaki itu benar-benar Alex. Lelaki yang selalu membuat hatinya gelisah setiap detik dan setiap saat.


"Maaf, aku tidak bisa menyiapkan sesuatu yang lebih bagus." Sweet sedikit mengangkat kepalanya. Seperti biasa, ia masih saja bungkam.


"Tidak ada orang lain di sini, kau bisa menumpahkan semua isi hatimu padaku. Aku akan mendengarkan, tapi sebelum itu kita harus makan terlebih dahulu. Silakan menikmati, Ny. Anna Sasmita Digantara."


Sweet masih membungkam mulutnya rapat-rapat. Dan hanya menatap hidangan di atas meja, sepiring beef steak begitu menggugah selera makannya.


"Jangan cuma di tatap, segera makan sebelum dingin. Aku tidak ingin kau sakit seperti kemarin." Alex memberikan perhatian yang akan membuat semua wanita luluh, tetapi tidak untuk Sweet. Gadis itu sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan Alex.


Alex tersenyum senang saat Sweet mulai menyantap hidangan dengan begitu lahap. Sejak tadi Sweet memang sudah sangat lapar, tidak heran jika ia makan dengan begitu lahap. Alex begitu takjub melihat gaya makan Sweet, sedikit cepat namun tidak menghilangkan nilai elegan dalam dirinya. Gadis itu begitu tenang meski dalam keadaan apapun. Alex menyukai itu.


Bagaimana jika aku memiliki anak dengannya? Pasti sangat lucu, begitu manis dan menggemaskan. Pikiran Alex mulai bertualang jauh.


"Berikan aku seorang anak," ucap Alex tanpa ragu. Sweet tersedak mendengar itu, dengan gerakan cepat ia mengambil air dan meminumnya perlahan. Sweet mengambil tisu untuk menyapu bibirnya, selera makan yang tadi sempat membaik kini sirna begitu saja.


"Aku bukan ibu pengganti," ucap Sweet yang kemudian langsung bergegas pergi. Alex sangat terkejut melihat sebuah aura kemarahan dalam diri Sweet. Dengan langkah lebarnya Alex dengan mudah menyusul Sweet. Menarik gadis itu dalam dekapannya.


"Apa yang kau lakukan?" geram Sweet mulai memberontak. Alex semakin mengeratkan pelukannya, lalu mengecup pucuk kepala Sweet dan berhasil menenangkan gadis itu.


"Aku benar-benar menyukaimu, Anna. Ya, meski belum masuk dalam tahap mencintai. Aku ingin kau selalu ada di sisiku, agar perasaan itu sedikit demi sedikit berkembang dalam hatiku. Aku tidak peduli siapa dirimu, dan dari mana asalmu. Aku menginginkanmu, Anna. Aku ingin memulai semuanya dari awal." Sweet terhenyak mendengar pengungkapan Alex. Semua itu seperti tersambar petir di siang bolong. Sweet terdiam dalam dekapan Alex. Tidak tahu mengapa ia ingin terus mendengar kelanjutan dari perkataan Alex.

__ADS_1


"Terus berada di sampingku, Anna. Bantu aku untuk menumbuhkan perasaan itu. Jika kau setuju, kita akan melakukan pernikahan seperti yang kau mau. Aku akan mencari orangtuamu dan meminta restu mereka."


Air mata Sweet menetes perlahan, bukan perkataan Alex yang membuatnya menitikan air mata. Ia kembali mengingat kedua orang tuanya. Rasa rindu itu kembali menggebu-gebu. Tanpa sadar ia pun mencengkram erat jas milik Alex. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Alex. Lelaki itu tersenyum puas, sudah pasti ia tahu jika Sweet menangis meski tak mengeluarkan suara. Punggung gadis itu sedikit berguncang. Alex tahu di mana kelemahan Sweet, orang tua adalah titik terlemahnya. Mungkin akan lebih mudah menekan Sweet melalui orang tuanya, agar ia terus bergantung padanya.


__ADS_2