
Sweet meninggalkan hotel tanpa sepengetahuan Bian maupun Hanz. Ia menaiki sebuah taksi menuju rumah sakit. Perasaannya semakin berkecamuk, mengingat jarak rumah sakit dan hotel membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit.
"Pak, lebih cepat lagi." Sweet bicara dengan bibir bergetar. Rasa takut semakin menyelubungi perasaannya. Taksi itu pun melaju dengan cepat.
Ya Allah, jangan biarkan dia mengambil kebahagiaanku. Hanya mereka yang aku punya saat ini, harapanku untuk hidup.
Tiga puluh menit berlalu, Sweet pun tiba di rumah sakit. Setelah membayar uang taksi, ia pun berlari menuju ruangan Alexa. Dengan tergesa, Sweet membuka pintu bercat merah jambu.
Sweet terdiam, menatap sosok Alex yang tengah membenarkan selimut pada putrinya. Menyadari kehadiran Sweet, lelaki itu memberikan tatapan penuh arti pada Sweet. Lalu menempelkan jari telunjuknya di bibir, meminta agar Sweet tidak membuat keributan.
Alex mengecup kening Alexa begitu dalam. Dan kembali memusatkan perhatian pada Sweet yang masih berdiri di ambang pintu. Lelaki itu berjalan perlahan, mendekati Sweet yang terdiam membisu.
"Kita bicara di luar," ajak Alex seraya menggenggam tangan Sweet. Tentu saja Sweet langsung menolak. Alex menatap Sweet lekat. Dada Sweet naik turun, dengan kedua matanya yang memerah. Alex menyadari ada aura kemarahan dalam diri Sweet.
"Apa yang kau inginkan?" pada akhirnya Sweet mengeluarkan pertanyaan.
Alex tidak menjawab, ia masih setia menatap wajah cantik Sweet.
"Jawab!" Sweet tersulut emosi.
"Ini rumah sakit, kita bicara di luar." Alex menarik tangan Sweet dalam genggaman. Kali ini ia tidak membiarkan tangan itu terlepas lagi. Lalu ia pun menarik Sweet agar keluar dari rumah sakit. Memilih taman untuk dijadikan tempat bicara.
Sesampainya di taman, Alex melepaskan tangan Sweet, lalu membelakanginya. Sweet menatap punggung Alex dengan penuh kebencian.
"Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan," ujar Alex. Sweet yang mendengar itu sama sekali tidak menunjukkan respons.
Alex masih menunggu Sweet mengeluarkan sebuah pertanyaan.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?" Sweet masih memberikan pertanyaan yang sama.
"Kau...." Alex berbalik, menatap netra bulat milik Sweet.
__ADS_1
Sweet terhenyak, jawaban Alex membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Sejak dulu yang aku inginkan hanya kau, Ana." Alex melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka.
"Aku tidak menginginkanmu, aku sudah bahagia bersama anak-anakku." Sweet memberikan tatapan tajam.
"Kau bahagia, lalau bagaimana dengan putriku? Kau membiarkan dia menderita selama dua tahun? Apa itu yang kau katakan bahagia?" Alex mengeluarkan segala kekesalan dalam hatinya. Tidak habis pikir dengan apa yang Sweet lakukan pada putrinya yang malang. Alex baru mengetahui semua kebenaran tentang Sweet dua tahun yang lalu. Ia juga memutuskan untuk mengawasi Sweet dan ketiga anaknya dari jauh. Semua itu ia lakukan demi keselamatan Sweet dan triple twins.
"Ak--aku sudah menemukan pendonor, kau tidak perlu mengkhawatirkan putriku." Perkataan Sweet sedikit terbata.
"Kau pikir aku bodoh? Aku sudah menyelidiki semuanya dan tidak ada satu pun pendonor. Aku bukan anak kecil yang mudah kau kelabui. Bahkan kau membiarkan putriku menderita cukup lama."
"Dia putriku, aku tahu apa yang harus aku lakukan." Sweet mulai kesal dan sedikit meninggikan suara.
"Dia juga putriku, putri kita." Ujar Alex penuh penekanan. Membuat Sweet terdiam tak berdaya. Air matanya meluncur begitu deras. Ia tidak dapat menyangkal semua kenyataan yang ada, memang benar Alexa adalah darah daging Alex dan dirinya.
"Aku sudah membuat jadwal untuk melakukan operasi transplantasi sumsum tulang."
"Tidak, kau tidak berhak atas semua itu."
Sweet tidak dapat menerimanya, tidak ingin kembali terikat dengan Alex. Dunia ini sungguh kejam, kenapa aku harus selalu bergantung padanya? Bahkan putriku masih membutuhkan dirinya. Pikir Sweet.
"Aku berhak melakukan semua itu tanpa persetujuanmu, aku ayah kandung Alexa." Alex tidak mau kalah.
"Bagaimana kau yakin dia anakmu, hah? Bukankah kau tidak pernah percaya padaku? Bisa saja aku melakukan itu dengan orang lain." Sweet masih menyanggah segala keputusan Alex. Ia tidak ingin Alex merebut Alexa dari sisinya.
Alex yang mendengar itu tersenyum, lalu menarik Sweet dalam dekapan. Karena tubuhnya yang mungil, memudahkan Alex untuk merengkuhnya.
"Lepas, jangan sentuh aku!" Sweet berusaha untuk lepas dari dekapan Alex. Memukul dada bidang Alex sekuat mungkin. Namun tenaganya tidak sekuat Alex. Sweet menangis, membasahi pakaian yang Alex kenakan.
"Jangan pernah pergi dari sisiku lagi," ucap Alex mengecup pucuk kepala Sweet. Alex menyukai penampilan Sweet saat ini. Baginya, Sweet terlihat sangat anggun.
__ADS_1
"Maaf," lanjut Alex semakin memperdalam pelukkan. Sweet tidak lagi memberontak. Membiarkan dirinya tenggelam dalam perasaan.
Cukup lama mereka terdiam dengan posisi saling berpelukkan. Hingga Sweet pun mulai tersadar dari kesalahan yang telah ia lakukan. Sweet bringsut, menjauh dari rengkuhan Alex. Memberikan tatapan kecewa pada lelaki itu.
"Gelas yang pecah tidak akan bisa diperbaiki. Meskipun bisa, itu tidak mungkin sama seperti semula. Kau boleh mendekati putriku, tapi tidak denganku." Setelah mengatakan itu, Sweet langsung melangkah pergi. Ia tidak mau kembali terjebak dalam jurang yang sama.
Alex membiarkan Sweet pergi. Karena ia tahu, butuh waktu untuk memperbaiki semuanya. Alex mengakui segala kesalahan yang telah ia perbuat dulu. Mungkin semua ini adalah balasan untuknya. Sweet bukanlah wanita yang mudah untuk dibujuk.
Aku akan sabar menunggumu, hingga kau mengerti semua yang telah terjadi pada hubungan kita, Ana. Aku akan sabar menunggu...
***
"Ini semua salah Mommy, kamu harus menderita juga karena Mommy. Sejak awal Mommy menyembunyikan penderitaan kamu, Sayang. Padahal Mommy tahu, hanya Daddy satu-satunya harapan untuk kamu sembuh." Sweet memeluk Alexa yang tertidur pulas. Sweet ikut berbaring di samping Alexa, karena brankar itu cukup luas.
Selama ini Sweet tidak pernah berhenti untuk menemukan pendonor yang tepat untuk Alexa. Namun tidak ada satu pun hasil yang cocok. Bahkan Bian juga tidak cocok sebagai pendonor. Mungkin benar, yang namanya takdir tidak mungkin dapat dihindari. Takdir Sweet memang untuk Alex, oleh karena itu apa pun yang terjadi pada mereka dan sejauh apa pun mereka berpisah. Takdir akan kembali mengikat mereka untuk saling berdekatan.
"Mommy tidak akan membiarkan kamu menderita lebih lama," ujar Sweet penuh keyakinan. Ia sudah membulatkan tekad, membiarkan Alex melakukan apa yang seharusnya seorang ayah lakukan untuk anaknya. Saat ini hanya Alex satu-satunya harapan Sweet.
Malam terasa lebih panjang. Rasa kantuk pun tak kunjung datang, membuat mata Sweet terus terbuka. Ia termenung begitu jauh, hingga tak menyadari jika Alex sejak tadi terus mengawasinya dari jendela. Alex tidak akan meninggalkan dua wanita terpenting dalam hidupnya. Dan memilih untuk terus menunggu di sana. Meski cuaca semakin dingin, ia tidak peduli akan hal itu.
Alex mengeratkan rahang, menyentuh dadanya yang berdenyut hebat. Menahan rasa sakit yang begitu dalam.
"Tuan, sebaiknya Anda istirahat. Kondisi Anda tidak akan membaik jika terus seperti ini. Selama dua tahun, Anda sangat jarang tidur. Ini akan memperburuk keadaan." Joshua memakaikan sebuah jaket di punggung Alex. Sejak tadi ia memang tidak pernah meninggalkan Alex. Ia tahu kondisi Tuannya tidak sekuat dulu.
"Sebentar lagi, aku sangat merindukan istriku." Tatapan Alex masih tertuju pada Sweet dan Alex di dalam ruangan.
"Sebaiknya Anda langsung berterus terang pada Nyoya, atas semua yang telah Anda lewati." Joshua memberikan sebuah saran.
"Tidak perlu, itu akan memperburuk suasana. Bawa aku ke rumah sakit," ujar Alex yang tak dapat lagi menahan rasa sakit. Sepertinya luka dalam di bagian dadanya kembali terbuka. Mungkin itu terjadi saat Sweet memukul keras di bagian dadanya tadi. Dengan sigap Joshua membantu Alex berjalan untuk meninggalkan tempat itu.
Untuk pertama kali Tuan begitu lemah. Bahkan ia rela melepas kekuasaannya untuk Nyonya. Jika saja Nyonya tahu pengorbanan Tuan, mungkin Nyonya tidak akan pernah melepasnya. Tuhan, hanya Engkau yang mampu menyatukan mereka kembali. Batin Joshua begitu penuh harap.
__ADS_1