
"Ya, aku mencintainya, Aunty." Jawab Eveline yakin. "Aku sangat mencintainya." Tegasnya lagi.
Alexa tersenyum bahagia. "Ah... Aunty bahagia, Eve. Aunty pikir cinta Lucas bertepuk sebelah tangan."
Eveline kembali memandangi Lucas. "Dia harus sembuh dan bertanggung jawab, dia sudah membuatku jatuh cinta. Siapa yang tidak jatuh cinta padanya? Dia selalu berdikap manis."
"Dia hanya bersikap manis padamu, Eve." Ujar Winter.
"Aku tahu itu. Sejak kecil dia selalu memperlakukanku berbeda dengan yang lain, aku sudah terbiasa dengan itu. Bahkan aku tidak bisa melupakannya sekuat apa pun aku mencoba. Dia sangat berpengaruh dalam hidupku." Eveline tersenyum saat mengingat semua masa kecil mereka.
Alexa tertawa renyah. "Dia pasti sembuh. Dia juga sangat mencintaimu, Eve."
"Aku tahu." Eveline menyentuh perutnya.
Bahkan bukti cintanya sudah hadir di sini. Aku mencintaimu, Luc. Cepatlah sadar, aku merindukan kata-kata cintamu. Aku merindukan itu.
"Eve, jangan berdiri terus. Kondisimu juga belum stabil." Sabrina merengkuh pundak putrinya. "Ayo duduk."
Keduanya pun duduk di kursi tunggu. Eveline menyandarkan kepalanya di pundak sang Mommy. "Mom, jika Lucas sembuh. Tolong jangan halangi aku dan dia untuk menikah."
Sabrina, Alexa dan Winter tertawa renyah mendengar itu.
"Hadapi Grandma kalian lebih dulu sebelum menikah. Terserah kalian mau menggunakan cara apa." Ujar Arez.
Eveline tersenyum. "Grandma sangat menyayangiku, dia pasti setuju."
"Jangan salah, Grandma kalian itu sangat ketat aturan." Ujar Alexa.
"Aku punya cara sendiri." Sahut Eveline.
"Dasar." Sabrina menepuk pundak Eveline. Kemudian memberikan kecupan di kepala putrinya itu.
"Aku akan mengumumkan kabar bahagia saat Lucas sadar nanti." Guman Eveline.
"Wah, kabar bahagia apa itu? Apa jangan-jangan kau sudah mengantongi restu dari Grandammu huh?" Sambar Alexa.
"Kalian akan tahu nanti. Karena itu suruh si brengsek itu bangun lebih cepat."
Lagi-lagi suara tawa terdengar.
"Sabarlah sedikit, dia butuh waktu istirahat. Akhir-akhir ini dia kesulitan tidur."
"Maafkan aku, Aunty. Aku penyebabnya."
"Kau tidak salah, salahkan Daddymu. Dia terus mengancam putraku. Dan memintanya untuk menjauhimu." Tuding Winter.
Arez berdeham kecil. "Aku melakukan itu karena putramu selalu bersikap sesuka hati. Berani-beraninya dia menculik putriku." Ketusnya.
"Ck, seperti tidak pernah muda saja." Sahut Alexa.
"Sudah cukup, kenapa kita yang berdebat. Sekarang persiapkan diri untuk acar pernikahan."
"Aku setuju." Sahut Alexa. Lalu kedua wanita itu tertawa bersama. Sedangkan yang lain cuma bisa menggelengkan kepala.
****
Kini Lucas sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Dan saat ini hanya ada Eveline di sana, karena yang lain keluar untuk makan siang.
Eveline tidak bosan-bosannya memandangi wajah Lucas. Ia berharap lelaki itu segera sadar dan menyapanya dengan lembut.
__ADS_1
"Sudah dua jam aku duduk di sini, kau masih saja tidur. Bahkan pinggangku sangat sakit." Kesalnya. "Bisakah kau bangun, Luc? Aku tahu kau mendengarkanku kan? Jangan menghukumku seperti ini. Berhari-hari kau tidak bangun, bukankah itu sudah cukup untuk menghukumku?"
Evelin mengusap pipi Lucas sambil menyandarkan kepalanya di brankar. Ia mulai bosan dan mengantuk. Berulang kali ia menguap. "Aku tidur sebentar, bangunkan aku ya?"
Eveline memejamkan matanya. Dan perlahan mata Lucas pun terbuka. Sebenarnya ia sudah sadar sejak dirinya dipindahkan. Hanya saja ia meminta pada yang lain agar tidak memberi tahu Eveline.
Lucas menyentuh tangan Eveline yang masih menempel dipipinya. Spontan Eveline pun terbangun. "Luc? Kau sudah sadar?"
"Hm." Lucas pura-pura lemah.
"Biar aku panggilkan dokter dan yang lain." Eveline hendak bangkit, tetapi dengan cepat Lucas menahannya.
"Naik dan berbaringlah di sisiku, Eve." Pinta Lucas dengan suara lemah. Bekas operasinya masih terasa sakit bahkan hanya karena pergerakan kecil.
Eveline menatap Lucas curiga. "Jadi sedari tadi kau memang sudah bangun huh?"
Lucas tersenyum yang diiringi anggukkan kecil.
"Ish... menyebalkan." Eveline menepis tangan Lucas dengan kasar, membuat sang empu meringis. Sontak Eveline pun kaget. "Eh? Maafkan aku."
"Hm." Lucas mencoba bergerak untuk mencari posisi nyaman. Dengan sigap Eveline membantunya meski lelaki itu terus mendesis karena menahan rasa nyeri.
"Berbaringlah, Eve."
Mau tidak mau Eveline pun ikut berbaring di sebelah Lucas. Namun, ia tidak berani memeluknya karena takut menyakiti Lucas.
Lucas meraih tangan Eveline, lalu menempelkannya di dada. "Rasakan detak jantungku, Eve. Dia tidak pernah santai saat berdekatan denganmu."
Eveline merasakan itu, detak jantung Lucas berpacu hebat. Ia pun mendongak agar bisa melihat wajah Lucas. "Apa sejak dulu seperti ini?"
Lucas mengangguk sambil memandang wajah cantik Eveline. "Bagaimana denganmu?"
"Luc, kau tidak apa-apa?" Panik Eveline.
Lucas menggeleng. "Jangan membuat lucu, saat ini aku sedang tidak bisa tertawa."
"Ck, memangnya siapa yang buat lucu?" Kesal Eveline.
Lucas memejamkan matanya, sedangkan tangannya masih setia merengkuh Eveline. "Aku ingin seperti ini terus, Eve."
Eveline terkejut mendengarnya. "Kau yakin? Aku baru dengar ada orang ingin sakit terus."
Lucas tersenyum lebar. "Bukan sakit yang aku maksud, sayang. Aku ingin terus seperti ini, bersamamu."
Pipi Eveline pun mengeluarkan semburat merah. "Ck, kau ini." Ia membenamkan wajahnya di ketiak Lucas. "Kau sangat wangi."
Lucas mengerut. "Aku koma dan tidak mandi berhari-hari, dari mana wanginya?"
"Tidak tahu, tapi kau memang sangat wangi." Eveline semakin membenamkan wajahnya di sana.
"Kau sangat aneh, sayang." Lucas mengecup pucuk kepala Eveline. "Jadi kau sudah menerimaku sepenuhnya huh?"
Eveline tidak menjawab.
"Sayang."
"Ck, aku mengantuk. Semalaman aku terus memikirkanmu. Biarkan aku tidur." Alibinya.
"Jangan menghindar. Jawab aku, apa kau sudah menerimaku sepenuhnya, Eve?"
__ADS_1
Eveline mendengus, lalu mendongakkan wajahnya. "Tidak tahu."
"Ck, aku butuh kepastian. Karena kalau tidak...."
"Kalau tidak apa huh? Kau akan bunuh diri?" Sela Eveline dengan nada ketus.
"Tidak, aku sudah memikirkan semuanya matang-matang. Jika kau tidak menerimaku maka aku akan mencari wanita baru." Gurau Lucas.
Eveline mendelik. "Cih, cari saja. Memangnya aku peduli." Sahutnya dengan ketus.
"Baiklah, akan aku cari setelah sembuh nanti."
"Kau serius?" Tanya Eveline menatap Lucas lekat.
Lucas mengangguk. "Sudah saatnya aku mencari pendamping hidup, perusahaan membutuhkan penerus. Aku akan mencari wanita yang bisa menerimaku sepenuh hati."
Eveline menunduk. "Jadi kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
"Aku akan tetap mencintaimu sampai kapan pun, tapi aku tidak bisa memaksamu terus menerus. Aku sadar setelah apa yang aku lakukan padamu, aku terlalu memaksakan kehendak. Bahkan aku merenggut masa depanmu, Eve. Aku minta maaf."
Eveline meremat selimut yang Lucas pakai. "Luc, bagaimana jika aku ingin hidup bersamamu?"
"Hanya karena kasihan padaku?"
Eveline menggeleng. "Sebenarnya aku... aku...."
"Aku tahu kau tidak akan pernah bisa menerimaku, Eve. Aku lelaki brengsek, tidak punya hati dan pemaksa." Sela Lucas.
"Luc, aku...."
"Aku tahu kau membenciku. Kau...."
"Berhenti menyela ucapanku, Luc." Kesal Eveline. "Kenapa kau tidak mendengarkan aku dulu. Jangan sela ucapanku."
Lucas terkejut mendengarnya, lalu membuka matanya.
Eveline merubah posisinya menjadi duduk. "Dengarkan aku dulu. Jangan menyelanya. Aku mencintaimu, Luc."
Lucas terdiam. Namun, dalam hatinya ia bersorak gembira. Karena ia memang sengaja ingin memancing gadisnya itu.
"Aku mencintaimu, Luc." Eveline langsung menyambar bibir Lucas dan mengulumnya dengan penuh perasaan. Bahkan suara decapan bibir mereka terdengar begitu merdu.
Eveline menyudahinya, napasnya memburu dan tak beraturan. Begitu pun dengan Lucas yang terengah-engah dan berusaha mengisi paru-parunya dengan oskigen.
Eveline tersenyum geli saat melihat bibir Lucas yang bengkak karena ulahnya. Bahkan salivanya masih menempel di sana. Diusapnya bibir itu dengan lembut.
"Kau hanya miliki, Luc. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu. Sudah cukup aku membiarkanmu bersenang-senang di luar sana."
Lucas tersenyum. "Jadi kau menerimaku sekarang?"
Eveline mengangguk. "Ayo kita menikah, kau harus bertanggung jawab."
Lucas mengerut bingung.
"Aku hamil, Luc."
"Apa?"
Bersambung....
__ADS_1