
Violet merubah posisi duduknya menghadap Lucas. "Dustin akan bertunangan? Tapi... dengan siapa?" Wajah gadis itu berubah murung.
"Tentu saja dengan kekasihnya. Apa kau lupa dia punya kekasih rahasia?"
Violet mengangguk, kemudian mencoba menarik ujung bibirnya. "Aku turut bahagia."
Lucas tersenyum. "Kau akan mendapatkan yang lebih baik darinya.
Lupakan Dustin."
Violet mengangguk. "Aku tidak sabar ingin balapan denganmu, Luc. Ah iya, aku punya mobil baru. Kau harus mencobanya nanti."
"Tentu saja, tapi aku harus membujuknya dulu untuk mendapat izin."
Violet tertawa renyah. "Aku tidak bisa membayangkan wajah anak kalian nanti. Mirip denganmu atau Eveline ya?"
Lucas menggeleng. "Lihat saja saat lahir nanti."
"Ck, dasar brengsek. Kau menghamili adikku sebelum menikah. Beruntung Uncle dan Aunty tidak membunuhmu."
"Kenapa kau tidak melakukan hal yang sama pada Dustin?"
Mata Violet membulat. "Tidak, aku belum gila. Cinta tidak bisa dipaksa, Luc. Beda dengan kalian yang pada dasarnya sudah saling cinta. Dustin hanya menganggapku adiknya."
"Kau memang adik kami, Vi."
Violet tertawa renyah. "Karena itu aku tidak ingin menghancurkan tali persaudaraan kita."
Lucas menggenggam tangan Violet. "Berani taruhan? Jodohmu ada di arena balapan."
Mata Violet membulat. "Maksdumu si tua Daniel itu huh? Aku tidak menyukainya, dia terlalu tua untukku."
Lucas tertawa kecil. "Kenapa tidak mencoba Paul Morgan?"
Violet terkesiap. "Paul Morgan? Lelaki dingin itu? Oh... aku tidak akan menjebak diriku dalam kutub esnya. Aku suka yang romantis."
"Tapi dia menyukaimu sejak lama."
"Apa? Dia mengatakan itu padamu?" Kaget Violet.
"Tidak, dari cara dia menatapmu. Aku laki-laki, tentu saja aku tahu. Ayolah, apa salahnya kau coba. Dia itu pria sukses."
Violet menghela napas berat. "Entahlah."
"Kau harus ingat, usiamu hampir expired."
"Luc!" Geram Violet. Lucas pun tersenyum geli.
****
Claire kembali ke mansion dengan tak semangat. Seperti biasa, mansion terlihat sepi ditambah Summer dan sang Mommy tidak ada lagi.
Saat hendak masuk ke kamar, Claire mendengar suara obrolan sang Daddy dengan seseorang. "Daddy sudah pulang?"
Claire melangkah pelan, mendekati sumber suara. Dan suara itu ternyata berasal dari kamar kosong.
"Sudah aku katakan cari sampai ketemu. Apa kalian mengerti? Aku tidak peduli apa pun kondisinya."
Claire menghela napas berat. "Bahkan Daddy lebih mementingkan Summer dan Mommy ketimbang aku anaknya sendiri." Gumamnya hendak pergi dari sana. Namun, langkahnya tertahan saat sang Daddy menyebut nama seseorang.
__ADS_1
"Deena, di mana kau, sayang? Bertahun-tahun aku terus mencarimu. Bahkan kau tidak mencari putrimu sama sekali. Sekarang putrimu sudah besar, apa kau tidak ingin bertemu dengannya huh? Datanglah, aku akan menyambutmu, sayang."
Deg!
Jantung Claire bagai terhantam batu besar.
Tidak mungkin? Jadi... Aunty benar jika aku... aku anak wanita bernama Deena.
Claire menutup mulutnya tak percaya dan langsung berlari meninggalkan mansion. Matanya mulai mengabur. "Pantas dia tidak pernah menyayangiku, apa mungkin aku bukan putrinya? Atau aku anak hasil hubungan gelap?"
Claire terus berlari meninggalkan mansion dengan perasaan berkecamuk. Pikirannya benar-benar buntu sekarang. Tubuhnya lemas tak berdaya. "Siapa aku sebenarnya? Di mana Ibuku? Aku ingin bertemu dengannya, Tuhan. Izinkan aku bertemu dengannya jika dia masih hidup."
Tak kuasa menahan perih dihatinya. Claire berjongkok di pinggir jalan sambil menangis. "Huhu... kenapa nasibku menyedihkan sekali?"
"Kau yang terlalu lemah." Cibir seorang laki-laki yang berhasil membuat Claire mendongak. Sontak tangisannya semakin kencang. Lelaki itu mengernyit.
Dasar gadis gila.
"Huaaaa... kenapa kau ke sini? Jangan melihatku, aku pasti jelek kan?" Claire membenamkan wajahnya di antara kedua kaki. "Pergilah, jangan pedulikan aku."
Melvin mendengus sebal. Ya, Melvin memang sengaja mengikuti gadis itu karena mulai penasaran dengan kehidupannya. Tidak disangka hal seperti ini akan terjadi. "Bangunlah."
"Tidak mau, kau pasti akan menertawakan aku kan?" Claire menangis sesegukkan.
"Berhenti bertingkah kekanakan, bangunlah." Melvin menarik Claire sampai berdiri.
"Kenapa kau peduli padaku? Bukankah kau...." Claire menahan perkataannya karena Melvin mendekatkan wajahnya.
"Bukankah kau menyukaiku huh?"
Tangisan Claire mendadak sirna. "Ya, apa kau akan menerimaku?"
"Tentu saja." Melvin tersenyum miring.
Melvin menghela napas berat. "Bisakah kau berhenti menangis? Orang lain akan mengira aku menyakitimu."
Claire sesegukkan. "Lalu buat apa kau di sini? Biarkan aku sendiri."
"Haish... kau benar-benar... sudahlah. Kau ikut denganku atau...."
"Ikut, aku tidak mau pulang." Potong Claire.
"Kalau begitu ayo, berhenti menangis." Melvin berjalan mendahului gadis itu.
"Hey, kemana kau akan pergi?"
"Apa kau harus tahu?"
Hishh... menyebalkan. Karena tidak ingin tertinggal, Claire mengejar lelaki itu dengan tergopoh.
Kini keduanya berada di kamar hotel. Claire menelan air liurnya saat melihat Melvin membuka satu per satu kancing kemejanya. "Ekhem... kau sedang apa?"
Melvin tersenyum miring. "Menurutmu apa yang biasa dilakukan wanita dan laki-laki di kamar hotel?"
Mendengar itu Claire mundur beberapa langkah. "Hey, aku masih anak-anak. Aku... aku masih enam belas. Kau tidak bisa melakukan itu padaku."
Seketika tawa Melvin menggelegar. Membuat dahi Claire mengerut. "Kenapa kau tertawa?"
Melvin menyapu sudut matanya yang berair. "Kau sangat lucu, lagi pula siapa yang igin menyentuhmu huh? Dadamu saja masih rata, sama sekali tidak menarik."
__ADS_1
Mata Claire membulat karena penghinaan itu. "Kau...."
"Jangan terlalu percaya diri. Aku gerah, menurutmu apa yang akan orang lakukan saat gerah huh?" Melvin tersenyum miring.
"Ck, menyebalkan." Claire menjatuhkan bokongnya di bibir ranjang. "Hey, aku lapar. Bisakah kau pesankan aku makanan lezat?"
Ck, gadis tidak tahu malu.
"Hm." Melvin meraih gagang telepon, lalu menghubungi pihak resto dan memesan makanan.
Ah, ternyata dia baik juga. Aku pikir dia akan membiarkan aku kelaparan. Claire menatap Melvin penuh cinta.
Melvin mengerutkan dahi saat melihat tatapan gadis itu. "Berhenti menatapku seperti itu. Aku tahu aku ini tampan, semua orang mengakui itu."
"Cih, narsisi sekali." Claire menarik bantal guling. Lalu memeluknya. "Oh iya, jadi malam ini kita akan tidur bersama?"
"Jika kau mau."
"Tentu saja." Sahut Claire dengan semangat.
Aku rasa dia benar-benar gila. Melvin menggeleng dan langsung masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Claire yang sedang senyum-senyum sendiri.
****
Suara deritan tempat tidur terdengar nyaring di sebuah kamar hotel. "Ahhh... Claire. Kau sangat nikmat."
"Melvin.... ahhh...." gadis bertubuh ramping itu mengalungkan kedua tangannya dileher Melvin saat lelaki itu terus menghujamnya.
"Sial! Kenapa kau sangat nikmat."
"Melvinnnhhh... aku... sampai ahhhh." Claire mengejang saat milik Melvin menghujamnya lebih dalam. Dan ia pun meledak seketika.
"Aku menyusulmu, sayang. Kau sempit sekali. Milikmu menjepit adikku ahhh." Melvin semakin menghujam miliknya lebih dalam, dan dalam hitungan detik ia meledak di dalam.
"Aku mencintaimu, Melvin."
Melvin tersenyum dan kembali menggerakkan pinggulnya. Membuat gadis di bawahnya itu kembali menjerit kenikmatan. "Melvinnn... ahhhh..."
"Kita keluarkan sama-sama, sayang."
"Melvin!"
Melvin terperanjat dari tidurnya saat suara cempreng Claire memenuhi telinganya.
"Kau memelukku terlalu erat, dadaku sesak." Kesal Claire terus memukul lengan Melvin yang memeluk dadanya dengan erat. Seketika Melvin tersadar dan langsung menjauhkan diri dari gadis itu.
Tunggu! Bukankah tadi mereka sedang bercinta? Melvin memeriksa kondisi tubuhnya dan Claire. Pakaian mereka masih utuh. Namuan, Melvin merasakan sesuatu basah di bawah sana.
Sial! Jadi tadi aku bermimpi? Arhgg... bagaimana bisa aku memimpikan bercinta dengan gadis gila ini? Dan rasanya seperti nyata.
"Kau ini kenapa sih? Wajahmu juga sangat merah? Apa aku mimpi buruk?" Tanya Claire saat melihat pipi Melvin merona.
Melvin tidak menjawab, ia langsung bangkit dan berlalu ke kamar mandi.
Sial sial sial! Bagaimana bisa aku memimpikan hal gila itu dengannya. Bahkan wajahnya sangat jelas. Biasanya aku mimpi basah, tapi wajah wanitanya tidak sejelas itu. Akhhh... brengsek! Melvin mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Rasa bercinta di dalam mimpi itu masih membayanginya.
Apa dia seenak itu? Hah, tidak. Kau tidak bisa melepas perjakamu pada sembarang orang. Dia hanya mainan berikutnya. Melvin memejamkan matanya. Mencoba melupakan mimpi itu.
Sedangkan Claire, gadis itu tersenyum sendiri. "Apa dia memimpikan aku? Dia terus menyebut namaku. Ah... aku harap ini awal yang baik. Dia terlalu manis untuk dilepaskan. Aku pasti bisa memilikimu, Melvin."
__ADS_1
"Tapi... dia bilang dadaku sangat kecil." Claire menyentuh dadanya sendiri. "Haish... apa aku perlu datang ke dokter? Tidak, dia harus menerimaku apa adanya. Memangnya kenapa kalau dadaku kecil? Aku pasti bisa memuaskannya. Sepertinya aku harus belajar bagaiaman cara memuaskan laki-laki, jangan sampai dia kecewa jika suatu hari nanti kita bercinta."
Claire menarik selimut dan kembali melanjutkan tidurnya dengan perasaan bahagia. Bahkan ia melupakan masalah hidupnya untuk sesaat.