
Bugh!
Sebuah tinjuan keras berhasil mendarat di wajah seorang pria tua yang kini sudah tersungkur di lantai. Sontak suasana kantor pun mendadak riuh oleh suara pekikan orang yang menyaksikan itu. Pelakunya tak lain adalah Gabriel. Dan pria yang tersungkur di lantai itu adalah Ayah tiri Zhea, Liam Smith.
"What the...." Belum selesai pria itu bicara, Gabriel kembali melayangkan tinjuan keras sampai ujung bibir pria itu mengeluarkan darah dan tubuhnya lemas seketika. Pria itu terlentang dengan mata terpejam karena menahan rasa sakit yang menjalar hingga persendiannya. Sepertinya hari ini ia benar-benar sial, setelah gagal menandatangi kontrak kerja. Sekarang bertemu dengan Gabriel yang tiba-tiba menghajarnya habis-habisan.
Gabriel menarik kerah baju pria itu dengan mata memerah karena amarah. "Dasar brengsek! Setelah menodai anak tirimu, kau masih hidup dengan tenang rupanya. Kau b*j*ng*n yang tak pantas hidup. Bersyukurlah karena aku masih mengampunimu."
Pria itu menatap Gabriel bingung. "Siapa kau? Berani sekali kau. Kau tidak tahu siapa aku, hah? Aku pimpinan perusahaan ini." Bentaknya berusaha melepaskan cengkraman tangan Gabriel. Sayangnya tenaga lelaki itu terlalu kuat untuknya yang sudah renta.
Gabriel mendengus yang diiringi seringaian kecil. "Bahkan aku bisa menghancurkan perusahaan tak bergunamu ini dalam hitungan detik. Jangan kau pikir aku tidak tahu bisnis gelap yang kau jalankan, Liam. Transaksi narkoba, pencurian sumber daya alam, jual beli hewan langka. Apa aku perlu menyebut semuanya huh?"
Liam terhenyak mendengarnya. Bagaimana bisa dia tahu semuanya. Siapa dia sebenarnya?
"Lihat wajahku baik-baik, hanya orang tak berguna yang tak tahu siapa aku." Imbuh Gabriel dengan tatapan membunuh yang kental. Membuat siapa pun yang memandangnya gemetar ketakutan. Termasuk Liam tentunya.
Siapa dia sebenarnya? Kenapa hanya dengan tatapannya bisa mengintimidasiku? Batin Liam.
"Kau harus ingat! Siapa pun yang berurusan dengan istriku dimasa lalu maupun masa depan, maka berurusan denganku juga. Jangan pernah menunjukkan wajahmu di depanku walau sedetik jika kau masih ingin hidup." Gabriel mendorong lelaki itu dengan kasar, lalu meninggalkan tempat itu tanpa kata.
Sebelum itu Gabriel sempat berpapasan dengan Ibu kandung Zhea. Wanita itu menatap Gabriel kaget. Sedangkan Gabriel mengabaikannya begitu saja.
Berta, Ibu dari Zhea itu kaget bukan main saat melihat kondisi suaminya. Ia memekik dan segera menghampiri sang suami yang masih terkapar. "Apa yang terjadi, sayang?"
Berta membantu Liam bangkit. Lalu membopongnya ke ruangan. Karena tak kuasa menahan air wajahnya jika terus berada di sana.
Sesampainya di ruangan, Berta membantu Liam duduk di sofa. Lalu bergegas mengambil kotak obat. Setelah itu ikut duduk di samping Liam.
Liam menatap istrinya tajam. "Siapa lelaki itu? Apa kau mengenalnya? Sepertinya dia mengenal putrimu yang bodoh itu."
Berta menelan air liurnya. "Dia... dia itu salah satu putra keluarga Digan't Group."
"Apa?" Kaget Liam dengan wajah pias. "Sial! Bagaimana bisa aku tak mengenalinya?"
Berta sendiri terlihat gemetar sembari membuka kotak obat. Lalu mengobati suaminya dengan hati-hati. Ia tahu apa yang tengah terjadi saat ini. Jika sudah berurusan dengan keluarga Digantara, itu artinya mereka dalam posisi bahaya. "Sebenarnya, apa betul kau tidak memperkosa putriku saat itu?"
"Sekarang kau meragukanku? Setelah apa yang aku berikan padamu, huh? Bahkan kau lebih percaya pada putrimu yang tak berguna itu, sialan."
"Bagaimana pun dia putriku." Sahut Berta dengan nada lirih.
__ADS_1
"Cih, sekarang kau baru mengakui dia putrimu. Apa karena dia sudah terkenal sekarang huh?"
Berta tidak menyahut.
"Apa pun yang sudah aku lakukan padanya, itu tak akan merubah keadaan. Putrimu sudah membuangmu sepenuhnya." Ujar Liam dengan wajah kesalnya.
"Bukan dia yang membuangku, tapi aku yang membuangnya, Liam. Kau harus ingat itu." Tutur Berta. "Itu juga terjadi karena aku terlalu percaya padamu."
Liam tertawa getir. "Sekarang kau menyesal karena sudah membuang sumber uangmu huh? Bukankah itu yang ingin kau katakan?"
Berta menunduk. "Sebaiknya kita meminta maaf padanya, Liam. Aku takut...."
"Siapa yang kau takuti huh? Lelaki yang menghajarku tadi? Dia masih anak ingusan yang tak tahu apa-apa soal bisnis. Selama hidupku aku tak pernah takut dengan siapa pun." Sela Liam mencekal rahang Berta dengan kilatan amarah di matanya. Berta pun berusaha melepaskan tangan suaminya.
"Dengarkan aku, Liam. Kita sudah berurusan dengan orang yang salah. Sebaiknya kita bujuk Zhea agar kembali pada kita. Dengan begitu hidup kita akan lebih aman."
Mendengar itu Liam langsung melepaskan cengkramannya. Namun tatapannya masih nyalang. "Jadi kau ingin aku mengakui apa yang telah aku perbuat dimasa lalu huh?"
Berta mengangguk pelan. Spontan Liam pun tertawa getir. "Kau pikir aku bodoh? Dengan aku mengaku, kau pikir gadis bodoh itu akan memaafkanku dan dirimu begitu?"
"Hanya itu yang bisa kita lakukan, Liam. Perusahaanmu juga hampir hancur sekarang."
Kedua tangan Berta mengepal mendengar itu.
Dasar lelaki sialan! Jika bukan karena kekayaanmu, aku tak akan sudi menjadi budakmu. Sekarang kau hampir bangkrut, aku tak akan sudi menghabiskan waktu dengan pria tua mesum sepertimu. Lihat saja, setelah aku mendapat hati putriku lagi. Aku akan membuangmu. Atau mungkin kau bisa aku jadikan kambing hitam. Batin Berta tersenyum samar.
"Baiklah, aku akan pastikan kau mendapatkan keinginamu. Tapi tentukan waktu pertemuan dulu dengan putriku. Sekarang dia bukan lagi gadis biasa, sulit untuk membuat janji dengannya." Ujar Berta tapa berpikir lagi. Yang ia pikirkan saat ini hanya kekayaan yang akan ia dapat dari Zhea.
Liam pun tersenyum puas. "Itu hal mudah, secepatnya aku akan membuat janji dengannya. Pastikan di hari itu juga aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku masih belum bisa melupakan kenangan indah itu. Dia benar-benar memanjakan milikku."
Berta benar-benar muak dengan sifat mesum suaminya. Jika saja dulu ia percaya pada putrinya, mungkin ia tak akan terjebak dengan lelaki di depanya itu. Namun, Berta tidak sepenuhnya menyesal soal itu. Karena hidup di sisi lelaki itu ia bisa meneguk kemewahan dan menikmati hidup. Sampai tak peduli nasib putrinya sendiri di luar sana. Katakan saja mereka berdua pasangan yang serasi. Yang satu brengsek, dan satunya lagi j*l*ng.
****
Saat ini Zhea terlihat sedang sibuk melayani customer yang ingin menyewa jasanya. Gadis itu terlihat begitu piawai dalam menanggapi setiap permintaan sang customer sambil sesekali merubah hasil rancangannya.
Sky yang sejak tadi ada di sana untuk berkunjung pun tersenyum penuh kagum. Ia tak pernah menyangka gadis yang beberapa tahun lalu terlihat berantakan kini berubah menjadi gadis anggun dan hebat. Bahkan namanya menjadi banyak sorotan akhir-akhir ini. Sky merasa sedang berhadapan dengan gadis yang berbeda. Setelah menghilang beberapa saat, Zhea kembali dengan penampilan berbeda dan juga karier yang melejit. Sungguh perubahan yang berhasil membuat Sky semakin kagum padanya.
Beberapa saat kemudian, Zhea pun selesai dengan pekerjaannya. Lalu menghampiri Sky.
__ADS_1
"Aunty, aku minta maaf karena membuatmu menunggu terlalu lama." Katanya seraya duduk di sebelah wanita itu. Lalu memeluknya erat. "Ah, rasanya aku ingin terus menelukmu seperti ini. Rasa lelahku langsung hilang."
Sky tertawa kecil mendengarnya. Lalu membalas pelukan Zhea dengan hangat.
"Bagaimana kabar Grandma? Apa kondisinya membaik?" Tanya Zhea sembari memejamkan matanya.
"Syukur alhamdulillah Grandmamu jauh lebih baik."
"Alhamdulillah." Sahut Zhea. "Lalu bagaimana dengan Violet? Apa sudah ada kabar darinya?"
Sky menganguk. "Anak itu tidak mau pulang dan memilih untuk menetap di sana."
Mendengar itu Zhea melerai pelukannya. "Lalu bagaimana dengan Dustin? Apa dia menyusulnya?"
Lagi-lagi Sky mengangguk. "Berhubung Violet masih belum ingin dibujuk. Jadi Dustin hanya memantaunya dari jauh. Hah, Aunty harap hubungan mereka cepat membaik. Apa lagi Aunty dengar Violet sedang hamil."
"Hah? Violet hamil?" Kaget Zhea menutup mulutnya tak percaya.
Sky menghela napas berat. "Entahlah, keluarga kami memang sudah kacau sejak awal. Karena itu Aunty banyak berharap padamu. Terima lamaran Gabriel ya?" Mohonnya seraya menggenggam tangan Zhea dengan lembut.
Zhea menatap Sky penuh arti. "Aku hanya belum yakin jika Gabriel serius, Aunty. Rasanya tak masuk akal jika dia tiba-tiba menerima pernikahan ini begitu saja. Semuanya terkesan aneh."
Sky mengangguk paham. "Aunty tahu perasaanmu, Zhe. Mungkin Aunty juga akan berpikir yang sama jika diposisimu. Tapi... Aunty yakin Gabriel tidak main-main saat ini. Aunty perhatikan, akhir-akhir ini Gabriel terlihat serius bekerja. Bahkan Daddynya sampai heran karena perubahan putranya itu. Biasanya Gabriel selalu melewatkan meeting penting di perusahan. Tapi beberapa hari ini dia berbeda, bahkan anak itu berhasil menarik beberapa klien besar dalam waktu singkat."
"Oh ya?" Kaget Zhea.
Sky mengangguk yakin. "Sepertinya dia mulai memikirkan masa depannya."
Zhea tersenyum tipis. "Semoga dia benar-benar berubah."
"Aamiin. Dan orang yang berhasil merubahnya itu kamu, Zhea." Puji Sky. Seketika wajah Zhea pun merona.
"Aunty. Mana mungkin aku penyebabnya? Mungkin dia mulai sadar jika apa yang dilakukannya selama ini salah."
Sky tersenyum. "Gabriel itu sangat mirip dengan Daddynya. Sifatnya, tingkahnya, bahkan keras kepalanya juga sama. Uncle juga sebelum menikah sangat brengsek, terus gonta-ganti pasangan. Tapi setelah menikah, kesetiannya tak diragukan lagi. Entahlah, Aunty harap Gabriel juga seperti Daddynya."
Zhea mengangguk. "Aamiin."
"Jadi? Kau menerimanya kan?"
__ADS_1
"Aunty." Rengek Zhea menutup wajahnya karena malu. Sontak Sky pun tertawa geli karena tingkah menggemaskan calon menantunya itu.