Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 29


__ADS_3

Langit semakin gelap, memberikan kesan mencekam dan sepi pada mansion mewah kediaman keluarga Digantara. Ya, hal itu memang selalu terjadi setiap malam. Pintu ganda berukir mewah itu terbuka otomatis, saat seorang gadis memasuki mansion dengan langkah malas. Menyusuri kemewahan yang sama sekali tak berarti untuknya. Hari pertama kerja, ia harus lembur dan pulang larut.


Peraturan perusahaan mengharuskan para sekretaris pulang setelah direktur pulang terlebih dahulu. Hari ini direkrut lembur, oleh karena itu semua sekretaris ikut lembur, termasuk Sweet.


Sweet melangkah gontai menuju kamar, hari yang cukup melelahkan. Bukan pekerjaan yang membuatnya lelah, melainkan lelah dengan pikirannya sendiri. Ia melempar asal handbag miliknya di atas kasur. Kemudian ikut menjatuhkan dirinya di sana. "Hah, mungkin dengan tidur semuanya akan lebih baik."


Sweet memejamkan matanya, dengan kedua tangan yang terlentang. Rasa lelah benar-benar membawanya ke alam mimpi. Hingga tak menyadari jika Alex masuk ke kamar. Lelaki itu melangkah perlahan, jas yang sejak pagi membalut tubuhnya kini sudah tersampir dilengan. Tangan sebelahnya bergerak untuk membuka dasi. Namun tatapannya tertuju pada istri kecilnya yang tengah terlelap.


Alex menjatuhkan punggungnya perlahan di atas ranjang. Dengan pandangan yang tak lepas dari Sweet. Suara dengkuran halus terdengar jelas, menandakan jika gadis itu benar-benar tertidur. Tangan kekar itu terulur untuk mengusap lengan halus dan putih milik Sweet. Gadis itu melenguh pelan karena ulah Alex. Tanpa sadar, seulas senyuman terbit dari dibibir Alex.


"Kau sangat lucu saat sedang tidur," ucap Alex terus memperhatikan wajah cantik Sweet. Pipi cubby, hidung yang kecil, bibir tipis dan bulu mata lentik, begitu elok untuk dipandang. Lebih dari lima menit Alex terus menatap wajah cantik Sweet. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir tipis milik Sweet.


Plak!


Alex terhenyak, sebuah tamparan ia dapat dari tangan mungil istrinya. Alex terdiam cukup lama. Merasakan gelenyar panas karena tamparan Sweet. Tangan mungil itu benar-benar hebat, meninggalkan warna merah dipipi mulus Alex.


"Brengsek! Kau lelaki tak punya perasaan, sesuka hati, kasar, kejam...." gerutu Sweet dengan mata yang masih terpejam. Alex tersenyum getir mendengarnya.


"Bahkan dalam mimpi saja kau berani padaku?" ucap Alex kembali mengusap pipi mulus Sweet. Kali ini ia berhasil menyesap bibir manis Sweet. Entah sejak kapan rasa manis itu menjadi candu untuknya. Gadis itu menggeliat dan berbalik membelakanginya.


"Kau lelaki tua tak tahu malu," lanjut Sweet kembali mengigau dalam mimpinya. Membuat Alex semakin gemas.


"Aku memaafkanmu kali ini," ucap Alex bangun dari duduknya. Saat ia ingin melangkahkan kaki, matanya tak sengaja melihat sesuatu yang janggal pada jasnya. Dengan cepat Alex membentangkan jas itu, matanya membulat sempurna saat menyadari terdapat bekas bibir seseorang di sana. Sial! Jadi ini alasan semua orang menatapku aneh sejak tadi. Umpat Alex dalam hati. Ia pun melempar asal jas miliknya. Melanjutkan niatnya untuk ke kamar mandi.


Alex keluar dengan kondisi segar, rambutnya yang basah meneteskan air ke lantai. Tubuh kekar itu hanya terbalut selembar handuk sebatas pinggang hingga lutut.

__ADS_1


Diwaktu bersamaan, Sweet bergerak dan membuka mata perlahan. Mata bulat itu terlihat menyipit untuk menyesuaikan cahaya. Sweet mengubah posisinya menjadi duduk, mengalihkan pandangan keseluruhan penjuru kamar. Hingga menangkap sosok lelaki yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Lelaki itu bergerak mendekatinya, memberikan sebuah tatapan aneh. Sweet yang tersadar pun langsung memalingkan wajahnya.


"Bantu aku mengeringkan rambut." Lelaki itu mengeluarkan sebuah perintah seperti biasa. Sweet menoleh ke arah Alex sekilas, kemudian beranjak untuk mengambil hair dryer. Hanya butuh beberapa detik, Sweet sudah duduk kembali di ranjang. Alex tersenyum senang melihat wajah masam Sweet. Gadis itu memang bersikap dingin, namun begitu penurut.


"Berbalik," titah Sweet pada Alex yang saat ini duduk berhadapan dengannya. Namun lelaki itu masih bergeming, dengan seulas senyuman aneh. Sweet yang mulai kesal sedikit mengangkat tubuhnya, untuk menyesuaikan tingginya dengan Alex. Sweet pun mulai mengeringkan rambut suaminya tanpa bersuara. Aroma mint dari rambut Alex bagaikan aroma terapi.


Gadis itu lagi-lagi termenung, ia masih saja memikirkan perkataan sang adiknya yang menghubungi dirinya sore tadi. Suara adik tercintanya itu benar-benar mengganggu pikirannya.


"Kak, aku butuh bantuanmu. Hidup kami tidak pernah tenang, sekelompok orang terus meneror. Kondisi Bapak kurang baik, kami juga tidak bisa keluar dari persembunyian dengan mudah. Kondisi kami cukup menyedihkan, aku mohon kembali Kak. Kami butuh Kakak," suara itu masih terekam dengan jelas memori Sweet. Suara adiknya yang memelas seakan menggoreskan luka dalam. Sweet sangat senang mendapat titik terang tentang keluarganya. Meluruhkan rasa rindu dalam benaknya, meski kini berganti dengan rasa cemas yang berlebih, rasa sakit yang mendera. Karena nomor itu tak dapat dihubungi lagi.


Pergerakan Sweet sedikit melambat, membuat Alex merasa heran dan sedikit mengangkat kepalanya. Ia dapat melihat wajah istrinya yang merengut. Gadis itu terdengar menghela napas kasar beberapa kali.


Apa yang mengganggu pikirannya? Batin Alex.


Apa aku meminta bantuannya saja? Lelaki ini memiliki informasi yang cukup luas, mungkin saja bisa membantuku. Tapi, dia bukan lelaki yang mudah untuk diminta bantuan. Bagaimana jika dia menolak, dan.... Hah, aku tidak peduli dengan resiko yang harus aku ambil. Demi keluargaku, aku akan melakukan apa pun. Termasuk menjatuhkan harga diriku di depan lelaki ini.


"Apa yang kau pikirkan, kau mulai jatuh cinta karena ketampananku." timpal Alex dengan senyuman sinis. Sweet hanya bisa menghela napas panjang mendengarnya. Lalu mata bulat itu semakin memperdalam tatapannya.


"Aku butuh bantuanmu," ucap Sweet tanpa ragu. Alex yang mendengar itu tersenyum penuh kemenangan.


"Bantuanku? Kau tahu arti dari perkataanmu? Bantuanku tidak ada yang gratis, Sayang." Alex mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pipi mulus Sweet. Sweet terlihat bingung, terlihat dari bola matanya yang tak mau diam. Untuk yang kesekian kalinya Sweet menghela napas panjang.


"Aku akan membayarnya," ucap Sweet tanpa ekspresi. Membuat Alex semakin gemas. Dengan sengaja Alex meletakkan kedua tangannya di pinggang Sweet. Gadis itu sempat kaget, tetapi begitu cepat ia menormalkan ekspresinya.


"Membayarku dengan apa, Sayang?" goda Alex semakin mendekatkan wajahnya. Hembusan napas lelaki itu begitu nyata. Sweet menelan air ludahnya yang terasa kelu, terlihat dari lehernya yang bergerak naik turun.

__ADS_1


"Apa pun yang kau mau," sahut Sweet masih dengan nada datar. Ya, Sweet sudah membulatkan tekad untuk menerima segala resiko yang harus ia peroleh.


"Termasuk dirimu?" bisik Alex dengan begitu santai. Sweet terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Baiklah, bantuan apa yang kau inginkan?" tanya Alex sambil memainkan helaian rambut Sweet yang terlepas dari ikatan.


"Mencari keberadaan keluargaku," ucap Sweet dengan cepat.


"Keluargamu? Bukankah keluargamu baik-baik saja di sini," ujar Alex seakan tidak mengetahui apa pun.


"Bukan, ini menyangkut keluarga kandungku. Mereka dalam bahaya, aku ingin kau mencari keberadaan mereka dan melindungi mereka dari kejaran...." Sweet menggantung perkataannya. Ia baru ingat, jika Alex tidak tahu masalah keluarganya.


"Kenapa kau tidak melanjutkan ucapanmu, Sayang?" tanya Alex menunggu kelanjutan dari perkataan Sweet.


"A--aku ingin bertemu dengan mereka, aku harap kau mau membantuku mencari keberadaan mereka. Saat ini hanya kau yang bisa membantuku, aku tahu hanya kau yang bisa melakukan ini. Aku percaya padamu," lanjut Sweet dengan tegas. Ia mengenyampingkan segala ego dan perasaan malu. Saat ini keluarganya lebih penting.


"Ah, akhirnya kau sadar, Sayang. Jika suamimu ini hebat. Mulai saat ini, kau hanya boleh meminta bantuan dariku."


Sweet mengangguk kecil, ia menjauhkan kedua tangannya dari Alex. "Mau kemana? Kau belum membayar jasaku," ujar Alex merengkuh pinggang ramping Sweet. Membuat gadis itu kaget bukan main. Sweet sadar, saat ini Alex hanya mengenakan selembar handuk yang membalut tubuh yang indah itu. Sangat membahayakan dirinya.


"Aku harus mandi, ini sudah larut. Kau juga lapar bukan? Aku harus menyiapkan makan malam untukmu," ujar Sweet mencoba lari dari rengkuhan Alex. Namun yang ia dapatkan hanya sebuah senyuman penuh arti dari lelaki itu.


"Aku juga belum salat Isya," timpalnya. Kali ini berhasil, Alex melepaskan rengkuhannya. Dengan cepat Sweet menjauh, nyawanya akan terancam jika terus berdekatan dengan Alex. Sejak tadi detak jantungnya tak terkontrol, berdetak kencang seakan hendak melompat ke luar.


"Terima kasih," ucap Sweet sebelum melangkah pergi. Cup! Ia juga menghadiahi sebuah kecupan di pipi Alex, lalu berlari menuju kamar mandi. Lelaki itu terkejut, apa ini mimpi? Gadis dingin sepertinya dengan berani mencium pipi seorang lelaki. Bahkan lelaki itu lah yang membuat hidupnya semakin rumit. Alex terdiam cukup lama, mencoba untuk bangun dari lamunannya.

__ADS_1


__ADS_2