Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 97


__ADS_3

Mala sedikit bergeser saat mendengar suara pergerakan suaminya. Ia juga sedikit menutup wajah dari samping agar Bian tak menyadari jika itu dirinya.


Kak Ara... kenapa harus gini sih rencananya? Sekarang aku yang terjebak di sini. Nyebelin banget sih. Kesal Mala dalam hati.


Saat ini posisi Bian tepat di samping Mala.


"Dan ini... ini adalah kalung spesial yang saya desain khusus untuk seseorang." Ujar Bian menatap kalung bermata berlian yang sempat menjadi perhatian Mala.


Seketika wajah Mala merona saat mendengar pekataan Bian. Apa mungkin kalung itu untukku? Ah, itu tidak mungkin.


"Wow.... sepertinya orang itu sangat spesial. Apa itu untuk istri Anda? Di mana beliau?" Tanya sang klien merasa takjub dengan apa yang Bian lakukan.


"Dia...."


"Sayang," panggil seseorang yang berhasil memotong ucapan Bian. Seorang wanita bertubuh tinggi semampai berjalan ke arah Bian. Wanita itu kini menjadi pusat perhatian semu orang karena penampilannya yang cukup seksi. Termasuk perhatian dari Mala.


Mala membuka kacamata hitamnya, supaya ia bisa melihat semuanya dengan jelas.


"Norin? Sedang apa kamu di sini?" Tanya Bian tampak kaget melihat wanita itu.


Mala melirik suaminya, untuk melihat ekspresi wajah itu. Dan kini hatinya mulai memanas. Apa lagi wanita seksi itu duduk di pangkuan Bian.


"Aku merindukanmu, Bian." Dengan beraninya wanita itu mengecup bibir Bian.


Mulut Mala sedikit terbuka saat melihat adegan yang tak seharusnya ia lihat.


"Wah, jadi ini istri Anda, Tuan Pramana?"


"Ah...."


"Sayang, jadi sekarang kau mengakui jika aku ini istrimu?"


Deg!


Jantung Mala seolah melompat keluar mendengar perkataan wanita itu. Bahkan buliran air bening menetes di pelupuk matanya. Mala tersadar, lalu menghapus jejak air mata dipipinya.


"Nona, Anda tidak ingin melihat barang lain...."


Belum selesai sang pegawai cantik itu bicara, Mala sudah lebih dulu menghampiri Bian. Lalu menarik kasar wanita itu dari pangkuan Bian sampai terhuyung.


"Sayang, aku...."


Plak!

__ADS_1


Mala melayangkan sebuah tamparan keras dipipi suaminya. Semua orang yang melihat itu cukup terkejut. Sekarang mereka jadi tontonan hangat semua orang.


"Brengsek kau, Bian." Umpat Mala kembali meneteskan air matanya. Mala melayangkan tatapan tajam dan melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya. Lalu melempar asal benda itu ke arah Bian.


"Sayang." Bian hendak meraih lengan Mala. Namun dengan gerak cepat Mala menghindar.


"Aku pikir cintamu tulus, Bian. Karena itu aku membuka hati untukmu. Tapi... setelah aku menerimamu dalam hatiku. Kau melakukan ini padaku. Kau jahat Bian. Aku membencimu." Sinis Mala dengan tatapan penuh emosi.


"Hey, siapa kau berani menampar kekasihku?" Bentak wanita bernama Norita mendorong Mala. Lalu Mala pun melayangkan tatapan membunuh pada wanita itu.


"Aku istrinya! Kau puas huh?" Bentak Mala yang berhasil membuat wanita itu tersentak kaget.


Bian yang melihat itu memijat pelipisnya. Lalu memberikan isyarat pada lelaki yang kini berdiri disampingnya. Lelaki berpakaian formal itu melangkah pergi entah kemana.


Sang klien yang ada disisi Bian merasa bingung dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ia tak menyadari jika dirinya masuk dalam permainan yang Bian lakukan.


Bian memajukan kursi rodanya untuk mendekati sang istri. "Sayang, dengarkan aku dulu."


"Diam! Aku tidak ingin mendengar suaramu, Bian. Kau tahu? Demi dirimu aku datang ke sini, mencoba menyingkirkan rasa maluku hanya untuk menemuimu. Suamiku, kekasih halalku. Tapi apa yang aku lihat sekarang?" Bentak Mala dengan amarah yang memuncak. Suasana pun mulai memanas dan terasa sangat canggung.


Sang klien yang tak ingin ikut campur urusan rekannya itu segera pergi dari sana.


"Mala...."


"Mala dengar...."


"Cukup! Tidak ada yang perlu aku dengar lagi dari mulutmu, Bian. Semua ucapanmu itu palsu. Selamat tinggal." Pungkas Mala yang langsung bergegas pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti saat ruangan itu mendadak gelap. Mala berusaha menyesuaikan matanya dengan kegelapan. Tetapi matanya mengabur karena menahan tangisan.


Dan tak berapa lama sebuah lampu sorot mengarah pada Mala. Sontak Mala pun terkejut. Bukan hanya lampu sorot, kini di hadapannya terdapat sebuah layar yang menunjukkan panggilan video grup keluarganya. Di sana ada Sweet, Arlan dan Milan.


"Happy birth day tou you... happy birth day, happy birth day. Happy birth day, Mala." Ucap semua orang dalam panggilan grup.


Mulut Mala sedikit terbuka. Ia masih kaget bercampur bingung. Lalu dengan cepat ia berbalik untuk mencari keberadaan suaminya. Dan lampu sorot pun mengarah pada Bian.


"Selamat ulang tahun, Istriku. Maaf aku membuatmu marah, yang tadi itu tidak termasuk dalam kejutanku. Wanita itu hampir mengacaukan semuanya. Dia wanita yang selalu menggangu hidupku dan aku sudah mengusirnya." Bian membawa kursi rodanya mendekati Mala.


Mala mendengus kesal. Dirinya sudah benar-benar dirasuki amarah. Dan semua ini hanya sebuah sandiwara? Mala melihat ke arah layar yang menampakkan wajah Arlan dan Ara di sana. Lalu memberikan tatapan penuh dendam.


"Maafkan Ara, Mala. Ara sengaja ngerjain kamu." Ucap Ara dengan tawanya yang khas. Kemudian Mala pun kembali memusatkan perhatian pada Bian.


"Kau jahat, Bian." Ucap Mala kembali mengis. Bian yang melihat itu tersenyum simpul dan menarik tangan istrinya. Lalu menyematkan cincin yang Mala buang tadi. "Jangan pernah melepasnya lagi, dengan susah payah aku mendesain khusus untukmu."


Mala tertawa bahagia dan langsung berhambur dalam pelukan Bian. "Aku membencimu."

__ADS_1


"Aku tahu. Kamu pantas membenciku, tapi tamparanmu tadi lumayan menyakitkan."


Mala yang mendengar itu menangis tersedu dalam dekapan suaminya. "Maafkan aku, itu juga salahmu sendiri." Kata Mala disela isakannya. Bian tertawa renyah, lalu memberikan kecupan di pucuk kepala istrinya.


Mala menarik diri, lalu duduk dipangkuan suaminya. "Aku tidak mengizinkan wanita lain menyentuh milikku." Ucap Mala mulai menyecap bibir suaminya. Bian sempat tersentak kaget, tetapi sedetik kemudian Bian mencoba menikmati permainan yang istrinya berikan.


Mala melepaskan pagutannya karena kehabisan oksigen. Bian tersenyum geli melihat wajah bersemu istrinya. Lalu pandangan keduanya bertemu dan mereka pun tertawa bersamaan.


"Ekhem... apa kalian melupakan kami di sini?" Tanya Sweet ikut nimbrung.


"Papa Bian, kenapa buat Mama Mala nangis?" Teriak si kecil Alexa dengan suara cemprengnya. Mala dan Bian pun menoleh, lalu tersenyum geli.


"Sudahlah, jangan mengganggu kemesraan mereka. Sebaiknya kita biarkan mereka bermesraan. Selamat ulang tahun, Mala. Ayah doakan kamu selalu bahagia." Kata Alex yang langsung menutup panggilan.


"Selamat ulang tahun untuk kita, Mala. Kakak doakan kamu bahagia bersama suami. Jadilah istri yang baik. Kami juga harus pamit, ada sedikit perayaan di restoran. Kami menyayangimu." Tutup Arlan. Dan kini hanya terisa Milan yang sedang duduk bersama sang suami. Ia tersenyum haru karena bisa melihat kebahagiaan putrinya.


"Selamat ulang tahun buat putri Mama. Bahagia selalu dan jadilah istri yang baik untuk suamimu. Cintai dia seperti dia mencintai kamu, Mala. Mama bahagia karena bisa melihat anak-anak Mama sudah mendapat pasangan hidup yang baik. Mama juga tidak akan mengganggu kamu, segera bulan madu. Mama tunggu kabar baik dari kamu." Milan pun ikut menutup panggilan bersaaman dengan hidupnya lampu.


Mala tersentak kaget karena saat ini seluruh staf karyawan sudah berkumpul di sana. Mala segera bangun dari posisinya karena merasa malu. Bian tertawa renyah melihat sikap lucu istrinya.


Salah seorang karyawan terlihat mendorong sebuah kue ulang tahun berukuran besar. Dan itu benar-benar membuat Mala takjub.


"Selamat ulang tahun dan selamat datang Nyonya Pramana." Ucap semua staf karyawan kompak.


Mala yang mendengar itu tersenyum penuh haru. "Terima kasih semuanya. Saya tidak tahu kalau kalian juga ikut andil untuk mengerjai saya. Tapi saya benar-benar terkejut. Terima kasih." Ucap Mala penuh haru.


"Semoga Tuan dan Nyonya Pramana selalu dilimpahi kebahagiaan. Kami sangat senang saat mendengar Tuan Bian sudah menikah." Ucap salah seorang wanita yang merupakan salah satu manager perusahaan.


"Aamiin... sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk kalian semua." Ucap Mala menangkup kedua tangannya didada.


"Sama-sama, Nyonya. Silakan potong kuenya."


Mala pun mengangguk. Lalu meraih pisau dan memotong kue. Potongan kue pertama tentu saja ia berikan untuk suaminya. Mala kembali duduk dipangkuan suaminya, lalu menyuapi Bian dengan penuh perasaan. "Terima kasih, suamiku."


"Harusnya aku yang berterima kasih, karena kamu sudi menerima segala kekuranganku." Balas Bian mengecup bibir tipis istrinya. Mala tersenyum manis.


"Aku mencintaimu, Bian." Ucap Mala sambil menunduk malu. Bian yang mendengar itu terlihat bahagia. Ia menarik dagu sang istri, dan mengunci mata coklat itu rapat-rapat.


"Cintaku padamu tak akan pernah berubah. Seperti ucapanku dulu, hanya dirimu wanita yang berhasil meluluhkan hatiku, Mala."


Mala mengangguk kencang. "I believe."


Bian memeluk istrinya dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


Dony, sang asisten pribadi Bian pun mempersilakan para karyawan menikati kue berukuran besar itu. Mengalihkan perhatian semua orang dari pasangan yang tengah memadu kasih itu.


__ADS_2