Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 73


__ADS_3

California, Amerika Serikat.


Alexa terus menyebikkan bibirnya karena merasa kesal pada sang suami. Bagaimana tidak, Winter sudan berjanji akan pulang lebih cepat dan membawanya jalan-jalan. Namun lelaki itu pulang jam sembilan malam. Istri mana yang tidak marah? Ingin sekali rasanya Alexa menjambak lelaki itu dan membenturkannya ke dinding. Beruntung ia masih waras dan mencintai suaminya. Jika tidak, mungkin ia sudah melakukan itu sejak tadi.


"Maafkan aku, Baby. Aku lupa untuk pulang cepat." Ucap Winter dengan entengnya. Sudah ratusan kali lelaki itu mengucapkan kata maafnya. Nanum Alexa masih mendiamkan dirinya.


Alexa tidur membelakanginya dengan selimut yang hampir menutupi separuh tubuhnya.


Winter menyusupkan tangannya di balik selimut. Menyentuh perut buncit sang istri yang menjadi favoritnya. "Jangan marah lagi. Besok aku akan pulang cepat."


"Jangan memberikan janji palsu, aku benci itu." Ketus Alexa yang akhirnya mengeluarkan suara emasnya. Ia juga menyikut Winter agar menjauhkan tangannya. Namun lelaki itu tidak mau kalah dan malah mengeratkan pelukannya.


"Apa yang harus aku lakukan supaya istriku yang cantik ini tidak marah lagi huh?" Winter mengecup pundak mulus sang istri yang terekspos karena Alexa hanya mengenakan lingerie tipis. Sejak hamil wanita itu selalu mengeluh kepanasan meski cuaca dingin sekali pun.


"Menjauh dariku," ketusnya.


"Aku tidak bisa berjauhan darimu, baby." Bisik Winter memberikan godaan pada sang istri.


"Kali ini aku tidak akan tergoda." Sinis Alexa seraya memejamkan mata.


"Apa aku boleh menjenguk mereka?" Tanya Winter sembari mengusap perut buncit Alexa.


"Nope." Tolaknya dengan cepat. "Aku memutuskan untuk tidak melakukan itu sampai melahirkan."


"Baby, mana bisa seperti itu? Aku tidak bisa sehari saja tak menyentuhmu."


"Siapa suruh kau mengingkari janji. Menjauhlah, Winter. Atau aku akan tidur di sofa."


Winter menghela napas panjang. "Maafkan aku, baby. Bagaimana kalau besok aku membawamu ke restoran Indo yang sedang viral itu. Kau bilang ingin makan apa kemarin?"


"Rendang."


"Ya, kita pergi besok saat jam makan siang."


Alexa membalikan tubuhnya mendengar itu. "Janji?"


Winter mengangguk yang diiringi senyuman menawan. "Kali ini aku tidak akan lupa."


"Aku mau. Sudah lama aku tidak makan makanan lezat itu. Aku juga ingin makan soto dengan perkedel. Ya ampun, sudah kubayangkan seprti apa rasanya." Ujar Alexa yang tengah membayangkan makanan lezat itu dalam kepalanya. Terakhir kali ia makan makanan itu saat berkunjung ke Indonsia. Dan setelah itu ia tak pernah merasakannya lagi.


"Kau bisa makan sepuasnya." Winter tersenyum senang karena berhasil membujuk istrinya.


"Winter, aku mendadak ingin makanan itu sekarang. Bagaimana dong?" Alexa menggigit ujung bibirnya karena tidak sabar ingin memakan makanan lezat itu.


"Kau serius, Baby? Ini sudah malam, mana mungkin restoran itu masih buka."


"Kita coba saja dulu. Siapa tahu masih buka. Ayolah, aku menginginkan itu sekarang juga, Winter." Rengek Alexa dengan tatapan memohon.


Winter mengehela napas pasrah. "Baiklah, ganti pakaianmu dulu. Kita pergi sekarang."


Alexa tersenyum senang dan langsung menyibak selimutnya. Kemudian melesat cepat menuju closet. Winter yang melihat itu cuma bisa menggeleng. Istrinya itu benar-benar sangat lucu.


Alexa memekik kegirangan karena tempat yang dimaksud itu masih buka. Tanpa banyak bicara lagi, keduanya pun masuk ke sana. Alexa memesan begitu banyak makanan yang diinginkannya. Sedangkan Winter hanya memesan secangkir latte karena ia sudah makan.

__ADS_1


"Ya Tuhan, aku sangat senang. Semua menu masih lengkap. Aku tidak sabar untuk melahapnya." Ujar Alexa begitu semangat. Winter cuma tersenyum menanggapinya.


Tidak lama, pesanan Alexa pun sampai. Wanita itu kembali memekik kegirangan. Sang waiters tersenyum geli melihat tingkah bumil yang satu itu.


"Selamat menikmati."


"Terima kasih, Tampan." Ucap Alexa yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Winter.


"Sama-sama, Nona." Pemuda itu pun segera pergi dari sana sebelum mendapat amukan dari suami Alexa itu.


"Cepat makan." Titah Winter menatap takjub beberapa hidangan yang tertata di meja. "Kau yakin sanggup menghabiskannya?"


"Jika tidak habis aku akan meminta si tampan tadi membungkusnya. Besok pagi aku akan memakan sisanya." Jawab Alexa dengan santai.


"Hm... kalau begitu makanlah."


"Kau tidak ingin mencobanya?" Tawar Alexa seraya memasukkan sepotong daging rendang ke dalam mulutnya.


"Tidak, melihatmu makan saja aku sudah kenyang."


"Ya ampun, ini sangat enak. Rasanya aku ingin menghabiskan semuanya." Seru Alexa begitu lahap menyantap semua hidangan di depan matanya. Winter yang melihat itu cuma bisa menggeleng dan menonton istrinya makan.


"Wah, apa ini kebetulan kita bertemu di sini?" Sapa seseorang yang berhasil menarik perhatian keduanya. Sontak mata Alexa pun membulat.


"Dika, Clara? Kalian di sini?" Alexa menatap keduanya tak percaya.


Dika dan Clara pun mengangguk bersamaan. "Suamiku mengidam masakan Indonesia. Kebetulan Dika sedang melakukan perjalanan bisnis di sini dan aku ada pemotretan. Jadi kami mampir di tempat ini yang lumayan famous." Jawab Clara.


Dika dan Clara memang sudah resmi menyandang status suami istri sejak dua bulan yang lalu. Meski banyak sekali drama yang harus mereka lalui. Dan sekarang keduanya terlihat bahagia meski diawal pernikahan mereka harus menghadapi mantan istri Dika yang ingin kembali rujuk.


Clara pun mengangguk. "Empat minggu."


"Ah, syukurkan lelaki ini tidak menghamilimu sebelum menikah." Kata Alexa memicingkan mata pada sepupunya itu.


"Aku masih memikirkan masa depan anakku, Lexa." Sahut Dika yang sejak tadi tak melepaskan rengkuhan tangannya di pinggang ramping sang istri.


"Duduklah di sini, tempat ini masih luas. Kita bisa mengobrol panjang." Tawar Winter memberikan senyuman tulus.


"Ya, duduklah. Aku juga masih ingin mengintrogasi kalian." Imbuh Alexa.


"Dengan senang hati." Dika pun menuntun istrinya duduk dan ia pun ikut duduk di sana. Kini kedua pasangan itu saling duduk berhadapan.


"Kau ingin mencicipinya? Ambil saja." Tawar Alexa pada Clara.


"Tidak, aku sudah makan."


"Tidak perlu takut gemuk, agensimu itu pasti masih memakaimu karena kau sangat cantik dan seksi. Buktinya lelaki tua ini begitu tergila-gila padamu sampai melepaskan nenek lampir itu." Oceh Alexa yang disambut tawa oleh Clara. Sedangkan Dika mendengus sebal.


"Tidak, aku memang sudah makan." Tolak Clara dengan senyumannya yang khas.


"Baiklah. Dan kau pak tua, bagaimana dengan perusahaanmu yang hampir tumbang itu huh?"


"Aku berhasil merebut kembali saham dari tangan mereka. Bukan aku namanya jika kalah di tengah jalan." Dika tersenyum miring setelah mengatakan itu.

__ADS_1


"Cih, paling juga Kakakmu yang membantu. Atau mungkin Khalif? Lelaki itu sangat hebat meski masih muda. Bahkan dia bisa memegang lima perusahaan sekaligus." Ujar Alexa yang sebenarnya tengah menyindir Dika.


"Sejak awal aku tak suka bisnis, aku lebih suka menjelejahi langit. Tapi apalah daya, Daddy selalu menuntutku untuk meneruskan perusahaan."


"Dan kau hampir menghancurkan perusahan peninggalan nenek kakek kita." Ledek Alexa lagi.


Dika mendengus seraya menyomot sepotong perkedel milik Alexa.


"Hey, kau mengurangi jatah makanku." Kesal Alexa.


"Tadi kau menawari istriku. Dan aku hanya mengambil satu saja tidak boleh." Protes Dika.


"Istrimu sedang hamil, makanya aku tawari." Kesal Alexa dengan mulut yang dipenuhi makanan.


"Baby, habiskan dulu makananmu baru bicara." Winter menyapu ujung bibir istrinya dari bumbu rendang.


"Lihat, dia terlihat seperti anak kecil dengan perut yang buncit." Ledek Dika. Sejak dulu mereka memang tidak pernah akur. Entah apa yang akan terjadi sekarang?


"Cla, apa aku boleh membunuhnya? Kebetulan aku sedang memegang pisau." Alexa menodongkan pisau makan ke arah Dika. Sedangkan Winter hanya bisa menggeleng melihat pertengkaran dua saudara itu.


"Bunuh saja, dia memang menyebalkan." Sahut Clara yang sama sekali tak ingin membela suaminya.


"Sayang, kau seharusnya membelaku. Kau sangat nakal, aku akan menghukummu setelah ini."


"Cih, kalau di atas ranjang bukan hukuman namanya." Ketus Alexa.


"Apa lagi hukuman yang menguntungkan selain itu? Benarkan, Winter."


"Ya." Jawab Winter yang berhasil mendapat pelototan dari Alexa. "Baby, apa yang dikatakan Dika itu benar, hukuman terbaik ya hanya hukuman di atas ranjang. Kita sama-sama mendapat keuntungan."


Alexa memutar bola matanya jengah. "Whatever."


"Lexa, sebaiknya kita tidak usah menganggapi perkataan mereka. Yang ada kau akan stress." Saran Clara.


"Kau benar, Cla. Lebih baik aku lanjut makan. Suamimu menggangu selera makanku."


"Bilang saja kau rakus."


"Aku tidak peduli."


"Kau sangat jelek dengan tubuh kecilmu yang gendut dan buncit seperti itu." Ledek Dika menatap penampilan adik sepupunya itu.


"Suamiku saja tidak pernah protes."


"Karena dia takut padamu."


"Tentu saja, dia harus patuh pada istrinya. Karena dia mencintaiku."


"Dasar bumil gila."


"Kau yang gila."


"Kau."

__ADS_1


Winter dan Clara tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menonton perdebatan keduanya sambil menggelengkan kepala.


__ADS_2