
Diwaktu bersamaan dengan berakhirnya alunan musik, di situ pula gadis bertopeng itu menyelusup masuk dalam kerumunan orang dan menghilang begitu cepat. Arez sama sekali tak berniat untuk mengejarnya. Toh cepat atau lambat ia akan bertemu lagi dengan gadis misterius itu. Bukan Arez namanya jika tak bisa menaklukkan sang musuh dalam waktu singkat.
Alexella yang melihat itu pun langsung menghampiri sang Kakak. "Kenapa Kakak lepaskan gadis itu?"
Arez melirik sang adik. "Untuk apa menahannya? Dia tak akan mengakuinya. Kita lihat sampai mana dia bisa lari?" Sahut Arez dengan nada dingin tanpa ekspresi.
"Aku rasa dia ada hubungannya dengan pembunuhan waktu itu. Sangat mencurigakan."
Arez menghela napas berat. "Sebaiknya kau kembali ke tempatmu, jangan sampai Mommy membuat keributan karena kau tak ada di sana. Aku harus pergi, katakan pada Mommy aku ada urusan di kantor." Pungkas Arez beranjak pergi dari sana tanpa menunggu jawaban sang adik.
Alexella yang sudah memahami karakter sang Kakak pun sama sekali tak berekspresi. Ia pun beranjak dari sana, menghampiri tempat dimana orang tuanya berada. Tempat yang hanya ada sanak saudaranya di sana. Ia bisa meliahat sang Daddy sedang berbincang dengan seseorang di sofa. Tentu saja Alexella mengenalnya. Ia pun segera menghampiri mereka.
"Lihat, putrimu terlihat begitu menawan, Lex. Tak heran jika dia menjadi buah bibir diperusahaanku." Ujar seorang lelaki yang hampir seumuran dengan Alex saat melihat kehadiran Alexella. Siapa lagi kalau bukan Gerald Schwarz. Ayah kandung dari Jarvis Leonard Schwarz. Si tampan yang mewarisi seratus persen sifat sang Daddy, playboy kelas kakap. Pewaris tunggal dua perusahaan besar, Air Germany dan Erapasific Crop. Jarvis juga merupakan teman dekat Arel, bisa dikatakan Jarvis lah yang meracuni otak Arel sampai lelaki itu menjadi sebejad dirinya. Meski itu tak sepenuhnya kesalahan Jarvis. Karena Arel memiliki masalah yang membuatnya frsutasi selama dua tahun ini.
"Honey, sapa pamanmu." Titah Alex seraya merangkul sang putri yang kini duduk di sampingnya.
"Hallo, Uncle." Sapa Alexella dengan sopan.
"Ya, cantik. Apa kabarmu? Sudah lama kita tak bertemu. Terakhir kali aku melihatmu itu saat kau masih setinggi pinggangku. Sekarang kau hampir mengalahkan si brengsek Alex ini."
Alexella sama sekali tak berekspresi mendengar ocehan Gerald. Lagi pula seluruh dunia tahu, jika putri bungsu Alexander Digantara itu memang terkenal dingin dan arogant.
"Hi Dad, hi Uncle." Sapa Jarvis yang baru ikut bergabung. Mata tajam lelaki itu pun langsung tertuju pada si cantik Alexella yang sempat kabur dari pelukannya.
"Baby, aku sempat mencarimu." Ujar Jarvis yang berhasil mendapat perhatian dua lelaki di hadapannya.
"Baby? Kalian memiliki hubungan?" Tanya Alex.
"No/yes." Jawab Alexella dan Jarvis bersamaan. Dan tentu saja Alexella yang menjawab tidak. Gadis itu langsung memberikan tatapan tajam untuk Jarvis. Sedangkan pria tampan itu mengedipkan sebelah matanya.
Baik Alex maupun Gerald menatap keduanya penuh intimidasi.
"Tentu saja kami memiliki hubungan, dia sudah aku anggap seperti adikku. Dia adik Arel, itu artinya adikku juga. Benarkan, Baby?"
"Hm." Sahut Alexella yang sebenarnya malas harus bicara dengan lelaki playboy seperti Jarvis. Alexella menatap Jarvis penuh arti.
"Lex, bagaimana jika kita lanjutkan perjodohan itu? Saat ini putraku dan putramu sudah beranjak dewasa. Apa lagi yang kita tunggu, usia kita sudah bau tanah. Entah besok atau lusa, Tuhan akan memanggil kita."
__ADS_1
"Perjodohan? Perjodohan apa, Sayang?" Tanya Sweet yang baru saja bergabung.
"Owh, ini tentang pembicaraan lama, Sayang." Sahut Alex merangkul sang istri yang duduk di sisi lainya.
"Jawab aku, siapa yang ingin kau jodohkan dengan pria hidung belang ini, Mas?" Kesal Sweet sambil menunjuk Jarvis.
"Hey, apa kau lupa salah satu putra kalian juga seorang playboy?" Sanggah Gerald yang tak senang anaknya dikatai hidung belang.
"Itu juga karena putramu yang sudah meracuni putraku." Ketus Sweet tak mau kalah.
"Aku sama sekali tak pernah meracuninya. Dia seperti itu karena dicampakkan oleh seorang gadis." Sahut Jarvis bicara jujur. Alexella pun langsung memberi kode pada Jarvis. Karena selama ini orang tuanya tak pernah tahu masalah yang menimpa Arel.
"Gadis? Gadis apa maksudmu?" Tanya Sweet memicingkan matanya.
"Tidak ada, Mom. Lelaki ini membual." Sanggah Alexella. Jarvis menghela napas berat. "Ya, aku hanya membual." Imbuh Jarvis yang tak ingin memperkeruh suasana.
"Okay, lupakan gadis itu dan kembali pada perjodohan. Jawab aku dengan jujur, siapa yang akan kalian jodohkan?" Sweet memberikan tatapan penuh selidik pada Alex dan Gerald.
"Perjodohan apa ini? Kenapa aku baru mendengarnya?" Sembur Alexa yang baru mucul bersama kekasihnya. Semua orang pun menoleh ke arah mereka.
"Winter, jauhkan tanganmu dari putriku. Jika kalian ingin bermesraan, segera menikah." Perintah Sweet tak menyukai keintiman sepasang kekasih itu. Wanita itu masih memegang teguh prinsip Agamanya. Bersentuhan setelah halal. Dan melupakan jika anak-anaknya hidup di lingkungan yang bebas dan modern seperti saat ini.
"Baby, kita sudah mendapat lampu hijau. Ayok kita menikah?" Alexa menatap kekasihnya dengan mata berbinar.
"Tentu, Honey. Secepatnya aku akan mengirim lamaran."
"Thank you, Darling." Ucap Alexa mengecup pipi Winter sangking senangnya. Sontak mata Sweet melotot saat melihat itu.
Alex, Gerald dan Jarvis cuma tersenyum geli. Sedangkan Alexella masih mempertahankan ekspresi datarnya.
"Alexa! Jauhi lelaki itu, atau kalian tak boleh bertemu sama sekali." Ancam Sweet memberikan tatapan tajam pada putrinya. Alexa langsung menghampiri sang Mommy dan memeluknya erat.
"Mom tahu kan Lexa tak bisa hidup tanpa Winter? Biarkan Lexa terus berdekatan dengannya. Besok Winter akan kembali ke Negaranya. Lexa pasti sangat merindukannya." Bujuk Alexa.
"Bukankah kita sedang membahas soal perjodohan?" Tanya Winter mencoba mengalihkan pembicaraan. Sweet yang mendengar itu menganguk antusias.
"Untung kau mengingatkanku, Winter. Katakan siapa yang akan kalian jodohkan?"
__ADS_1
Alexa mengedipkan mata pada kekasihnya. Karena Winter selalu berhasil mengalihkan perhatian sang Mommy.
Alex dan Gerald pun berdeham bersamaan. "Kau punya putri berapa, Nyonya Alexander?" Tanya Gerald.
"Tentu saja hanya dua, Alexa dan Alexella." Sahut Sweet.
"Tunggu! Aku tidak mau dijodohkan dengan lelaki playboy ini. Mom, Dad, bukan aku kan yang kalian jodohkan?" Pekik Alexa saat menyadari sesuatu.
"Tentu saja tidak, Honey." Sahut Sweet memeluk Alexa.
"Aku juga tidak setuju jika Jarvis menikahi gadis berisik sepertimu. Aku menginginkan Alexella yang menjadi menantuku."
"What?" Pekik Alexa, Sweet dan Alexella secara bersamaan.
"Owh, kalian sangat kompak." Puji Gerald menatap ketiga wanita itu dengan senyuman memuja.
"Dad, aku tidak setuju." Ketus Alexa yang tak terima sang adik dijodohkan dengan lelaki hidung belang seperti Jarvis. Sedangkan Alexella tak memberikan tanggapan apa pun. Mulut gadis itu terkatup rapat.
"Xella, keluarkan penolakanmu." Titah Alexa menghampiri sang adik. Namun Alexella masih bergeming. "Ck, kau ini kenapa sih?" Kesal Alexa.
"Lexa, keputusan Daddy sudah bulat. Biarkan mereka menjalani hubungan ini dengan baik." Putus Alex.
"Mas!" Seru Sweet yang kurang setuju dengan keputusan suaminya.
"Jangan lupakan kebaikan mereka dulu, Ana. Kau juga tahu aku sudah bersumpah akan memberikan apa pun yang Gerald inginkan...."
"Lalu kau akan memberikan putrimu begitu? Aku tidak pernah setuju!" Pekik Sweet yang berhasil menarik perhatian Bian, Mala dan Milan. Ketiganya pun ikut bergabung. Beruntung tempat mereka terpisah dengan tempat pesta diadakan.
Sweet menatap Alexella penuh harap. "Katakan kau tidak setuju, Xella."
Alexella menatap sang Mommy sebentar, lalu beralih pada sang Daddy yang kini tengah memberikan tatapan penuh arti padanya. "Xella tidak tahu, Mom." Alexella bangun dari posisinya dan beranjak pergi dari sana.
"Xella." Panggil Sweet penuh kecewa. "Di mana Arez dan Arel?" Sweet menatap Alexa. Namun gadis itu menggeleng pelan.
Sweet memijat kepalanya yang berdenyut sakit. "Aku tidak mengerti jalan pikiran kalian." Sweet bangun dari posisinya dan ikut beranjak dari sana. Kini suasana pun menjadi canggung.
Alex menatap Gerald dan Jarvis secara bergantian. "Kita akan tetap melanjutkan perjodohan ini. Aku akan membujuk istriku." Tutup Alex yang langsung menyusul sang istri.
__ADS_1
Alexa menatap Jarvis sinis. "Jangan coba-coba mempermainkan adikku, kau harus ingat itu. Dia masih memiliki aku, Arez dan juga Arel yang kapan saja bisa menghancurkanmu. Jadi jangan pernah berpikir untuk menjadikan adikku sebagai salah satu bonekamu." Kecam Alexa sebelum ikut pergi dari sana yang diikuti oleh Winter.
Gerald menepuk pundak Jarvis. "Daddy sudah membantumu, kini giliranmu yang harus berjuang mengambil hati keluarga calon istrimu."