Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 25


__ADS_3

Sudah lebih dari dua hari Sabrina benar-benar tak kembali ke apartement suaminya. Selama itu pula Arez terus uring-uringan tidak jelas di kantor. Sampai Ansel pun kuwalahan menghadapi sikap aneh atasannya itu.


Apa Tuan tidak mendapat jatah dari istrinya? Sampai hari ini dia terus memarahi staf yang hanya melakukan kesalahan kecil. Huh, aku tidak memahami hubungan suami istri seperti apa? Membuatku ragu untuk mencari pasangan hidup.


"Ansel, ke studio sekarang. Aku ingin lihat perkembangan di sana. Satu pun tak ada yang bisa diandalkan." Ketus Arez berjalan pasti meninggalkan ruangannya.


"Baik, Tuan." Ansel hanya bisa mengekori Arez di belakang sambil menggeleng.


Sesampainya di studio, semua orang langsung memberikan salam hormat pada atasannya. Para model yang sedang melangsungkan pemotretan pun mencoba menarik perhatian lelaki tampan itu. Namun Arez sama sekali tak peduli pada mereka.


"Aku ingin pemotretan ini selesai dalam waktu satu jam. Aku tunggu hasilnya." Arez pun kembali meninggalkan studio dan hal itu berhasil membuat semua orang kalang kabut.


"Bawa aku ke Digan't Hotel." Perintah Arez pada Ansel.


"Baik, Tuan. Mobil akan segera di siapkan."


Sepanjang perjalanan menuju Hotel keluarga besarnya itu. Arez terus terdiam sambil memperhatikan jalanan kota. Yang ada dalam benaknya saat ini tentu saja hanya ada satu orang. Yaitu Sabrina. Gadis misterius yang sudah berhasil mengobrak-abrik kehidupannya akhir-akhir ini. Sebenarnya bisa saja Arez membujuk gadis itu, hanya saja lelaki itu terlalu gengsi dan ego. Pada akhirnya pekerjaanlah yang menjadi sasarannya.


Semua jajaran dan staf mendadak heboh karena atasan mereka datang secara dadakan. Mereka merasa sedang disidak. Jantung mereka terus berdegup kencang seolah tengah berlari maraton. Para karyawan berderet di depan pintu dan membungkuk untuk memberikan penghormatan.


"Selamat datang, Tuan." Sapa seorang lelaki berusia 50-an dengan keringat yang terus mentes dikeningnya. Beliau menjabat sebagai manager hotel.


"Tunjukkaan laporan pengunjung dan keuntungan ke ruanganku sekarang." Perintah Arez yang hendak melangkah menuju ruangannya. Namun langkah itu tertahan saat matanya tak sengaja menangkap sosok sang istri yang tengah berbincang ria dengan seorang lali-laki dan hendak memasuki lift.


Sial! Sedang apa dia di sini? Siapa lelaki itu dan kenapa mereka ada hotel ini? Cih, kau ingin bermain-main denganku huh? Baiklah, lihat saja hukuman apa yang akan kau terima, Sayang?


Rahangnya mengerat dengan kedua tangan yang terkepal erat di dalam saku celananya. Tanpa banyak berpikir lagi, Arez melangkah cepat mendekati sang istri dan berdiri di belakangnya. Ansel mengerutkan kening saat melihat sikap aneh Arez.


Kenapa Tuan memilih lift umum? Bukankah ada lift khusus?


"Kau tahu, Sab? Aku hampir pingsan saat tahu kau yang menjadi pasanganku." Kata lelaki itu dengan nada manja. Arez mendengus kesal dalam hati. Kemudian pintu lift pun terbuka. Mereka pun masuk ke sana. Saat itu Sabrina sama sekali belum menyadari keberadaan suaminya. Arez pun memilih berdiri dibelakang wanita itu, sedangkan Ansel masih setia disebelah Arez.


"Ger, aku rasa kita memang berjodoh." Kata Sabrina tertawa renyah. Tentu saja Arez terbelalak mendengar itu.


"Wah, kalau itu terjadi aku akan menjadi lelaki beruntung. Jika kita menikah nanti, kau mau honeymoon kemana?"


"Em, aku ingin sekali ke Swiss, di sana sangat indah dan menenangkan. Aku suka dengan alam." Jawab Sabrina dengan senyuman mengembang. Arez bisa melihat itu dari pantulan pintu baja.


Senyuman Sabrina langsung memudar saat matanya bertemu langsung dengan tatapan tajam sang suami yang terpantul di pintu baja itu. Tubuh wanita itu menegang seketika.


Kenapa lelaki brengsek itu ada di sini? Apa dia mengikutiku? Ck, aku lupa. Ini kan hotel keluarganya. Tapi... kenapa dia masuk lift umum?

__ADS_1


Arez mendekatkan bibirnya ke telinga Sabrina dengan pandangan yang masih terkunci satu sama lain. "Satu bulan di Swiss aku rasa cukup untuk membuatmu sadar, siapa lelaki dibelakangmu saat ini, Sayang." Bisiknya yang berhasil membuat tubuh Sabrina membeku. Arez tersenyum puas saat melihat wajah pucat istrinya.


Ting! Wanita itu terhenyak saat pintu lift terbuka. Refleks ia menarik tangan temannya dan langsung keluar dari sana.


"Hey, seminar kita di lantai 26. Ini masih lantai 18." Protes lelaki itu merasa heran. Sabrina menghentikan langkahnya, kemudian berbalik ke arah si lelaki.


"Sorry. Aku lupa." Kata Sabrina dengan entengnya. Kemudian ia beranjak menuju lift lagi.


"Sab, kau sangat aneh. Kita sudah terlambat 5 menit. Professor akan marah kau tahu itu kan?"


"Aku minta maaf, aku sungguh lupa." Jawab Sabrina sama sekali tak peduli dengan seminar itu lagi. Pikirannya saat ini terus tertuju pada ancaman Arez tadi. Ya, tujuan Sabrina ke hotel ini yaitu untuk menghadiri sebuah seminar interasional yang ditugaskan oleh salah satu dosennya.


Sial! Kenapa aku selalu sial saat bertemu lelaki itu. Cih, siapa juga yang ingin pergi bersamanya ke Swiss? Mimpi saja.


****


Sore hari, Arez memutuskan untuk pulang ke mansion karena sudah sangat merindukan sang Mommy. Kemarim dirinya tak sempat pulang karena ada meeting dadakan di perusahaan. Karena itu ia memundurkan jadwal pulang.


"Sore, Tuan." Sapa Kepala pelayan menyambut kedatangan Arez.


"Di mana, Mommy?" Tanyanya.


"Hm." Hanya itu tanggapannya. Pemuda itu langsung beranjak menuju kamarnya di lantai atas. Sebelum memasuki lift, ia tak sengaja berpapasan dengan Arel dan Sky.


"Wow, apa aku tidak salah lihat? Pangeran es sudah kembali ke istana setelah sekian lama berkelana. Aku dengar kau sudah berhasil memikat seorang putri. Di mana dia?" Arel melihat ke belakang Arez untuk mencari sosok Kakak ipar yang sering dibicarakan Alexella.


"Sayang, biarkan dia istirahat." Kata Sky menggandeng tangan suaminya. Arez yang melihat itu mengerut bingung.


"Ck, kami sudah halal. Kau tak perlu menatapku seperti itu. Sekaranga aku bebas menghamilinya kapan aku mau." Jelas Arel saat tahu arti tatapan Kakaknya.


"Baby, hentikan itu." Kesal Sky mencubit perut suaminya.


"Aw, enak sayang." Gurau Arel.


Arez mendengus kesal dan langsung meninggalkan mereka.


"Hey, temui Mommy. Sudah lama dia menunggu kepulanganmu." Teriak Arel karena kembarannya itu sudah masuk ke dalam lift.


"Seharusnya kau katakan itu dari awal, kua malah menggodanya." Ketus Sky yang langsung berlalu pergi.


"Sayang, aku hanya ingin merontokkan es diwajahnya itu. Dia selalu bersikap dingin. Entah bagaimana nasib istrinya?"

__ADS_1


"Dia akan luluh jika berhadapan dengan wanita yang dicintainya." Sahut Sky.


"Aku harap seperti itu."


"Baby, aku rasa ingin makan yang pedas. Sepertinya sangat enak."


"Kau ngidam?"


"Ck, memangnya harus orang ngidam saja yang ingin makan makanan pedas? Kau ini aneh, Arel." Kesal Sky memutar bola matanya malas. Arel pun tertawa riang dan merengkuh pinggang ramping istrinya.


Di kamar, Arez merebahkan tubuhnya yang kaku di atas pembaringan. Kemudian memejamkan mata saat kepalanya berdenyut sakit. Mendadak ia merindukan aroma tubuh istrinya yang memabukkan. Membayangkannya saja membuat jantungnya berdegup kencang. Namun bayangan itu harus lebur saat pintu kamarnya terbuka. Arez langsung bangun dari tidurnya. Menatap ke arah pintu.


"Mom." Arez memghampiri sang Mommy dan memeluknya erat.


"I'm so sorry, Mom." Ucapnya dengan tulus. Sweet meneteskan air mata sambil mengelus punggung putranya.


"Seharusnya Mommy yang meminta maaf. Mommy sudah memaksa kamu. Jangan pergi lagi, Mommy sudah membatalkan perjodohan itu." Jelas Sweet menarik diri dari dekapan Arez. Kemudian menatap wajah tampan putranya. Arez menyapu air mata sang Mommy dengan lembut.


"I miss you." Ucap Arez mengecup kening sang Mommy begitu dalam. Sweet yang tak kuasa menahan rasa rindu pun memeluk putranya lagi. Baru kali ini Arez pergi cukup lama tanpa memberi kabar padanya. Ia benar-benar takut kehilangan Arez.


Arez membawa sang Mommy untuk duduk di tepi ranjang tanpa melepaskan pelukannya. Cukup lama mereka dalam posisi itu tanpa suara. Seolah menyalurkan rasa rindu dalam diri mereka masing-masing.


"Arez, Mommy dengar kamu sudah menikah? Apa itu benar?" Tanya Sweet membuka pembicaraan.


Arez terdiam cukup lama. "Ya, Mom."


"Kau tega sekali Arez, kau menikah tapi tak memberi tahu Mommy dan Daddy." Sweet memukul dada Arez dengan keras.


"Aku pikir kalian tak akan merestui pernikahan kami. Jadi aku menikah diam-diam." Jawab Arez sekenanya. Sweet yang mendengar itu berdecak kesal dan memukul Arez lagi.


"Maafkan Mommy, Arez. Lalu di mana istrimu? Kenapa kau tak membawanya pulang huh?" Sweet menatap Arez penuh tanya.


"Jika sudah waktunya aku akan membawa dia ke sini. Biarkan dia menyiapkan diri lebih dulu. Dia ketakutan saat aku mengajaknya kemari." Jujur Arez.


"Apa kau memberitahunya kalau Mommy sudah menjodohkanmu?" Arez mengangguk sebagai jawaban.


"Ck, pantas saja dia takut. Bawa dia secepatnya."


"Hm."


"Aku masih ingin memelukmu." Sweet kembali mendekap putranya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2