Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (31)


__ADS_3

"Paul, please. Jadikan aku milikmu malam ini." Lirih Violet yang langsung menyambar bibir seksi Paul. Seketika tubuh lelaki itu menegang. Namun, detik berikutnya ia mendorong pelan tubuh Violet.


"Tidak, sayang. Tidak sekarang. Ayo menikah, baru kita bersenang-senang." Ajaknya seraya mengusap pipi halus sang pujaan hati.


"Kenapa? Kenapa harus menikah dulu? Bahkan orang lain saja bebas melakukannya tanpa ikatan pernikahan." Tangisan Violet pun pecah.


Paul menariknya dalam dekapan. "Menangislah. Tapi jangan meminta hal bodoh. Aku tidak akan melakukannya."


Tangisan Violet semakin pecah dalam dekapan Paul. Dan lelaki itu membiarkannya menangis, tidak peduli pakaiannya kotor sekali pun. Sebenarnya Paul tahu apa yang terjadi pada gadis pujaan hatinya. Mudah untuknya mencari segala hal tentang Violet. Termasuk cinta gadis itu pada Dustin.


Perlahan aku akan merebut hatimu, Vio. Kau milikku.


"Paul."


"Hm?"


"Kenapa kau mencintaiku, Paul?"


"Karena kau wanita hebat, entahlah, apa cinta perlu alasan? Aku rasa tidak perlu."


Violet mendongak. "Apa menurutmu aku pantas diperjuangkan, Paul?"


"Tentu saja."


Violet kembali memeluk Paul. Bahkan ia menangis sampai puas. Dan lagi-lagi Paul membiarkannya menangis sampai Violet lelah dan tertidur dalam dekapannya. Setelah di rasa nyenyak. Paul memindahkannya ke atas pembaringan.


Paul duduk di samping Violet, ditatapnya wajah itu lekat. "Kau sangat cantik, Vio. Aku sendiri tidak mengerti kenapa begitu tergila-gila padamu. Bahkan hatiku tak menginginkan yang lain."


Paul menghela napas berat seraya menyelimuti Violet dengan lembut karena tak ingin pujaan hatinya itu terbangun. Lalu ia pun beranjak ke ruang ganti untuk berganti pakaian, setelah itu ia kembali ke sofa dan berbaring di sana. Cukup lama ia terdiam, sampai rasa kantuk pun menyerang dan mulai terlelap.


****


Di dalam jet pribadi, Dustin terus termenung. Membayangkan wajah cantik Violet. "Maafkan aku, Vi."


Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menyandarkan punggungnya. "Paul akan menbahagiakanmu. Dia sudah berjanji padaku. Sekarang kita sudah punya tujuan masing-masing."


"Dustin, kau masih di sini? Aku pikir kau sudah tidur. Apa yang sedang kau pikirkan?" Seorang gadis cantik duduk di sebelahnya. Yang tak lain adalah kekasihnya yang selalu ia sembunyikan. Sheena, gadis yatim piatu yang sengaja Dustin pilih untuk dijadikan pendamping hidupnya. Dan malam ini ia membawanya ke negara asal untuk dikenalkan pada orang tuanya.


Dustin menoleh. "Tidak ada, hanya masalah pekerjaan." Seraya mengusap pipi halus kekasihnya itu.


Gadis itu menghela napas berat. "Kau yang lebih sibuk sejak Lucas sakit. Sedangkan Mike lebih banyak bersenang-senang. Itu tidak adil, Dustin. Bagaimana jika kau sakit?"


Dustin tersenyum. "Jangan terlalu cemas, aku baik-baik saja."


"Ayo tidur, kau harus istirahat." Ajak Sheena. Dustin mengangguk. Lalu mereka pun beranjak ke ruang istirahat.


Sheena menjadikan dada Dustin sebagai bantalan. Jemari lentiknya terus bergerak memutar di perut sang kekasih. "Dustin, sudah lama aku selalu bertanya-tanya. Hampir satu tahun kita berpacaran, tapi aku tidak pernah mendengar kata-kata cinta darimu."


"Apa semua perlakuanku kurang cukup?" Sahut Dustin.


"Entahlah, aku merasa kau tidak mencintaiku."


"Cinta tidak harus diucapkan oleh kata-kata, tapi juga bisa lewat sikap. Aku bukan tipe yang suka mengumbar kata-kata manis." Jelas Dustin.


Maaf, Sheena. Sampai detik ini aku belum bisa mencintaimu, tapi kedepannya mungkin akan. Aku sendiri tak yakin. Dustin membantin.


"Hm, aku tahu." Sheen memejamkan matanya.


Aku harap kau benar-benar mencintaiku, Dustin. Karena aku terlanjur mencintaimu. Kau hadir dalam hidupku sebagai penyelamat. Kau yang selalu membuatku merasa aman. Kau satu-satunya tempatku mengadu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau pergi dariku. Mungkin aku akan mati. Pikir Sheena.


Mata indah itu mulai terpejam. Dan berharap esok ia siap untuk bertemu calon mertuanya.

__ADS_1


Satu tahun lalu....


Saat itu Sheena merupakan si gadis polos yang tinggal di sebuah panti asuhan di sudut kota Berlin. Ia pikir panti asuhan yang selama ini menjadi naungannya akan selalu menjadi tempat perlindungan sepanjang hidupnya. Namun, ia salah besar karena kepala panti ternyata menjual para gadis yang beranjak dewasa.


Hari itu Seheena tidak sengaja mendengar percakapan sang kepala panti dengan seseorang di lorong belakang.


"Berapa orang hari ini yang bisa kau lepas?"


"Ada dua gadis cantik, usia mereka saat ini 18 tahun. Keduanya benar-benar daun muda yang mulus." Suara sang kepala panti sambil tertawa kecil.


"Bagus, Bos membutuhkan dua gadis secepatnya. Mereka akan dijual ke luar daerah."


Mata Sheena terbelalak mendengar itu, bahkan mulutnya ia bungkam karena takut menimbulkan suara. "Suster kepala?"


"Sore ini, bawa mereka ke tempat biasa. Kami menunggu di sana." Kata pria asing itu.


"Baik, Tuan."


Sheena masih di posisinya. Tubuhnya bergetar ketakutan.


"Siapa kali ini yang akan Anda pilih, Suster?"


Teliga Sheena menajam.


"Sheena dan Carlote, sudah saatnya mereka mengabdi."


Deg!


Jantung Sheena berpacu hebat. Aku dan Carlote?


"Seperti biasa, dandani mereka. Pakai alasan seperti sebelumnya."


Sheena meninggalkan tempat itu dengan hati-hati. Setelah agak jauh, ia mulai berlari menuju kamarnya. Lalu cepat-cepat ia mengunci pintu.


Carlote yang ada di kamar pun terkejut. "Ada apa, Sheena? Kenapa wajahmu pucat?"


"Carlote." Sheena memeluk sahabatnya itu. "Ayo kita tinggalkan tempat ini, Carlote. Mereka jahat, suster kepala tidak sebaik yang kita pikirkan."


Carlote mendorong tubuh Sheena pelan. "Apa yang coba kau katakan huh?"


Sheena menangis. "Aku... aku mendengar percakapan mereka di lorong belakang. Suster kepala akan menjual kita ke kota sebelah. Kakak-kakak kita tidak diadopsi, tapi mereka di jual."


"Apa?" Kaget Carlote.


"Ayo kita kabur, dan laporkan ini pada polisi. Masa depan adik-adik ada di tangan kita." Ajak Sheena.


"Ayo, tidak usah membawa pakaian. Bawa handukmu. Kita keluar dari belakang."


Sheena mengangguk. Lalu kedua gadis itu langsung menjalankan rencananya.


"Kau yakin lewat sini? Tapi pagarnya tinggi, Carlote."


"Kita coba saja, Sheena. Jangan mengeluh sebelum kau mencobanya. Ayo cepat naik ke atas pundakku." Carlote berjongkok. "Sampai di atas kau tarik aku."


Sheena mengangguk. Tanpa menunggu lagi ia naik ke atas pundak Carlote karena tubuh Sheena lebih ramping. Syukurnya gadis itu berhasil naik. "Ayo, naiklah."


Carlote mundur, lalu tersenyum. "Pergilah, Sheena."


Sheena terkejut. "Apa maksudmu?"


"Pergilah, jika kita berdua pergi. Suster kepala akan mengejar kita dengan mudah. Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Pergilah, cepat Sheena. Segera laporkan kasus ini pada pihak berwajib." Carlote pun beranjak pergi dari sana.

__ADS_1


"Carlote." Lirih Sheena. Namun, ia tidak ingin membuang waktu dan langsung melompat ke luar dari pagar tinggi itu. Ia meringis saat kakinya mencium tanah. Rasanya sangat sakit, akan tetapi rasa ketakutan menutupi semua itu.


"Ke mana aku harus pergi?" Dengan kaki pincang Sheena berusaha berlari mencari jalan keluar dari lorong itu. Karena selama ini anak panti memang tidak pernah dibiarkan keluar.


Sheena tersenyum saat dari kejauhan ia bisa melihat jalan besar. Ia pun mempercepat larinya meski dengan kaki pincang. "Tuhan, tolong bantu aku kali ini saja. Masa depan adik-adikku dipertaruhkan sekarang."


Dengan usaha kerasnya Sheena berhasil sampai di jalan besar. Namun, ia bingung karena tidak tahu di mana kantor polisi. Bahkan tempat itu terbilang sepi. Hanya ada beberapa mobil lewat di sana.


Ia terus berjalan menyusuri bahu jalan. "Ya Tuhan, kenapa aku baru sadar. Jika panti ini berada jauh dari kota. Bagaimana aku mencari bantuan?"


Sheena mencoba meminta bantuan pada mobil yang lewat. Sayangnya tidak ada pun mobil yang berhenti.


"Bantu aku, Tuhan."


Tidak lama, ada sebuah mobil mewah yang lajunya lumayan pelan. Sheena pun lari ke tengah jalan dan menghadangnya. Namun, seprtinya pemilik mobil tidak fokus dan akhirnya tubuh Sheena tertabrak. Meski tidak kencang, tetap saja rasanya sangat sakit.


Mobil itu langsung berhenti, lalu sang pemilik pun keluar untuk melihat kondisi Sheena. Ya, pemiliknya adalah Dustin. "Hey, apa kau gila?"


Sheena meringis karena lutut dan sikunya berdarah setelah mencium aspal. "Tuan... tolong kami. Di dalam sana ada sebuah panti asuhan. Tapi suster kepala menjual para anak gadisnya. Tolong, bantu aku untuk menangkap mereka saudaraku ada di sana."


Dustin mengerutkan dahi. "Kau ingin menipuku? Kau kelompok penjahat yang ingin menjebakku kan? Hey, menyingkrilah. Aku sedang tersesat dan kau ingin menyulitkanku huh?"


Sheena langsung menggeleng. "Kalau kau tidak percaya, bawa aku ke kantor polisi. Aku mohon, aku dan saudariku akan dijual sore ini. Tolong bawa aku ke kantor polisi."


Dustin menatap Sheena lekat. "Naik, jangan coba-coba menipuku, nyawamu ada ditanganku."


"Kau boleh membunuhku jika aku penipu."


"Hm. Cepat masuk."


Dengan kesulitan Sheena bangkit dan masuk ke mobil. Lalu Dustin pun ikut masuk.


"Hey, Nona. Apa kau tidak takut aku menipumu? Bagaimana jika aku menjualmu?" Tanya Dustin tersenyum miring. Lalu dengan cepat ia melajukan mobil sprot miliknya.


Mendengar itu Sheena kaget, ia tidak memikrikan itu sebelumnya.


Melihat ketakutan di wajah si gadis, tawa Dustin pun pecah. "Ya ampun, kau sangat lucu. Aku hanya bercanda."


Sheena bernapas lega.


"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"


"Sheena, kau?"


"Aku Dustin Winston."


"Hm, terima kasih sudah membantuku."


Eh! Dia sama sekali tidak bereaksi? Biasanya wanita yang mendengar namaku akan histeris. Apa dia tidak mengenalku?


"Hey, kau tidak tahu siapa aku?"


Sheena menggeleng. "Kau penolongku."


Wah... untuk pertama kalinya ada wanita yang tidak mengenalku. Boleh juga.


"Tuan, kau akan membawaku ke kantor polisi kan?"


"Kenapa harus?"


Sheena menghela napas berat. Kemudian mengalirlah cerita dari bibirnya yang ranum. Ia benar-benar menjelaskan seperti apa panti asuhan tempatnya tinggal selama delapan belas tahun pada Dustin.

__ADS_1


__ADS_2