Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 96


__ADS_3

Sweet terus tersenyum sambil menatap wajah Alex yang tertidur dipangkuannya. Setelah puas berkeliling, mereka memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon rindang yang ada di halaman belakang. Karena sudah memasuki musim semi. Bunga-bunga mulai bermekaran indah di taman. Memanjakan setiap mata yang memandang.


"Ternyata tidur di sini sangat tenang dan sejuk. Sepertinya kita bisa membuat sebuah gazebo di sini. Tempat bersantai bersama anak-anak." Ujar Alex tanpa berniat membuka matanya. Sweet tersenyum sambil mengusap kepala Alex.


"Baru saja aku ingin mengatakan itu, Mas. Aku juga suka tempat ini. Bagaimana jika malam ini kita buat kemah di sini bersama anak-anak? Mereka pasti senang."


"Boleh juga, setelah ini ajak anak-anak untuk bersiap dan mendirikan kemah. Kita akan menghabiskan malam bersama." Jawab Alex yang berhasil membuat Sweet bahagia.


"Aku juga akan meminta pelayan untuk menyiapkan alat pemanggang barbeku."


"Terserah padamu, Sayang."


Setelah puas bersantai. Sweet dan Alex benar-benar mendirikan kemah di halaman belakang bersama trio kurcaci. Suara canda tawa mereka pun terdengar merdu dan menggema di halama belakang. Benar-benar keluarga bahagia.


Sweet sejak tadi hanya duduk di sebuah kursi empuk, karena Alex tak mengizinkannya membantu. Dan tertawa kecil saat melihat tingkah lucu anak-anaknya.


"Mommy... lihat Kak Arel. Dia mengerjai Lexa terus." Rengek Alexa mengadu pada Sweet. Gadis kecilnya itu terlihat sangat menggemaskan.


"Arel, berhenti mengerjai Lexa. Bantu Daddy dengan Arez." Pinta Sweet pada putra tengahnya.


"Yes, Mom." Sahut Arel berlari kecil menghampiri Alex dan Arez yang tengah mendirikan tenda.


"Lihat ini, Mom. Apa Lexa sudah mirip princess?" Tanya Alexa meletakkan mahkota bunga buatannya di atas kepala.


"Wah, cantik sekali. Lexa yang buat sendiri?" Tanya Sweet menarik Alexa dalam pangkuannya.


"Ya, Mom. Mis. Nataly yang mengajari Lexa saat kami melakukan mansion tour." Jawab Alexa begitu antusias.


"Benarkah? Itu artinya anak Mommy sudah pintar dalam segala hal. Mommy bangga." Sweet menciumi pipi gembul putrinya.


"Mom, kapan Mama Mala kembali ke sini? Lexa rindu Mama Mala dan Papa Bian." Tanya Alexa sambil memainkan jemari Sweet.


"Mama Mala belum juga sampai di Indonesia, Sayang. Kamu sudah merindukannya huh? Kita akan menghubungi mereka kalau Mama Mala sudah sampai di rumah Papa Bian."


"Yey... vodeo call ya, Mom? Lexa mau cerita sama Mama Mala, kalau malam ini kita buat kemah." Oceh Lexa dengan suaranya yang khas.


"Iya, Sayang."


Berbeda dengan para lelaki, mereka terlihat asik mendirikan kemah. Namun si kecil Arel terlihat jahil dan terus mengerjai Arez. Namun Arez sama sekali tak menanggapinya. Sweet yang melihat itu menggeleng pelan. Ia tidak tahu kenapa Arez bersikap sangat dingin. Padahal dirinya tak sedingin itu.


"Mommy, kenapa Kak Arez tidak pernah mau main sama Lexa atau Kak Arel? Kak Arez lebih sayang sama studio dan perpustakaan." Adu Alexa yang ternyata merasa aneh juga dengan sifat Kakaknya.


"Karena Kak Arez ingin menjadi orang hebat, makanya dia belajar dengan giat. Setelah besar nanti, Kak Arez bisa melindungi Lexa dan Arel." Jelas Sweet.


"Owh... kalau begitu Lexa juga mau belajar seperti Kak Arez. Supaya Lexa bisa lindungi Mommy dan Daddy."


Sweet tersenyum senang mendengarnya. "Iya, Sayang. Mommy yakin, saat besar nanti. Kalian akan melindungi Mommy dan Daddy yang sudah tua."


Seakan mengerti, Alexa pun mengangguk pelan. "Lexa sayang Mommy."


"Mommy juga sayang Lexa."


"Jadi tidak ada yang sayang Daddy huh?" Tanya Alex menghampiri mereka dengan dua kurcaci di belakangnya.


"Lexa sayang Daddy juga." Ucap Alexa bangun dari pangkuan Sweet. Lalu berhambur dalam pelukan Alex.

__ADS_1


"Putri kecil Daddy semakin cantik." Ucap Alex mengecup pipi Alexa.


Sweet tersenyum lebar. Lalu pandanganya ia alihkan pada Arez dan Arel yang kini sudah duduk di kedua sisinya. Sweet merangkul kedua putranya. Lalu menghadiahi kecupan hangat di pucuk kepala mereka. "Mommy sayang kalian."


"To, Mom." Sahut Arez singkat.


"Arel juga sayang Mommy, Daddy, Arez dan Lexa." Ucap Arel begitu menggemaskan. Sweet yang mendengar itu tersenyum senang. Mereka pun kembali bercanda ria. Sepertinya hari ini merupakan hari terpajang dan terindah bagi keluarga Alex. Karena mereka bisa menikmati waktu bersama-sama.


***


Surabaya, Indonesia.


Setelah penerbangan yang cukup panjang. Akhirnya Mala tiba juga di Bandar Udara Internasional Juanda, bersama sang Kakak dan keluarga kecilnya.


"Bian jemput atau mau ikut kami?" Tanya Arlan menatap sang adik.


"Ikut kalian aja," sahut Mala dengan cepat.


"Ekhem... mau buat kejutan buat suami eh?" Goda Ara yang berhasil membuat wajah Mala merona.


Mala memang tak mengabari Bian jika dirinya pulang ke Indonesia. Lebih tepatnya ia ingin memberi kejutan untuk suaminya. Sudah dua minggu ini Bian berada di Surabaya, mengurus perusahaannya yang cukup berpengaruh di kota ini. Mala juga baru tahu jika Bian berada di Surabaya bukan di Jakarta. Beruntung Mala sempat menanyakan itu sebelum memutuskan untuk terbang ke Jakarta. Dan akhirnya ia ikut penerbangan sang Kakak.


"Semoga benar-benar menjadi kejutan," ucap Mala yang sebenarnya kurang yakin dengan kejutan ini.


"Jangan khawatir, aku akan membantumu." Sahut Ara begitu antusias.


"Percayakan itu padanya, Kakak iparmu ini paling jago membuat orang terkejut." Ujar Arlan.


"Hubby! Jangan kasih bocor dong." Protes Ara.


Ara dan Mala pun mengangguk setuju. Lalu mereka pun bergegas menuju mobil jemputan.


"Kapan rencana buat kejutannya? Pagi ini?" Tanya Ara saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Sepertinya jam makan siang lebih bagus. Pagi ini aku ingin istirahat. Badanku pegal semua." Jawab Mala.


"Ok, nanti Kakak temanin kamu ke kantor Bian. Kebetulan kami pernah main ke sana. Dan harus kamu tahu, perusahaan itu benar-benar mewah." Ujar Ara begitu semangat. Sedangkan Mala hanya mengangguk pelan. Sebenarnya ia sendiri tidak tahu menahu tentang perusahaan suaminya. Yang ia tahu, Bian memiliki perusahaan yang menggeluti bidang perhotelan dan properti.


"Tentu saja mewah, itu kan perusahaan aksesoris terbesar di sini. Pelanggannya juga bukan semabarangan pelanggan. Hampir semuanya dari kalangan atas, baik lokal maupun mancanegara."


"Serius?" Tanya Mala penasaran. Ia sama sekali tak pernah mendengar jika Bian memiliki perusahaan aksesoris.


"Yap, perusahaan itu awalnya milik keluarga Sasmitha. Namun saat ini sudah berganti nama menjadi Pramana. Sebenarnya ada perusahaan satu lagi, tapi yang satu itu atas nama Tante Ana. Jadi Anda sangat beruntung karena menjadi Nyonya Pramana. Yang mana tak akan pernah kekurangan uang. Bahkan sampai tujuh turunan pun uang itu tak akan habis." Jelas Arlan panjang lebar.


Mala tersenyum malu saat Arlan menyebutnya sebagai Nyonya Pramana. Nama itu masih terdengar aneh di telinganya. Mala menatap cincin berlian yang tersemat di jari manisnya.


Aku tidak peduli dengan harta yang dia milikki. Aku hanya ingin bukti dari cinta yang sering ia ucapkan. Kita akan lihat, benarkan dia mencintaiku?


"Mala." Panggil Ara karena Mala mendadak diam.


"Ya?"


"Kalian enggak berencana buat bulan madu?"


"Bulan madu? Sepertinya itu terlalu cepat, Kak."

__ADS_1


"Sayang, mereka kan mau pacaran dulu. Bulan madu mah bisa kapan aja dan di mana aja. Iya gak?" Kali ini Arlan ikut menimpali.


"Kak... udah ah gak usah bahas itu lagi." Kesal Mala yang sebenarnya sangat malu jika harus membahas bulan madu.


Apa itu harus? Sepertinya aku harus diskusikan ini dengan Bian. Pikir Mala.


Sesuai dengan rencana. Mala pergi ke kantor Bian tepat di jam makan siang. Sebelum pergi, Ara sudah memberi beberapa rencana jitunya. Sebenarnya Ara ingin pergi bersama Mala, tetapi Faraz mendadak demam. Karena itu Ara tak bisa ikut membantu Mala. Dan akhirnya Mala berangkat sendirian.


Mala menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Kini ia sudah berdiri di pelataran perusahaan besar milik suaminya. Perusahaan ini benar-benar sangat mewah. Bahkan pelatarannya saja berkeramik granit. Namun bukan kemewahan yang menjadi pusat pikiran Mala saat ini, melainkan pemilik perusahaan itu sendiri. Bagaimana reaksinya jika Bian melihat dirinya ada di perusahaan saat ini?


Mala terlihat begitu cantik dengan balutan dress selutut berwarna baby pink yang dipadukan dengan outer bermotif bunga sakura. Tidak lupa kaca mata hitam yang kini sudah bertengger indah di hidung mancungnya. Dengan langka pasti, Mala memasuki gedung mewah itu. Kemudian ia pun berjalan menuju meja resepsionis.


"Selamat datang, Ibu. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya sang resepsionis berparas manis dengan senyuman ramah.


"Di mana saya bisa melihat produk terbaru kalian?" Tanya Mala mulai menjalankan misinya.


"Baik, Ibu. Mari ikut dengan saya." Wanita cantik itu pun lansung membawa Mala ke sebuah lorong dengan dekorasi yang cukup menarik dan memanjakan mata. Di sana terpajang berbagai jenis perhiasan indah dan pastinya akan memikat hati para wanita. Lalu Mala pun disuguhkan dengan ruangan yang sangat besar, di sanalah pusat keberadaan berbagai perhiasan mewah. Bisa dikatakan ini surganya para wanita.


Sang resepsionis terlihat berbicara pada salah seorang temannya yang tak kalah cantik. Sepertinya perusahaan ini sengaja mempekerjakan wanita cantik dan pria tampan. Buktinya tidak ada satu pun di sini pegawai yang terlihat standar.


Jadi hampir setiap hari dia bekerja dengan wanita-wanita cantik? Sekarang aku mulai ragu jika cintanya itu tulus. Pikir Mala.


"Silakan Ibu lihat-lihat, sebelah sini barang terbaru kami." Ujar sang pegawai yang tadi bicara dengan resepsionis. Entah kemana wanita tadi.


"Ah, terima kasih. Saya bingung harus milih yang mana, soalnya bagus semua." Ujar Mala yang sebenarnya tak berminat dengan perhiasan yang ada di sana. Karena saat ini ia sedang menjalankan misinya.


"Oh iya, tempat ini sangat mewah. Pasti pemiliknya sangat kaya raya. Apa dia laki-laki?" Tanya Mala dengan senyuman ramahnya.


"Benar, Ibu. Pemilik perusahaan ini memang laki-laki. Beliau termasuk orang terpandang di Indonesia. Sepertinya Ibu bukan asli sini ya?"


"Iya, Saya baru tiba dari Jerman. Terus tadi gak sengaja lewat sini, saya tertarik untuk masuk. Ternyata tempat ini sangat luat biasa. Oh iya, apa pemilik perusahaan sudah menikah?" Mala sedikit berbisik di ujung kalimatnya.


Sang pegawai pun tersenyum mendengarnya. "Setahu saya belum, Buk."


"Belum?" Kaget Mala.


"Iya, Buk."


Brengsek! Jadi dia menyembunyikan pernikahannya. Dan aku adalah istri rahasia sekarang? Keterlaluan.


Mala berusaha untuk tersenyum, menutupi rasa kesalnya. Mungkin sebelum ini Mala memang ingin pernikahannya di sembunyikan. Namun saat mendengar Bian menyembunyikan pernikahannya, ia merasa sangat kesal.


Padahal aku ingin membuat kejutan untuknya. Sekarang aku yang mendapat kejutan itu. Mala masih terlihat kesal.


"Saya jadi penasaran dengan pemilik perusahaan." Ucap Mala sambil terus berkeliling. Sampai pandangannya jatuh pada sebuah kalung yang begitu indah.


"Mbak, saya mau lihat yang itu dong." Pinta Mal menunjuk sebuah kalung yang berhasil menarik perhatiannya. Dan yang anehnya kalung itu di letakkan di rak paling atas. Mala menyukai modelnya, kalung berantai kecil dengan sebuah permata kecil pula. Itu sangat menggemaskan.


"Mohon maaf, Nona. Kalung itu sudah ada pemiliknya. Kalung limitied edition perusahaan kami."


"Owh." Sahut Mala dengan tatapan tak lepas dari kalung itu. Ia benar-benar terpikat pada benda itu.


"Tentu, kami menyediakan berbagai jenis model terbaru. Bahkan Anda bisa memesan secara khusus sesuai keinginan."


Tubuh Mala menegang saat mendengar suara bariton milik suaminya. Bahkan ia tak berani bergerak. Sepertinya saat ini Bian sedang berbincang dengan kliennya.

__ADS_1


"Nona, beliaulah atasan kami." Bisik sang pegawai. Mala pun dengan cepat mengangguk dan tak berani berbalik. Mendadak tubuhnya kaku. Ia tak pernah menyangka jika dirinya akan segugup ini. Mungkinkah rencananya akan gagal?


__ADS_2