
Malam hari, Jarvis terperanjat dari tidurnya saat tak menemukan sang istri disebelahnya. Kemudian matanya menelisik ke setiap penjuru kamar. Sampai ia menangkap siluet tubuh ramping sang istri berdiri di balkon. Seketika rasa panik kembali menghantuinya, Jarvis menghampiri istrinya dengan tergesa. Menarik wanita itu dan menedekapnya dengan erat.
Alexella terkejut dengan sikap aneh suaminya. Namun ia tak mampu menolak pelukan hangat lelaki itu.
"Jangan melakukan hal bodoh lagi. Aku hanya bercanda, Baby. Aku percaya padamu." Ucap Jarvis dengan nada sendu. "Maafkan aku."
Alexella mengerut bingung. "Jarvis, ada apa denganmu?"
Jarvis melerai pelukannya. Menatap wajah cantik Alexella dibalik pendar lampu. "Kau melompat siang tadi, aku panik setengah mati. Kau sangat nakal, istriku."
Alexella tersenyum tipis. “Apa kau sepanik itu?"
"Tentu, aku tak pernah siap kehilanganmu." Jawab Jarvis mengecup bibir istrinya sekilas.
"Maafkan aku. Awalnya aku memang ingin membuktikan cintaku padamu. Tapi aku tak pernah menyangka kakiku kram dan aku tidak bisa bergerak di dalam air. Mungkin karena airnya terlalu dingin. Tak pernah terbesit dalam benakku untuk bunuh diri." Jelas Alexella menceritakan kejadian sebenarnya. Wanita itu tersenyum tipis untuk yang kesekian kalinya. Kebahagiaan tengah menyelimuti hatinya. Ternyata Jarvis benar-benar peduli.
"Kau sempat demam tadi." Jarvis menempelkan punggung tangannya di kening Alexella. Dan sedetik kemudian ia bernapas lega karena demam itu sudah hilang.
"Aku baik-baik saja." Ujar Alexella meraih tangan Jarvis yang masih menempel di keningnya. "Tadi aku terbangun, dan penasaran dengan pemadangan di malam hari. Kau tertidur pulas, karena itu aku tak membangunkanmu."
"Jangan membuatku cemas lagi." Jarvis kembali mendekap istrinya.
"Tidak lagi." Sahut Alexella membalas pelukan suaminya.
"Kau harus mendapat hukuman." Bisik Jarvis menggoda telinga istrinya.
"Aku lelah." Keluh Alexella paham ke mana arah pembicaraan sang suami.
"Dan aku tak pernah lelah denganmu." Kali ini Jarvis membalik tubuh Alexella. Lalu menarik kepala mantel bulu sang istri sampai memperlihatkan lelukan leher indahnya. Bibir Jarvis terasa panas dan bergairah, menjelajahi leher dan bahu istrinya dengan penuh sensual.
"Jarvis, biarkan malam ini aku menikmati pemadangan." Pinta Alexella menahan des*h*n saat tangan kekar Jarvis mulai bergerak nakal. Memainkan setiap lekukan tubuh sensitifnya.
"Kita bisa melakukannya di sini. Sama-sama menikmati indahnya malam ini."
"Kau sangat mesum."
"Awalnya aku tak akan menyentuhmu. Tapi kau terlihat sudah sembuh."
Alexella berdecak sebal. "Apa kau tidak lelah?"
"Aku tak pernah lelah saat mencumbuimu."
"Dasar maniak."
"Hanya padamu." Jarvis benar-benar menanggalkan pakaian istrinya. Suhu dingin berubah menjadi hawa panas yang mencekam. Jarvis yang sudah dikuasi gairah pun menuntun sang istri untuk berbaring di kursi pantai. Dan ia pun mulai menggencarkan aksinya. Menindih wanita itu dan mulai melakukan keinginannya.
Alexella mencengkram pinggiran kursi dengan kuat sampai buku-buku jemarinya memutih. Ia tak kuasa menahan gelombang cinta yang hampir meledak saat Jarvis terus menyentuhnya semakin dalam dan dalam. Serangan lelaki itu membuatnya terengah-engah dan sulit bernapas.
"Pelan-pelan." Lirih Alexella tak kuasa menahan gelombang cinta yang hampir meledak untuk yang kesekian kalinya. Sedangkan suaminya sama sekali belum mendapat pelepasan. Lelaki itu benar-benar perkasa.
"Kau tahu aku tak bisa bermain pelan. Aku akan sampai." Jarvis mengerang kuat saat dirinya mendapat kenikmatan yang luar biasa. Ia menanamkan benihnya begitu banyak dirahim sang istri. Keduanya terdiam, saling mengatur ritme napas masing-masing.
"Masih mau lanjut?" Tanya Jarvis menyingkirkan rambut-rambut halus yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Sebentar lagi." Sahut Alexella membenamkam wajahnya di dada bidang suaminya.
Tangan Jarvis terangkat dan menempel diperut rata Alexella. "Sekarang aku menginginkannya hadir kembali."
Alexella mendongak, menatap wajah suaminya lamat-lamat. "Aku selalu bertanya-tanya, kenapa kau tak menginginkan seorang anak, Jarvis?"
__ADS_1
Jarvis tersenyum. Memberikan kecupan hangat di bibir istrinya sebelum menjawab.
"Aku menginginkannya. Terlebih itu darimu. Tapi aku takut, aku takut kau merasa terbebani saat anak itu lahir. Usiamu masih sangat belia dan labil. Bagaimana jika kau akan berpaling dariku saat kau mulai bosan dengan kehidupanmu? Lalu meninggalkan anak itu bersamaku. Aku tak sekuat Daddy."
Alexella bisa memahami ke mana arah pembicaraan suaminya. Jemari lentiknya beregerak menyusuri setiap inci wajah Jarvis. "Aku bukan Ibumu. Aku mencintaimu, Jarvis. Aku tak akan mengkhiantimu."
"Aku hanya takut." Untuk yang kesekian kalinya Jarvis mengecupi bibir Alexella.
"Aku pikir lelaki brengsek sepertimu tak pernah takut pada apa pun."
"Aku manusia biasa, Baby."
"Aku menginginkannya lagi. Kita lakukan di dalam. Dibsini sangat dingin." Bisik Alexella melingkarkan kedua tangannya di leher Jarvis.
"Kau sangat nakal, Baby."
"Dan kau gurunya." Jarvis terkekeh geli seraya membopong tubuh ramping sang istri ke dalam kamar. Lalu mereka pun melakukan itu lagi sepanjang malam. Toh tujuan mereka memang bulan madu. Jadi tak akan ada waktu yang terbuang.
****
Hari ketiga, kapal yang mereka tumpangi berhenti di Sidney. Jarvis memanfaatkan waktu untuk membawa istrinya berkeliling. Ia membawa Alexella melihat ikan dalam aquarium besar. Alexella tampak menikmati setiap momen bersama sang suami. Setiap detiknya tersimpan jelas dalam ingatan.
"Berdirilah di sana, aku akan mengambil gambarmu. Aku belum memiliki gambarmu di ponselku." Pinta Jarvis.
"Aku tidak biasa berdiri di depan kamera." Alibi Alexella yang sebenarnya merasa kaku karena memang tak pernah berpose.
"Sekali saja, aku ingin menjadikan gambarmu sebagai wallpaper." Wajah Alexella merona kala mendengar itu.
"Seperti ini?" Alexella berdiri seperti patung. Tampak kaku dan menggemaskan. Jarvis tertawa renyah, lalu membenarkan posisi istrinya agar lebih kelihatan alami. Tidak ingin membuang kesempatan bagus, Jarvis mengambil beberapa jepretan.
"Hasilnya bagus, mungkin karena kau cantik."
"Jarvis? Kau kah itu?" Seru wanita itu yang tanpa rasa malu langsung memeluk Jarvis. Sedangkan lelaki itu tampak bingung. Bukan hanya Jarvis, Alexella terbelakak tak percaya dengan sikap lancang wanita itu.
Jarvis segera mendorong wanita itu agar menjauh. Ia sama sekali tak mengenalnya.
"Kau lupa aku? Aku Zahra, kita pernah menghabiskan malam bersama di sini. Kau lupa?"
Alexella memicingkan mata saat mendengar itu.
"Aku tidak mengingatnya." Jawab Jarvis jujur.
"Ya Tuhan, kau sangat jahat Jarvis. Saat itu kau sangat menikmatinya. Aku merindukanmu. Bisakah kita mengulang malam itu lagi?"
"Tidak." Jawaban itu bukanlah berasal dari mulut Jarvis melainkan Alexella. Wanita itu memberikan tatapan tajam pada wanita bernama Zahra itu.
"Siapa wanita ini? Mainan barumu?" Tanya Zahra menatap Alexella remeh.
"My wife." Sahut Jarvis seraya merengkuh pinggang ramping Alexella. Sontak wanita itu terkejut bukan kepalang mendengar pengakuan Jarvis. Namun seper detik kemudian ia tertawa sumbang.
"Jangan bercanda padaku, kau sendiri yang bilang tak akan menikah."
"Ya, aku tak akan menikahi wanita sembarangan. Dan dia wanita terhormat, aku beruntung mendapatkannya."
Zahra tersenyum getir mendengar itu. "Aku tidak percaya."
"Terserah. Aku tidak butuh kepercayaanmu. Ayok, Baby. Aku tahu kau lapar." Jarvis pun membawa Alexella pergi dari sana. Wanita itu sama sekali tak penting untuknya. Bahkan ia tak mengingatnya sama sekali.
Sejak pertemuan dengan wanita tadi, Alexella terus diam. Bahkan wajahnya terus murung dan itu membuat Jarvis bingung.
__ADS_1
"Aku tidak mengenalnya, mungkin dulu aku memang pernah melakukan itu dengannya. Tapi aku sama sekali tak mengingatnya, sungguh."
"Berapa banyak wanita yang kau sentuh sebenarnya Jarvis?"
"Banyak, karena itu aku tak mengingatnya."
Alexella memeasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya dengan malas. Sesekali ia melirik sang suami.
"Kita sudah membahasnya, aku sudah berhenti menyentuh wanita lain. Aku hanya menginginkanmu."
Alexella masih bergeming.
"Percayalah, aku tidak akan mengkhiantimu, baby. I love you so much. Kita ke sini untuk berbulan madu. Bukan untuk membahas masa lalu."
"Aku sudah kenyang." Alexella bangun dari posisinya dan bergegas pergi meninggalkan Jarvis.
"Baby." Panggil Jarvis menggeram frustasi. "Sial! Kenapa wanita itu harus muncul di saat yang tidak tepat. Brengsek memang."
Dengan langkah cepat Jarvis menyusul sang istri setelah meletakan beberapa lembar uang.
Alexella kembali ke kabin dengan wajah sembab. Ia menangis sepanjang perjalanan menuju kapal. Entahlah, perasaannya tengah tak menentu saat ini.
"Baby." Jarvis masuk ke kabin dengan langkah santai. Menghampiri istri cantiknya yang terduduk lesu di atas pembaringan.
"Maafkan aku, aku terlalu kekanakan." Ucap Alexella memeluk kedua lututnya. Jarvis yang melihat itu merasa iba. "Aku tak pantas bersamamu, Jarvis."
Jarvis menghela napas berat. Lalu memilih duduk di sisi istrinya. "Aku hanya ingin bersamamu, Xella. Berhenti memandang rendah dirimu."
"Aku tak pantas untukmu, pergilah, Jarvis." Sentak Alexella. Jarvis terkejut dengan reaksi istrinya itu.
"Xella." Jarvis menarik Alexella dalam dekapan. "Berhenti bersikap seolah aku ini lelaki terhormat. Aku bahkan lebih kotor darimu."
Tangisan Alexella pun pecah. "Kau laki-laki, aku perempuan, Jarvis."
"Kau benar, karena itu aku menikahimu."
"Jarvis."
Lelaki itu tertawa renyah. "Aku mencintaimu."
"Tapi aku wanita kotor, dia... dia menyentuhku seolah aku ini wanita murahan. Dia menyentuhku, Jarvis. Seharunya kau jijik padaku."
"Lelaki itu sudah mati. Hampir setiap malam aku menyentuhmu. Tidak ada lagi jejaknya. Aku sudah membersihkannya. Kau mengerti?"
Alexella terdiam cukup lama. Lalu mengangguk pelan. "Apa kau akan meninggalkanku saat kau bosan padaku? Wanita tadi sangat cantik. Kau pasti tertarik padanya kan?"
"Aku tidak suka wajah yang terlalu banyak polesan. Aku menyukai wanita polos sepertimu, baby. Kau milikku seorang. Aku tak akan pernah bosan padamu."
"Katakan terus kalau kau mencintaiku." Pinta Alexella mendekap suaminya begitu kuat.
"Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu."
"Lagi."
"I love you so much, mi amor."
"Katakan itu terus, Jarvis."
Jarvis terus mengulang ucapannya tanpa bosan. Bahkan sampai Alexella benar-benar tertidur dalam pangkuannya. Jarvis merasa iba dengan kondisi istrinya saat ini. Jika saja lelaki itu masih hidup, mungkin ia akan mencincangnya hidup-hidup. Beruntung lelaki itu sudah dibakar di neraka.
__ADS_1