
"Rhe, kau sudah benar-benar jujur kan pada Gabriel dan yang lain soal identitas kita? Bukan apa, aku merasa cemas jika kita terus menyembunyikan ini. Bisa saja kebohongan kita ini akan menjadi bumerang bagi hubunganmu dan Gabriel." Tanya Zhea memastikan. Saat ini mereka sedang menikmati makan malam bersama.
Zhea akan terus memastikan Rhea sudah mengungkap identitas mereka pada Gabriel dan keluarganya. Apa lagi besok mereka akan melangsungkan pernikahan.
Rhea melirik Zhea sekilas. "Hm."
"Syukurlah. Lalu bagaimana tanggapan mereka saat itu? Apa Gabriel marah padamu?"
Rhea menghentikan makannya sejenak, lalu menatap Zhea. "Jika dia marah, pernikahan ini tidak akan berlanjut, Zhe. Lagi pula kau tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain lagi besok."
"Oh, kau ada benarnya juga. Aku senang dia tidak marah padamu. Sudah aku katakan bukan? Yang dia cintai itu kau, Rhe. Lelaki mana pun pasti akan jatuh cinta dengan kecantikanmu. Termasuk Gabriel, kau benar-benar berhasil memikatnya." Zhea pun tersenyum bahagia.
Rhea cuma tersenyum, setelah itu lanjut makan.
"Ingat, malam ini kau harus tidur cepat. Besok adalah hari besarmu, kau tidak boleh kelelahan. Oh... aku tidak sabar melihatmu bersanding dengannya. Kalian itu pasangan serasi." Oceh Zhea tiada henti.
"Kau ini banyak sekali bicara, Zhe. Cepat habiskan makanmu. Lihat putramu sudah tertidur pulas." Sahut Rhea melirik ke arah Prince yang sudah tertidur di depan televisi.
Zhea pun menatap ke arah putranya sekilas. Lalu bernapas kasar. "Lagi-lagi dia melewatkan jam makan malamnya. Kapan dia akan gemuk? Lihat tubuhnya sangat kurus."
Rhea hanya meliriknya sekilas. Lalu fokus makan. Setelah itu mereka pun langsung beranjak ke kamar masing-masing.
Di pertengahan malam. Zhea memutuskan untuk ke kamar Rhea, memastikan saudarinya itu sudah tertidur. Besok adalah hari pernikahan yang ditunggu-tunggu olehnya. Karena itu Zhea akan memastikan Rhea beristirahat dengan penuh. Sebab ia tak ingin adik cantiknya itu terlihat lesu di pelaminan.
Perlahan Zhea membuka pintu kamar Rhea yang tak pernah dikunci. Dan kondisi kamar itu sudah gelap, menandakan jika Rhea sudah tidur. Zhea pun menutup pintunya kembali dan beranjak ke kamar untuk beristirahat.
Beberapa waktu setelah kepergian Zhea, Rhea bangun dari tidurnya. Lalu kembali menghidupkan lampu. Ditatapnya wedding gown miliknya yang terpajang di manekin dengan sedih. Setelah itu ia pun beranjak ke lemari, lalu mengeluarkan wedding gown lainnya dan menggantikan itu di manekin. Tanpa sadar air matanya mentes. Ia benar-benar tak kuasa menahan sesak didadanya. Rasanya sangat berat melepaskan lelaki yang ia cintai untuk orang lain, meski itu kembarannya sendiri. Namun, Rhea harus tetap kuat demi kebahagiaan Zhea.
"Kau harus bahagia, Zhe. Aku akan selalu memantaumu dari jauh. Aku percaya Gabriel bisa menerimamu dan melindungimu dengan baik." Lirihnya.
Setelah menggantikan gownnya, Rhea pun mengeluarkan dua buah surat hasil tulis tangannya dari dalam tas. Tertulis jika surat itu dibuat untuk Zhea dan Gabriel. Lalu menaruhnya di atas nakas. Kemudian menyeret kopernya dan meninggalkan kamar.
Dengan penuh kehati-hatian akhirnya Rhea pun berhasil kabur dari apartemennya. Cepat-cepat ia pun memasuki mobil dan meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan Rhea terus menangis karena sangat berat meninggalkan Zhea dan Prince di sana. Akan tetapi hanya ini yang bisa ia lakukan untuk mempersatukan Zhea dan Gabriel. Rhea tahu jika kembarannya itu sejak lama menyukai Gabriel. Karena itu ia akan mengalah dan berkorban demi kebahagiaannya.
Keesokan pagi, Zhea yang sudah rapi dengan gaun berwarna dusty pink pun mendatangi kamar Rhea. "Sayang, kau sudah siap?" Seraya membuka pintu. Namun, yang ia dapati hanya kamar yang kosong. Bahkan gorden juga belum terbuka.
"Rhe!" Panggilnya seraya membuka gorden. Kemudian mencari Rhea ke kamar mandi. Sayangnya gadis itu juga tidak ada di sana. Seketika rasa takut mulai menyelimutinya. Lalu pandangan Zhea pun teralih pada wedding gown, dahinya mengerut saat melihat gown itu berbeda dari sebelumnya. Cepat-cepat ia pun mendekatinya untuk memastikan jika dirinya hanya salah lihat. Dan pandangannya memang benar. Gaun itu bukanlah milik Rhea. Bahkan ukurannya pun lebih cocok untuknya.
__ADS_1
"Tidak mungkin dia melakukan ini." Zhea pun mengedarkan pandangan ke sekliling. Lalu manik matanya pun terhenti pada benda yang ada di atas nakas. Dengan perasaan berkecamuk Zhea mendekati benda itu. Dan jantungnya berdegup semakin kencang saat melihat dua buah surat yang satu bertuliskan namanya dan satu lagi nama Gabriel.
Dengan rasa ragu Zhea membuka surat yang ditujukan untuknya itu. Seketika ia menutup mulutnya tak percaya.
Maafkan aku, Zhe. Menikahlah dengan Gabriel. Kau harus bahagia bersamanya. Dia adalah lelaki terbaik untukmu. Aku akan terus mengawasimu dari jauh. Aku juga sudah membuatkan gaun untukmu. Kau pasti sangat cantik memakainya. Oh iya, tolong berikan surat dariku untuk Gabriel ya. Semoga kau selalu dalam lindungan Allah, Zhe. Aku menyayangimu dan Prince, bahagia selalu untukku. Salam cinta dari saudarimu.
^^^Rhea^^^
Zhea meremat kertas itu dengan air mata yang luruh. Bahkan tubuhnya ikut luruh ke lantai. "Apa yang kau lakukan, Rhe?"
Wanita itu pun menangis histeris sendirian di kamar Rhea. Ia benar-benar menyesal karena tak bisa membaca rencana gila Rhea selama ini.
Di tempat lain, lebih tepatnya di salah satu kamar Mansion utama kediaman Digantara. Gabriel senyum-senyum sendiri saat melihat pantulannya di cermin. Lelaki itu sangat tampan dengan balutan tuxedo berwarna gading. Aura kebahagian terpancar jelas di wajahnya. Sepertinya ia sudah tidak sabar untuk menghalalkan si gadis pujaan hati.
"Ah, bahkan aku sangat merindukan gadis itu. Seminggu tidak bertemu dengannya membuatku gila." Gabriel bermonolog sembari merapikan dasi kupu-kupunya. Bahkan senyuman itu sama sekali tak memudar di wajahnya.
Saat sedang asik merapikan penampilannya, Gabriel dikejutkan oleh suara deringan ponselnya. Ia pun meraih ponsel itu dan melihat si pemanggil. Dan ternyata hanya nomor asing. Gabriel pun mengabaikannya. Dan kembali fokus merapikan penampilannya. Dia ingin terlihat sempurna di depan istrinya nanti. Bahkan mengenyampingkan rasa gugupnya saat ini.
Setengah jam sebelum akad dilangsungkan, Mansion itu pun mendadak dihebohkan oleh kedatangan Zhea bersama putra kecilnya. Dengan wajah sembabnya, wanita itu menatap semua orang yang ada di sana secara bergantian. Tentu saja orang-orang itu pun semakin bingung.
Sky yanh memang ada di sana pun menatap wanita itu dengan dahi mengerut. Pasalnya wajah wanita itu sangat mirip dengan calon menantunya. Hanya saja ukuran tubuh mereka jauh berbeda. Karena penasaran, Sky pun menghampiri keduanya.
"Maaf, kau ini...."
"Maafkan aku, Aunty. Aku sudah membohongi kalian semua." Tangisan Zhea pun pecah seketika. Dan itu membuat Sky semakin bingung.
Gabriel yang baru turun pun merasa heran dengan keributan itu. Kemudian ia pun beranjak untuk melihatnya.
Sky mendorong Zhea perlahan, lalu ditatapnya wajah itu lamat-lamat. "Maaf, Nak. Kau ini siapa? Kenapa wajahmu sangat mirip dengan Zhea? Lalu apa maksudmu perkataanmu soal membohongi kami semua?"
Zhea menatap Sky penuh penyesalan. "Maafkan aku, Aunty. Aku adalah Zhea yang asli. Akulah yang sudah membohongi kalian semua."
Mendengar itu, semua orang pun semakin bingung dan mulai berbisik-bisik. Bahkan keluarga besar pun cuma bisa menyaksikan tanpa memberikan komentar karena memang sama-sama bingung.
Gabriel yang penasaran pun mendekatinya. Ditatapnya Zhea lamat-lamat.
Ya Tuhan, kenapa wanita ini sangat mirip dengan Zhea? Apa mungkin Zhea punya kembaran? Batin Gabriel.
__ADS_1
"Apa maksdumu, Nak?" Tanya Sky menyentuh pundak Zhea. Lalu gadis itu pun mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Termasuk kepergian Rhea.
"Tidak mungkin!" Seru Gabriel yang tak mempercayai semua perkataan Zhea tentunya. "Kau pasti penipu yang mengatas namakan Zhea bukan? Keamanan, bawa wanita ini pergi." Teriaknya.
"Gabriel tunggu." Pinta Zhea yang kemudian mengeluarkan surat dari Rhea. "Kau harus membaca surat ini, Rhea yang menulisnya."
Gabriel menatap Zhea tajam, lalu merebut surat itu dengan kasar. "Apa kau pikir aku akan percaya hanya dengan sebuah surat?" Bentaknya.
"Uncle! Jangan memarahi Mommyku." Teriak Prince memukuli kaki Gabriel. Sontak semua perhatian pun tertuju pada anak itu.
"Wait!" Seru Lea berjalan cepat ke arah mereka. Lalu ditatapnya Prince lamat-lamat. "Hey, kau kan anak yang saat itu aku temui bersama Zhea kan? Zhea bilang dia ini anak tetangganya."
Mendengar itu semua orang kembali menatap Zhea.
"Kau Aunty cantik itu kan?" Kata Prince yang kembali menarik perhatian semua orang.
Lea menatap Zhea sejenak, kemudian menatap anak itu lagi bahkan membungkuk. "Iya, sayang. Aku yang bertemu kalian saat di minimarket."
Prince pun tersenyum lebar. "Senang bertemu denganmu lagi, Aunty cantik. Aunty Rhea bilang kau itu sangat baik hati dan cantik. Dia juga memintaku untuk memanggilmu Aunty cantik."
Lea menatap sang Mommy dan Gabriel bergantian. Setelah itu kembali fokus mengorek informasi dari anak kecil itu. Karena ia tahu anak kecil tidak mungkin berbohong.
"Dengar, sayang." Lea menyentuh kedua bahu anak itu. "Aku ingin bertanya padamu. Siapa wanita ini?" Tunjuknya pada Zhea. Prince manatap Zhea sekilas.
"Dia Mommyku." Jawabnya dengan lugas.
"Okay, lalu Aunty Rhea?"
"Dia Auntyku, dia sangat baik hati dan kami tinggal satu rumah. Aunty Rhea juga selalu membelikan aku mainan baru." Jawab anak itu dengan polos.
Lea yang sudah mendapat jawaban pun langsung menegakkan tubuhnya. Lalu ditatapnya Gabriel lekat. "Wanita ini tidak berbohong, Kak. Sepertinya dia memang Zhea yang asli."
Gabriel mengeratkan rahangnya dan masih tak mempercayai wanita itu.
Zhea menangkup kedua tangannya di dada. "Aku mohon padamu, Gab. Tolong cari adikku. Aku takut Ibuku menemukan dia dan mecelakainya. Ibuku tidak tahu soal Rhea, bahkan Rhea juga tidak mengenal Ibuku dengan baik. Aku mohon."
"Baik, aku akan mencarinya. Tapi kau harus memenuhi syaratku." Sahut Gabriel dengan tatapan tak bersahabatnya. Tentu saja Zhea ketakutan dengan syarat yang akan Gabriel berikan. Bagaimana jika lelaki itu meminta hal yang tak bisa ia lakukan? Sedangkan ia sangat membutuhkan bantuan untuk mencari keberadaan Rhea.
__ADS_1
"Baik, apa syaratmu?" Putus Zhea memilih untuk menerima syarat lelaki itu. Bagaimana pun keselamatan Rhea adalah yang paling penting baginya.
"Aku ingin pernikahan ini tetap dilangsungkan. Baik wanita itu ada atau pun tidak." Pinta Gabriel yang berhasil membuat semua mata tertuju padanya.