Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 70


__ADS_3

"Daddy, kita ada di mana?" tanya Alexa seraya menatap gedung-gedung tinggi dari balik jendela mobil. Beberapa menit yang lalu, mereka baru saja tiba di Jakarta. Seperti janjinya, Alex akan memperkenalkan Sweet pada keluarga besarnya. Sebelum benar-benar kembali ke Jerman. Saat ini mereka berada dalam mobil keluarga besar Digantara. Arnold sengaja memerintahkan seorang supir untuk menjemput mereka di bandara.


Untuk pertama kalinya Alex bepergian tanpa kehadiran Joshua. Dia sengaja menyuruh Joshua pulang ke Jerman lebih dulu. Untuk mengurus Mansion maupun perusahaan yang saat ini tak bertuan. Selain itu, Alex juga ingin menikmati kebersamaan keluarganya tanpa kehadiran orang luar.


"Kita di Jakarta," jawab Arez ikut memperhatikan gedung pencakar langit. Ia sering menonton tayangan televisi, jadi tahu betul di mana posisinya saat ini. Bukan Arez namanya jika tidak tahu seperti apa penampakan setiap kota. Karena ia memiliki jiwa ingin tahu yang cukup besar. Jadi akan mencari tahu sendiri apa yang ingin ia ketahui.


"Apa yang akan kita lakukan di sini?" Kali ini Arel yang bertanya. Ia juga tidak mau kalah dari kedua kembarannya, ikut menatap deretan bangunan tinggi yang menghiasi Kota Jakarta.


"Kita akan bertemu dengan semua orang, yang belum pernah kalian temui." Jawab Alex.


Alexa sedikit bergerak menghampiri Alex, melingkarkan kedua tangannya di leher Alex.


"Daddy, apa mereka mau berteman dengan Lexa?" tanya Alexa begitu polos.


Alex tersenyum mendengar pertanyaan gadis mungilnya. Lalu mengangguk sebagai jawaban. Sweet yang melihat itu cuma tersenyum simpul.


"Daddy, apa kita lama di sini?" tanya Arel kembali duduk normal di samping Sweet.


"Tergantung, jika kalian betah. Kalian bebas menentukan waktu," ujar Alex seraya manarik Alexa agar duduk dipangkuan. Ketiga anak kembarnya memang duduk di belakang bersama Sweet. Sedangkan dirinya duduk di bangku depan.


"Yes, bagaimana jika kita berkeliling kota dulu?" tanya Arez begitu semangat. Ia benar-benar penasaran dengan penampakan Ibu Kota.


"Tentu, kita akan jalan-jalan ke beberapa wahana, bagaimana?" Alex menoleh untuk melihat dua jagoannya. Mendengar itu, tiga kurcaci langsung bersorak ria. Alex dan Sweet cuma bisa tersenyum saat melihat kebahagiaan anak-anaknya.


"Sayang, apa kalian lapar? Kita bisa mampir di restoran lebih dulu." Tawar Alex.


"Daddy, Lexa lelah." sahut Alexa merengek.


"Iya, Dad. Arel juga sangat lelah," timpal Arel seraya bersandar di lengan Sweet. Dengan sigap, Sweet menarik Arel dalam pangkuan. Sedangkan Arez, ia masih asik melihat pemandangan kota.


"Sebaiknya kita langsung ke rumah Mbak Nissa aja, Mas. Anak-anak butuh istirahat," ujar Sweet memberi saran.


"Baiklah," jawab Alex seraya mengecup pucuk kepala Alexa yang mulai tertidur dipangkuan.


Lima puluh menit berlalu, mobil yang mereka naik memasuki kawasan rumah elit Cibubur. Dan berhenti tepat di depan rumah mewah milik keluarga Digantara. Lebih tepatnya rumah milik Arnold.


Sweet sedikit kesulitan untuk keluar, karena Arel tertidur di pangkuannya. Sedangkan Alex turun membawa Alexa yang juga tertidur. Beruntung Alex sudah tidak membutuhkan kursi roda dan bisa berjalan dengan normal kembali. Jadi memudahkannya untuk bergerak.


Beberapa orang terlihat keluar dari dalam rumah. Menyambut hangat kedatangan Alex dan keluarga kecilnya. Arnold langsung bergerak menuju mobil, membantu sang sopir menurunkan barang milik adiknya. Sedangkan Nissa menghampiri Sweet.


"Pada tidur ya?" tanya Nissa.


"Iya, Mbak. Mungkin mereka kelelahan."


"Loh, Arez tidak ikut tidur?" Tanya Nissa saat melihat Arez turun dari mobil, dengan sebuah boneka beruang dalam pelukannya. Tentu saja boneka itu bukan miliknya, melainkan milik Alexa. Arez terlihat menggemaskan, hampir separuh tubuh kecilnya tertutup boneka.

__ADS_1


"Sini biar Bunda bantu," tawar Nissa mengambil boneka beruang dari pelukan Arez. Ia merasa kasihan melihat Arez yang kesulitan membawa boneka sang adik.


"Thank you," ucap Arez pelan. Lalu matanya bergerak untuk mengabsen orang-orang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ada seorang wanita dan tiga orang laki-laki berbeda usia yang masih asing di matanya.


Seorang wanita cantik dengan rambut panjang menghampirinya. Lalu berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Arez.


"Hey kecil, kamu pasti bingung siapa kami bukan?" tanyanya seraya mencubit pipi Arez dengan gemas.


"Perkenalkan, aku Arin. Kamu bisa memanggilku Kakak, dan itu...." Arin menunjuk seorang lelaki dewasa yang sedang berdiri menatap mereka. "Itu suamiku, Dio. Itu artinya Kakak kamu juga. Dan anak kecil yang hampir seumuran denganmu itu putraku. Namanya Khalif. Dan yang satu lagi, itu Kakakmu juga, Dika."


Arez menatap mereka satu per satu. Dengan ekspresi wajah datar. Arin yang melihat itu merasa heran.


"Arez, sebaiknya kita masuk." Ajak Dika menghampiri dan menarik pelan tangan Arez. Anak itu sama sekali tidak menolak, karena kedua orang tuanya sudah lebih dulu masuk.


"Apa kamu senang datang ke sini?" tanya Dika saat mereka hendak masuk ke dalam rumah. Arez menoleh, mengangkat wajahnya untuk melihat Dika yang jauh lebih tinggi darinya.


"Ya," jawabnya singkat.


"Aku dengar kamu akan ke Jerman? Beberapa tahun lalu aku juga pergi ke sana," lanjut Dika. Mendengar itu, Arez semakin tertarik untuk bicara.


"Apa di sana seru?" tanya Arez yang mulai penasaran.


"Ya, aku berkeliling di sana. Begitu banyak tempat sejarah. Tapi sayang, aku tidak sempat merasakan musim dingin. Kamu sangat beruntung, saat ini di sana sedang musim dingin. Kamu bisa menikmati hujan salju."


"Benarkah?" Mata Arez terlihat berbinar.


"Tentu, aku suka hal baru. Kenapa Kakak tidak ikut bersama kami?" tanya Arez.


"Aku sekolah," jawab Dika penuh penyesalan.


"Dika, bawa adik kamu ke kamar. Biarkan dia istirahat," perintah Nissa.


"Iya, Ma." Dika pun membawa Arez ke kamarnya.


"Ini kamarku, semoga kamu suka." Dika membuka pintu kamarnya. Membiarkan Arez masuk dan melihat kondisi kamarnya.


Arez tertegun saat melihat kondisi kamar Dika, dan cukup membuatnya tertarik. Kamar itu dipenuhi warna biru. Di bagian atas terdapat gambar tata surya tiga dimensi. Dan di setiap dinding dipenuhi dengan gambar astronot. Dika memang menyukai segala hal tentang Astronomi. Meski usianya baru menginjak sepuluh tahun. Ia sudah banyak mengerti tentang Tata surya.


"Kamu harus lihat ini," ujar Dika mematikan lampu kamarnya. Lalu kamar itu pun berubah menjadi langit yang dipenuhi taburan bintang. Planet-planet itu mulai bergerak perlahan.


"Amazing," ucap Arez dengan mulut sedikit terbuka. Ia benar-benar takjub dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Setiap malam, aku selalu bermimpi untuk bisa terbang ke angkasa. Melihat planet dari dekat." Dika membaringkan diri di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar yang selalu menjadi favoritnya.


Arez mengikuti jejak kakaknya, berbaring dan menikmati pemandangan langka.

__ADS_1


"Hey, apa kamu tahu? Aku sangat menyukai Ibumu. Dia sangat cantik, bukan? Jika aku besar nanti, aku akan mencari wanita seperti Ibumu." Senyuman Dika pun mengembang sempurna. Arez mengalihkan perhatian pada Dika.


"Kamu tidak akan menemukan itu," jawab Arez dengan nada santai.


"Why?" tanya Dika heran.


"Karena wanita seperti Mommy cuma ada satu," ujar Arez merasa bangga memiliki Ibu seperti Sweet. Dika tertawa lepas mendengar itu. Ia mengubah posisinya menjadi tengkurap.


"Kamu benar," ucap Dika mencubit gemas pipi Arez.


"Sebaiknya kamu tidur, setelah itu kita akan main bersama." Dika bangun dari posisinya. Menghidupkan kembali lampu kamar. Lalu kembali duduk di samping Arez yang masih menatap langit-langit.


Di ruang tamu, Sweet masih duduk bersama Nissa dan Arin. Sedangkan Alex di kamar bersama kedua anaknya.


"Ana, kenapa Nenek tidak ikut?" tanya Nissa saat menyadari sang Nenek tidak ikut bersama mereka.


"Em, Nenek harus mengurus beberapa berkas lebih dulu. Kak Bian sendiri yang akan mengantar Nenek ke sana.” Jawab Sweet.


“Jadi Bian setuju Nenek ikut bersama kalian?” Tanya Nissa penasaran.


Sweet pun mengangguk sebagai jawaban.


“Tante, apa kalian bisa lebih lama tinggal di sini? Setidaknya sampai kita benar-benar saling mengenal satu sama lain.” Arin memberikan tatapan penuh harap pada Sweet.


“Itu tergantung ayah dari anak-anak. Tante tidak bisa menentukan waktu kapan harus pulang,” jawab Sweet seadanya.


“Em, sepertinya Arin harus membujuk Paman.” Arin tersenyum penuh arti.


“Kamu ini, Paman itu banyak kerjaan di sana. Mana mungkin bisa lama-lama di sini.” Jelas Nissa pada putri sulungnya.


“Sepertinya kamu bisa membujuk anak-anak. Mereka anak kesayangan Pamanmu.” Ujar Sweet mencoba memberi solusi.


“Ide brilian,” ucap Arin begitu lantang. Membuat Sweet maupun Nissa kaget.


“Sudahlah, sana bantu Bibik siapkan makan siang.” Sanggah Nissa yang berhasil membuat Arin mengerucutkan bibirnya. Sweet tersenyum simpul saat melihat tingkah lucu Arin.


“Tan, pokoknya harus lama di sini.” Ujar Arin seraya bangun dari posisi duduk. Lalu berjalan pasti menuju dapur. Meninggalkan Sweet dan Nissa berdua.


“Ana, sekarang kamu sudah tahu Alex hanya mencintai kamu. Terus berada di sampingnya, dia membutuhkanmu sebagai seorang istri dan sekaligus seorang Ibu dari anak-anaknya.” Nissa tersenyum penuh ketulusan.


“Insha Allah, Mbak.” Jawab Sweet.


“Ya sudah, sana istirahat dulu. Nanti Mbak panggil kalau sudah waktunya makan. Setengah jam lagi Arlan juga ke sini.” Timpal Nissa.


“Iya, Mbak. Aku ke kamar dulu,” sahut Sweet yang langsung di jawab anggukkan oleh Nissa. Sweet pun bangun dari posisinya dan bergerak menuju kamar tamu. Di sana Alex dan kedua anaknya berada. Alex ikut tidur bersama anak-anaknya.

__ADS_1


Sweet bergerak menghampiri ketiganya, mengecup kening kedua anaknya secara bergantian. Lalu kecupan terakhir ia hadiahkan untuk suami tercinta.


Aku harap kita bisa terus seperti ini, Mas. Terus bersama dan membesarkan mereka dengan penuh cinta. Cukup aku yang merasakan masa kecil yang amat kelam. Tidak untuk anak-anak. Mereka harus mendapat cinta dan kasih sayang yang penuh. Batinnya.


__ADS_2