Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 67


__ADS_3

Mansion keluarga Digantara.



"Apa ini?" Tanya Sabrina saat Arez memberikan sebuah hadiah berukuran besar.


Sudah hampir seminggu mereka pindah ke mansion utama seperti yang diinginkan Sweet. Sabrian benar-benar senang karena merasakan kehadiran keluarga sungguhan. Kebahagiaannya benar-benar lengkap dengan seorang suami dan Ibu mertua yang begitu menyayanginya.


"Buka dan lihat sendiri." Titah Arez duduk di sofa dengan posisi bersandar.


Sabrina menjatuhkan diri di atas ranjang dan dengan penuh semangat membuka hadiah dari suaminya. Dan beberapa detik kemudian ia memekik gembira karena dirinya mendapat sebuah lukisan indah dari sang suami.


"Aku menyukainya." Sabrina beringsut bangun dari posisinya dan menghampiri sang suami. "Kapan kau melukisnya?"


"Kau tidak perlu tahu."


Sabrina menyebikkan bibirnya dan dengan malas duduk di sebelah sang suami. "Aku ingin jalan-jalan."


"Ke mana?"


"Ke tempat yang tidak membosankan tentunya." Jawab Sabrina yang berhasil membuat Arez kesal.


"Katakan kau mau kemana dengan jelas."


"Tidak jadi." Sabrina bangun dari duduknya. Meraih lukisan tadi dan melihat ke arah dinding. Semua itu tak lepas dari perhatian Arez.


Sabrina menarik sebuah kursi dan hendak naik ke sana. Namun dengan sigap Arez menahannya. "Jangan ceroboh. Bagaimana jika kau jatuh?"


"Jika jatuh ya bangun." Jawab Sabrina malas. Ia memberikan lukisan itu pada Arez dan dirinya memilih duduk di tepi ranjang. Mengusap perutnya dengan lembut.


Setelah memasang lukisan itu di dinding, Arez duduk pada posisinya semula.


"Aku ingin jalan-jalan." Seru Sabrina mulai kesal karena Arez sama sekali tak membujuknya. Padahal dirinya tadi hanya berpura-pura.


Arez mengerut bingung mendengar itu. "Kau bilang tidak jadi."


"Dasar tidak peka, aku hanya mengetesmu. Kau memang suami tidak pengertian. Seharunya kau membujukku dan terus menanyakan kemana aku ingin pergi. Menyebalkan."


"Jangan membuatku marah." Arez memberikan peringatan.


"Kau memang tak pernah mengerti perasaanku, Al." Sabrina menunduk sedih.


Arez menghela napas gusar dan kemudian bangun dari duduknya. "Ayok."


Sabrina langsung mengangkat wajahnya. "Jalan-jalan?" Tanyanya begitu antusias.


"Ya."


"Kemana?"


"Ke tempat yang kau inginkan." Jawab Arez sekenanya.


"Aku ingin makan es krim." Rengek Sabrina bangkit dari duduknya dan segera menghampiri sang suami. Merengkuh lengan lelaki itu posesif.


"Dokter mengatakan kau tidak boleh terlalu banyak mengkonsumsi yang manis-manis."


"Dokter tidak akan mengerti bagaimana rasanya aku menginginkan semangkuk es krim starwberry. Dia hanya tahu bicara saja." Omel Sabrina yang berhasil mengudang senyuman tipis di bibir suaminya.


"Apa hanya ada makanana dalam otakmu?" Tanya Arez membawa istrinya keluar dari kamar.


"Ya, juga dirimu." Jawab Sabrina jujur.

__ADS_1


"Aku?"


"Ya. Kau suamiku, jadi aku selalu memikirkanmu. Kapan kau akan mengungkapkan cinta padaku huh? Aku menantikan itu."


"Dalam mimpimu."


"Aku juga menunggu itu, tapi kau selalu saja diam saat masuk dalam mimpiku. Kau tidak romantis sama sekali."


Arez sama sekali tak mengeluarkan kata-katanya lagi.


"Aku mencintaimu, Al." Ucap Sabrina seraya menyandarkan pipinya di lengan Arez.


"Hm."


"Kau tak ingin membalasnya?"


"Tidak."


"Kau suami terjahat yang pernah aku temui."


"Kejahatanku hanya sebatas membuat perutmu membuncit."


"Cih, dasar psikopat mesum."


"Akan aku buktikan itu malam nanti."


"Tidak mau, malam ini bukan jatah kita untuk bercinta."


"Akan aku pastikan kau menintanya sendiri."


Sabrina mendengus sebal. "Al, kita tidak pernah kencan. Aku ingin seperti pasangan lainnya, menontom bisokop misalnya."


"Aku tidak suka menonton."


Hampir setengah hari Arez membawa istrinya berkeliling kota. Dan ia benar-benar membawa istrinya kencan seperti kebanyakan pasangan muda saat ini. Bedanya mereka sudah menikah, bahkan akan segera memiliki anak. Dan itu membuat Sabrina benar-benar gembira juga kelelahan. Bahkan dengan perut kekenyangan. Karena sejak pertama berkeliling hanya makanan yang diincarnya. Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Al, aku mengantuk." Sabrina tampak menguap beberapa kali. Dikarenakan perutnya kenyang ia pun mulai mengantuk berat.


"Tidulah."


"Banyak sekali makanan yang masuk dalam perutku. Lihat pipiku semakim tembam. Apa kau tetap menyukainya?" Sabrina melihat dirinya dari balik cermin.


"Berhenti mengoceh, tidurlah."


"Jawab dulu pertanyaanku, Al. Apa kau masih menyukaiku meski aku gendut?"


"Ya."


"Hanya itu?"


"Lalu?"


"Kau harus mengatakan alasannya."


"Kau istriku."


Sabrina memukul lengan Arez kesal. "Kenapa aku harus menikah dengan es balok sepertimu, Alfarez? I hate you."


"Me to."


"Kau__"

__ADS_1


"Berisik, kau lebih bagus tidur ketimbang matamu terbuka."


"Kau mengataiku?" Pekik Sabrina melipat tangannya di dada.


"Mungkin." Jawab Arez tersenyum tipis. Istrinya itu benar-benar menggemaskan.


"Rasanya aku ingin kembali menjadi gadis lajang. Dari pada punya suami sepertimu. Aku bisa tua dini kalau begini."


Arez kembali menyungingkan senyuman tipis. "Tidurlah, aku tahu kau lelah."


"Tidak mau, aku takut kau membuangku di pinggir jalan."


Arez mengerutkan dahi mendengar itu. "Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu huh?"


"Kau kan kejam." Sahut Sabrina yang lagi-lagi menguap. "Kau pernah membunuh orang."


"Aku membunuh karena membela diri. Jika aku tidak membuhuh mereka. Kau tak akan bisa makan sebanyak tadi lagi."


"I know."


"Tidurlah, aku tahu kau mengantuk. Aku tak akan membuangmu, mungkin belum saatnya."


Sabrina melotot mendengar itu. "Aku akan membunuhmu jika kau berani membuangku. Aku akan mengatakan pada anak kita kalau kau itu seorang psikopat yang harus dihindari. Aku tidak akan membiarkanmu bertenu anakku." Kesal Sabrina dengan napas tak beraturan. "Jangan meminta jatah selama satu bulan."


"Jika kau kuat." Kata Arez dengan entengnya.


"Tentu saja. Aku tidak sabar memdengarmu memohon padaku. Sab, aku menginginkanmu. Ayolah, hanya satu jam." Ujar Sabrina berusaha menirukan suara Arez. Dan itu benar-benar menggelitik hati seorang Alfarez.


"Kau pasti akan bicara hal itu, tunggu saja. Saat itu tiba, aku akan menolakmu mentah-mentah."


"Hm. Aku menanti itu."


Sabrina mendengus sebal. "Kita lihat siapa yang akan menang? Aku atau__ kau, Alfarez. Aku meragukan kemampuanmu dalam menahan gairah."


"Sudah cukup mengocehmu, kau sudah banyak bicara hari ini."


Sabrina benar-benar berhenti mengoceh. Tidak lama terdengar suara dengkuran halus yang menandakan jika Sabrina sudah pulas tertidur.


"Dasar kerbau."


****


Sabrina menatap takjub kamar indah yang Sweet siapkan untuk calok anak-anaknya. Wanita itu terus mengembangkan senyuman manis. Terlalu sulit mengungkapkan kebahagiaannya saat ini.


"Sangat indah." Pujinya. Ia menatap dua box bayi berwarna pastel itu dengan tatapan takjub. Benar, Sabrina memang tengah mengandung bayi kembar setelah melakukan USG seminggu yang lalu.


"Sykurlah jika kau menyukainya, Mommy sempat bingung dalam pemilihan warna karena kita belum tahu jenis kelamin mereka."


"Ini warna yang bagus. Cocok untuk perempuan maupun laki-laki. Apa ini tidak terlalu cepat, Mom?"


"Cepat apanya? Tidak akan terasa perutmu akan semakin membesar. Aku akan terus mendekorasi kamar ini sebaik mungkin. Kita harus menyambut mereka dengan meriah." Sweet mengusap perut Sabrina dengan lembut.


"Terima kasih, Mom. Aku sangat senang."


"Sama-sama. Mommy senang saat kamu senang. Mommy rasa Gabriel juga akan senang karena sebentar lagi akan memiliki adik."


Membahas Gabriel, Sabrina merindukan anak itu. "Aku merindukan bayi gemuk itu."


"Katanya lusa mereka akan berkunjung."


"Benarkah? Aku tidak sabar ingin menggendongnya lagi." Sabrina terlihat begitu antusias. Sweet tersenyum senang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah menantunya itu.

__ADS_1


"Oh iya, Mom. Aku dengar Lexa akan kembali ke California ya?"


"Iya, Winter tidak bisa terus menerus meninggalkan pekerjaanya di sana." Jawab Sweet. Sabrina mengangguk paham. Lalu keduanya pun terlibat kembali dalam obrolan hangat.


__ADS_2