Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (50)


__ADS_3

Dari kejauhan, terlihat dua mobil sport melaju cepat dan saling mendahului. Pemilik mobil itu tak lain Violet dan Melvin. Di detik terakhir, mobil mewah milik Violet berhasil menyalip mobil Melvin. Alhasil gadis itu berhasil memenangkan pertandingan.


"Yes!" Serunya dengan senyuman lebar. Lalu memarkirkan mobilnya dengan cantik.


Berbeda dengan Melvin, lelaki itu mendengus sebal karena kalah taruhan. Ia pun ikut memarkirkan mobilnya di sebelah Violet. Gadis itu terlihat sudah duduk di kap mobil dengan angkuh. Melvin pun ikut turun dari mobilnya.


"Satu juta." Ledek gadis itu tersenyum mengejek.


"Ya, aku akui kau hebat, Vi." Melvin duduk di sebelahnya. Sambil sesekali menghela napas. "Kau tidak takut Aunty tahu hm?"


Violet menghela napas. "Aku sedang pusing, hanya tempat ini yang bisa membuatku melupakan masalah sejenak. Kau pun tahu itu."


"Ya. I know. Tapi apa masalahmu saat ini huh?" Melvin menatapnya lekat.


Violet tersenyum. "Entahlah, aku tidak bisa mengatakannya padamu."


"Kau bertengkar dengan kekasihmu?" Tebak Melvin tersenyum geli.


Violet terdiam untuk beberapa saat. "Tidak, Aku dan Paul hampir jarang bertengkar."


Melvin tersenyum. "Lalu?"


Violet menoleh. "Bukan apa-apa, cepat berikan uang satu jutaku. Jagan menipuku kali ini."


Melvin mendengus sebal. "Uang saja yang kau tahu."


"Tentu saja, sekarang aku sedang berusaha mengumpulkan banyak uang. Supaya masa depanku cerah."


Melvin pun berdecih seraya memalingkan wajahnya, melihat sekeliling.


"Oh iya, sepertinya sudah lama aku tidak melihat kekasihmu. Apa jangan-jangan kalian sudah putus? Kau ketahuan selingkuh huh?" Violet tersenyum mengejek lagi.


Melvin menoleh lagi. "Jangan membahasnya."


Violet mengangguk kecil. "Jadi sudah putus ya? Kau memang brengsek, habis manis sepah dibuang."


"Aku tidak sbrengsek itu." Kesal Melvin yang berhasil membuat Violet tertawa geli.


"Ah, aku lupa kau kan perjaka tua." Ledeknya lagi.


"Cih, kau sendiri perawan tua." Balas Melvin.


Alih-alih tersinggung, Violet justru tertawa geli. "Intinya kita senasib."


Melvin tersenyum. "Aku merindukan gadis tengil itu." Ucapnya tiba-tiba. Spontan Violet pun menoleh dengan dahi mengerut.

__ADS_1


"Jika rindu kenapa tidak mendatanginya? Sejak kapan kau jadi pengecut huh?" Violet tersenyum geli. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah frustrasi sepupunya itu.


Melvin menghela napas berat. "Aku hanya menghargai keputusannya, dia tidak ingin bertemu denganku lagi."


Mendengar itu Violet tertawa lagi. "Oh, jadi ceritanya sekarang kau dicampakkan oleh gadis kecil itu? Uh... kasihan. Aku rasa kali ini kau benar-benar jatuh cinta padanya. Benar tebakanku kan?"


Melvin mengedikkan bahunya. "Entahlah, perasaanku berbeda saat pertama kali bertemu dengannya. Bukan hanya sekadar tertarik, tapi rasanya aku ingin terus bersamanya meski kadang dia menyebalkan." Jujurnya.


Violet yang mendengar itu pun manggut-manggut. "Sepertinya kau benar-benar jatuh cinta padanya. Kenapa tidak kau perjuangkan?"


"Sedang kuperjuangkan." Sahut Melvin.


"Dengan berdiam diri di sini? Perjuangan macam apa itu? Harusnya kau berjuang lebih keras, wanita itu butuh bukti untuk diperjuangkan. Jangan sampai dia lari darimu." Ujar Violet sembari mengusap lengan sepupunya itu.


"Dan kau sendiri, menjadikan orang lain pelarian. Apa itu sikapmu, Vi?"


Violet terkejut mendengar suara itu, spontan ia dan Melvin pun langsung menoleh bersamaan. Di sana Dustin sudah berdiri dengan tatapan tertuju pada Violet. Seketika tubuh Violet pun menegang.


"Hai, bro. Kapan kau sampai?" Sapa Melvin.


"Aku ingin bicara empat mata denganmu, Vi." Pinta Dustin mengabaikan sapaan Melvin.


Belum sempat Violet memberikan jawaban. Dustin sudah lebih dulu menyeretnya. Tentu saja Melvin yang melihat itu jadi bingung dan merasa aneh. Namun tidak ingin mencari tahu lebih jauh karena ia tahu mereka pasti ada urusan pribadi. Dan ia memilih pergi dari sana.


Dustin memojokan Violet di dinding gudang yang tak jauh dari arena, lalu mengukungnya dengan tatapan tajam. Matanya memerah, menandakan jika lelaki itu tengah diselimuti api amarah.


Violet yang mendengar itu pun mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"


Mendengar itu kekesalan Dustin pun semakin bertambah. "Jangan pura-pura bodoh, Violet. Kau yang mengirim hasil pemeriksaan itu pada Sheena bukan? Jika kau menginginkanku, tidak perlu melakukan itu semua. Sejak awal sudah aku katakan kita tidak akan pernah bisa bersama. Jangan menjadi wanita murahan karena perasaanmu itu, Vi."


Mata Violet membulat dan berlinang karena hinaan yang Dustin lontarkan. Dengan tatapan nyalang ia pun menyahut. "Kau menuduhku tanpa bukti, Dustin. Kau mengatakan aku murahan? Ya, aku memang murahan. Apa kau puas?" Tangisan Violet pun pecah. Dorongnya Dustin sekuat tenaga.


Tatapan Dustin pun perlahan mengendur. "Berhenti mengganggu kehidupanku, aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada Sheena." Setelah mengatakan itu Dustin pun beranjak pergi dari sana.


"Aku tidak melakukan itu Dustin." Teriak Violet dengan tangisan yang semakin menjadi. "Aku tidak melakukan itu." Tubuhnya seketika merosot. Hatinya begitu sakit dengan tuduhan yang Dustin layangkan untuknya.


Dustin memukul stir mobilnya dengan kasar. Perasaannya benar-benar kacau saat ini. Dan masih sangat yakin jika Violet lah pelakunya. Ia tahu betul gadis itu akan melakukan segala cara untuk mendapat apa yang diinginkan. Ia tahu seberapa kerasnya gadis itu.


****


Di sebuah Bar ternama, terlihat Violet tengah meneguk bir sendirian. Entah gelas keberapa yang ia teguk saat ini. Yang jelas gadis itu sudah mabuk berat. Namun perkataan kasar Dustin beberapa saat lalu masih terdengar jelas ditelinganya.


"Jadi itu yang kau pikirkan tentangku, Dustin? Aku wanita murahan huh?" Gumamnya dengan senyuman smirk. Lalu dengan sempoyongan ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kerumunan orang yang tengah berjoged ria.


"Kau brengsek, Dustin!" Teriaknya yang tenggelam dalam alunan musik dj. Kemudian ia pun terus terhuyung dan menabrak orang yang ada di sana. Sampai seseorang berhasil menahan tubuhnya yang hampir ambruk.

__ADS_1


Violet mendongak, tetapi matanya mengabur dan tak bisa melihat orang itu dengan jelas. "Hm... kau brengsek Dustin. Aku tidak melakukan itu." Setelah mengatakan itu kesadaran Violet pun perlahan menghilang dan ambruk dalam dekapan pria asing itu.


Di pagi hari, Violet terbangun dengan kepala yang terasa sakit dan berat. Ia juga kembali melenguh karena sekujur tubuhnya terasa remuk.


"Uh... sepertinya aku mabuk berat tadi malam." Gumamnya seraya mengubah posisinya menjadi duduk. Lalu ia pun melihat sekeliling. Seketika matanya langsung melebar karena tempat itu sangat asing, tentu saja itu bukan kamarnya.


Tidak hanya itu, Violet kembali dikejutkan oleh sosok yang tidur disampingnya dengan posisi memunggunginya. Punggung yang tegap tanpa sehelai benang pun. Ia pun kini melihat pakaiannya sudah tercecer di lantai.


Deg!


Violet langsung melihat kondisinya sendiri. Benar saja, dirinya pun kini tak memakai sehelai benang pun. Refleks ia pun langsung menarik selimut dan menutup kepolosan dirinya.


"Apa yang terjadi?" Lirihnya seraya mencoba mengingat kejadian tadi malam. Sayangnya ia tak mengingat apa pun selain dirinya minum terlalu banyak. Tidak terasa air matanya pun luruh. "Apa yang sudah aku lakukan?"


Dengan perasaan bekecamuk dan bingung, Violet turun dari tempat tidur. Ia mendesis kecil saat merasakan ngilu dan perih diarea privatnya. Tangisannya pun semakin terisak karena begitu yakin jika kesuciannya sudah terenggut. Ditambah ia tak tahu siapa lelaki itu.


Dasar ceroboh. Umpatnya dalam hati.


Cepat-cepat Violet memungut pakainya yang tercecer dilantai dan segera memakainya. Ia mengenyampingkan rasa sakit disekujur tubuhnya. Secepatnya ia ingin pergi dari tempat itu.


Sebelum pergi, Violet ingin melihat siapa sebenarnya lelaki itu. Ia pun mendekatinya. Namun, tubuhnya seketika menegang dengan mata terbelakang. Karena ternyata lelaki itu Dustin.


"Dustin? Tidak mungkin?" Lirihnya yang kemudian langsung beranjak pergi dari sana sangking shocknya.


Tubuhnya lemas seketika sampai harus berpegangan ke dinding. Air matanya terus luruh seolah mewakili perasaannya saat ini. Ia juga masih berusaha mengingat semua kejadian semalam. Sayangnya tidak ada satu pun yang ia ingat. Dan itu membuatnya semakin frustrasi.


Bagaimana bisa dirinya tidur bersama Dustin? Sedangkan tadi malam ia hanya datang sendirian. Itulah yang saat ini Violet pikirkan.


Dan yang membuatnya semakin tercengang, saat ini dirinya tengah berada di hotel milik keluarga Digantara. Bagaimana ia bisa sampai di sini? Dengan beribu pertanyaan Violet meninggalkan hotel.


Sepeninggalan Violet, Dustin pun terbangun. Ia menggeram saat merasakan sakit dikepalanya. Kemudian, ia langsung terduduk saat mengingat kejadian tadi malam. Dimana dirinya minum cukup banyak, tetapi ia masih ingat dirinya tidak mabuk parah. Namun semalam ia merasa tubuhnya sangat panas dan setelah itu tak mengingat apa pun lagi.


Dengan jantung berdebar, ia langsung melihat kondisinya sendiri. Benar saja, kini ia dalam keadaan polos. Sontak ia langsung menoleh ke samping. Tetapi tak menemukan siapa pun di sana. Tempat itu kosong, hanya saja terlihat kusut yang menandakan semalam ada seseorang yang menemaninya tidur.


"Sial! Apa aku meniduri j*l*ng tadi malam?" Umpatnya seraya mengacak rambut. Pasalnya ia tidak pernah sekali pun melakukan hal bodoh itu selain bersama Sheena. Itu pun terjadi karena kesalahannya. Dan sekarang ia melakukan kesalahan itu lagi. Lebih mengenaskannya lagi ia tak tahu siapa wanita itu.


Dengan perasaan kesal ia menyambar ponselnya yang sudah ada di atas nakas. Lalu menghubungi seseorang. "Cek cctv kamar ini sekarang." Titahnya yang kemudian langsung memutus panggilan.


Setelah itu, ia pun bangkit dan bergegas memakai pakaiannya kembali. Namun, pergerakkannya harus terhenti saat matanya tak sengaja menangkap bercak darah di atas kasur. Ia tidak bodoh sampai tidak tahu itu darah apa.


"Sial! Siapa wanita itu sebenarnya? Bahkan dia tidak meminta bayaran dariku. Atau jangan-jangan seseorang sengaja menjebakku?" Pikirnya.


Semua yang terjadi malam tadi cukup aneh menurutnya. Ia tidak pernah mabuk parah meski minum banyak sekali pun. Namun malam tadi ia tak mengingat apa pun, dan itu meyakinkannya jika sesuatu sedang terjadi.


"Aku harus menyelidikinya." Setelah mengatakan itu ia pun beranjak dari sana. Meninggalkan rasa penasaran yang cukup mendalam. Terutama soal wanita asing yang ia tiduri. Tidak mungkin wanita itu seorang j*l*ng jika dilihat dari bercak darah yang tertinggal di sana.

__ADS_1


Argh! Sial! Umpat Dustin mengacak rambutnya. Kepalanya dibuat hampir pecah sekarang. Masalah baru tengah menerjangnya kali ini.


__ADS_2