
Violet mengerutkan dahinya saat mendengar suara bel pintu terus bunyi. Dan tetap mengabaikannya karena berpikir Dustin lah yang melakukannya.
Namun, lama-lama Violet tak bisa menahannya lagi. Dengan kesal ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Sebenarnya kau mau apa lagi sih?"
Orang itu terkejut karena mendapat semburan dari Violet. Sontak Violet juga kaget saat melihat orang itu bukalah Dustin, melainkan Paul. "Paul?"
Lelaki itu tersenyum. "Hai, aku kira kau akan benar-benar mengusirku tadi."
Violet menatapnya sendu, lalu berhambur memeluknya. "Kau dari mana saja, Paul? Aku terus menghubungimu. Tapi kau tidak menjawabku. Aku pikir kau sudah tak ingin menemuiku lagi."
Paul merengkuh pinggang ramping Violet dengan lembut. "Boleh aku masuk?"
Mendengar itu Violet langsung menarik diri. "Ah, maafkan aku. Ayo masuk." Ajaknya.
Lalu tanpa sungkan lagi Paul pun masuk. Dan langsung menilai kondisi apartemen Violet saat ini. "Tempat ini lumayan bagus." Komentarnya.
Violet tersenyum. "Duduklah, aku akan menbuatkan minum untukmu." Saat hendak pergi, Paul menahannya.
"Tidak perlu, Vio. Ikutlah duduk denganku." Ajak Paul membawa Violet duduk. Tentu saja Violet kebingungan dengan sikap aneh Paul.
Paul menatap wajah Violet lamat-lamat. Membuat sang empu salah tingkah.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" Panik Violet seraya mengusap wajahnya.
"Kenapa kau kurusan huh?" Tanya Paul yang berhasil membuat Violet terdiam. "Kenapa kau melakukan ini, Vio?"
"Paul, aku...."
"Seharusnya kau hidup bahagia dengannya sekarang, Vio. Bukan hidup tanpa arah seperti sekarang ini. Bukankah selama ini Dustin yang kau inginkan?" Sela Paul dengan tatapan serius.
Seketika Violet pun memasang wajah sedih. "Kau yang menyebabkan aku seperti ini, Paul. Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau melakukan semua ini? Aku kekasihmu, tapi kau malah menjebakku bersama orang lain."
Paul terdiam sejenak. Karena apa yang Violet sama sekali tidak meleset. Paul juga ikut terlibat dalam kejadian malam itu. Semua ini tidak akan terjadi jika Paul tidak terlibat. Karena sebenarnya Paul lah otak utama dari apa yang Violet alami. Lalu bekerja sama dengan Lucas.
"Kau itu lelaki brengsek yang pernah aku kenal, Paul. Aku...."
"Aku melakukan semua ini karena ingin kau bahagia, Vio." Paul kembali memotong ucapan Violet. "Demi kebahagiaanmu aku mengorbankan semua perasaanku. Karena aku tahu yang kau harapkan adalah Dustin. Kau hanya menjadikanku pelarian semata."
__ADS_1
Mendengar itu Violet pun menunduk. "Maaf."
Paul menarik dagu Violet. "Kau harus menerima Dustin, Vio. Dia tidak bersalah dalam hal ini, dia juga dijebak. Yang harus kau lakukan saat ini hanya satu, hiduplah bahagia dengannya. Setidaknya hargai pengorbannaku untukmu."
Violet pun kembali memeluk Paul dan menangis dalam dekapannya. "Maafkan aku, Paul."
Paul tersenyum, lalu memberikan kecupan di pucuk kepala Violet. "Yang harus kau benci itu aku, Vio. Bukan Dustin. Dia laki-laki baik. Bahkan memberikan kesempatan untukku bisa merasakan manisnya bibirmu. Memberikan kesempatan padaku untuk bisa bersamaku meski hanya sebentar. Pengorbanannya lebih besar dari pada aku. Jangan kau pikir dia tak terluka saat memutuskan untuk mengubur cintanya. Akulah saksi hidup semenderita apa dirinya. Jadi kembalilah padanya dan hidup bahagia. Kalian juga akan memiliki anak sekarang. Setidaknya pikirkan anakmu. Dia pantas mendapat Ayah sebaik Dustin."
Violet kembali menarik dirinya dari dekapan Paul. Lalu menatapnya lekat. "Aku sendiri tidak tahu, Paul. Setiap kali aku melihat wajahnya, rasanya aku ingin mengamuk dan mencakarnya sampai puas. Aku sangat membencinya."
Paul mengerutkan dahi. "Kau sangat aneh, Baby. Apa mungkin saat inu kau sedang mengalami baby blues?"
Violet menatap Paul bingung. "Baby blues?"
Paul mengangguk. "Sepertinya itu yang sedang kau alami saat ini. Untuk lebih jelasnya kau tanyakan ini pada dokter. Aku tidak terlalu tahu tentang hal itu."
Violet tampak berpikir keras. Apa benar yang dikatakan Paul jika dirinya sedang mengalami baby blues?
"Vio." Panggil Paul. Spontan Violet pun mengangkat wajahnya.
"Maafkan aku karena membuatmu harus mengalami hal serumit ini. Harusnya kau membeciku seumur hidupmu."
Paul mengernyit bingung. "Apa yang kau katakan huh?"
"Paul, aku ingin mencimmu? Apa boleh?" Tanya Violet mendadak ingin mencium lelaki itu. Bahkan keinginannya itu seolah menggebu-gebu.
Mendengar itu Paul pun semakin bingung.
"Paul, aku benar-benar ingin menciummu sekarang." Lirih Violet yang juga terlihat kebingungan. Karena perasan itu semakin menggebu. Bahkan tanpa sadar air matanya pun menetes. Tentu saja Paul tak kuasa melihatnya.
"Lakukanlah." Sahut Paul saat melihat wajah frustrasi Violet.
Tanpa menunggu lama Violet pun langsung menyambar bibir lelaki itu. Bahkan mengalungkan kedua tangannya di leher Paul untuk memperdalam ciuman mereka. Paul pun hanya pasrah dan menikmatinya. Karena kemungkinan besar ini kali terakhir ia bisa mencium Violet.
Namun, siapa sangka jika apa yang mereka lakukan itu disaksikan oleh Dustin yang memantau mereka dari kamera cctv yang dipasangnya secara diam-diam. Tak sanggup menyaksikan itu, Dustin langsung mematikannya.
Kembali pada Paul dan Violet yang masih berciuman dengan intens. Keduanya benar-benar terhanyut dalam buaian. Namun, didetik berikutnya Violet langsung mendorong Paul dan berlari ke dapur. Lalu terdengar suaranya muntah-muntah.
__ADS_1
Paul yang panik pun langsung menyusulnya. Violet masih muntah-muntah di washtafle. Saat hendak membantunya, Violet lansung berbalik dan mengusirnya. "Menjauh, Paul. Baumu sangat aneh. Hoek."
Paul semakin panik bercampur bingung dibuatnya. Ini pertama kalinya ia dihadapkan dengan wanita hamil.
"Pergi, Paul. Aromamu benar-benar membuatku mual." Lirih Violet yang kembali memuntahkan isi lambungnya.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu." Pungkas Paul yang kemudian beranjak pergi dari sana. Ia tak ingin keadaan semakin parah jika terus berada di sana.
Setelah kembali normal, Violet duduk di kursi sambil menyentuh perutnya. Ia benar-benar dibuat lemas. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Cukup lama Violet terdiam di posisinya. "Baby blues?" Gumamnya kebingungan.
"Apa mungkin rasa benciku pada Dustin yang begitu dalam juga karena itu? Tapi kenapa hanya pada Dustin? Bahkan aku sama sekali tidak membenci Paul. Orang yang seharusnya aku benci itu Paul, bukan Dustin." Gumamnya bicara dengan diri sendiri.
Seketika rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. Bahkan bukan sekali dua kali ia menguarkan kebenciannya pada lelaki itu. Paul benar, seharusnya saat ini dirinya hidup bahagia bersama Dustin. Bukankah itu yang dia inginkan selama ini?
Violet menjambak rambutnya karena frustrasi. "Maafkan aku, Dustin."
Di sisi lain, Dustin juga tampak termenung sembari menatap penampakan Ibu Kota di malam hari dari balkon kamarnya. Namun ia sama sekali tak bisa menikmati keindahan itu. Karena pikirannya terus dipenuhi oleh adegan Violet dan Paul siang tadi.
"Jadi ini alasanmu membenciku, Vi? Ternyata kau sudah mencintainya." Dustin mengusap wajahnya begitu frustrasi. Bayangan Violet mencium Paul pun terus membayanginga.
"Argh!" Teriaknya frustrasi. Ia menyesal karena diam-diam memasang cctv di apartmen Violet sehingga menyaksikan semua itu. Padahal tujuannya memasang cctv tersembunyi di sana untuk memastikan Vioet baik-baik saja. Sayangnya ia malah menjebak dirinya sendiri dalam kekecewaan yang mendalam.
"Bahkan kehamilan tak membuatmu jadi milikku, Vi." Lirihnya. "Jika itu yang kau inginkan, aku tidak akan melarangmu. Semoga kau bahagia bersamanya."
****
Setelah hari di mana Paul berkunjung. Violet jauh lebih ceria. Bukan karena kedatangan lelaki itu penyebabnya, melainkan kesadaran akan sikapnya selama ini yang cukup keterlaluan pada Dustin. Selanjutnya, ia akan berusaha untuk mengontrol emosinya jika saja Dustin kembali datang.
Bahkan akhir-akhir ini juga Violet selalu tampil cantik, berjaga-jaga kalau Dustin datang mengunjunginya. Ah, sekarang ia medambakan kedatangan lelaki itu. Dan tak sabar untuk bertemu dengannya.
Saat ini Violet sengaja berdiri di depan pintu, berharap Dustin muncul dan tersenyum hangat seperti biasanya. Jika itu benar-benar terjadi, Violet akan langsung memeluknya tanpa sungkan.
Wanita itu menghela napas panjang karena sudah hampir satu jam ia berdiri di sana, tetapi Dustin tak kunjung datang. Dan itu membuatnya sangat kecewa. "Sebenarnya apa yang aku tunggu? Mungkin saja dia marah karena aku mengusir dan membentaknya hari itu. Hah, ini semua salahku."
Setelah itu Violet pun memilih masuk karena tak menungkinkan untuknya terus berdiri di sana.
__ADS_1
Violet duduk bersandar di sofa sambil mengusap perutnya dengan lembut. Lalu mengajaknya bicara. "Sepertinya Daddymu marah pada Mama, sayang. Apa yang harus Mama lakukan sekarang huh?"