Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 18


__ADS_3

Seperti biasa, Sweet melayani suaminya sarapan. Keduanya saling mengunci mulut. Mata biru Alex terus mengawasi setiap pergerakan istrinya.


Kenapa gadis ini tidak mengeluh sedikit pun? Padahal aku sudah menempatkannya di rumah kecil. Apa itu semua tidak cukup? Sepertinya aku akan menambah permainan ini.


"Mulai saat ini, dapur, kamar utama dan ruang utama akan menjadi tanggung jawab wanita ini. Tidak ada yang boleh ikut campur, semua koki tidak perlu bekerja untuk sementara, masalah gaji akan tetap mereka dapatkan. Untuk kalian yang bertanggung jawab atas ruang utama bebas membantu yang lain kecuali wanita ini. Dia akan melakukannya sendiri, tanpa istirahat." Jelas Alex panjang lebar.


"Ah, satu lagi. Antar makan siangku ke kantor dengan berjalan kaki. Aku tidak menyukai pelayan lemah," timpalnya.


Mala dan Milan yang ada di sana merasa kaget. Keduanya langsung memandang Sweet yang sedang menuangkan kopi ke dalam gelas. Gadis itu sama sekali tak berekspresi.


"Ayah, apa itu tidak berlebihan? Bagaimana jika Sweet ingin melaksanakan salat atau makan?" protes Mala.


"Itu urusan dia, jika dia merasa pintar maka dia akan mendapatkan waktu untuk istirahat," sahut Alex dengan santai.


"Sweet, makanlah dulu," titah Milan pada Sweet.


"Tidak perlu, dia harus menghemat waktu." Sanggah Alex. Sesekali Alex melirik Sweet, gadis itu masih memasang wajah datar tanpa ekspresi.


Sweet menghela napas berat, selera makannya langsung menghilang. Setelah selesai melayani Alex, Sweet bergegas menuju ruang utama. Ia ingin membereskan semua pekerjaannya dengan cepat. Agar waktu ibadahnya tak terganggu. Sweet cukup risih dengan pakaian yang ia kenakan saat ini. Terlalu kecil dan membentuk bagian tubuhnya.


"Sweet, makanlah dulu," titah Milan menghampiri Sweet membawa nampan berisi roti dan segelas susu. Sweet sempat kaget, ia melihat sekeliling ruangan.


"Jangan khawatir, aku yang akan mengurus Alex." Milan meletakkan nampan di atas meja, dan meminta Sweet untuk duduk. Sweet menuruti perintah Milan.


"Makanlah dengan cepat," Milan memberikan roti selai pada Sweet, "jangan khawatir, dia melakukan itu karena kesal padamu. Kau orang pertama yang sulit untuk di atur, dia tidak menyukai itu."


"Terima kasih," ucap Sweet mulai menatap roti itu perlahan. Rasa lapar sudah berganti sakit. Sweet memang memiliki riwayat sakit lambung. Oleh karena itu, setiap pagi ia selalu sarapan. Sedangkan pagi ini, ia terlambat sarapan satu jam ditambah semalam ia juga tak menyentuh makanan. Rasa nyeri di perutnya mulai terasa. Namun Sweet mengabaikan semua itu.


"Aku percaya padamu, Sweet. Kau anak yang baik," lanjut Milan. Sweet meletakkan kembali sisa roti dalam piring dan meneguk susu sedikit. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi jika ia terus makan.


"Terima kasih, aku harus lanjut kerja." Sweet bangun dari duduknya. Melanjutkan kembali pekerjaannya. Mulai dari merapikan dan membersihkan sofa, mengelap meja dan mengepel lantai. Keringat mulai membasahi sekujur tubuh Sweet.


Milan yang sedari tadi terus memperhatikan Sweet, seketika merasa iba pada gadis itu. Sabarlah sedikit, Sweet. Aku yakin, kau bisa meluluhkan hatinya. Batin Milan.


Satu jam berlalu, kini Sweet beranjak menuju kamar utama. Dengan perasaan ragu, Sweet memasuki kamar Alex.

__ADS_1


Apa lelaki itu ada di dalam? Ah, aku rasa tidak. Ini kan hari kantor, sudah pasti dia pergi. Sweet memutar handle pintu perlahan. Kepalanya ia masukkan sedikit untuk mengintip.


Syukurlah, dia tidak ada. Aku harus cepat membereskan pekerjaan ini. Batin Sweet, ia pun langsung masuk ke dalam.


"Kenapa tempat tidurnya sangat berantakan?" gumam Sweet seraya merapikan tempat tidur Alex.


"Ah, perutku sakit sekali." Keluhnya sambil menekan bagian perut. Sweet duduk di atas ranjang. Ia sudah tidak sanggup untuk berdiri. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajahnya.


"Tidak, Sweet. Kau tidak boleh lemah," ujarnya kembali bangun. Tangannya kembali bergerak untuk merapikan tempat tidur. Setelah itu, Sweet beranjak menuju deretan lemari buku. Hampir semua buku yang ada di sana tentang bisnis. Sweet sedikit tertarik, ia mengambil salah satu buku dan membacanya.


"Berani menyentuh barangku?"


Mendengar suara itu, Sweet terlonjak kaget hingga tak sengaja buku yang ia pegang pun terjatuh. Cepat-cepat Sweet mengambil buku itu dan meletakkan kembali ke dalam lemari. Karena terkejut, Sweet tidak menyadari jika Alex kini sudah berada di dekatnya. Lelaki itu kini sudah berdiri dibelakang Sweet.


"Aku tidak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh--" ucapan Alex terpotong karena tiba-tiba Sweet berbalik dan wajah gadis itu terbentur dada bidangnya. Tubuh keduanya mendadak kaku, suasana canggung pun kembali terjadi.


"Kau begitu menyukainya?" Akhirnya Alex membuka suara. Sweet yang tersadar pun langsung mendorong tubuh Alex dan menjauh. Rona merah tercetak jelas di wajahnya. Gadis itu merasa malu.


Hah, kenapa dia telihat begitu polos? Apa dia sedang berakting lagi di depanku? gerutu Alex dalam hati.


"Aku... aku--" Sweet merasakan panas di ulu hatinya. Napasnya mulai tercekat dan merasa sangat mual. Pandangannya mulai tak jelas.


Alex yang melihat gelagat aneh Sweet mulai cemas. Ia bisa melihat butiran keringat dikening Sweet. Alex hendak bertanya, tetapi gadis itu mulai hilang keseimbangan. Dengan sigap Alex menahan tubuh mungil Sweet.


"Hey, kau kenapa?" tanya Alex menepuk pipi bulat Sweet. Mata gadis itu terpejam dengan mulut yang terus bergerak tanpa suara. Tanpa pikir panjang, Alex mengangkat tubuh Sweet, membaringkannya di atas tempat tidur. Hal itu membuat Alex mendadak bodoh.


"Kenapa kau diam Alex, panggilkan dokter," gumamnya seraya menyambar ponselnya di atas nakas. Ia mulai menghubungi dokter pribadi keluarga Digantara.


"Datang ke tempatku sekarang?" perintah Alex pada seseorang yang ada di balik telepon, dan langsung menutup telepon begitu saja. Alex menatap wajah pucat Sweet, rasa iba sedikit menyelisik hati nuraninya.


"Apa yang kau pikirkan, dia tidak pantas mendapatkan rasa kasihan darimu, Alex. Dia pantas mendapatkannya," protes Alex pada diri sendiri. Namun tetap saja, rasa iba kembali menyelusup dalam hati nuraninya. Membuat lelaki itu prustasi.


Lima belas menit kemudian, seorang dokter tampan berambut pirang masuk ke kamar Alex. Lelaki bernetra abu-abu itu menghampiri Alex. Lalu pandangannya beralih pada sosok yang berbaring lemah.


"Cepat tangani dia," titah Alex pada lelaki berstatus dokter itu.

__ADS_1


"Siapa dia? Simpananmu?" tanya lelaki bernama Ansel. Ia merupakan dokter pribadi keluarga Digantara, setelah Ayahnya pensiun. Ansel merupakan teman sebaya Alex.


"Jangan banyak bicara, lakukan pekerjaanmu." Kesal Alex. Dokter Ansel langsung memeriksa kondisi Sweet. Lelaki itu terlihat menghela napas beberapa kali.


"Kau kaya raya, tapi kau sangat pelit pada pelayanmu. Dia memiliki penyakit lambung, sepertinya dia terlambat makan atau mungkin kau memang tidak memberi dia makan?" jawab dokter Ansel.


"Siapa dia? Kenapa bisa ada di kamarmu? Ini sangat langka, apa mungkin kau malah jatuh hati pada seseorang pelayan. Tapi gadis ini cukup manis dan penampilannya menarik," lanjutnya. Alex yang mendengar itu merasa kesal.


"Berhenti bicara, berikan aku obat." Alex menarik dokter Ansel agar menjauh dari Sweet.


"Wow, kau bereaksi berlebihan, Bro. Dia memang cantik dan menarik, tapi aku tidak tertarik dengan seorang pelayan."


"Dia istriku, bukan pelayan. Cepat berikan obatnya," sergah Alex. Dokter Ansel cukup terkejut mendengar pengakuan Alex. Pasalnya ia tak pernah mendengar kabar tentang pernikahan Alex.


"Wow, kau menikahi seorang gadis untuk dijadikan pelayan? Kau benar-benar lelaki kejam, Alex."


"Berhenti bicara, aku akan menutup mulutmu selamanya jika masih banyak bicara," kesal Alex. Dokter Ansel tergelak melihat kekesalan dalam diri Alex.


"Baiklah, berikan ini padanya pagi dan malam sebelum makan. Jangan biarkan istrimu terlambat makan atau makan makanan pedas dan asam. Biarkan dia istirahat beberapa hari, jangan terus menyiksanya. Jangan terlalu kejam, cukuplah menyiksanya di atas ranjang." Ledek dokter Ansel yang kembali membuat Alex kesal. Ia pun memberikan obat pada Alex.


"Pergilah, aku tidak membutuhkanmu lagi."


"Tidak perlu kau usir, aku akan pergi sendiri. Lagian aku tidak ingin menyaksikan adegan panas kalian," ujar dokter Ansel yang langsung berlalu pergi. Jika tidak, ia pasti mendapatkan hadiah yang mengerikan dari Alex.


Alex duduk disamping Sweet. Tangannya bergerak untuk menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah manis istri kecilnya. Gadis itu terus bergumam tak jelas.


"Bu...." suara lemah itu berhasil keluar dari mulut Sweet. Bibir tipisnya terus bergerak seakan hendak bicara. Alex terus memperhatikan wajah pucat Sweet.


"Dasar wanita lemah," cerca Alex. Tanpa sadar, tangannya bergerak untuk mengusap kepala Sweet.


Alex memperhatikan seluruh tubuh Sweet, pakaian yang gadis itu kenakan terlihat basah oleh peluh.


"Kau tidak pantas memakai pakaian ini," lanjutnya seraya membuka satu per satu kancing seragam yang di kenakan Sweet.


Lima belas menit berlalu, kini Sweet sudah berganti pakaian. Karena tidak ada satu pun pakaian wanita di kamarnya. Alex terpaksa memakaikan kemeja miliknya. Pakaian itu terlihat kebesaran dan terlalu longgar untuk ukuran tubuh Sweet.

__ADS_1


"Aku rasa kau sangat lucu saat berpakaian seperti ini, Ana." Alex bergumam kecil. Senyuman kecil mulai terbit di ujung bibirnya.


__ADS_2