
Sky menidurkan putranya di atas ranjang dengan hati-hati. Lalu memberikan kecupan hangat di kening bayi kecilnya. Arel yang melihat itu pun tersenyum hangat.
"Bersihkan dirimu lebih dulu, kau terlihat mengerikan." Perintah Arel duduk di tepi ranjang dengan hati-hati karena tak ingin membangunkan putranya. Sky menatap Arel sekilas.
"Aku tak punya pakaian." Sahut Sky gugup.
"Kau bisa pakai kemejaku lebih dulu, bukankah dulu kau selalu melakukan itu huh? Mengobrak-ngabrik lemari pakaianku."
Sky tersenyum tipis saat mengingat hal itu. "Lalu bagaimana dengan pakaian dalamku, Arel?"
Arel terdiam sejenak. "Mandilah dulu, aku akan meminta seseorang mengirim beberapa set pakaian untukmu dan Baby boy."
Sky langsung menatap Arel saat mendengar panggilan lelaki itu untuk putra mereka. "Baby boy?"
"Ya, dia jagoanku kan? Kau keberatan?"
"Tidak, kau bebas menentukan panggilan untuknya."
Arel menatap putranya yang masih tertidur pulas. "Dia sangat mirip denganku bukan? Tuhan memang adil."
"Hm." Sky pun beranjak menuju kamar mandi. Ia tak ingin mendengar ocehan lelaki itu lagi. Kepalanya sudah sangat pusing dan berendam adalah hal yang paling cocok untuknya saat ini.
Kini Sky sudah duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya. Ia memakai kemeja hitam Arel yang tampak kebesaran. Tidak lama Arel pun masuk dengan beberapa paper bag ditangannya, dan menaruh itu di sisi Sky.
"Pakaianmu dan Baby boy."
"Terima kasih. Kau mau kemana lagi?" Tanya Sky saat melihat Arel hendak keluar kamar.
"Kau pasti lapar, aku akan membuatkan makanan untukmu. Oh iya, aku juga sudah membeli makanan dan cemilan untuk Baby boy. Aku menaruhnya di dalam kabinet." Jawab Arel yang kemudian bergegas keluar.
Tentu saja jawaban Arel berhasil mengundang senyuman di wajah Sky. Kau tak pernah berubah Arel. Kau begitu perhatian dan pengertian. Aku mencintaimu.
Setelah berganti pakaian tidur yang Arel belikan, Sky menyusul lelaki itu ke dapur. Arel masih sibuk memasak dengan sebuah apron yang melekat di tubuhnya yang ateltis. Sky tersenyum dan melangkah pelan menghampiri Arel. Tanpa rasa malu, ia langsung memeluknya dari belakang. Arel tersentak kaget, tetapi itu hanya sebentar.
"Aku merindukan momen seperti ini," bisik Sky masih setia memeluk kekasihnya.
"Jika kau merindukannya, kau tak akan meninggalkan aku." Sahut Arel bergerak ke sisi lain dan membuat pelukan Sky terlepas.
Wanita itu terdiam dengan wajah tertunduk. "Maafkan aku." Ia hendak pergi ke kamar lagi, tetapi dengan gerak cepat Arel mencekal lengannya. Sky pun menatap Arel punuh tanya. Kemudian Arel menyentil kening Sky, membuat wanita itu meringis sakit.
"Dasar bodoh, seharunya kau membujukku. Sejak tadi aku menunggumu melakukan itu, tapi kau sama sekali tak peka. Ah, aku lupa saat ini kau sudah menjadi wanita bodoh." Kesal Arel mengomeli Sky. Namun omelan itu justru membuat Sky tersenyum lebar dan memeluknya lagi.
"Aku mencintaimu, Arel." Ucap Sky.
"Tapi aku tidak, Nona." Arel mendorong tubuh kurus itu agar menjauh dari dekapannya. Lalu kembali berkutat dengan peralatan dapur. Lagi-lagi Sky tersenyum.
"Sayang." Panggil Sky mencoba untuk menggodanya.
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu, aku bukan suamimu." Sahut Arel ketus. Sky tertawa renyah dan kembali memeluk lelaki itu.
"Bagiku kau suamiku, Arel. Aku sama sekali tak memperbolehkan orang lain menyentuhku. Bahkan aku melahirkan darah dagingmu." Jelas Sky menghirup aroma maskulin Arel yang amat ia rindukan.
__ADS_1
"Aku tahu."
Sky terkejut mendengar sahutan Arel. "Kau tahu?" Tanya Sky bingung.
"Ya, siang tadi aku mendengar semua kalimat yang kau teriakkan pada suamimu, Nona." Jawab Arel masih dengan nada ketus. Sky bisa membaca aura cemburu yang kini tengah menyelimuti kekasihnya itu.
"Ck, sudah aku katakan kau suamiku."
"Terserah." Arel melepaskan tangan Sky yang melingkar di perutnya. Kemudian bergerak untuk mengambil sebuah mangkuk. Lalu menuangkan sup ke dalamnya.
Sky terus memperhatikan pergerakan Arel. "Wah, aroma supmu tidak pernah berubah. Aku akan menghabiskan semuanya." Sky beranja duduk di meja makan yang hanya bisa menampung empat orang.
"Kau memang harus menghabiskan semua hidangan yang aku sediakan, buat tubuhmu gemuk. Aku tak suka tidur dengan tulang." Ujar Arel meletakkan mangkuk sup di atas meja.
"Huh, tidak suka tapi kau begitu menikmatinya. Kau memang brengsek." Ketus Sky bangun dari posisinya untuk mengambil sebuah sendok. Lalu mencicipi sup kesukaannya. "Ya ampun, rasanya sangat enak. Boleh aku langsung makan? Sejak pagi aku belum makan apa pun."
"Apa aku pernah melarangmu melakukan sesuatu di sini? Bahkan kau selalu berbuat sesuka hati." Jawab Arel kembali menaruh beberapa hidangan di atas meja. Sky yang mendengar itu tersenyum senang.
"Apa kau pernah membawa wanita lain ke tempat ini?" Tanya Sky sambil menikmati hidangan super enak buatan sang kekasih.
"Hm."
Sky terdiam sejenak. "Jadi kau meniduri mereka di sini?" Tanya Sky tak semangat.
"Aku tidak menuduri adik-adikku." Jawab Arel yang berhasil membuat pipi Sky merona karena menahan malu. Ia sudah berburuk sangka padanya. "Maaf, aku pikir kau membawa wanita lain ke sini."
"Aku hanya membawa wanita tak tahu malu sepertimu ke tempat ini." Arel membuka apron dan ikut duduk di sana, menatap Sky lamat-lamat. Sky terlihat gugup mendapat tatapan aneh dari Arel.
"Besok ikut aku menemui Mommy dan Daddy. Aku akan memperkenalkanmu pada mereka."
"Kenapa? Kau takut huh?"
"Bagaimana jika... jika mereka membenciku, aku penyebab dirimu sakit, Arel. Aku tak pantas mendapat ampunan mereka."
"Apa kau Tuhan? Sampai bisa memutuskan pantas atau tidak dimaafkan orang lain?" Arel menatap Sky yang masih menunduk.
"Sky." Arel menarik dagu Sky hingga pandangan keduanya pun bersatu. "Kita akan menikah setelah urusan perceraianmu dengan lelaki itu usai. Aku tak akan membiarkanmu lari lagi dari hidupku. Suka atau tidak, kau harus selalu berdiri di sisiku sampai kita menua."
Mata Sky berkaca-kaca mendengar itu. Ia tak pernah menyangka Arel masih ingin menikahinya setelah apa yang ia lakukan pada lelaki itu. "Aku... aku...."
"Kau tidak bisa menolakku kali ini, Sky."
Tangisan Sky pun pecah. "Tentu saja aku ingin menjadi istri sungguhanmu, Arel."
Arel tersenyum mendengarnya. Ia menggeser bangku agar bisa menyentuh wanitanya itu dengan leluasa. "Aku tak akan membiarkan dirimu menangis selama kau berada disisiku." Arel mengusap pipi Sky yang basah karena air mata. Sky mengangguk kuat, mengelus tangan Arel dengan lembut.
"Berhenti menangis, makanlah. Aku masak semua makanan kesukaanmu. Dalam satu minggu kau harus kembali seperti dulu lagi. Agar aku bisa leluasa menyentuhmu." Sky tersenyum mendengar itu dan kembali melahap hidangan itu dengan segenap kebahagian yang sudah lama ia dambakan.
****
Sky memeluk Gabriel dengan erat, sejak tadi kepalanya terus tertunduk karena tak berani menatap Sweet dan Alex yang saat ini tengah menatapnya penuh intimidasi.
__ADS_1
"Mom, Dad, hentikan itu. Jangan membuatnya ketakutan." Pinta Arel jengah dengan sifat jahil kedua orang tuanya.
Sweet pun tersenyum dan langsung bangun dari posisinya. Lalu duduk di samping Sky. Menarik dagu wanita itu dengan lembut. Sky pun memberanikan diri untuk menatap wanita paruh baya itu. Wanita yang pernah ia temui sekali tepat dua tahun lalu.
"Maafkan kami, Sayang. Kami hanya ingin mengerjaimu." Ucap Sweet mengecup kening Sky dengan lembut. Seketika hati Sky menghangat. Ia tak pernah mengira Sweet menerimanya dengan penuh kehangatan seperti ini.
Sweet pun mengalihkan perhatian pada bayi mungil yang sejak tadi terus menatapnya. Sweet tersenyum dan membawanya dalam gendongan. "Owh, cucu Grandma sudah sebesar ini." Sweet mengecup pipi cucunya dengan gemas.
"Bawa dia kemari, Ana. Aku juga ingin menggendongnya. Owh... aku merasa sedang bermimpi memiliki cucu." Pinta Alex yang sejak tadi ingin membawa cucunya bermain. Sweet pun menuruti keinginan suaminya. Memberikan Gabriel pada Alex.
"Ya ampuan, si brengsek itu sudah punya anak sebesar ini. Wah, dia tertawa, Ana. Kenapa kau sangat mirip dengan si brengsek huh?" Alex menciumi pipi cucunya karena gemas. Bayi kecil itu pun tertawa senang, seolah tahu Alex tengah membicarakannya.
"Dad, berhenti memanggilku dengan sebutan itu di depan Gabriel." Protes Arel merasa kesal karena Alex masih memanggilnya dengan sebutan itu. Meski itu benar adanya.
"Jangan protes, kau memang brengsek, Arel. Kau sudah membuat menantuku sulit, mengandung anakmu diusianya yang masih muda." Timpal Sweet kembali menghampiri Sky.
"Aunty, ini semua bukan kesalahanya. Akulah yang bersalah, aku yang memintanya." Jujur Sky tak ingin membuat kesalahpahaman antara Arel dan orang tuanya.
"Ya, kalian berdua memang bersalah. Karena itu Mommy akan menghukum kalian."
Sky dan Arel yang mendengar itu langsung terkejut. "Mom, jika ingin menghukum kami. Hukum aku saja, tidak perlu menghukumnya juga." Pinta Arel menatap sang Mommy lekat.
"Tidak, kalian tetap harus di hukum. Mommy tidak akan membiarkanmu bertemu dengan Sky sampai urusan perceraiannya selesai, begitu pun sebaliknya."
"What?" Pekik Arel nyaris tak percaya dengan hukuman yang Sweet berikan. Mana bisa ia jauh dari wanitanya. "Aku tidak setuju, Sky akan...."
"Dia akan tinggal di sini bersama Mommy. Kamu tetap tinggal di tempatmu. Mommy tahu kebrengsekkanmu, Arel. Kalian tidak Mommy izinkan bersentuhan sebelum menikah. Sudah cukup Gabriel menjadi korban kecerobohan kalian. Tidak ada penolakan, Sky akan tinggal di sini." Potong Sweet penuh penekanan.
"Mom."
"Jangan membantah, Arel. Dengarkan apa kata Mommymu." Perintah Alex dengan nada tegas. Jika sudah seperti ini, Arel tidak bisa berbuat apa-apa.
"Jangan berpikir kamu bisa pulang ke mansion ini dan mendekati Sky. Karena Mommy akan memerintahkan para penjaga untuk mengusirmu saat datang ke sini. Ini hukuman untuk kalian berdua. Bersabarlah, sampai kalian menjadi pasangan halal." Ujar Sweet dengan santainya. Sedangkan Arel terlihat frustasi, ia tak bisa berjauhan atau bahkan tak bertemu Sky selama itu.
Sky tersenyum tipis saat melihat wajah tersiksa Arel. Ia tahu apa yang tengah lelaki itu pikirkan. "Aku setuju dengan Aunty, lebih baik kita berpisah untuk sesaat."
Arel menatap Sky tajam. "Setelah lama kau pergi dariku, sekarang kau masih ingin berjauhan denganku Sky? Terserah, lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan." Kesal Arel yang langsung pergi meninggalkan mansion.
Sweet, Alex dan Sky tersenyum geli melihat sikap Arel yang seperti anak kecil.
"Biarkan saja dia seperti itu, kita lihat berapa lama dia bisa menahannya." Kata Alex sambil mengajak cucunya bermain. "Malam ini biarkan Gabriel tidur dengan kita, Ana. Aku ingin lebih dekat dengannya. Dia sangat tampan sepertiku."
Sweet memutar bola matanya jengah. Kemudian memusatkan perhatian pada Sky. "Mommy akan mengantarmu ke kamar. Ayok." Ajak Sweet menarik tangan Sky dengan lembut. Kemudian kedua wanita berbeda usia itu beranjak menuju kamar lama Arel.
Sky mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar super mewah yang didominasi warna putih itu dengan tatapan takjub.
"Ini kamar Arel, tapi sudah hampir dua tahun dia tidak menempatinya lagi. Mommy sudah memesan pakaian untukmu dan Gabriel. Anggap saja ini rumah sendiri." Jelas Sweet mengusap pundak Sky.
Sky menatap Sweet dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Anda masih mau menerima saya setelah apa yang terjadi." Ucap Sky yang langsung memeluk Sweet. Wanita paruh baya itu tersenyum dan mengusap punggung Sky dengan lembut.
"Lupakan masa lalu, saat ini cukup pikirkan kebahagian kalian. Mulai sekarang panggil aku Mommy. Anggap saja aku Ibumu, Sky."
__ADS_1
Sky tersenyum bahagia. "Thank you, Mom."
"Sama-sama, Sayang."