Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 99


__ADS_3

Tidak terasa, sudah hampir satu bulan Mala berada di Indonesia. Selama itu pula hubungan mereka terjalin dengan baik. Bahkan setiap harinya Bian selalu menunjukkan sikap manis dengan penuh cinta pada sang istri. Tak heran jika dalam waktu singkat, Mala jatuh hati padanya.


"Sayang," panggil Bian saat dirinya terbangun dan tak menemukan istrinya di atas ranjang. Kemudian ia pun mendengar suara gemercik air. Bian mengulas senyuman lebar, dan segera bangkit dari posisinya. Lalu berjalan pasti menuju kamar mandi.


Bian membuka pintu kamar mandi perlahan, dan yang pertama kali ia lihat adalah punggung mulus sang istri. Mala tak menyadari kehadiran suaminya. Karena ia sibuk mengeringkan rambut dengan sebuah handuk. Dan saat ini tubuh rampingnya hanya terbalut sehelai handuk sebatas lutut. Bian tersenyum jahil dan secara tiba-tiba mendekap istrinya dari belakang.


Mala memekik kaget. Hampir saja jantungnya terlepas karena kejahilan Bian. "Bian, jika kau terus melakukan itu setiap hari aku bisa mati karena jantungan." Omel Mala.


Bian yang mendengar itu mengecup pipi istrinya karena merasa gemas. "Lepaskan aku, Bian. Sebaiknya cepat mandi, sebentar lagi azan Subuh. Aku ingin kamu menjadi imamku kali ini. Tidak perlu ke masjid, aku masih merindukanmu."


Bian tersenyum penuh arti. "Aku hanya pergi ke Jakarta selama dua hari, lalu selama tiga hari ini kamu terus menempel padaku. Dan masih mengatakan rindu huh?"


Mala berbalik, menatap netra coklat suaminya dalam-dalam. "Aku mencintaimu, Bian. Wajar jika aku merindukanmu setiap saat." Bisik Mala seraya melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami. Bian tersenyum menawan sambil mengusap pipi mulus istrinya.


"Setiap kali kamu mengatakan cinta padaku, hatiku terasa menghangat, Mala. Aku bahagia karena berhasil membuatmu jatuh cinta padaku. Aku sangat bahagia." Ungkap Bian yang kemudian mengecup bibir Mala dengan gemas.


Mala tersenyum simpul. "Aku sendiri bingung, kenapa aku begitu mudah jatuh dalam pesonamu? Padahal awalnya aku sangat membencimu dan ingin sekali rasanya membunuhmu, Bian. Tapi sekarang, aku takut kehilanganmu."


Bian menempelkan keningnya di kening Mala, sampai hidung mancung mereka pun saling bertemu satu sama lain. Mala memejamkan mata saat merasakan hembusan napas sang suami yang begitu hangat. "Aku tidak akan meninggalkanmu, karena aku sangat mencintaimu jauh sebelum kamu mencintaiku. Aku akan selalu membahagiakanmu, Sayang. I love you so much."


"Aku percaya padamu, Bian. Aku bisa melihat cinta itu di matamu." Kata Mala memberikan kecupan mesra dibibir suaminya. Mala sendiri bingung, akhir-akhir ini dirinya selalu merindukan Bian. Padahal suaminya itu selalu ada disisinya. Bahkan tidak jarang Mala merengek minta ikut ke perusahaan.


"Pagi-pagi kamu sudah menggodaku, Sayang." Bisik Bian dengan suara beratnya.


"Bian, cepat mandi. Sebentar lagi Azan, aku akan menunggumu."


"Hm. Setelah itu kamu harus bertanggung jawab, Sayang. Bagaimana kalau besok kita honeymoon? Tidak perlu menunggu minggu depan."


Mala tersenyum malu dan cuma bisa mengangguk pasrah. "Sana mandi, aku menunggumu di musala." Mala pun mendorong tubuh suaminya dan langsung beranjak pergi. Sedangkan Bian terkekeh geli melihat tingkah malu-malu istrinya. Padahal pernikahan mereka sudah jalan dua bulan, tetapi Mala masih sering menunjukkan sifat malunya.


Pagi ini terasa begitu hangat, apa lagi saat tangan lentik Mala meraih tangan Bian dan mengecupnya dengan mesra. Kedua insan itu baru saja menyelesaikan salat berjamaah.


Bian menangkup wajah istrinya, kemudian mencium kening Mala cukup lama. Membut sang empu merasakan desiran hangat hingga tanpa sadar memejamkan mata. Bian melepaskan kecupannya. Perlahan mata indah itu terbuka. Bian mengunci pandangan istrinya begitu dalam.


"Aku ingin meminta pertanggung jawabanmu, Sayang." Bisik Bian yang berhasil membuat kening Mala mengerut.


"Tanggung jawab?"


Bian mengangguk dengan seulas senyuman devil. Mala yang melihat itu mendadak ngeri. "Kamu mau apa sih? Jangan natap aku seperti itu." Kesal Mala memukul dada bidang suaminya. Namun dengan cepat Bian menangkap tangan itu.


"Bian."


"Aku menginginkanmu, Sayang."

__ADS_1


"Tapi kita sudah melakukannya malam tadi, Bian." Rengek Mala dengan bibir cemberut dan pipi yang merona. Hal itu membuat Bian gemas. Mala bangun dari duduknya, lalu membuka mukena dan melipatnya kembali.


"Bagaimana jika kita mengulangnya pagi ini?" Goda Bian ikut bangun dari posisinya. Meletakan peci di atas lemari kecil.


"Cukup, Bian. Kamu harus segera bersiap ke kantor. Aku... aaaa...." perkataan Mala harus terpotong karena tanpa persetujuan, Bian menggendongnya. Kemudian membawanya ke kamar.


"Kamu sangat cerewet, Sayang. Membuatku semakin gemas. Aku janji hanya satu jam."


"Aku tidak percaya, turunkan aku, Bian. Sisa semalam saja belum hilang." Kesal Mala terus memukul dada suaminya. Bian tergelak mendengar perkataan istrinya. Bukan Bian namanya jika tak bisa menggempur istrinya sampai tak bisa berjalan.


Bian melempar Mala ke atas ranjang. Lalu memberikan senyuman nakal pada sang istri. Tanpa banyak berpikir, Bian kembali mengulang aktivitas malam tadi.


***


Di Mansion, Sweet terlihat malas-malasan di atas ranjang. Sejak usia kehamilannya bertambah, bertambah pula sikap manjanya. Sweet melirik suaminya yang baru keluar dari kamar mandi. Beberapa menit yang lalu Alex baru pulang dari kantor. Saat ini ia baru selesai mandi.


"Kamu tidak mandi, Honey?" Tanya Alex saat melihat istrinya masih bermalas-malasan di atas pembaringan.


"Aku sudah mandi pagi tadi, Mas." Sahut Sweet dengan santai.


Alex tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu beranjak menuju closet untuk berganti pakaian. Beberapa menit kemudian ia keluar dan melihat Sweet masih dengan posisi yang sama. Alex menggeleng pelan. Lalu duduk di bibir ranjang tepat disisi istrinya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Alex yang berhasil mendapat perhatian Sweet.


Sweet mengangguk sambil tersenyum lebar. Ia meraih tangan Alex dan meletakkan di atas perutnya yang sedikit membuncit. "Dia merindukan Daddynya." Bisik Sweet.


"Mommy juga merindukan Daddy." Ucap Sweet dengan senyuman nakalnya. Alex yang melihat itu tersenyum geli.


"Di mana anak-anak?" Tanya Alex seraya mengusap rambut lembut istrinya.


"Tadi di kamarnya." Jawab Sweet sekenanya. "Mas, kita jalan-jalan yuk? Aku bosan berdiam diri di mansion terus."


"Jalan-jalan ke mana, Sayang?" Tanya Alex menatap netra coklat istrinya.


"Kemana aja, asal jangan di mansion terus. Aku bosan."


"Tapi ini sudah sore, malam nanti saja kita pergi. Aku dengar ada sebuah pasar malam, kita ajak anak-anak sekalian."


Sweet yang mendengar itu mengangguk antusias. "Sudah lama aku tidak makan cotton candy, sepertinya sangat enak."


"Kamu bisa membelinya nanti." Kata Alex tersenyum tulus. Sweet pun mengangguk seperti anak kecil.


Malam hari, Alex benar-benar memboyong istri dan anak-anaknya ke pasar malam. Ketiga kurcaci itu terlihat senang saat melihat berbagai wahana dan kelap-kelip lampu dengan berbagai warna. Menghiasi indahnya susana malam di kota Berlin.

__ADS_1


"Mom, Dad, Lexa mau naik itu." Rengek Alexa menggoyangkan tangan orang tuanya. Lalu menunjuk bianglala.


"Yakin berani?" Tanya Alex dengan senyuman menantang.


"Berani, Lexa kan anak pemberani. Boleh ya, Dad?"


"Dua jagoan Daddy bagaimana?" Tanya Alex pada kedua putranya.


"Aku tidak ikut," sahut Arez dengan santai.


"Ah Kakak payah, pasti Kakak takut kan?" Ketus Alexa melipat kedua tangannya di dada. Sweet dan Alex yang melihat itu tersenyum lebar.


"Sama sekali tidak takut," jawab Arez memasang wajah masam. "Lebih baik aku temani Mommy di sini."


"Daddy, aku juga tidak mau naik itu. Bagaimana jika sangkar burung itu jatuh?"


Sweet dan Alex tergelak mendengar perkataan putranya itu. "Itu bukan sangkar burung, Sayang. Tapi kapsul gantung, tempat di mana pengunjung duduk dan menikmati keindahan kota dari atas." Jelas Sweet mencubit pipi Arel gemas.


"Sama aja, Arel tidak mau naik." Kekeh Arel dengan bibir mengerucut.


"Okay, kalian tidak perlu ikut. Tunggu di sini bersama Mommy, Daddy akan membawa adik kalian naik bianglala itu." Kata Alex yang dijawab anggukan ketiganya.


"Yey... ayok Daddy. Lexa sudah tidak sabar mau naik itu." Seru Alexa menarik tangan Alex menuju bianglala. Sweet menggeleng pelan saat melihat tingkah menggemaskan Alexa. Lalu perhatiannya pun ia alihkan pada kedua putranya.


"Kalian mau menemani Mommy makan es krim kan?" Tanya Sweet yang langsung dijawab anggukan oleh keduanya.


"Yey, yuk kita ke sana." Ajak Sweet menuntun kedua putranya menuju tempat penjual es krim. Setelah memesan es krim, Sweet mengajak anak-anaknya duduk di kursi panjang yang sengaja disediakan untuk pengunjung.


"Mom, apa adik bayi masih kecil? Kenapa Arel tidak bisa melihatnya?" Tanya Arel seraya mengusap perut Sweet. Sweet yang mendengar itu tersenyum geli.


"Ya, Sayang. Baby dalam perut Mommy masih sangat kecil. Jadi Arel belum bisa melihatnya." Jawab Sweet mengusap kepala putranya gemas.


"Arel mau adik laki-laki, supaya bisa main robot. Tidak mau punya adik seperti Lexa, dia sangat cerewet." Kata Arel begitu polos. Sweet tergelak mendengarnya.


"Baik laki-laki atau pun perempuan, kalian harus tetap menyayanginya. Sebagai Kakak, kalian juga harus bisa melindungi adik-adik. Mommy yakin, saat kalian besar nanti. Kalian akan menjadi orang hebat." Kata Sweet mengecup pucuk kepala kedua putranya.


"Love you, Mom." Ucap Arel memeluk Sweet. Sedangkan Arez masih terdiam sejak tadi dengan tatapan yang terus menerawang keseluruh penjuru tempat.


"Honey, apa yang sedang mengganggu pikiranmu huh?" Tanya Sweet mengusap kepala putra sulungnya. Arez pun menoleh.


"Aku sedang mengingat penampakan malam ini, Mom. Mungkin besok aku bisa melukisnya." Sahut Arez dengan seulas senyuman tipis.


"Mommy bangga padamu, Sayang. Besok Mommy akan meminta Daddy untuk membuatkan sebuah geleri khusus untukmu. Atau kita tantang Daddy untuk adu tanding. Siapa yang paling hebat dalam hal melukis. Kamu berani?"

__ADS_1


Arez mengangguk antusias. "Arez akan menjadi pemenangnya." Ucapnya begitu yakin.


"Mommy percaya itu." Sahut Sweet tersenyum manis. Tidak lama es krim pesanan mereka pun sampai. Ketiganya pun menikmati es krim diselingi dengan candaan kecil. Lebih tepatnya Arel lah yang lebih banyak bicara.


__ADS_2