
Bab 101
Sweet terbangun dari tidurnya saat merasakan kontraksi hebat. Saat ini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tujuh.
Namun kontraksi itu tak seperti kontraksi biasanya. Rasa sakit yang ia rasakan saat ini sangat luar biasa, seolah sesuatu yang ada di dalam sana mendesak ingin keluar. Sama seperti dirinya akan melahirkan sikembar dulu. Hanya saja tripel lahir di usia delapan bulan.
"Mas!" Teriak Sweet saat melihat ranjang sudah basah karena air ketubannya pecah. Alex terperanjat kaget dan langsung bangun dari tidurnya.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Alex panik bukan main.
"Babynya gak sabar mau keluar, sakit banget, Mas." Sweet meremas selimut dengan erat. Sedangkan Alex segera loncat dari atas ranjang saat mendengar perkataan istrinya.
"Aku akan telepon ambulan," panik Alex segera menghubungi pihak rumah sakit.
"Akh... sakit, Mas. Babynya terus bergerak mau keluar." Keluh Sweet merasakan desakan dari dalam seakan merobek perutnya.
"Sabar, Sayang. Ambulan akan segera datang, kamu jangan panik." Kata Alex mencoba menenangkan istrinya. Padahal saat ini dirinya lah yang terlihat panik. Sweet yang melihat itu tersenyum geli. Untuk pertama kalinya ia melihat reaksi lucu suaminya.
"Mas, kamu yang keliatan panik. Akh... muka kamu lucu." Ledek Sweet sambil melenguh karena rasa sakit itu terus menjalar hingga sendi-sendinya.
"Sayang, ini bukan waktunya untuk bercanda. Sekarang kita turun ke bawah. Aku gendong ya?" Sahut Alex dengan wajah pucat pasi.
"Emang kamu sanggup? Berat aku hampir enam puluhan Mas."
"Jangan meremehkan tenagaku, meski usiaku sudah tua. Aku masih bisa memikul beban sampai seratus kilo." Ujar Alex dengan nada angkuh.
"Akh... sepertinya Baby sudah gak sabar mau lihat Daddynya."
"Kamu banyak sekali bicara, Sayang." Ujar Alex yang langsung menggendong istrinya. Sweet pun tertawa renyah disela rasa sakitnya, sikap Alex benar-benar menggelitik hatinya.
"Ah... ternyata kamu berat juga, Sayang." Keluh Alex mulai berjalan keluar kamar. Lalu masuk ke dalam lift.
Selang beberapa menit, ambulan pun sampai di depan mansion. Alex menurunkan istrinya dari gendongan di atas brankar. Sweet terus menggenggam tangan Alex dengan erat. Sampai Alex mendesis karena kuku panjang istrinya menancap sempurna dikulit tangannya.
"Nek, kami titip anak-anak." Ucap Alex pada Nyonya Sasmitha. Wanita lansia itu pun mengangguk dan tersenyum manis.
"Kabari Nenek jika bayinya sudah lahir."
"Pasti, Nek." Sahut Alex langsung naik ke dalam ambulan bersamaan dengan brangkar di mana istrinya berbaring.
"Sayang, apa sangat sakit?"
Sweet mengangguk pelan. Ia tak sanggup lagi untuk bicara.
"Nona, usahakan jangan tidur atau pingsan ya?" Kata sang dokter seraya memeriksa kondisi Sweet.
"Dok, kandungan istri saya baru masuk bulan ke tujuh, apa itu tidak berbahaya untuk bayi dan Ibunya?" Tanya Alex merasa cemas. Sedangkan Sweet terlihat santai dengan keringat yang mulai membajiri seluruh tubuhnya.
Sang dokter wanita itu tersenyum ramah. "Jangan khawatir, banyak Ibu hamil yang melahirkan sebelum waktunya dan hal ini biasa disebut dengan kelahiran prematur. Apa sebelumnya istri Anda pernah melahirkan?"
__ADS_1
"Ya, anak pertama kami kembar tiga. Ini anak kedua, tapi nomor empat." Jawab Alex dengan semangat.
"Wah, hebat sekali. Pantas saja istri Anda terlihat lebih santai." Ujar sang dokter memberikan senyuman pada Sweet.
"Dok, sebelumnya ada sedikit masalah dengan kandungan saya. Apa bayi saya baik-baik saja?" Tanya Sweet mengingat perkataan dokter beberapa bulan lalu.
"Saya sudah memeriksa kondisi Anda dan Baby. Tidak ada masalah apa pun dengan bayinya. Tidak selamanya diagnosa dokter itu benar."
Sweet dan Alex bernapas lega mendengar penjelasan sang dokter. Sweet menggengam erat tangan suaminya dan menatap netra biru Alex begitu dalam. "Dia baik-baik aja, Mas."
Alex mengangguk, mengecup tangan Sweet penuh cinta. "Sudah aku katakan, dia sama sepertimu. Gadis kuat dan pembawa keberuntungan."
Tiga puluh menit kemudian, ambulan pun sampai di rumah sakit. Dokter pun membawa Sweet ke ruang bersalin. Begitu pun dengan Alex yang begitu setia disisinya.
"Mas, sakit banget. Dokternya mana, kok lama sih?" Rengek Sweet yang sudah tak tahan dengan rasa sakit yang semakin menjadi. Bahkan pinggulnya terasa seperti dicabik-cabik.
"Sabar sayang, dokter sedang mempersiapkan ruang operasi." Ya, dokter memang menyarankan Sweet melakukan operasi cesar karena posisi kepala bayinya masih di atas.
"Tapi ini sakit banget, Mas. Saat melahirkan si kembar tidak sesakit ini. Akh... bayinya terus bergerak, itu sangat sakit." Rengek Sweet lagi. Rasa sakit itu terus bertambah seiring berjalannya waktu.
"Aku juga tidak tahu harus melakukan apa, Sayang?" Alex semakin bingung apa lagi saat melihat Sweet terus melenguh kesakitan. Alex mengelus perut buncit istrinya dengan penuh kasih sayang. Tidak lama, beberapa suster pun masuk.
"Maaf, Tuan. Kami harus membawa istri Anda ke ruang operasi."
"Boleh kan suami saya ikut, Sus?" Tanya Sweet.
"Boleh, mari Tuan." Mereka pun membawa Sweet keruang operasi. Dan Alex tak sedetikpun melepas genggaman tangannya.
"Bayi perempuan, beratnya 2,5 kg dengan panjang 45 cm."
Sweet mengambil bayi mungil itu dalam pelukannya. Air matanya menetes. "Dia sangat kecil, Mas."
Alex tersenyum dan mengecup pucuk kelapa istrinya. Lalu menatap bayi mungil itu dengan senyuman bahagia. "Welcome, lucky baby."
Sweet mengecup pipi Alex dengan lembut. Lalu memeluk pelan bayi kecil itu dengan penuh perasaan.
"Tuan, Nyonya, kami harus membawa bayi Anda ke ruang isolasi. Bayinya masih harus menjalani perawatan intensif. Jangan cemas, kalian bisa melihatnya setiap hari."
Sweet mengangguk pelan. Lalu memberikan bayi mungil itu pada dokter. Namun air matanya kembali menetes, saat tangan mungil itu menggenggam erat tangannya. Seolah tak ingin dilepaskan.
"Sepertinya dia tidak mau jauh dari Ibunya. Tidak apa, Sayang. Kamu akan melihat Ibumu setiap hari." Ujar sang dokter melepaskan genggaman tangan mungil itu perlahan. Lalu membawa bayi itu pergi.
Alex memeluk istrinya penuh kelembutan. "Dia akan baik-baik saja," ucap Alex kembali mengecupi pucuk kepala istrinya. Sweet pun mengangguk.
Kini Sweet sudah dipindahkan di ruang VVIP, wanita itu sudah dua jam lebih tertidur. Sedangkan Alex masih berbaring disisinya. Mengusap kepala Sweet dengan penuh kasih sayang.
Sweet membuka matanya perlahan, matanya menyipit karena berusaha untuk menyesuaikan cahaya lampu. Alex yang melihat itu tersenyum dan merubah poisinya menjadi duduk.
"Kamu haus, Sayang?" Tanya Alex yang berhasil menarik perhatian istrinya.
__ADS_1
"Haus dan lapar, Mas." Sahut Sweet dengan suara serak khas orang bangun tidur. Alex mengangguk dan sedikit menaikkan kepala brankar.
"Aku akan menyuapimu," kata Alex mengambil makanan di atas nakas dan segelas air minum. Sweet mengambil gelas berisi air minum dari tangan suaminya, lalu meneguk air itu perlahan. Kemudian Alex menyuapinya dengan penuh kesabaran.
"Apa Nenek sudah dikabari?" Tanya Sweet menatap Alex lekat.
"Semua orang sudah aku hubungi, termasuk Mala. Dia yang paling antusias dan meminta segera di kirmkan foto lucky baby."
"Ck, aku sangat merindukannya. Aku rasa kehamilannya juga sudah besar. Setelah Baby pulang ke mansion. Kita harus melakukan panggilan video keluarga besar." Oceh Sweet dengan mata berbinar.
"Tentu, Sayang. Semua orang harus merasakan kebahagiaan atas kehadiaran Baby cheetah."
Sweet memicingkan matanya saat memdengar panggilan baru untuk putri kecilnya. "Kamu mengubah panggilan untuknya lagi?"
"Ya, dia lahir dengan waktu yang cepat. Bahkan sangat jauh dari perkiraan." Jawab Alex sekenanya.
"Ck, jahat sekali kamu, Mas. Masak iya menyamakan putri kita dengan binatang tercepat itu."
"Apa salahnya? Mungkin saat dia besar, akan menjadi seorang atlet tercepat."
"Terserah kamu, Mas." Ucap Sweet kembali menerima suapan dari suaminya.
"Sayang, aku sudah menyiapkan nama untuknya." Kata Alex yang berhasil membuat Sweet penasaran.
"Siapa? Jangan menamainya dengan nama binatang lagi, Mas."
Alex yang mendengar itu tersenyum geli. "Itu tidak mungkin, Sayang. Aku sudah menyiapkan nama terbaik untuknya.
Kamu sudah mengambil hakku untuk memberi nama si kembar. Jadi sekarang nama putri kita sepenuhnya aku yang menentukan." Ujar Alex panjang lebar. Sweet yang mendengar itu tertawa geli.
"Baiklah, Tuan Digan. Siapa namanya?"
"Alexella Stephanie Digantara."
"Ck, kamu menyontek nama Lexa? Nama mereka hampir mirip, Mas."
Alex tersenyum simpul. "Aku harap sifat mereka juga sama. Suara ribut mereka akan meramaikan suasana mansion. Bayangkan saja saat mereka bertengkar nanti."
"Lalu aku yang akan pusing, sedangkan kamu cuma bisa menganggu mereka." Kesal Sweet yang disambut tawa oleh Alex.
Kemudian keduanya terdiam cukup lama. Alex memandang wajah istrinya lamat-lamat. Lalu memberikan kecup penuh cinta di kening Sweet.
"Terima kasih, kamu selalu menghadirkan kebahagiaan dalam hidupku, Ana. Aku akan selalu mencintaimu, juga anak-anak kita. Sampai akhir hayatku." Ucap Alex dengan tulus. Sweet memejamkan matanya saat Alex kembali menghadiahi kecupan hangat.
"Aku juga ingin berterima kasih padamu, Mas. Terima kasih sudah setia dan tetap berdiri disampingku apa pun keadaanya. Kamu selalu memberikan cinta dalam hidupku. Kamu juga orang pertama yang mengenalkan apa arti cinta padaku. Aku sangat mencintaimu, Mas. Jangan pernah sekali pun meninggalkanku." Sweet memeluk suaminya begitu erat.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Sayang. Kalian harta berharga yang tak mungkin bisa aku tinggalkan, Sayang." Balas Alex. Sweet mengangguk pelan.
"Istirahat lagi, pagi nanti kita jenguk Baby Cheetah. Mungkin pagi nanti aku juga akan meminta Josh membawa anak-anak ke sini."
__ADS_1
Sweet mengangguk antusias. Kemudian keduanya kembali terdiam. Sama-sama meresapi perasaan bahagia yang saat ini tengah menyelimuti hati mereka.