Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 62


__ADS_3

Hari persidangan pun tiba. Kali ini kemenangan ada di tangan Alex tentunya. Semua yang terlibat dalam pembunuhan orang tuanya mendapatkan hukuman setimpal. Yaitu hukuman mati.


Semua keberhasilan yang Alex dapatkan tidak luput dari bantuan orang terdekatnya. Termasuk Nyonya Sasmitha yang ikut menjadi saksi dalam persidangan. Bahkan Arnold dan Nissa juga ikut hadir di sana.


Alex menghampiri Nyonya Sasmitha, lalu berlutut dihadapan wanita lansia itu. Begitu pun dengan Arnold, yang mengikuti jejak sang adik. Kedua lelaki itu menggenggam erat tangan yang dipenuhi kerutan.


"Kami ingin meminta maaf atas semua kesalahpahaman ini, Buk. Bahkan semua keluargamu harus menjadi korban," ucap Arnold begitu tulus. Ia merasa bersalah, karena dirinya yang sudah menghancurkan keluarga Sasmitha. Keluarga yang selalu mendukung keberhasilan keluarga Digantara. Wanita yang saat ini ada dihadapan mereka ada adalah sahabat terdekat kedua orang tuanya.


"Tidak semuanya kesalahan kalian, Saya memahami situasinya. Ibu dan ayahmu sudah aku anggap seperti adik sendiri. Kedekatan kami memang selalu menjadi bumerang, hingga tahap seperti ini." Nyonya Sasmitha mengusap kepala Arnold dan Alex bergantian.


"Dan kau, Alex. Segera temui cucuku, dia sudah banyak salah faham tentang kamu." lanjutnya seraya menatap Alex dalam.


"Aku akan mengakhiri kesalahpahaman ini dengan cepat. Tapi tidak untuk saat ini, masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Sebelum aku menjemputnya," jawab Alex yang kemudian mengecup punggung tangan Nyonya Sasmitha.


"Jangan terlalu lama, kau akan menyesal. Perut istrimu semakin membesar setiap hari, jangan sampai kau kehilangan momen berharga. Cucuku memang keras kepala, sulit untuk di bujuk."


Alex terhenyak mendengar perkataan Nyonya Sasmitha.


"Ana hamil?" tanya Alex penasaran. Nyonya Sasmitha mengangguk kecil. Dan berhasil membuat Alex bahagia.


"Ya tuhan, aku akan menjadi seorang ayah? Aku tidak percaya ini," ujar Alex tersenyum senang.


"Selamat, aku ikut bahagia mendengarnya." Arnold menepuk pundak Alex.


"Aku rasa kau tidak pernah mau kalah dariku." Gerald pun ikut menimpali. Semua orang yang mendengar itu tersenyum bahagia.


"Cepat temui dia, tidak baik membiarkan kesalahpahaman terus berlarut. Aku tidak bisa membantumu, hanya kau sendiri yang dapat menyelesaikan masalah ini."


"Ya, ini tidak akan lama. Aku sangat bahagia, aku akan segera memiliki anak. Ah, selama ini aku menunggu kehadirannya," ujar Alex dengan wajah berseri. Tentu saja kebahagiaan itu menular pada semua orang.


"Aku juga berharap, kalian bisa menyelesaikan masalah dengan cucu laki-lakiku. Dia masih menyimpan dendam pada kalian, bagaimana pun kalian ikut terlibat dalam kematian orang tuanya." Nyonya Sasmitha menatap Arnold dan Alex bergantian.


"Kami akan segera mengakhiri masalah di antara keluarga kita, jika dia ingin menghukum kami. Kami juga tidak keberatan," ujar Arnold. Nyonya Sasmitha mengangguk. Lalu mereka pun memutuskan untuk pulang bersama.


***

__ADS_1


Gerald terus mengikuti langkah lebar Alex, menuju sebuah tempat rahasia. Sebuah markas yang terletak di penghunjung kota. Ketiga lelaki itu, Alex, Gerald dan Joshua pun mulai memasuki lorong gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.


"Kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Gerald merasa tidak yakin dengan keputusan yang Alex pilih.


Alex memutuskan untuk melepaskan posisinya sebagai ketua mafia. Yang artinya ia harus kehilangan kekuatannya dalam menguasai dunia bisnis. Juga akan menurunkan nilai saham di perusahaannya.


"Hanya ini yang mampu aku lakukan untuk melindungi masa depan keluargaku. Aku tidak ingin keselamatan istri dan anakku menjadi taruhan," jawab Alex dengan tegas.


"Kau terlalu mengindahkan perkataan istrimu. Kau menjadi lemah, apa kau pikir mereka akan melepaskanmu dengan mudah? Aku yakin, mereka akan tetap mengincar nyawamu setelah mencopot posisimu." Gerald berdecak kesal. Ia tidak pernah setuju dengan keputusan yang Alex buat.


"Aku hanya ingin hidup normal. Jika aku mati saat ini, maka aku ingin kau terus melindungi Istri dan anakku." Alex masih teguh dengan keputusannya.


"Kau saja Josh, aku masih memiliki duniaku sendiri." Gerald berusaha menolak permintaan sahabatnya. Jika itu benar-benar terjadi.


"Maaf, Tuan. Saya juga sepemikiran dengan Gerald. Sebaiknya Tuan mempertahankan posisi ini." Joshua merasa iba dengan kondisi Alex saat ini. Ia tahu betul, Alex begitu mencintai istrinya. Sehingga ia menuruti keinginan Sweet, untuk meninggalkan dunia hitam yang selalu menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.


"Apa kau sudah kehilangan kepercayaan diri, Josh. Aku masih memilikimu di sisiku, aku yakin kau akan selalu ada untuk membantuku."


Perkataan Alex berhasil membungkam mulut Joshua. Lelaki itu merasa terhormat karena Alex begitu mempercayainya.


Seorang laki-laki berpakaian serba hitam menyambut kedatangan mereka bersama beberapa anak buahnya. "Apa kabar ketua?"


Alex tidak berniat untuk mambalas sapaan lelaki itu. Ia langsung melempar tas berisi berkas penting dan stempel kekuasaan.


"Aku resmi melepas posisi ini, jangan pernah menyentuh keluargaku saat kita memiliki masalah." Alex menatap lelaki itu tajam. Lelaki yang akan menggantikan posisinya.


"Kau begitu terburu-buru, yakin tidak ingin merubah pikiran?" tanya lelaki itu menatap Alex penuh selidik.


"Aku tidak pernah menarik ucapanku," tegas Alex.


Setelah menyerahkan posisinya, Alex pun memutuskan untuk pergi dari tempat penuh kegelap itu. Meninggalkan semua masa lalunya.


"Antar aku ke Bandara," perintah Alex pada sahabatnya.


"Cih, kau sangat tidak sabaran." Gerald pun melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat sepi itu. Namun, sebuah kejadian tak terduga menimpa mereka.

__ADS_1


Sebuah peluru tiba-tiba melesat dan menembus dada Alex. Lelaki itu melenguh, menyentuh dadanya yang sudah mengeluarkan darah segar. Gerald menepikan mobilnya ke tepi jalan. Mereka benar-benar tidak menyadari seseorang telah menargetkan Alex.


"Sial! Sudah aku katakan, mereka tidak akan melepaskanmu." Gerald menggeram kesal. Dan melihat Alex semakin banyak mengeluarkan darah.


"Ambilkan alkohol di belakang, tahan agar ia tidak kehabisan darah," perintah Gerald pada Joshua yang duduk di kursi penumpang. Joshua pun mengikuti perintah Gerald dengan sigap. Alex mengerang kesakitan saat Joshua menuangkan alkohol pada lukanya.


"Shit!" Umpat Gerald saat menyadari jika peluru itu menembus tepat di jantung Alex. Gerald yang kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


"Aku yakin mereka masih ada di dekat sini. Brengsek! Aku tidak akan melepaskan mereka." Gerald berguma kecil. Ia mulai cemas dengan keadaan Alex saat ini.


"Tetap jaga kesadaranmu, Lex. Ingat, kau harus tetap hidup untuk anak dan istrimu. Mereka menunggumu." Gerald terus meyakinkan Alex untuk tidak menutup matanya.


"Tuan, saat ini Nyonya Ana sedang menunggumu. Jangan pikirkan apa pun, Anda harus bertahan untuk mereka. Jangan membuat Nyonya kecewa," ujar Joshua mulai cemas.


Alex menggenggam erat tangan Joshua.


"Josh, lindungi mereka jika terjadi sesuatu padaku."


"Brengsek! Sejak kapan kau begitu lemah, hah?" bentak Gerald merasa geram dengan sikap lemah Alex.


"Kau pikir ini tidak sakit?" Alex merasa kesal pada sahabatnya itu. Pandangannya mulai memudar. Sepertinya darah yang keluar semakin banyak.


"Sial! Kenapa tidak ada satu pun rumah sakit di sini." Gerald mulai kehilangan akal. Bagaimana mungkin rumah sakit ada di sana, saat ini mereka masih berada di kota mati. Bahkan orang yang tinggal di sana bisa dihitung oleh jari.


"Tuan, tetap buka matamu." Joshua menepuk pipi Alex. Mempertahankan kesadaran Alex. Namun Alex juga manusia biasa, ia tidak dapat menahan terlalu lama. Kesadarannya menghilang perlahan.


Suara tangisan terdengar di taman rumah sakit. Suara itu milik Sweet. Ia menangis pilu, setelah mendengar cerita yang mengalir dari mulut Gerald.


"Satu tahun lamanya, Alex terbaring di rumah sakit. Hampir semua jaringan vitalnya mengalami kerusakan parah. Entah kekuatan apa yang dia miliki, ia mampu bertahan hidup. Mungkin kau adalah kekuatan itu," sambung Gerald.


"Tidak perlu merasa bersalah, itu semua diluar kendali manusia. Sekarang kau sudah tahu alasan yang sebenarnya, semua keputusan ada di tanganmu. Operasi akan selesai sebentar lagi, lebih baik kita masuk. Aku akan menceritakan kelanjutannya lain kali." Gerald bangun dari tempat duduk.


"Biarkan aku sendiri," pinta Sweet. Gerald pun mengangguk dan meninggalkan Sweet sendirian.


Sweet memeluk dirinya sendiri, menangis begitu pilu. Rasa sakit di dadanya begitu perih.

__ADS_1


Ya Allah, hanya Engkau yang mampu memberi pertolongan. Hamba mohon, selamatkan mereka. Izinkan hamba untuk memperbaiki semuanya. Biarkan kami berkumpul layaknya keluarga bahagia. Hanya itu yang hamba inginkan saat ini. Jangan kau ambil salah satu dari mereka dariku. Sweet terus meratap. Memohon pada Sang Khalik untuk suami dan putrinya.


__ADS_2