Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (86)


__ADS_3

Pagi selanjutnya. Emilia membuka pintu apartemen, lalu mengintip ke luar untuk memastikan Marvel benar-benar sudah pergi. Setelah di rasa aman, ia bergegas kembali ke kamar. Dihampirinya Noah yang masih tertidur.


Emilia duduk disisinya. "Maaf, Sayang. Mami harus membawamu pergi dari sini. Mami tidak mau terjadi sesuatu padamu." Lirihnya seraya mengusap kepala Noah. Setelah itu ia segera merapikan barang-barang pribadinya dan sang putra. Lalu memindahkan Noah ke dalam troller.


Noah merengek karena tidurnya terganggu. "Sssstttt." Emilia mencoba menenangkannya. Beruntung Noah kembali tidur, dengan tergesa ia segera pergi dari apartemen itu.


Emilia memakai pakaian kasual, topi dan masker di wajahnya agar tak ada yang mengenalinya. Dengan santai ia keluar meninggalkan gedung mewah itu tanpa sedikit pun yang curiga.


Wanita itu menghela napas lega setelah masuk ke dalam taksi. Dipeluknya Noah erat. Lalu meminta sang driver membawanya ke bandara. Sang driver pun mengangguk patuh.


Emilia benar-benar lega karena berhasil kabur dari lelaki otoriter itu. Mungkin ia akan kembali ke Swiss karena hanya tempat itu tujuan satu-satunya. Meski pekerjaan di sana hanya sebagai penjahit di sebuah perusahaan fashion, Emilia merasa cukup untuk menghidupi putranya. Karena itu tekadnya sudah bulat untuk kembali ke sana. Persetanan dengan Marvel yang kemungkinan akan menemukannya di sana. Yang jelas ia ingin pergi jauh dari keluarga rumit lelaki itu.


"Maafkan Mami, Sayang. Kau harus lahir dari rahim wanita malang sepertiku." Dipeluknya anak itu erat-erat.


Setibanya di Bandara, Emilia masuk ke sebuah gerai untuk membeli makanan karena putranya belum sarapan. Setelah itu duduk di kursi tunggu agar putranya sarapan lebih dulu. Ia juga butuh istirahat karena lukanya belum sepenuhnya kering.


Di dalam trollernya, Noah tampak begitu lahap menyantap roti coklat kesukaanya. Melihat itu Emilia tersenyum bahagia.


"Enak?" Tanyanya seraya menyapu sudut bibir anak itu yang terkena coklat.


Noah mengangguk sambil terus melahap sisa rotinya.


Emilia menarik troller itu agar lebih dekat dengannya. "Mami janji akan selalu membahagiakanmu meski bukan dengan kemewahan." Gumamnya. Tentu saja Noah tidak terlalu memahami ucapannya karena anak itu terlihat fokus makan sambil sesekali melihat ke sekitar.


Setelah membeli tiket dan melakukan check in. Kini keduanya sudah duduk di gate untuk menunggu keberangkatan. Emilia masih terlihat cemas, karena takut Marvel tiba-tiba datang dan menghentikannya. Hampir kesekian kalianya wanita itu menghelas napas. Dan berharap jam berjalan dengan cepat.


Setengah jam lamanya ia menunggu, hingga akhirnya panggilan untuk para penumpang pun terdengar. Emilia pun merasa lega karena lelaki itu sepertinya tidak tahu dirinya akan pergi. Tanpa menunggu lagi Emilia pun ikut mengantri untuk masuk ke dalam pesawat sambil menggendong Noah.


Setibanya di dalam pesawat, Emilia mendudukkan Noah di kursi tengah dan memasangkan sabuk pengaman. Ia tersenyum saat melihat Noah begitu antusias karena naik pesawat.


Emilia sempat melirik seorang laki-laki yang duduk di sebelah kanan Noah. Namun ia tak bisa melihat wajahnya karena tertutup surat kabar. Emilia tidak ambil pusing dan segera menyandarkan punggungnya di kepala kursi. Tidak lupa Emilia memasangkan earmuff di telinga putranya saat pesawat hendak take off.


Hanya butuh beberapa menit pesawat yang ditumpanginya itu berhasil mendarat di bandara internasional Zurich. Emilia menunggu penumpang lainnya turun lebih dulu karena sembari istirahat sejenak.


"Mami, kita sudah sampai?" Tanya anak itu. Emilia pun mengangguk.

__ADS_1


"Senang tidak bisa bertemu John dan Lucky lagi?"


Noah mengangguk antusias. Dan itu membuat Emilia semakin senang. Sebenarnya ia juga merindukan rumah sederhananya yang sudah ia huni selama beberapa tahun belakangan. Rumah peninggalan mendiang Ibunya yang terletak di kota kecil bagian timur Swiss, Appenzell. Emilia memutuskan untuk tinggal di rumah itu setelah diusir oleh Ayahnya. Karena hanya itu harta satu-satunya yang dimiliki. Rumah itu juga saksi bisu perjuangan hidupnya baik saat melahirkan Noah sampai proses ia membesarkannya.


Untuk sampai di desanya, Emilia harus menaiki kereta api lagi dengan lama perjalanan kurang lebih empat puluh menit. Kota yang jauh dari hiruk pikuk kota, sepanjang perjalanan terus disuguhi pemandangan hijaunya padang rumput dengan ribuan sapi yang sedang merumput di sana. Itulah hal yang Emilia sukai dari desanya, masih begitu asri dan tentram.


Emilia menoleh ke samping karena merasa terus diperhatikan seseorang. Namun, ia tak menemukan siapa pun kecuali seorang pria asing yang sepertinya sedang tidur di seberang sana. Menutupi wajahnya dengan topi. Bahkan penumpang di kereta itu hanya terhitung jari.


Emilia mengabaikannya dan kembali mengalihkan perhatian pada pemandangan indah di luar sana. Ia sangat merindukan suasana di sana padahal tidak sampai dua minggu dirinya pergi. Dan yang membutnya tak kalah bahagia adalah bisa membawa Noah kembali. Seulas senyuman terbit dibibirnya ketika Noah berdiri dan terus berteriak sambil menunjuk ke luar sana.


Di seberang mereka duduk, lelaki asing itu juga ikut mengulum senyuman dibalik topinya. Gemas dengan tingkah Noah.


Akhirnya Emilia dan Noah tiba di rumah sederhana berpagar biru. Juga sebuah taman kecil di depannya yang terawat. Noah yang juga merindukan rumahnya itu pun terus berlarian ke sana kemari. Mengejar beberapa kelinci kesayangannya yang tengah bermain di taman. Emilia tertawa bahagia melihat putranya yang begitu aktif.


"Oh, Sayang. Akhirnya kalian kembali." Ujar seorang wanita paruh baya keluar dari rumah. Yang tak lain adalah kerabat jauh Ibunya yang selama ini tinggal bersama Emilia. Beliau juga yang mengasuh Noah selama Emilia bekerja di kota.


"Nenek!" Pekik Noah berlari ke arahnya. Spontan wanita itu langsung menggendong dan memeluknya penuh kerinduan. Bahkan Noah mendapat banyak kecupan. "Syukurlah kau baik-baik saja, Sayang."


Emilia tersenyum seraya mendekati keduanya. Wanita bernama Betty itu pun balas tersenyum padanya.


Betty tersenyum lagi, lalu mata wanita itu pun tertuju pada seseorang yang berdiri di luar pagar. Spontan Emilia pun berbalik, dan betapa kagetnya ia saat melihat orang itu yang tak lain adalah Marvel. Ya, lelaki asing yang sejak tadi ada di dekat mereka adalah dirinya. Tentu saja lelaki itu tahu rencana Emilia karena terus mengawasi wanita itu lewat cctv. Pagi tadi juga Marvel tidak benar-benar pergi karena ingin melihat sejauh mana keberanian wanita itu. Rupanya Emilia benar-benar nekad membawa pergi putranya. Dia tidak mungkin diam saja dan memutuskan untuk mengikuti mereka sampai ke sini.


Tubuh Emilia membeku seketika. Bahkan tas ditangannya pun sampai jatuh sangking syoknya. Lain halnya dengan Noah, anak itu terlihat bahagia saat melihat Marvel. Ia turun dari gendongan Betty dan langsung berlari mendatangi Marvel. "Papa!"


Marvel tersenyum tipis dan langsung menggendongnya. "Senang, hem?" Tanyanya seraya melirik Emilia yang masih membeku ditempatnya.


Betty sampai menutup mulutnya sangking tak percayanya jika Ayah dari Noah setampan itu.


Ya Tuhan, pantas Noah sangat tampan. Ternyata dia begitu mirip dengan Ayah kandungnya. Batinnya.


Emilia terhenyak, kemudian berjalan cepat mendatangi Marvel. "Buat apa kau kemari?" Geramnya seraya melirik ke arah Betty.


Marvel menatapnya tajam. Lalu melewatinya begitu saja. Menghampiri Betty yang masih kaget.


"Boleh aku masuk?" Pintanya kemudian. Sontak Betty pun mengangguk. Tanpa menunggu lagi, Marvel pun membawa putranya itu masuk. Namun, ia terkesiap karena ruang tengah dan dapur menyatu. Bahkan ruang ganti di kamarnya lebih luas ketimbang tempat itu.

__ADS_1


Emilia menggeram kesal dan bergegas masuk.


"Tempat apa ini?" Sembur Marvel padanya.


"Ini rumahku, jika kau tak suka maka pergilah," usir Emilia seraya mengambil alih Noah dalam gendongannya. Lalu mendudukkan anaknya di sofa sederhana. "Kau lapar?"


Noah mengangguk. Dan diwaktu bersamaan Betty pun masuk. "Aku saja yang ambilkan." Katanya yang langsung beranjak ke dapur.


Marvel tidak peduli Emilia mengusirnya, dan memilih menyusuri rumah kecil itu. Ia melihat sebuah jendela yang masih tertutup, dan berniat membukanya.


"Jangan...." terlambat, karena Marvel sudah lebih dulu membuka jendela itu.


Krak!


Jendela itu pun copot karena sebelumnya memang sudah lapuk. Spontan Marvel menoleh dan melayangkan tatapan tajam pada Emilia. "Bagaimana jika Noah yang membukanya hem?"


Terlihat jelas kekesalan di wajah lelaki itu.


"Noah tidak pernah main di sana." Sahut Emilia memberikan tatapan penuh permusuhan. "Sebaiknya kau pergi dari sini, Tuan. Ini bukan tempatmu."


Marvel mendengus. "Aku hanya ingin memastikan tempat tinggal putraku layak." Setelah mengatakan itu ia pun beranjak ke sebuah kamar yang kemungkinan kamar utama.


Lagi-lagi Emilia melarangnya, tetapi bukan Marvel namanya jika mendengarkan. Ia tetap membukanya dan melihat kondisi kamar Emilia yang sempit tapi cukup rapi.


Marvel sedikit membungkuk karena pintu kamar itu lumayan pendek untuknya. "Tempat apa ini? Bahkan kamar mandi di apartemenku lebih luas dari ini." Protesnya lagi.


Emilia memutar bola matanya malas sembari ikut masuk ke kamar itu. "Keluar dari kamarku."


"Cih, bahkan kamar ini tidak memiliki kamar mandi." Ledek Marvel seraya duduk di bibir ranjang. Dan betapa kagetnya ia karena kasur itu sangat keras. Tentu saja Emilia kembali mendapat pelototan darinya.


"Kau benar-benar...." Marvel tidak tahu harus bicara apa lagi sekarang. Emilia benar-benar membuatnya emosi.


Emilia menghela napas kasar. "Aku tidak pernah memintamu untuk datang ke sini. Sebaiknya kau kembali ke Negaramu."


Marvel tersenyum smirk. "Aku akan tinggal di sini untuk beberapa hari."

__ADS_1


"Apa?" Kaget Emilia menatapnya tak percaya.


__ADS_2