Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (18)


__ADS_3

"Blacky, Ronny, menjauhlah." Titah Summer yang sejak tadi berdiri di belakang Eveline. Lalu kedua anjing itu pun berlalu pergi.


Eveline pun langsung berbalik.


"Kau takut, sayang?"


Eveline memberikan tatapan permusuhan yang kental pada lelaki itu. "Jangan sentuh aku, b*j*ng*n."


Summer tertawa kencang. "Sayang, kau lupa aku ini siapa?"


"Ya, aku salah karena sudah percaya pada lelaki brengsek sepertimu." Ketus Eveline terus menghindari sentuhan Summer. Bahkan ia berlari ke arah gerbang, sayangnya pintu itu terkunci rapat.


"Sayang, tidak perlu takut. Aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kita akan terus bersenang-senang di sini." Summer mendekati Eveline. Namun, Eveline terus menghindar.


"Menjauhlah."


"Tidak, sayang. Kita tidak akan bisa berjauhan." Summer bicara begitu manis, tetapi tatapannya begitu mengerikan.


Eveline melihat kondisi sekita.


Sial! Kenapa rumah ini sangat tertutup? Bahkan tidak ada celah sedikit pun.


Eveline lengah, dengan sigap Summer menariknya. "Lepaskan aku, Summer." Eveline terus memberontak dan berusaha melepaskan cekalan tangan Summer. "Brengsek!"


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Eveline sampai wajahnya tertoleh ke samping sangking kerasnya tamparan itu. Summer menarik Eveline hingga membentur tubuhnya. Dicengkramnya rahang Eveline dengan kasar. "Kau hanya milikku, Eve."


Summer tersenyum miring dan langsung meyeret Eveline masuk. "Lucas, tolong aku." Entah kenapa Eveline malah memikirkan Lucas.


Summer membawa Eveline ke kamarnya. Lalu mengunci pintu dan melempar Eveline ke atas pembaringan.


"Kau hanya boleh kumasuki, Eve. Tidak akan aku biarkan orang lain menyentuhmu lagi." Summer tertawa kencang seraya membuka pakaiannya. Lalu menindih Eveline.


Eveline melenguh saat perut dan kepalanya sakit bersamaan. Air matanya menitik karena ia tak sanggup melawan Summer. "Lucas."


Summer mengeratkan ragangnya saat mendengar Eveline malah menyebut nama laki-laki lain. "Kau membuatku muak, Eve. Kau pikir aku tidak tahu Lucas menyentuhmu sampai kau hamil anaknya huh? Apa kau menolak seperti ini saat dia menyentuhmu? Ah... atau kau menikmatinya?"


Eveline yang sudah lemas pun tak mampu bicara. Namun, ia masih berusaha menolak.


Srak!


Summer langsung merobek kaos milik Eveline dengan kasar. Matanya mulai menggelap saat melihat keindahan tubuh Eveline. "Kau cantik sekali, sayang. Dari dulu aku ingin mencicipimu, hanya saja Mommy selalu melarangku. Dia bilang belum saatnya memainkan tubuhmu. Jangan salahkan aku, Eve. Salahkan Daddy dan Mommymu. Mereka yang membuat kami seperti ini."


Eveline menggelengkan kepalanya. "Lepaskan aku, Summer."


"Kau tahu, Daddymu begitu kejam melempar Mommy dan Grandmaku ke pulau tak berpenghuni, tanpa identitas dan fasilitas. Kau juga harus tahu, aku lahir di sana dan hidup menderita. Beruntung saat itu seseorang datang untuk berkunjung, lalu membawa kami keluar dari sana dan bisa hidup semewah ini." Summer mencengkram erat rahang Eveline dan mulai menyecap bibir ranum itu dengan kasar. Namun, itu tidak berlangsung lama.


"Lalu aku dan Mommy mulai menjalankan rencana yang sudah tersusun rapi. Perlahan aku mulai mendekatimu, lalu menarikmu untuk menjadi kekasihku. Kau tahu, kau itu satu-satunya kelemahan dan sumber kehancuran mereka. Karena Lucas menyukaimu, jadi aku sengaja menjadikanmu umpan. Lucas memiliki segalanya dan dia orang paling kuat dalam keluargamu. Karena itu dialah orang yang akan menjadi korban pertama. Selanjutnya kau, Eve. Aku akan menyingkirkan anak ini dan menggantikannya dengan anakku. Lalu aku akan melemparmu ke hutan blantara. Agar kau tahu rasanya di buang tanpa belas kasihan." Summer menjeda kalimatnya dan kembali menerkam bibir Eveline. "Tapi... Itu terlalu mudah untuk kau lalui. Karena itu aku punya rencana lain. Kau pasti menyukainya."


"Argghh." Eveline menjerit saat Summer memijat dua daging kenyalnya dengan kasar. Hormon kehamilan membuat dua benda itu begitu sensitif dan terasa sakit.


"Aku akan menyiksamu seumur hidup, lalu menyerahkan video itu pada keluargamu. Bagaimana jika kita bercinta setiap saat, jadi kau tidak akan tersiksa, sayang. Justru kau akan kenikmatan. Aku tidak sabar melihat reaksi keluargamu saat tahu anak kesayangan mereka jadi seorang p*l*c*r."


"Kau brebgsek, Summer." Eveline terus memberontak bahkan berusaha menendang Summer. Tentu saja itu membuat Summer semakin murka. Lelaki itu mencekik Eveline dengan kuat.


"Akhhh...." Eveline berusaha melepaskan cekikan tangan Summer yang berhasil membuatnya tak bisa bernapas.


Oh God! Apa aku harus mati dengan cara ini?


Wajah Eveline merah padam karena cekikan itu. Napasnya juga mulai melemah. Hingga...


Brak!

__ADS_1


Suara puntu didobrak paksa pun berhasil menghentikan perbuatan jahat Summer. Eveline terbatuk dan berusaha meraup udara sebanyak mungkin. Lalu matanya bergerak ke arah pintu. Di sana Lucas sudah berdiri dengan tidak stabil, bahkan wajahnya terlihat pucat. Bibir Eveline berkedut dan perlahan membentuk lengkungan sabit. Hatinya merasa tenang saat melihat lelaki itu. "Luc, bawa aku pulang." Pintanya seraya menarik selimut dan menutup tubuhnya.


Lucas meliriknya sekilas, kemudian beralih menatap Summer. Lelaki bipolar itu tertawa kencang. "Akhirnya kau datang, brengsek."


Lucas tersenyum miring. "Kau mengundang, maka aku akan datang."


Summer tertawa lagi, bahkan lebih kencang.


"Lucas awas!" Teriak Eveline. Dan itu terlambat, Ibu dari Summer berhasil menancapkan belati tepat di pinggul Lucas.


Lucas berbalik, dengan sekali gerakan ia berhasil menghantamkan kepala wanita itu ke di dinding dan langsung jatuh pingsan. Bahkan kepala wanita itu mengeluarkan darah segar.


"Mommy!" Teriak Summer menghampiri sang Mommy yang sudah tergeletak di lantai. Sedangkan Lucas mencabut pisau yang menancap di pinggulnya sambil mengerang kencang. Dan darah segar pun terus keluar dari luka itu.


"Luc." Eveline berusaha bangkit dari posisinya, lalu hendak menghampiri Lucas.


"Berhenti di sana, Eve." Teriak Lucas. Sontak Eveline pun menahan langkahnya.


Summer bangkit dan hendak menyerang Lucas. Namun, ia lupa jika Lucas memegang belati dan tanpa ragu menghunuskan benda itu tepat di perut Summer.


"Kau berani menyakiti wanitaku huh? Jangan pernah berpikir kau bisa bernapas di dunia ini."


Jleb!


Untuk yang kedua kalinya Lucas menusuk perut Summer. Lalu di doronganya lelaki itu hingga ambruk ke lantai. Eveline yang melihat itu menutup mulutnya tak percaya. Lucas membunuh Summer?


Lucas berjalan dengan susah payah mendekati Eveline. Lalu dengan sekali gerakan Lucas menggendongnya meski ia harus mengerang kesakitan.


"Luc, kau terluka." Eveline mengusap wajah pucat Lucas. Bahkan rahang tegas itu sudah dipenuhi bulu-bulu halus.


Kenapa hatiku menghangat saat melihatnya? Apa aku sudah mencintainya? Pikir Eveline.


Lucas melangkah pergi dari sana. Dan tidak lama dari itu Melvin, Marvel dan kedua kembarannya pun datang.


"Bawa dia pergi dari sini." Lucas menyerahkan Eveline pada Marvel. Dan dalam hitungan detik tubuhnya tumbang. Beruntung Mike sigap dan langsung menangkapnya.


Mike dan Dustin pun mengangguk, lalu membawa Lucas pergi dari sana.


"Bereskan semuanya, jangan sampai ada jejak." Perintah Marvel pada Melvin dan beberapa anak buahnya di sana.


"Kak, tolong selamatkan satu orang lagi. Dia di kurung di toilet belakang." Pinta Eveline.


"Siapa?" Tanya Melvin bingung.


"Claire, dia adik tiri Summer. Dia yang menolongku."


"Baiklah, bawa balok es ini ke rumah sakit." Titah Melvin.


Marvel pun langsung menggendong Eveline dan membawanya pergi dari rumah itu.


Melvin meregangkan otonya. "Urus dua orang itu. Lempar saja ke kolam piranha. Mereka tidak berguna lagi. Pastikan cctv aman dan jangan ada jejak apa pun. Atau nyawa kalian akan jadi taruhan." Kecamnya.


"Baik, Tuan muda." Mereka pun bergegas mengamankan situasi dan bekerja sesuai keahlian masing-masing. Sedangkan Melvin masih berdiri di posisinya.


"Sialan! Kenapa si bedebah itu selalu mendahului kita. Anak itu benar-benar gila. Bahkan sedang sakit pun masih datang ke tempat ini. Huh, cinta memang aneh." Gerutunya panjang lebar. "Baiklah, kita lihat siapa wanita yang si balok es maksud."


Melvin pun bergegas ke halaman belakang, lalu mencari sebuah toilet.


"Tolong! Kyaaa... menjauh dariku." Teriak seseorang yang sayup-sayup bisa Melvin dengar. Cepat-cepat ia menghampiri sumber suara itu. Lalu membuka pintu itu yang terkunci dari luar.


Bruk!


Tubuh Melvin membeku saat Claire memeluknya dengan erat. "Tuan... cepat bawa aku pergi dari sini. Aaa... di dalam sana ada tikus."

__ADS_1


Melvin sedikit mengintip ke dalam toilet, tetapi ia tak menemukan apa-apa. "Tidak ada apa-apa di dalam sana."


"Tidak, tadi ada tikus. Menggelikan."


"Tidak ada tikus, lihatlah." Melvin menjauhkan diri dari tubuh ramping gadis itu dan sedikit mendorongnya ke toliet. "Di mana tikusnya huh?"


Claire mencari tikus yang dimaksudnya tadi. Dan di sana memang tidak ada apa-apa. Ia menggigit ujung bibirnya. Ya Tuhan, jadi tadi itu apa?


Claire pun berbalik perlahan, lalu tersenyum malu. Melvin terkesiap saat melihat lubang indah yang menghiasi kedua pipi gadis itu.


Kenapa dia sangat imut.


"Oh iya, kau siapa? Lalu di mana Eveline? Apa dia baik-baik saja?" Tanyanya cemas.


Melvin terhenyak. Dan berlalu pergi tanpa berniat menjawab. Sontak Claire pun terkejut. "Hey, Tuan."


Melvin menahan langkahnya dan berbalik.


"Thank you." Ucap Claire tersenyum tulus. Lagi-lagi senyuman itu mampu menghipnotis seorang Melvin.


Ahhh, sial! Tanpa banyak bicara Melvin pun beranjak dari sana.


Clarie terkejut dan ikut berlari mengekori Melvin.


Melvin yang merasa diikuti pun menahan langkahnya.


Bruk!


Gadis itu berhasil menubruk tubuh Melvin. "Uhh... kenapa kau berhenti tiba-tiba?"


Melvin pun berbalik. "Kenapa kau mengikutiku? Bukankah ini rumahmu?" Gadis itu mengangguk.


"Kalau begitu pergilah." Melvin pun melanjutkan langkahnya.


"Aku ingin bertemu Eveline, dia sudah berjanji akan membawaku pergi dari rumah ini."


Melvin pun kembali menahan langkahnya. "Tidak perlu ikut, kau hanya akan menambah masalah."


"Tapi...." belum selesia ia bicara, Melvin sudah pergi lebih dulu.


Namun, karena niatnya sudah bulat untuk meninggalkan kediaman. Claire pun mengejar Melvin, bahkan gadis itu dengan berani naik ke dalam mobilnya.


"Hey!" Tegur Melvin. "Turun dari mobilku."


"Tidak mau." Claire memasang seat belt dan langsung pura-pura tidur.


Melvin menghela napas berat. Berhubung kondisi darurat, ia pun membawa gadis itu pergi.


Di rumah sakit, Eveline terus menatap sang Kakak yang terus diam sedari tadi. "Biarkan aku ditempatkan satu ruangan dengannya, Kak."


Marvel tidak menjawab.


"Dia menyelamatkan nyawaku." Eveline masih berrusaha membujuknya.


Marvel melayangkan tatapan tajam pada sang adik. "Pikirkan dirimu sendiri, apa yang akan Daddy dan Mommy lakukan jika tahu kau hamil, Eve?"


Eveline terdiam sejenak. "Jangan katakan apa pun padanya."


Marvel berdecih sebal. "Kau pikir Daddy bodoh?"


Eveline memejamkan matanya sekilas. "Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin membunuh anak ini."


Marvel mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku akan membunuh Ayahnya."

__ADS_1


Eveline terkejut mendengarnya. "Jangan lakukan itu, aku rasa... aku mulai membutuhkannya, Kak."


Tbc....


__ADS_2