
Dari kejauhan, Sweet sudah dapat melihat keberadaan dua putranya. Arez, sang putra sulung tengah duduk menunggu kehadiran sang Mommy di depan kelas. Sedangkan si kecil Arel, ia masih sibuk bermain. Sweet sengaja memasukkan kedua putranya ke sekolah di usia dini. Kerena ia bisa melihat tumbuh kembang keduanya cukup baik dalam menyerap ilmu baru.
Arez memang berbeda dari anak-anak normal lainnya. Ia cenderung diam dan sangat jarang bicara. Namun ia cukup tanggap dalam hal belajar. Bahkan Arez sudah bisa menguasai dunia komputer. Dan memiliki satu hobi, yaitu melukis.
Berbeda dengan Arel, anak itu cukup aktif dalam segala hal. Sifatnya hampir mirip dengan Alexa, mudah bergaul dan banyak bicara. Tentu saja mereka juga memiliki hobi yang sama, yaitu bermain.
"Arez, Arel... Sudah waktunya pulang." Sweet menghampiri Arez yang tengah menatapnya begitu dalam.
"Mommy menangis?" tanya Arez datar. Sweet tidak menjawab pertanyaan anaknya. Jika dilihat, sifat keduanya begitu mirip. Dingin dan cuek, tetapi cukup perhatian.
"Mommy.... " Arel berteriak dan berlari menghampiri Sweet, dan menghambur dalam pelukkan.
"Masuk ke dalam mobil, Arez... Arel juga," perintah Sweet pada kedua putranya. Arez pun langsung mengikuti perintah sang Mommy. Namun berbeda dengan Arel. Anak itu masih bergelayut manja.
"Mommy, Arel mau digendong." Arel mengangkat kedua tangannya dan memang tatapan memelas. Sangat mengemaskan bagi siapa saja yang melihatnya. Sweet pun menuruti keinginan Arel. Mengangkat tubuh mungil Arel dalam gendongan.
Arez, Arel maupun Alexa memang mewarisi wajah Alex sembilan puluh persen. Hanya warna mata yang Sweet wariskan pada kedua putranya. Sedangkan Alexa mewarisi warna mata Alex, yaitu biru laut. Alexa memiliki kemiripan dengan Sweet pada bagian hidung dan bibir. Untuk yang lain lebih mendominasi wajah Alex.
Saat ini mereka bertiga sudah berada dalam mobil, Arez memilih duduk paling ujung dekat jendela. Sedangkan Arel masih bergelayut manja pada Sweet.
"Kalian lapar?" tanya Sweet seraya melepas tas milik Arel. Sedangkan Arez sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.
"Lapar, Mommy. Bekal yang di siapkan Bibik tidak enak. Arel suka masakan Mommy," sahut Arel begitu menggemaskan. Mendengar itu, Sweet tersenyum tipis. Bahkan senyuman itu hampir tak terlihat.
"Arez?" panggil Sweet saat tak mendapat jawaban dari putra sulungnya. Arez pun menoleh.
"Apa Mommy ke rumah sakit?" Arez balik bertanya.
"Jika Mommy bertanya, jawab dengan benar. Jangan di jawab dengan pertanyaan, Arez." Sweet terlihat tidak senang dengan sikap Arez. Padahal sifat dingin yang Arez miliki begitu mirip dengannya.
"Arez lapar," sahut Arez datar. Seakan sudah terbiasa dengan sikap tegas Sweet.
"Tadi Mommy memang mengunjungi Alexa. Mommy tidak membawa kalian, karena untuk kebaikan kalian berdua. Usia kalian tidak boleh terlalu sering keluar masuk rumah sakit," jelas Sweet. Begitulah Sweet, akan tetap menceritakan apa pun yang ia lakukan pada anak-anaknya. Karena ia tahu, Arez akan mencari tahu sendiri semua kegiatannya di luar.
"Bagaimana dengan sekolah kalian?" tanya Sweet pada keduanya.
"Cukup baik," jawab Arez singkat.
"Hari ini belajar menggambar, Mommy. Kak Arez mendapat nilai terbaik. Apa Mommy tahu siapa yang ada dalam gambar?" ujar Arel dengan semangat.
"Siapa?" tanya Sweet penasaran.
"Mommy dan Alexa. Terlihat mirip dan kalian sangat cantik. Mommy harus lihat ini." Arel mengambil tas milik Arez dan membukanya. Lalu mengeluarkan sebuah kertas.
__ADS_1
Sweet tertegun, hasil karya putranya benar-benar luar biasa. Bahkan lukisan itu terlihat hidup dan alami.
"Akan Mommy pasang di ruang kerja," ujar Sweet merasa bangga memiliki anak berbakat seperti Arez.
"Hasil kamu mana, Arel?" tanya Sweet.
"Em, jangan marah ya Mommy." Arel mengeluarkan selembar kertas hasil menggambarnya. Ia terlihat ragu, karena hasilnya tidak sebagus milik Arez.
Sweet tersenyum tipis saat melihat hasil kerja keras Arel. Mengingatkan Sweet pada masa kecilnya. Ia tidak pandai menggambar, dan pada akhirnya memilih untuk menggambar seekor ayam. Tentu saja hasil gambar itu pun tidak terlalu mirip. Berbeda dengan Arel saat ini, ia menggambar seekor ikan yang sedang berenang di dalam air.
"Bagus, Mommy suka. Keduanya akan Mommy pasang di ruang kerja."
Terlihat jelas kebahagiaan terpancar di wajah Arel. Ia amat senang mendapat pujian dari sang Mommy.
Sepanjang perjalanan, Arel terus mengoceh. Sweet hanya mendengarkan, karena sudah terbiasa dengan sifat cerewet Arel.
Setelah makan siang, mereka pun langsung pulang ke rumah, karena Sweet harus kembali ke kantor. Sweet menjabat sebagai presiden direktur perusahaan keluarganya yang ada di Surabaya. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perhiasan dan aksesoris impor. Bian menyerahkan jabatannya, dan memilih untuk mengelola perusahaan sendiri. Karena perusahaan itu lebih layak dikelola oleh Sweet.
"Mommy harus ke kantor, jaga diri baik-baik." Sweet mengecup kening kudua putranya.
"Mommy, kenapa harus Mommy yang bekerja? Bukankah Papa Bian juga bekerja?" tanya Arel menahan tangan Sweet yang sudah siap untuk pergi.
Mendengar pertanyaan itu, Sweet terdiam dan menatap wajah polos Arel sejenak. "Karena Mommy harus mengumpulkan uang untuk kalian besar nanti, Papa Bian tidak selamanya bersama kita."
Sweet tertegun, sebuah pertanyaan yang selalu ia hindari. Mungkin dulu ia masih bisa membohongi kedua putranya, tetapi saat ini keadaan sudah berbeda. Keduanya sudah besar, tidak mungkin lagi ia mengarang cerita.
"Arel, mungkin sekarang Mommy tidak bisa menjelaskan apa pun. Setelah Arel dewasa, Arel akan mengerti kenapa Daddy tidak pernah ada untuk kita." Sweet merengkuh tubuh kecil Arel. Berharap Arel tidak lagi menanyakan tentang Alex.
"Apa Daddy tidak sayang kita?" Arel kembali bertanya. Membuat Sweet merasa frustrasi dan bingung harus menjawab apa. Sweet tidak akan pernah membiarkan mereka membenci Alex dan mengetahui semua kebenaran yang ada. Cukup dirinya yang menyimpan rasa sakit itu.
"Arez, bawa adik kamu masuk ke kamar. Mommy harus segera pergi." Sweet memberi perintah pada putra sulungnya dan mengabaikan pertanyaan Arel. Tampak jelas raut kecewa di wajah Arel.
Maaf, Mommy tidak sanggup untuk membahas Daddy kalian. Sweet langsung pergi meninggalkan rumah tanpa sepatah kata pun.
"Ayo masuk," ajak Arez seraya menarik tangan Arel. Namun sang adik masih bergeming.
"Apa kita tidak punya Daddy?" Rasa penasaran dalam diri Arel begitu besar. Bukan hanya Arel, Arez juga menyimpan banyak pertanyaan tentang ayah kandungnya. Hanya saja ia menyimpan semua itu. Arez selalu melihat kesedihan di mata sang Mommy jika membahas sosok Daddy yang tidak ia ketahui seperti apa rupanya.
"Tentu ada, apa kamu tidak sadar dengan wajah kita? Orang bilang kita mirip bule, itu artinya Daddy berada di luar negeri." Arez mengarang cerita agar tidak ada lagi pertanyaan dari sang adik. Arez memang sedikit berbeda, meski usianya tiga tahun lebih. Ia terlihat seperti anak sudah dewasa dan mengerti banyak hal.
"Benarkah? Apa kita bisa keluar negeri dan bertemu dengan Daddy?"
"Ya, kita akan pergi ke sana."
__ADS_1
Arel terlihat senang setelah mendengar jawaban Arez. Imajinasinya mulai bermunculan, hingga membuatnya tersenyum dan tertawa sendiri. Lalu berlari menuju kamar. Arez yang melihat itu tidak memberikan reaksi apa pun, dan mengikuti Arel ke kamar.
Di perjalanan, Sweet terus memikirkan pertanyaan yang Arel lontarkan. Sweet terus dirasuki perasaan bingung. Bagaimana jika anak-anaknya kembali menanyakan tentang Alex. Mungkinkah ia mengatakan semua yang terjadi padanya di masa lalu? Pertanyaan demi pertanyaan terus melintas dalam pikiran Sweet. Membuat kepalanya terasa sakit.
"Nona, kita sudah sampai."
Sweet terhenyak, mendengar sang driver yang meninggikan suara.
"Maaf, Nona. Sejak tadi Anda terus melamun, dan tidak menanggapi panggilan saya." Sang Driver merasa bersalah karena membuat atasannya terkejut.
"Tidak apa-apa, sayang yang minta maaf. Terima kasih pak," ucap Sweet bergerak turun dari mobil. Ia menarik napas berat sebelum memasuki kantor. Setelah perasaan lebih tenang, Sweet langsung bergegas masuk. Mengenyampingkan segala aral dalam hatinya.
***
Suara ketukkan pintu berhasil mencuri perhatian Sweet yang tengah sibuk dengan beberapa dokumen tebal dihadapannya.
"Masuk," perintah Sweet pada seseorang yang ada di luar.
Tidak lama, pintu pun terbuka dan menampakkan seorang lelaki berperawakan jangkung masuk. Sweet melirik lelaki itu sekilas, lalu kembali pada kesibukannya.
Lelaki dengan mata hazel itu meletakkan sebuah paper bag di atas meja kerja Sweet. Dan ikut duduk di ujung meja, memperhatikan Sweet yang masih berkutat dengan MacBook.
"Jam kerja sudah habis Nona Ana Sasmitha."
Pergerakan Sweet terhenti saat mendengar nama yang disebut oleh lelaki itu. Matanya bergerak untuk melihat arloji di lengannya. Benar saja, waktu untuk bekerja memang sudah habis satu jam yang lalu. Sweet pun memutuskan untuk menghentikan aktivitas. Dan mulai membereskan meja kerja yang di penuhi oleh dokumen penting.
"Apa kau ingat malam ini kita harus menghadiri sebuah pesta?" tanya lelaki itu menatap Sweet lekat.
Sweet terdiam sesaat, bagaimana bisa ia melupakan acara penting malam ini? Sebuah pesta yang sengaja diadakan untuk pertemuan penting.
"Aku sudah menyiapkan gaun untukmu, aku tahu kau tidak sempat pulang. Nenek sudah menghubungiku, jika anak-anak aman bersama beliau." Lelaki itu masih setia menatap Sweet.
"Terima kasih, Tuan Hanz." Sweet mengambil paper bag itu dan beranjak menuju sebuah ruangan. Ruangan tempat di mana ia menghabiskan waktu istirahat. Sweet berniat untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah lebih dulu, sebelum bersiap untuk pergi.
Hanz terpaku seraya menatap Sweet yang hilang di balik pintu. Hanz Ewaldo Geralda, orang yang membawa Sweet ke Indonesia beberapa tahun silam. Ia merupakan anak dari asisten kepercayaan keluarga Sasmitha. Juga sahabat dari Alex, namun ia memilih untuk berkhianat pada sahabatnya sendiri.
Tidak ada yang salah jika Hanz lebih berpihak pada keluarga Sweet. Karena sejak awal ia bekerja untuk mereka. Selama ini Hanz terus mencari keberadaan cucu dari keluarga Sasmitha. Sebelumnya ia juga tidak tahu jika Sweet lah sosok yang dicarinya selama ini, meski mereka sudah kenal lebih dulu. Ia baru menyadari ketika Sweet masuk dalam kekangan Alex. Hanz mulai tertarik pada Sweet, lalu mencari data dan informasi tentangnya. Disaat itulah Hanz mengetahui jika Sweet merupakan orang yang ia cari selama ini.
Hanz terus mengawasi Sweet, hingga ia pun tahu Alex sudah menikahi wanita itu. Hanz mulai gelisah, bagaimana pun ia tahu sifat Alex yang sesungguhnya. Alex tidak mungkin serius untuk menjadikan Sweet sebagai seorang istri.
Dengan susah payah, Hanz terus mendekati Sweet. Baik di kantor atau pun di luar kekuasaan Alex. Hanya saja wanita itu sangat sulit untuk didekati. Bahkan tidak jarang Hanz mendapat ancaman dari sahabatnya, Alex. Untuk tidak mendekati Sweet. Saat itu hubungan keduanya mulai renggang.
Pada akhirnya, Hanz memutuskan untuk mengawasi Sweet secara diam-diam. Dan akan bertindak jika Alex menyakiti wanita yang ia sukai. Tidak disangka, hal itu benar terjadi. Memberikan kesempatan pada Hanz untuk membawa Sweet pergi jauh dari sisi Alex. Sampai saat ini, Hanz masih setia di sisi Sweet. Menjaga wanita itu dengan sepenuh hati. Walaupun tidak ada balasan lebih dari Sweet, ia tetap berusaha melindungi wanita pujaan hatinya. Amanah dari kedua orang tuanya untuk melindungi keluarga Sasmitha jauh lebih penting. Ia harus membayar hutang budi yang sudah keluarga itu berikan sebelumnya. Walaupun harus mengenyampingkan segala isi hatinya.
__ADS_1