
Mala melempar blazer miliknya di atas ranjang. Lalu ia juga ikut menjatuhkan dirinya di sana. Hampir seharian penuh ia menghabiskan waktu untuk bekerja. Untuk sejenak melupakan semua masalahnya. Namun sepertinya masalah hidupnya sangat sulit di lupakan. Membuat kepalanya sangat pusing. Ia terus memikirkkan kehidupan sang Mama.
Beberapa menit kemudian, Mala bangun dari posisinya dan beranjak menuju kamar mandi. Ia masih mengingat perintah sang Ayah pagi tadi.
Selang beberapa waktu, Mala terlihat lebih segar dari sebelumnya. Ia juga hanya mengenakan kaos putih yang di padukan dengan hot pants. Tidak lupa ia menyepol rambutnya, hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Wanita pun bergegas keluar dari kamar.
"Kak Mala." Panggil Alexa berlari ke arah Mala. Lalu memeluk kakinya dengan erat.
"Hey, tumben banget lengket sama Kakak?" Tanya Mala menyejajarkan tubuhnya dengan Alexa. "Pasti ada maunya kan?"
Alexa menggeleng kuat. "Lexa cuma main sama Kakak, soalnya Lexa gak punya temen." Sahut Alexa mengerucutkan bibirnya dengan imut.
"Owh... kasihan banget sih. Yuk main, tapi bentar aja ya? Soalnya Kakak ada urusan sama Ayah." Ujar Mala mencubit pipi Alexa gemas. Alexa pun mengangguk antusias. Kemudian mereka pun beranjak menuju ruang bermain.
"Kak Mala suka boneka princess?" Tanya Alexa seraya menunjukkan salah satu boneka koleksinya.
"Suka," sahut Mala sambil duduk di salah satu kursi berukuran kecil. Alexa pun menghampiri Mala, lalu duduk dipangkuannya. Spontan Mala memeluk gadis kecil itu dengan gemas.
"Lexa suka coklat kan?" Tanya Mala. Lalu memberikan kecupan di pipi Alexa.
"Suka, tapi Mommy selalu melarang Lexa makan coklat. Kata Mommy, nanti giginya rusak." Jawab Alexa dengan polosnya. Mala yang mendengar itu tersenyum geli.
"Mommy benar, kalau kita terlalu banyak makan coklat. Nanti giginya berlubang, terus ompong deh."
"Aaaa... Lexa gak mau ompong." Pekik Alexa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mala pun tertawa riang melihat tingkah lucu Alexa. Kemudian memeluk sang adik dengan erat.
"Kakak Sayang Lexa." Ucap Mala.
"Lexa juga sayang Kakak. Kakak catik dan baik." Balas Alexa sambil terus memainkan bonekanya.
"Sama Papa Bian sayang tidak?" Suara bariton itu berhasil mengejutkan keduanya.
"Papa...." Alexa langsung berlari ke arah Bian yang masih berada di ambang pintu. Alexa juga naik ke pangkuan Bian. Lalu memberikan kecupan di pipi lelaki itu.
"Lexa sayang Papa Bian. Papa tampan dan juga baik, sama seperti Kak Mala. Kak Mala sayang juga kan sama Papa Bian?" Pertanyaan polos itu berhasil membuat Mala tersentak kaget. Berbeda dengan Bian, ia malah tersenyum penuh senang.
"Kak Mala... Kakak sayang kan sama Papa?" Ulang Alexa menatap Mala lekat.
"Eh... iya sayang kok." Jawab Mala dengan cepat. Bian yang mendengar itu pun semakin melebarkan senyumannya. Lalu Bian mendorong kursi rodanya dan berhenti tepat di depan Mala.
"Papa Bian juga sayang sama Kak Mala." Ucap Bian dengan tatapan yang tak lepas dari Mala. Wanita itu langsung memicingkan matanya.
__ADS_1
"Benarkah? Itu artinya kita semua saling menyayangi. I love you, Papa." Sahut Alexa mengecup pipi Bian.
"I love you to, Honey." Balas Bian penuh arti. Mala yang mengerti akan hal itu memutar bola matanya jengah.
"Kamu sangat cantik," imbuh Bian yang berhasil membuat Mala semakin berang. Ia tahu ucapan Bian ditujukkan untuknya.
"Sayang, sekarang sudah ada Papa Bian. Jadi Kakak pergi ya? Daddy sudah menunggu." Ujar Mala bangun dari posisinya.
"Yah... padahal Lexa masih mau main sama Kak Mala." Keluh Alexa memberikan tatapan sedih.
"Maaf, Sayang. Lain kali kita main lagi. Kakak harus segera pergi." Kata Mala hendak memberikan kecupan di pipi Alexa. Namun ia marasa ragu. Karena saat ini Alexa masih berada di pangkuan Bian. Lalu ia pun mengurungkan niatnya.
"Kakak pergi, jaga Papa kamu dengan baik. Jangan sampai dia berulah." Ujar Mala penuh arti. Kemudian bergegas pergi dari sana.
Bian pun tersenyum geli, sikap Mala membuatnya semakin penasaran dan ingin segera memilikinya.
Di ruang kerja yang sangat luas. Alex terlihat sibuk dengan beberapa berkas penting.
"Ayah," panggil Mala memasuki ruangan itu. Alex pun menoleh, lalu seulas senyuman terbit dibibirnya saat melihat kehadiran Mala.
"Duduk." Pinta Alex yang kembali fokus pada berkas-berkas.
"Tunggu sebentar, pekerjaan Ayah sedikit lagi." Kata Alex tanpa melihat lawan bicaranya.
"Tumben banget Ayah bawa kerjaan ke rumah?" Tanya Mala penasaran. Pasalnya Alex tidak pernah membawa pekerjaan kantor ke rumah. Kecuali pekerjaan itu terlalu mendesak.
"Perusahaan sudah berjalan normal, jadi banyak pekerjaan yang harus segera Ayah selesaikan. Kamu juga tahu Mommymu saat ini tidak mau di tinggal terlalu lama. Jadi Ayah harus bekerja di rumah selama senggang waktu." Jelas Alex.
"Hm. Jika ayah perlu bantuan, Mala bisa membantu."
"Tidak perlu, ini tidak terlalu banyak lagi." Alex pun membereskan semua berkas di atas meja. Lalu memusatkan perhatian pada Mala.
"Mala, Ayah ingin bertanya sesuatu padamu?"
"Ya?" Mala menatap Alex penuh tanda tanya.
"Bagaimana pendapatmu tentang Bian?" Tanya Alex yang berhasil membuat Mala kaget.
Mala terdiam cukup lama, saat ini ia tahu ke mana arah pembicaraan Ayahnya.
"Ayah hanya bertanya, Mala. Kamu bebas berpendapat." Kata Alex saat tak mendapat jawaban.
__ADS_1
"Mala tidak tahu, Ayah." Sahut Mala bingung. Mendengar itu, Alex mengangkat sebelah alisnya.
"Bian ingin menikahimu, tapi itu pun menunggu persetujuanmu. Bian tidak memaksa, semua keputusan ada di tanganmu, Mala. Lusa dia akan kembali ke Indo untuk waktu yang lama. Ayah harap kamu memberikan jawaban secepatnya. Ayah rasa Bian tidak buruk, dia mapan dan bersungguh-sungguh mencintaimu." Jelas Alex panjang lebar.
"Ini terlalu cepat, Ayah." Keluh Mala yang sebenarnya malas membahas hal itu.
"Empat tahun bukan waktu singkat, Mala. Kamu juga butuh pendamping masa depan. Berhenti membohongi diri sendiri, saat ini kamu butuh sandaran."
Mala terdiam lagi.
"Ah, maaf jika Ayah terkesan memaksa. Tapi ini demi kebaikkan kamu. Ayah cuma bisa mendoakan agar kamu selalu bahagia," timpal Alex menatap putrinya lamat-lamat.
"Sebenarnya Mama juga sudah membahas masalah ini. Tapi Mala belum siap, Ayah. Mala butuh waktu." Ujar Mala seraya memijat pelepisnya.
"Belum siap, atau takut kehilangan lagi huh?" Tanya Alex yang berhasil membuat Mala semakin bingung.
"Ayah...."
"Ok, Ayah memahami kondisi kamu. Masih banyak waktu untuk memutuskan semuanya. Ayah cuma mau kamu bahagia. Ibumu juha harus segera melanjutkan hidupnya. Hanya saja ia juga sama keras kepalanya denganmu. Dia tidak akan menikah sebelum kamu menikah."
Lagi-lagi Mala tak menanggapi perkataan Alex. Wanita itu terlihat sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk.
"Baiklah, Ayah rasa pembicaraan ini kita cukupkan sampai di sini. Kamu bisa kembali ke kamarmu." Ujar Alex tersenyum simpul.
"Ya, Ayah. Terima kasih atas semua masukkannya. Mala pamit dulu." Alex mengangguk sebagai jawaban. Lalu Mala segera pergi meninggalkan ruangan Alex.
***
Sesampainya di kamar, Mala tampak kaget saat melihat sebuah buket mawar di atas ranjangnya. "Siapa yang mengirim ini?"
Mala mengambil buket itu, untuk mencari nama si pengirim. Namun ia tak menemukannya, hanya ada sepucuk surat di sana. Mala pun mengambil kertas itu dan meletakkan bunga itu di tempat semula. Kemudian ia pun ikut duduk di tepi ranjang. Dan mulai membaca surat itu dengan sesama.
Hai, Dear.
Aku tahu ini sulit bagimu. Tapi aku tidak akan mempersulitmu, Mala. Aku tulus mencintaimu dan tak memaksamu untuk membalas perasaanku. Bagaimana jika kita berteman lebih dulu? Sebagai teman, setidaknya kita bisa mengobrol dan berbincang santai setiap hari. Atau mungkin kau ingin menggunakan aku sebagai tameng? Aku tidak keberatan. Aku tahu masalahmu, tentang Ibumu yang tak ingin menikah sebelum kau menikah. Aku bisa menjadi suami bayaranmu, aku tidak akan menyentuhmu. Kau juga bebas mengajukan syarat padaku. Pikirkan ini baik-baik, sebelum aku kembali ke negaraku. Karena setelah itu, aku tidak tahu masih menginginkanmu atau tidak. Mana tahu ada wanita lain di sana yang lebih menarik.
Hahaha... aku hanya bercanda. Jangan terlalu di masukkan ke hati. Jika boleh jujur, aku tidak pernah mencintai seorang wanita sampai tahap ini. Bahkan aku berniat tak akan menikah seumur hidup. Tapi saat pertama kali melihatmu. Prinsip itu mulai goyah. Apa lagi saat mengingat tatapan tajammu. Aku ingin memilikimu. Mala.
^^^Your future husband ^^^
^^^Bian Pramana ^^^
__ADS_1