
Eveline mengerang saat dirinya terbangun, kepalanya terasa nyeri. Bukan hanya kepala, bahkan seluruh tubuhnya terasa remuk. "Ah... apa yang terjadi?"
Eveline berusaha mengingatnya. Akan tetapi ia tidak mengingat apa pun selain saat dirinya makan fizza bersama Lucas dan mereka sedikit minum. Setelah itu Eveline tidak ingat lagi. Eveline melihat sekujur tubuhnya, semuanya tidak ada yang aneh. Namun, di mana Lucas?
Eveline mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar, tetapi lelaki itu tidak ada di sana. Lalu melihat ke luar di mana hari sudah sangat gelap. "Ke mana dia?"
"Eh? Kenapa aku harus mencemaskan dia?" Eveline menggeleng pelan. "Ah, kenapa aku sangat lelah? Apa yang terjadi sebenarnya?" Gadis itu memijat tengkuknya, kemudian kembali berbaring.
Di lain tempat, Lucas terlihat tergesa memasuki sebuah ruangan.
"Maaf, aku terlambat." Dan tanpa di duga sebuah tinjuan melayang mengenai rahang tegasnya. Lucas hampir tersungkur jika saja orang itu tidak menarik jaketnya.
"Brengsek! Aku memintamu untuk menjaganya. Dan kau malah menculik dan meniduri putriku. Aku akan membunuhmu, Lucas." Bentak orang itu yang tak lain adalah Arez. Dan Lucas pun kembali menerima hajaran demi hajaran sampai wajahnya babak belur. Bisa saja ia melawan, tetapi ia tidak mungkin melawan Arez.
"Bangun kau b*j*ng*n, aku akan menghabisimu kali ini." Geram Arez kembali menarik baju Lucas. Namun, justru Lucas tersenyum lebar.
"Terima kasih atas sambutanmu, Ayah mertua."
Arez terbelalak mendengar itu. "Ayah mertua? Aku Pamanmu."
"Tapi sebentar lagi kau akan menjadi Ayah mertuaku, jangan membodohi aku, Uncle. Kau tahu kan sejak lama aku menyukai putrimu?" Lucas menyapu bibirnya yang masih mengeluarkan darah segar.
"Brengsek! Jadi karena kau menyukainya, kau menodai putriku? Sialan kau, Luc." Arez mendorong Lucas hingga terjerembab ke lantai lagi. Dan lelaki itu masih tersenyum lebar.
"Aku tidak bisa menahan diri saat bersamanya, Uncle. Sebagai seorang laki-laki aku rasa kau tahu perasaanku. Putrimu membuatku gila setiap detik."
Arez mengeratkan rahang. "Kalian tidak akan bisa bersama."
Lucas bangkit dari posisinya, lalu merapikan pakaiannya. "Kenapa tidak? Dia wanita dan aku laki-laki. Lalu apa masalahnya, Uncle?"
"Kalian bersaudara, bodoh."
"Lalu?"
Arez benar-benar di buat frustasi oleh keponakannya itu. "Kau.... akhh... sudahlah. Kembalikan putriku, bawa dia ke mansion."
Lucas tersenyum. "Tidak untuk sekarang, Uncle. Misiku belum selesai." Setelah mengatakan itu Lucas melenggang pergi.
"Lucas! Berhenti." Teriak Arez. Namun, Lucas tetaplah Lucas si keras kepala. "Sial!"
"Ansel!" Panggilnya dengan suara lantang. Detik berikutnya Ansel pun masuk.
"Ya, Tuan?"
"Bawa pulang putriku, tapi jangan sakiti keponakanku."
"Baik, Tuan." Ansel pun bergegas pergi meninggalkan Arez yang masih dalam luapan emosi. "Sialan kau Lucas, jika bukan karena Ibumu. Aku sudah membunuhmu sejak awal."
Arez memijat batang hidungnya. "Maafkan Daddy, Eve. Daddy hanya ingin melindungimu, tapi si brengsek itu mengacaukan semuanya."
****
Eveline terkejut saat Lucas datang tergesa dan membawanya pergi dari apartemen. Bukan hanya itu, wajah babak belur Lucas yang kini menjadi pertanyaan Eveline. "Luc, ada apa ini? Kenapa wajahmu babak belur?"
Lucas tidak menjawab dan terus menarik Eveline keluar dari apartemennya. Lalu membawanya masuk ke lift. Lucas memeluk Eveline erat. Membuat sang empu kaget dan semakin bingung.
"Jangan pergi dariku, Eve. Aku sangat mencintaimu." Ucap Lucas mengeratkan pelukannya.
"Luc, kau menyakiti aku." Mendengar itu Lucas melepaskan pelukannya. Di tatapnya netra coklat terang sang gadis. "Maaf."
Tanpa sadar Eveline menyentuh lembam di wajah Licas. "Apa yang terjadi, Luc?"
Lucas tersenyum tipis. "Hanya masalah kecil."
Eveline mengerut bingung. "Lalu, kenapa kau membawaku pergi? Apa terjadi sesuatu di luar sana?"
Lucas mengangguk. "Ada yang sedang mengincarmu, Eve. Aku tidak akan membiarkan orang itu menyakitimu."
"Apa maksudmu? Siapa yang ingin mengincarku dan apa salahku?"
__ADS_1
Lucas tidak menjawab. "Tolong ikutlah kemana pun aku pergi. Ini demi kebaikanmu."
"Tapi...."
"Tolong jangan bertanya dulu. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang."
Eveline menghela napas berat. "Baiklah."
Dan keduanya pun terdiam sampai pintu lift terbuka. Cepat-cepat Lucas membawa Eveline ke rooftop dan ternyata di sana sudah ada helikopter yang kemarin.
"Luc." Eveline menahan langkahnya. Lucas pun mulai kesal. Dengan sekali gerakan ia menggendong Eveline.
"Luc! Apa yang kau lakukan?" Protes Eveline. Namun, Lucas mempercepat langkahnya dan membawa Eveline masuk ke dalam helikopter. "Go."
Helikopter itu pun terbang meninggalkan apartemen. Dan Lucas bernapas lega. Namun tidak untuk Eveline, ia terlihat resah.
"Kemana lagi kau akan membawaku, Luc? Aku cuma ingin pulang."
Lucas masih bergeming.
"Luc...."
"Diamlah, Eve!" Bentaknya karena tersulut emosi. Eveline yang terkejut pun langsung terdiam.
Lucas menghela napas gusar. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membentakmu." Ucapnya dengan tulus.
"Tapi kau membentakku, Luc." Ketus Eveline memalingkan wajahnya.
"Itu karena kau terus menguji kesabaranku."
"Cih, aku tidak peduli itu."
Lucas menggenggam tangan Eveline erat. Bahkan Eveline sendiri sulit melepaskan tangannya dari genggaman lelaki itu.
Apa yang terjadi padanya? Pikir Eveline dengan tatapan menerawang jauh di udara.
Ansel dan anak buahnya mendatangi apartemen Lucas dan mengobrak-abrik isinya karena tak menemukan keberadaan Eveline.
"Sial! Kita kalah cepat. Blok semua jalur. Jangan sampai mereka lari dari kota ini." Titah Ansel terlihat kesal setengah mati.
"Baik, Tuan." Mereka pun langsung meninggalkan tempat itu.
Sama halnya dengan Marvel dan Melvin. Kedua lelaki itu mendatangi apartemen Lucas setelah mendapat perintah dari sang Daddy.
"Uncle, di mana mereka?" Tanya Marvel pada Ansel.
"Lucas sudah bergerak lebih cepat."
"Sial!" Umpat Marvel. "Sejak awal sudah aku bilang dia pelakunya. Tapi tidak ada yang percaya padaku."
Melvin menghela napas pendek. "Apa itu penting kau bahas sekarang?"
Marve melayangkan tatapan sengit pada kembarannya. "Sekarang kau masih membela bedebah itu huh? Sampai kapan kau akan melindunginya?"
Melvin tersenyum geli. "Aku percaya Lucas tidak akan menyakiti adik kita. Ayolah, kita semua tahu dia mencintai Eve."
Marvel menggeram kesal dan langsung beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Melvin dan Ansel yang masih terdiam.
"Mari, Tuan muda." Pamit Ansel menyusul jejak Marvel.
Melvin kembali menghela napas pendek. "Si brengsek itu benar-benar membuat kekacauan. Ke mana kau bawa adikku, Luc? Matilah kau." Setelah mengatakan itu Melvin pun beranjak pergi dari sana.
Dan tidak lama dari itu segerombolan laki-laki berpakaian serba hitam datang. "Cari semua jejak, dapatkan wanita itu secepatnya."
"Baik, Tuan." Beberapa orang bertubuh tegap masuk ke apartemen Lucas yang sejak awal pintunya sudah rusak. Dan lelaki berparas elok itu mengeratkan rahangnya.
"Aku pasti menemukanmu, Baby."
****
__ADS_1
"Luc." Eveline tidak percaya jika Lucas membawanya ke sebuah pulau yang cukup indah. Pulau itu merupakan pulau milik keluarga besar Winston. Dan mereka tiba di sana tepat saat matahari akan terbit. Tentu saja pemandangan di sana cukup indah.
"Kau suka?"
Tanpa sadar Eveline mengangguk dan berlari ke bibir pantai. "Luc, ini tempat yang aku impikan."
Lucas tersenyum dan menyusul sang pujaan hati. Kemudian memeluk gadis itu dari belakang. "Aku senang kau menyukainya."
Eveline berbalik, ditatapnya Lucas dengan seksama. "Tapi, Luc. Kenapa kau membawaku ke sini? Apa yang terjadi?"
Lucas tidak berniat menjawab.
Eveline kembali menyentuh lembam di sudut bibir Lucas. "Kenapa kau menyembunyikan sesuatu dariku, Luc?"
"Aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu, sayang. Belum saatnya kau tahu."
"Jangan membuatku bingung, Luc."
Lucas tersenyum kecil dan memberikan kecupan lembut di bibir Eveline. "Perlahan kau akan mengerti. Percayalah."
Eveline masih setia memandang wajah Lucas. "Kenapa kau begitu menginginkan aku, Luc?"
"Karena aku mencintaimu."
"Ya, aku tahu. Tapi kenapa? Banyak wanita yang bisa kau miliki. Kau tahu kita...."
"Kita akan bersama jika kau menginginkannya." Sela Lucas.
"Tidak, Luc. Kita...."
"Apa pun itu, kau akan menjadi bagian hidupku, Eve. Percayalah aku akan selalu membahagiakanmu."
Eveline menghindar saat Lucas hendak meraih bibirnya. Tentu saja Lucas kecewa.
"Apa yang kita lakukan ini salah, Luc. Kita tidak seharusnya seperti ini." Lirih Eveline. "Jangan membuatku sulit."
Lucas menyelipkan jemarinya di rambut Eveline. Lalu menyatukan dahinya dengan dahi Eveline. "I love you so much."
Eveline menggeleng pelan. "Kau tidak mencintaiku, ini kesalahan."
"Aku tahu mana yang salah atau benar, Eve. Kesalahan kita hanya satu, kita terlahir dari darah yang sama. Jika aku boleh meminta, aku ingin dilahirkan dari keluarga lain agar aku bisa memilikimu sepenuhnya. Aku mencintaimu, sungguh. Dari dulu perasaanku tidak pernah berubah." Jelas Lucas menitikan air mata. Sontak Eveline pun kaget.
"Luc." Eveline mengusap jejak air mata lelaki itu dengan lembut.
"Percayalah, aku mencintaimu, Eve. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan melepaskanmu."
Eveline mengunci pandangan Lucas. Seolah mencari kebohongan di sana, tetapi ia tak menemukan sebuah kebohongan di sana. Lucas terlihat bersungguh-sungguh. Dan itu membuat Eveline bingung.
"Lucas, jika Daddy tahu kau membawaku kabur seperti ini. Kau akan mati, Luc."
Ya, aku hampir mati tadi.
"Aku tidak peduli, asal aku bisa menghabiskan sisa usiaku bersamamu."
"Kau memang gila, Luc." Eveline memukul dada Lucas. Lalu memeluk lelaki itu dengan erat. Lucas tersenyum dan membalas pelukan itu.
"Aku mencintaimu, Eve. Aku sungguh-sungguh mencintaimu."
"Tapi aku tidak, Luc." Eveline tersenyum tipis.
"Perlahan kau akan mencintaiku."
"Itu pemaksaan."
"Ya. Aku tidak peduli itu."
"Kau memang brengsek. Aku harap Daddy benar-benar membunuhmu." Eveline memukul lengan Lucas beberapa kali.
"Hm. Dan aku akan membawa cintamu mati bersamaku." Lucas mengeratkan pelukannya. "I love you so much, Eveline."
__ADS_1