
Violet memejamkan matanya sejenak, lalu berbalik secara perlahan. Seketika wajahnya pun langsung berubah datar saat melihat Dustin memberikan sorotan mata penuh rindu.
"Buat apa kau kemari?" Tanyanya dengan nada dingin. Bahkan tak ingin menatap mata lelaki itu secara langsung. Hatinya masih sangat sakit setelah apa yang Dustin tuduhkan padanya.
Dustin menatapnya penuh penyesalan tanpa berniat menjawab.
"Tidak perlu bersusah payah kau datang dari jauh hanya untuk menjemputku, karena aku tak berniat untuk kembali." Imbuh Violet yang kemudian berlalu melewati lelaki itu. Namun dengan gerak cepat Dustin mecekal lengannya.
"Grandma sakit." Ucap Dustin yang berhasil membuat Violet kaget dan langsung berbalik.
"Kau bilang apa barusan?" Tanyanya dengan wajah cemas.
"Grandma sakit saat mendengar kau hilang. Jadi kembalilah, kondisinya semakin lemah saat ini."
Mendengar itu Violet langsung shock dan menitikan air mata. "Ini salahku."
Dustin bergerak semakin dekat, mengikis jarak di antara mereka. Lalu tangannya terangkat untuk menyentuh wajah Violet. "Bukan salahmu, tapi kesalahanku."
Violet menatap Dustin lekat, lalu mundur bebera langkah. "Ya, ini semua memang salahmu, Dustin. Ini salahmu." Teriak Violet dengan air mata berderai. "Kau yang bersalah." Tubuh Violet pun ambruk ke lantai, ia tak kuasa menahan sesak didadanya lagi.
Semua penghuni rumah yang mendengar teriakan Violet pun langsung berdatangan untuk melihat apa yang terjadi. Sontak Melisa yang melihat keadaan Violet pun langsung menghampiri dan memeluknya. Tangisan Violet pun semakin menjadi.
"Vio, apa yang terjadi? Tolong jangan menangis." Pinta gadis itu ikut menitikan air mata. Sejak Violet datang ke rumah ini, Melisa lah yang paling semangat. Karena dengan hadirnya Violet, ia tak lagi kesepian. Kedua Kakaknya terlalu sibuk sendiri. Karena itu ia begitu menyayangi Violet.
"Ini semua salahmu, Dustin. Jika saja kau tidak menjadi pengecut, semua ini tidak akan terjadi. Kau pecundang, Dustin." Lirih Violet dengan tubuh bergetar karena tangisan.
Dustin yang mendengar itu pun ikut bersimpuh di lantai dengan kepala tertunduk. "Maaf." Hanya itu yang bisa terucap dari mulutnya.
Violet menatap lelaki itu tajam, lalu menyerang dan menghajarnya dengan sisa tenaga yang ia punya. Melisa pun segera bangkit dan sedikit menjauh.
"Aku selalu berpikir kau akan bersikap gantel seperti Lucas, tapi apa yang aku pikirkan semuanya salah. Aku selalu menunggumu sepanjang waktu, berharap kau datang padaku. Tapi apa yang kau lakukan huh? Kau justru memilih wanita lain dan menyakiti hatiku, Dustin. Bahkan kau menuduhku sebagai penjahat dalam hubungan kalian. Kau itu b*j*ng*n! Aku membecimu. Aku menyesal karena sangat mencintaimu."
Dustin membiarkan wanita itu memukul dan melimpahkan kekesalan padanya. Ia tahu orang yang paling tersakiti di sini adalah Violet.
"Dimatamu aku hanya wanita licik dan murahan. Jadi pergilah, Dustin. Jangan pedulikan aku." Gerakan Violet pun melemah dengan wajah tertunduk ke lantai. Sedetik kemudian ia pun bangkit perlahan. Lalu menatap nanar ke arah Dustin. "Jangan pernah temui aku lagi. Aku tidak akan pernah kembali."
Mendengar itu Dustin langsung mendongak, memberikan tatapan tak percaya. Lelaki itu pun bangkit dengan cepat. "Violet."
"Jangan sentuh aku." Bentak Violet saat Dustin hendak menyentuhnya. Dustin pun mundur dengan sorot mata kecewa.
"Arghhhh!" Wanita itu menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi. Setelah itu ia pun beranjak pergi dari sana, menuju kamarnya.
Violet mengunci kamarnya, lalu tubuhnya kembali merosot ke lantai. "Maafkan aku grandma. Maafkan aku. Kau harus baik-baik saja di sana." Lirihnya seraya memeluk kedua lutut. Tangisannya pun tak mau berhenti.
__ADS_1
Di luar, Dustin masih berdiri di posisinya dengan tatapan kosong. Dika yang melihat itu pun menghela napas pendek, lalu mendekati dan menepuk pundaknya.
"Sudahlah, biarkan dia menenangkan dirinya di dini lebih dulu. Sejak aku menjemputnya, kondisinya tidak baik-baik saja. Dan baru hari ini dia mau keluar dari kamarnya." Jelas Dika menatap Dustin iba. "Aku akan menjaganya di sini."
Dustin pun menatap Dika lekat. "Terima kasih, Paman. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang? Semua ini murni salahku. Aku titipkan dia bersamamu. Aku akan kembali untuk menjemputnya lagi, tolong beri tahu aku jika dia sudah membaik."
Dika mengangguk. "Aku akan selalu memberimu kabar soalnya."
"Terima kasih. Aku pergi dulu. Sampai jumpa, Paman." Dustin pun langsung beranjak dari sana. Melewati para sepupunya yang menatapnya iba.
Dika kembali menghela napa setelah kepergian Dustin. "Kisah cinta kalian benar-benar rumit. Aku jadi teringat kisah cintaku sendiri, sama rumitnya." Gumamnya yang kemudian tersenyum penuh arti.
****
Bugh!
Dustin mendapat tinjuan keras di wajahnya untuk yang kesekian kali, pelakunya tak lain adalah Jarvis.
Ayah dari Violet itu benar-benar murka setelah mendengar apa yang Dustin ungkapkan atas semua kejadian yang menimpa putrinya.
"B*j*ng*n, kau pantas mati, Dustin." Umpat Jarvis yang kembali melayangkan pukulan di wajah lelaki itu. Dan Dustin pun menerimanya dengan hati yang luas. Dirinya pantas mendapatkan itu. Bahkan ia rela jika dirinya harus mati di tangan Jarvis sekarang.
Bahkan keluarga lain yang menyaksikan itu pun tak bisa banyak membantu. Masalah kali ini benar-benar runyam. Dulu mereka menganggap Lucas yang paling brengsek dalam kasus penculikan dan pemerkosaan Eveline, tetapi kini mereka merasa Dustin lah yang lebih brengsek. Bagaimana tidak, setelah meniduri Violet. Alih-alih bertanggung jawab, Dustin justru menuduh wanita itu yang bukan-bukan. Orang tua mana yang tak emosi mendengar itu semua. Ditambah semua orang tahu Violet begitu menjaga kegadisannya. Dan sekarang semua itu hancur begitu saja.
"Jarvis, sudah cukup." Semua orang langsung menoleh ke arah suara. Di mana Sweet sudah berdiri di sana dengan sebuah tongkat. Tentu saja semua orang terkejut sskaligus bahagia karena melihat Sweet sudah bisa bangun dan berjalan sendiri.
Lea pun bergegas menhampiri sang Nenek dan membantunya duduk.
"Berhenti membuat keributan terus, aku sudah pusing dengan semua ini." Imbuh Sweet sembari memijat kepalanya.
"Mom, jika kau masih pusing. Kenapa tidak istirahat saja?" Tanya Sky duduk di samping Sweet.
"Bagaimana aku bisa istirahat jika kalian membuat keributan sebesar ini?" Sahutnya seraya menatap semua orang satu per satu. Mereka semua pun menunduk.
Lalu pandangan Sweet pun berakhir pada Dustin. Wajah pemuda itu sudah babak belur dengan darah segar yang masih keluar di beberapa bagian. "Dan kau, Dustin. Jangan menggangu Violet lagi. Biarkan dia hidup dengan pilihannya sendiri. Terima semua kesalahan yang telah kau perbuat."
Dustin cuma bisa menunduk dengan hati yang perih. Bagaimana bisa ia menbiarkan wanita yang dicintainya memilih hidup sendiri. Lalu bagaimana dengan dirinya?
"Mom...." Alexella hendak protes, tetapi Sweet langsung mengangkat tangannya mengintrupsi.
"Violet baru saja menghubungiku. Dia tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Termasuk kalian, Alexella, Jarvis." Ujarnya menatap Alexella lekat.
Mendengar itu Alexella pun kaget. "Mom, bagaimana mungkin? Dia putriku satu-satunya. Bagaiman bisa aku membiarkan dia berkeliaran di luar sana tanpa arah tujuan. Mom, aku mohon bujuk dia untuk kembali." Mohon Alexella bersimpuh di kaki sang Mommy.
__ADS_1
Sweet menghela napas berat. "Kalian semua sudah gagal mendidik mereka, semua kekacauan ini ulah kalian sendiri. Hah, aku juga yang salah karena terus membiarkan kalian melakukan segala hal sesuka hati."
"Mom, jangan bicara seperti itu. Kami yang salah karena tidak mendidik mereka dengan baik." Ujar Sky menggenggam tangan Sweet.
Sweet pun mengalihkan pandangan ke pada Sky. "Sky, kau satu-satunya harapanku. Aku harap anak-anakmu bisa mengubah keadaan mansion ini yang sudah sangat kacau. Bujuk putramu untuk segera menikahi Zhea. Jika tidak, aku akan menikahkannya dengan Marvel."
Marvel yang mendengar itu pun terkejut dan langsung menatap sang Grandma. Ia hendak membantah, tetapi Gabriel lebih dulu membuka suara.
"Grandma, aku akan menikahi Zhea. Secepatnya seperti yang kau mau. Tapi jangan meminta orang lain untuk menikahinya. Karena aku....." ucapan Gabriel langsung terputus karena ia sadar apa yang akan diucapkannya itu. Spontan semua mata pun terarah padanya karena penasaran apa yang sebenarnya akan Gabriel ucapkan.
"Karena apa? Lanjutkan ucapanmu." Pinta Sweet.
Gabriel pun mendadak kikuk dan gugup, wajahnya juga memerah karena malu. "Karena aku menyukainya." Jawabnya dengan cepat.
Jawaban Gabriel pun berhasil mengundang tawa kecil Sweet. "Akhirnya kau mengakui perasaanmu sendiri, Gabriel."
Gabriel tersenyum malu. "Aku akan segera menikahinya, secepatnya."
Sweet menghela napas lagi. "Ya, segera langsungkan pernikahan meriah di mansion ini."
"Grandma, aku juga ingin menikah." Sambar Melvin yang berhasil mendapat tatapan heran dari semua orang. Sabrina dan Arez pun cuma bisa melempar pandangan saat mendengar keinginan putranya itu.
Sweet tersenyum. "Siapa dia? Bawa dia ke hadapan Grandma."
Mendengar itu Melvin langsung mengangguk patuh. "Aku akan segera membawanya ke hadapanmu."
Sweet tersenyum lagi. "Kalian harus cepat, sebelum aku benar-benar menutup mata untuk selamanya."
"Mom." Perotes anak-anaknya kompak.
"Apa aku salah? Usiaku sudah sangat tua, aku juga sudah tidak sehat lagi. Mungkin hanya tinggal menghitung hari Tuhan memanggilku."
"Mom, jangan bicara lagi. Kau membuat kami semua takut." Lirih Alexella menangis di kaki sang Mommy.
Sweet mengusap kepala putri bungsunya itu dengan lembut. "Semua orang pasti kembali pada Tuhan-Nya, Xella. Aku sudah lelah, dan sangat merindukan Daddymu. Aku selalu bertemu dengannya di mimpi, dia sangat tampan. Dia juga bilang sudah lama menungguku di sana."
Semua orang yang mendengar itu semakin ketakutan dan bersedih.
"Mom, kami semua sangat menyayangimu." Ucap Sky menyandarkan kepalanya di pundak wanita tua itu.
"Aku tahu." Sahut Sweet yang kembali mengedarkan pandangan ke semua orang yang terdiam seribu bahasa. Lalu tersenyum seolah sedang tidak terjadi apa pun.
Bersambung....
__ADS_1