Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 2


__ADS_3

Kini semua orang sudah berdiri di depan pasangan masing-masing. Karena Arez mendapat urutan pertama, ia berdiri paling ujung. Lekaki itu menatap tajam wanita di depannya. Bagaimana tidak, wanita itu terlihat misterius karena menggunakan topeng berbentuk angsa yang menutupi setengah wajahnya.


Bukanya takut, wanita itu malah membalas tatapan Arez yang tak kalah tajam.


"Ini bukan pesta topeng, kenapa kau menggunakan topeng? Apa kau penyusup? Atau menutupi wajah jelekmu?" Tanya Arez dengan nada dingin.


Wanita itu sama sekali tak berniat menjawab. Tentu saja hal itu membuat Arez semakin penasaran. "Siapa namamu?"


Lagi-lagi wanita itu tak menjawab. Arez pun tak lagi bicara.


Berbeda dengan Alexella. Gadis itu menatap tajam lelaki yang ada di hadapannya saat ini. Ia tak pernah menyangka jika Jarvis yang menjadi pasangannya. Sedangkan Jarvis tersenyum senang saat tahu Alexella yang menjadi pasangannya kali ini.


"Baby, aku rasa kita memang berjodoh." Ucap Jarvis penuh rasa percaya diri. Dengan penuh keberanian ia meraih tangan Alexella dan mengecupnya lembut.


Alexella yang kaget pun segera menarik tangannya dan memberikan tatapan tajam pada lelaki itu.


"Oh ayolah Baby, kedepannya kita akan lebih dekat dari sekadar mencium tangan."


"Apa maksudmu?" Tanya Alexella penuh intimidasi.


"Ck, kita akan berdansa bukan? Tidak mungkin kan kita berjauhan seperti ini. Ah, apa kau memikirkan hal lebih dari itu?"


Alexella mendengus kesal dan tak menanggapi perkataan Jarvis.


"Kau sangat cantik, Baby." Puji Jarvis menatap wajah dingin itu begitu dalam. Sedangkan Alexella kembali mengabaikannya.


Suara alunan musik dansa pun mulai terdengar. Para lelaki mengulurkan tangan untuk meminta persetujuan para wanita. Dan para wanita menerima uluran tangan itu dengan anggun.


Dalam sekali hentakan, Arez membawa gadis dihadapannya mendekat bak perangko. Sontak gadis itu terkejut karena tubunya kini sudah menempel pada lelaki yang menjadi pasangannya. Bahkan Arez meraba setiap lekuk tubuh gadis itu untuk memastikan tak ada senjata yang disembunyikannya.


"Jangan berpikir kau bisa keluar jika terbukti memiliki motif terselubung." Bisik Arez tepat di telinga gadis itu. Perlahan ia mulai bergerak mengikuti alunan musik. "Keluarga Digantara, tak akan melepaskan musuh begitu saja."


"Undangan itu yang membawaku ke sini, apa itu salah? Aku sudah terbiasa sejak kecil dengan topeng ini, apa itu juga salah?" Suara halus gadis itu berhasil membuat Arez tertegun. Suara yang begitu merdu. Arez menatap mata tajam gadis itu begitu dalam.


Siapa gadis ini, kenapa aku tak pernah mendengar berita tentangnya? Gadis misterius.


"Menuduh seseorang tanpa bukti, meraba lekuk tubuh seorang gadis yang Anda tak kenali, apa itu salah satu sikap bijaksana Anda, Tuan?" Gadis itu kembali mengeluarkan suara indahnya. Suara lembut yang tak pernah Arez dengar dari mulut wanita mana pun.

__ADS_1


"Siapa pun dirimu, aku tak akan melepaskanmu. Jadi katakan saja apa motifmu?" Arez masih mencurigai gadis itu. Bukan hanya sekali dua kali musuh mengirim orang untuk membunuhnya. Karena itu Arez selalu mencurigai siapa pun yang membuatnya curiga.


"Apa Anda ingin menjadikanku tawanan tanpa berbuat salah?"


Arez mengeratkan rahangnya, ia paling tak suka jika seseorang menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan lagi. Karena kesal, Arez memutar tubuh ramping sang gadis dengan kasar. Memeluk perut rata gadis itu dengan erat.


Sang gadis pun menutup matanya karena terkejut.


"Tuan, jika Anda keberatan berdansa denganku. Anda bisa mengakhirinya sekarang." Gadis itu membuka matanya perlahan. Merasakan gugup yang luar biasa. Untuk pertama kalinya ia begitu intim dengan seorang lelaki.


"Siapa namamu, jangan sampai aku yang mencari tahu sendiri. Kau mendapat undangan resmi dari keluargaku. Itu artinya kau tahu siapa aku." Tegas Arez semakin menekan pelukkannya.


"Sekali kau menyentuh keluargaku, aku akan menghancurkan keluargamu ribuan kali tanpa celah untuk lari." Timpal Arez.


Wanita itu tersenyum tipis. "Sejak kapan Tuan Alfarez merubah profesi menjadi seorang detektif huh?" Gadis itu memutar tubuhnya. Menatap Arez dengan seksama. Bahkan dengan berani ia mencium bibir Arez. Lelaki itu terbelalak dan seketika tubuhnya membeku.


Alexa dan Alexella yang melihat adegan itu tak kalah terkejut.


"Omg, sejak kapan pangeran es mulai mencair? Siapa gadis itu?" Pekik Alexa dengan mata yang membulat. Laurenzi yang penasaran pun langsung mengikuti arah tatapan Alexa.


"Kak Arez?" Alexella masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Jarvis yang melihat itu sama sekali tak terkejut. Hal seperti itu sudah lumrah dalam hidupnya.


"Kenapa kau kaget, Baby? Apa kau tak pernah melihat orang berciuman?" pertanyaan Jarvis pun berhasil menarik perhatian Alexella. Gadis itu melayangkan tatapan membunuh.


"Itu bukan urusanmu." Ketus Alexella kembali memperhatikan Arez. Namun tak ada lagi adegan yang seperti tadi. Keduanya terlihat sedang mengobrol serius. Entah apa yang mereka bicarakan. Suara musik berhasil menenggelamkan segalanya.


Bagaimana jika wanita itu orang yang mencelakai Kak Arez beberapa bulan lalu? Aku harus mencari tahu siapa wanita itu. Bahkan dia tak ingin menunjukkan wajahnya, mencurigakan. Pikir Alexella.


Ya, tiga bulan yang lalu. Terjadi sebuah percobaan pembunuhan ketiga terhadap Arez. Kemungkinan besar orang itu kiriman musuh yang tak menyukai ketegasan seorang Arez dalam berbisnis. Menjadi pengusaha muda memang tak semudah yang dipikirkan. Meski keluarga Digantara selalu menghindari permusuhan, tetapi musuh tetap muncul tanpa di undang. Karena tak semua orang bisa menerima kesuksesan Digan't Group. Lebih-lebih saat ini Digan't Group tengah berada di puncak kesuksesan setelah perusahaan diserahkan pada Arez. Karena lelaki itu tak segan membasmi para pemberontak atau pun pengkhianat.


Saat orang lain tengah sibuk memperhatikan Arez dan pasangannya. Lain halnya dengan Arel. Lelaki itu telalu fokus menatap pasangannya. Berhubung posisinya juga lumayan jauh dari posisi ketiga saudaranya.


"Baby, kau sudah punya kekasih?" Tanya Arel seraya meraba setiap lekuk tubuh wanita muda di hadapannya. Bahkan tanpa rasa malu ia mengecupi leher wanita itu.


"Tuan, sebaiknya tidak melakukan itu di sini. Kau bisa memesan kamar untuk kita bukan? Aku sama sekali tak memiliki kekasih. Kau sangat tampan, malam ini aku milikmu." Bisik wanita itu begitu menggoda. Arel yang mendengar itu tersenyum penuh kemenangan. Tak ada wanita yang tahan melihat ketampanannya.


"Tentu, Baby. Setelah acara selesai. Temui aku di pintu gerbang. Aku menunggumu." Bisik Arel sembari mengigit telinga wanita itu untuk menggodanya.

__ADS_1


Dulu, Arel bukanlah lelaki yang gemar mepermainkan wanita. Kebiasaan itu terjadi setelah gadis yang dicintainya menikah dengan orang lain dan dirinya di campakkan begitu saja. Padahal Arel sangat mancintai gadis itu melebihi apa pun. Kepergian gadis itu merubah hidupnya seratus persen. Lelaki itu tak ragu mengundang para wanita untuk tidur dengannya dan setelah itu ia akan mencampakkan mereka tanpa rasa kasihan. Hal itu juga yang menbuat kedua orang tuanya merasa takut dan sedih. Namun Arel tak peduli akan hal itu. Hatinya telah tertutupi perasaan dendam.


Di paling ujung lantai dansa. Lorenzo terlihat kesal karena pasangan dansanya sama sekali tak bisa diandalkan. Gadis itu terus menginjak kakinya saat Lorenzo bergerak mengikuti aluna musik.


"Berhenti menginjak kakiku, itu sepatu baru yang Auntyku berikan. Kau merusaknya. Kenapa tak mengatakan sejak tadi kalau kau tak bisa berdansa?" Kesal Lorenzo memarahi gadis berwajah Asia itu. Ia juga menghentikan dansanya. Namun Lorenzo terkejut saat melihat gadis itu meneteskan air matanya.


"Aku juga tak ingin berdansa jika Mommy tak memaksaku. Aku benci tarian, dan sekarang kau memarahiku?" Tangisan wanita itu pun pecah. Beruntung suara alunan musik menenggelamkan tangisan gadis itu.


"Hey, jangan menangis. Aku tak berniat memarahimu. Kau merusak sepatuku, karena itu aku kesal. Kenapa kau tak menolak Mommymu, kau bisa bicara terus terang padanya." Ujar Lorenzo merasa bersalah.


"Kau tak tahu seperti apa Mommyku, dia akan memaksakan kehendak untuk mendapatkan apa yang diinginkannya."


"What?" Lorenzo sama sekali tak memahami pembicaraan gadis itu.


"Mommy ingin menjadikanmu menantunya." Ujar gadis itu dengan polosnya.


"Hah! Apa Mommymu itu gila? Lagian siapa yang sedang mencari istri? Aku masih sekolah dan aku tak berniat mencari kekasih secepat ini. Kau lihat wajahku, aku bukan berasal dari Berlin. Lagipula kau terlihat seperti gadis di bawah umur."


"Aku masih sekolah SHS tingkat dua, kau?"


"Di negaraku namanya bukan SHS, tapi SMA. Aku duduk di kelas XII."


Gadis itu terlihat bingung. Ia tak pernah mendengar itu sebelumnya.


"Di mana Mommymu? Aku akan bicara padanya." Tanya Lorenzo merasa kasihan apalagi gadis itu masih sangat polos. Gadis itu pun menerawang ke seluruh kerumunan orang. Namun tak menemukan keberadaan sang Mommy. Lalu perhatiannya ia alihkan kembali pada Lorenzo.


"Mommyku tidak tahu di mana."


Lorenzo menatap wajah gadis itu. Wajah khas Asia yang begitu kental. "Kau bukan asli kota ini? Wajahmu menunjukkan kau bukan berasal dari sini, melainkan Korea, Cina atau Jepang kan?"


"Em... Mommy asli orang sini. Tapi Ayahku berasal dari Tiongkok. Dan aku tak pernah tahu seperti apa wajahnya." Jawab gadis itu jujur.


Kenapa gadis ini begitu jujur dan polos. Apa dia sedang menjebakku.


"Oh iya, maaf karena sudah merusak sepatumu. Apa aku perlu menggantinya?"


"Tidak perlu, sebaiknya kita akhiri dansanya dan mari cari di mana Ibumu berada." Gadis itu mengangguk pasrah. Lalu keduanya pun beranjak pergi dari lantai dansa.

__ADS_1


__ADS_2