Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 84


__ADS_3

Mala melipat kertas itu dengan gerak cepat, lalu menyambar buket bunga itu dengan kasar dan langsung beranjak dari kamarnya. Ia mulai mengetuk pintu di kamar sebelahnya.


"Bian, buka pintunya. Aku ingin bicara." Pinta Mala yang juga belum mendapat sahutan dari dalam.


"Bian...." Panggil Mala mulai kesal. Tidak lama dari itu, pintu kamar terbuka. Menampakkan Bian yang sepertinya baru selesai mandi. Bisa di lihat dari rambutnya yang masih basah.


Mala tertegun, ia mengakui jika lelaki dihadapannya saat ini sangatlah tampan. Namun dengan cepat ia menepis pikiran konyolnya itu.


"Aku ingin bicara."


"Masuklah," pinta Bian sedikit memundurkan kursi rodanya dan membiarkan wanita itu masuk. Mala duduk di sofa dengan tatapan yang masih tertuju pada lelaki itu.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Bian dengan santai. Kali ini ia benar-benar memasang wajah serius.


"Surat ini," Mala mengangkat surat ini ke udara. "Apa kau tidak bercanda dengan isinya?"


Bian tersenyum simpul. "Jadi kau masih menganggapku bercanda huh? Tidak apa, aku tahu keraguanmu. Tapi aku tidak pernah bercanda dengan perasaanku, Mala. Aku mencintaimu."


"Why?"


"Apa aku perlu mengatakan sebuah alasan mencintai seseorang?"


"Tentu saja, aku ingin tahu apa alasannya kau mencintaiku? Itu terlalu cepat, kita baru bertemu beberapa kali dan kau mengatakan cinta padaku."


"Apa kau percaya pada cinta pandangan pertama?"


Mala terdiam dan tak mampu menjawab.


"Seperti yang aku katakan di surat itu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat kau mendekatiku dan memberikan tatapan tajam itu, aku merasakan sesuatu getaran aneh. Awalnya aku tidak tahu itu adalah getaran cinta. Namun semakin ke sini, aku tahu itu memang cinta. Apa lagi saat aku melihat wajahmu dan cara kau menolakku, aku semakin tertarik padamu."


Mala memalingkan wajahnya dari Bian. "Kenapa harus aku? Masih banyak wanita lain di luar sana. Aku sudah pernah punya suami dan mengandung. Aku rasa kau belum tahu itu kan?"


Bian tersenyum mendengarnya. "Aku tidak pernah peduli dengan masa lalumu. Meski kau punya anak sekali pun, perasaanku tidak akan pernah berubah. Kita manusia biasa, Mala. Kau punya kekurangan, begitu pun denganku." Jelas Bian tanpa rasa ragu sedikit pun. Dan itu berhasil membuat Mala tercengang.


Cukup lama mereka terdiam.


"Aku ingin membuat kesepakatan." Mala pun kembali membuka pembicaraan.


"Apa itu?" Tanya Bian dengan santai.

__ADS_1


"Aku akan menikah denganmu, tapi hanya menikah kontrak. Satu tahun kemudian, kita akan bercerai. Seperti yang kau katakan di surat ini, aku juga akan membuat surat perjanjian pernikahan. Tentang peraturan setelah kita menikah."


Bian terdiam sejenak. "Jika itu yang membuatmu bahagia, aku akan mengikuti peraturan yang kau buat. Tapi aku juga akan membuat beberapa peraturan, agar tak ada yang di rugikan di antara kita."


Mala menatap Bian tajam. "Kau bilang tulus padaku, tapi kau ingin mengatur hidupku huh?"


"Mala, aku tidak pernah mengatur hidupmu meski kita menikah nanti. Kau babas melakukan apa pun. Hanya dua peraturan yang aku buat setelah kita menikah. Pertama, kita akan tetap tinggal satu atap. Jangan memotong ucapanku, mala. Aku belum selesai." Ujar Bian saat melihat Mala hendak protes. Mala pun menghela napas kasar.


"Kedua, aku tidak ingin kau berhubungan dengan laki-laki lain saat kontrak itu belum berakhir. Aku juga tidak akan menyentuhmu, jika bukan kau yang menginginkanya. Apa kau masih keberatan?"


Mala mendengus kesal dan tak langsung menjawab pertanyaan Bian.


"Aku harap peraturan yang aku buat tidak memberatkanmu," imbuh Bian.


"Ok. Aku setuju, jangan berpikir aku sangat ingin menikah denganmu. Aku melakukan ini demi Mama. Aku ingin Mama bahagia." Jelas Mala bangun dari posisinya. Ia juga meletakkan buket bunga dan surat itu di atas sofa.


"Aku tidak suka bunga," pungkasnya yang langsung bergegas pergi dari kamar Bian. Lelaki itu tersenyum penuh arti.


"Akan aku buktikan, dalam satu tahun ini kau jatuh cinta padaku, Mala. Kau sendiri yang akan memutuskan kontrak itu. Akan aku pastikan itu." Bian tersenyum simpul saat melihat buket bunga itu.


"Tidak suka bunga huh? Maka akan aku berikan buket cinta setiap hari padamu." Pungkasnya.


"Maaf, Bian. Aku melakukan itu demi Mama. Aku tidak ingin Mama kembali mengorbankan kebahagaianya untukku. Sudah waktunya untuk Mama bahagia bersama cintanya. Mala minta maaf, Ma." Gumamnya seraya menutup matanya.


***


Di kamar bernuansa gold, Sweet terlihat begitu asik memainkan rambut suaminya yang menjadikan pahanya sabagai sandaran.


"Mas, aku salut pada Mala. Cintanya begitu besar pada sang suami." Kata Sweet seraya memberikan kecupan di kening suaminya.


"Hm. Pertemuan mereka juga tak biasa. Rudy merupakan antek-antek Kak Arnold saat itu. Sedangkan Mala mata-mata yang aku kirim pada mereka. Aku juga tidak tahu seperti apa kisah cinta mereka. Yang aku tahu, mereka rela berkhianat hanya untuk cintanya." Jelas Alex sepengetahuannya.


"So sweet, aku ingin cinta seperti itu."


Alex mengangkat sebelah alisnya saat mendengar perkataan istrinya. "Jadi kau ingin cinta seperti itu dan mengkhianati suamimu huh?"


Sweet tergelak mendengar nada cemburu suaminya. "Bukan itu, Mas. Maksudku, aku ingin memiliki cinta sebesar itu."


"Apa cinta yang aku berikan tidak cukup besar huh?"

__ADS_1


"Entah, aku rasa itu kurang besar." Sahut Sweet tersenyum geli.


"Baiklah, besok akan aku perbesar cintaku padamu. Kau mau sebesar apa? Lautan atau samudera?"


Lagi-lagi Sweet tergelak mendengar pertanyaan konyol suaminya. "Aku tidak ingin keduanya. Aku cuma ingin kamu mengucapkan cinta di setiap pagi. Itu sudah cukup."


"Wah, aku pikir itu tidak sulit."


"Kita lihat saja nanti, aku rasa kamu akan lupa mengucapkan itu setiap pagi. Kamu kan sudah tua, Mas. Pasti cepat lupa."


"Jangan remehkan ingatanku, Sayang. Meski aku ini sudah tua. Tapi aku masih memiliki ingatan yang kuat. Termasuk setiap inci tubuhmu yang menggoda imanku."


"Mas... selalu saja mesum." Rengek Sweet tak menyukai pembahasan suaminya. Alex tertawa renyah saat melihat wajah kesal sang istri.


"Apa lagi yang bisa aku bayangkan darimu selain itu huh?"


"Hentikan itu, Mas. Lebih baik kita bahas masalah lain. Aku sangat penasaran dengan kisah cinta Mas dengan Mbak Nissa. Pasti sangat membekas kan?"


Alex terdiam sejenak. "Apa kau sangat ingin tahu cerita itu?"


Sweet mengangguk sebagai jawaban. Alex yang melihat itu bangun dari posisinya dan bersandar di kepala ranjang. Sweet juga ikut menggeser posisinya, memeluk Alex begitu erat. Lalu Alex pun mulai bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Nissa.


"Saat itu aku pergi ke kampus sebelah, karena rasa penasaran. Aku duduk di kantin dan memutuskan untuk minum sebentar. Namun aku tak sengaja melihat dua orang wanita tengah mengobrol ria, mereka terlihat bahagia. Dan wanita dengan rambut sebahu menjadi pusat perhatianku. Dia terlihat sangat cantik saat tersenyum, apa lagi ada lesung pipi di wajahnya. Saat itu aku merasakan debaran yang aneh. Karena saat itu aku tidak pernah jatuh cinta pada wanita mana pun. Aku sempat terkejut karena ketahuan sedang menatapnya. Dia juga sepertinya terkejut dan langsung memalingkan wajahnya dariku. Karena kepalang malu, aku langsung pergi dari tempat itu."


Sweet tersenyum geli mendengarnya. "Itu artinya kamu tidak mahir dalam memikat wanita. Tertarik, tapi langsung pergi." Sweet pun memberikan tanggapan. Ia sama sakali tidak merasa cemburu mendengar pengalaman cinta pertama suaminya. Karena ia percaya sepenuhnya pada Alex.


"Kau benar, karena itu menjadi penyesalan terbesarku saat itu. Satu bulan kemudian, aku mendengar Kakakku menikahi seorang gadis muda sebagai pernikahan bisnis. Karena penasaran, aku pulang ke rumah itu dan sontak aku terkejut saat melihat gadis itulah yang menjadi istrinya. Mulai hari itu aku sering berkunjung ke rumahnya. Hanya untuk menemani gadis itu. Karena aku tahu Kakakku selalu memperlakukannya dengan buruk. Dan rasa ingin memiliki itu semakin besar. Aku mengungkapkan isi hatiku, sampai aku tak menyadari itu semua kesalahan dan sudah pasti Kakakku tahu. Dia marah besar, mulutnya bicara jika dia tak mencintai Nissa. Tapi hatinya sudah sepenuhnya di miliki gadis malang itu. Nyawaku hampir melayang saat itu, awalnya aku kira Kakakku yang melakukan itu. Ternyata itu perbuatan orang lain yang memanfaatkan hubunganku dan Kakakku." Tutup Alex karena ia sudah sedikit lupa tentang cerita dulu.


"Mas, aku rasa kisah Mbak Nissa hampir mirip denganku. Hanya saja Kakakmu tidak mencintai orang lain." Ujar Sweet mengerucutkan bibirnya. Alex yang melihat itu tersenyum lebar.


"Mungkin dulu aku mencintainya, tapi sekarang hanya ada kau di hatiku, Ana. Aku mencintaimu." Alex mengecup pipi istrinya dengan lembut. Sweet tersenyum malu, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Alex.


"Aku mengantuk."


"Aku pikir kau akan membalas ucapanku?"


"Tidak perlu aku balas pun kamu tahu jawabannya." Ucap Sweet pelan. Ia pun mulai terelap dalam mimpi indahnya. Sedangkan Alex hanya tersenyum sambil mengusap rambut indah istrinya.


"Aku akan selalu mencintaimu, Ana." Pungkas Alex sebelum memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2