Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 56


__ADS_3

Sabrina menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara saat suara derap kaki itu kembali terdengar. Wanita itu semakin ketakutan, ditambah lagi udara dingin membuat tubuhnya semakin gemetar.


Al, please. Datanglah, aku membutuhkanmu.


"Wanita itu tak mungkin pergi secepat itu. Dia pasti ada di sekitar sini. Cari dengan teliti, sepertinya dia bersembunyi. Bos ingin dia hidup-hidup." Suara bariton milik seseorang terdengar begitu dekat. Sabrina semakin ketakutan. Suara orang itu terasa seperti di atasnya.


Ya Tuhan, apa Alexella kembali tertangkap?


"Cih, merepotkan saja. Satu tertangkap dan satu lagi menghilang entah kemana?"


Jadi benar Alexella tertangkap? Tuhan, lindungi kami di sini.


Srak!


Sabrina terkejut saat mendengar suara aneh yang dibarengi jeritan beberapa orang. Kemudian semuanya mendadak senyap.


Ada apa itu? Kemana orang-orang tadi?


Bruk!


Sabrina terhenyak saat lelaki bertubuh jangkung melompat tepat di hadapannya. Wanita itu langsung mendongak, menatap wajah bertopeng itu dengan seksama. Dan sedetik kemudian ia tersenyum lebar. Ya, siapa lagi lelaki itu jika bukan suaminya, Alfarez.


"Al." Sabrina bangkit dan langsung berhambur dalam dekapan suaminya. "Kenapa lama sekali? Aku hampir mati ketakutan di sini."


"Itu balasan karena kau mengabaikan perintahku, Sabrina." Sahut Arez dengan nada dingin.


Sabrina pun mendongak. "Al, Xella kembali tertangkap oleh mereka. Kau harus menyelamatkannya."


Arez tak menyahut, mata tajam itu meyelisik wajah lembam istrinya. "Dia melukaimu huh?" Geramnya saat melihat luka di kedua sudut bibir istrinya.


Sabrina mengangguk pelan.


"Dasar bodoh." Cerca Arez.


"Al, aku bilang Xella masih ada di sana." Ulang Sabrina kembali teringat pada Alexella.


"Biarkan saja."


"Dia adikmu, Al."


Arez menatap istirnya dengan tatapan tajam. "Aku akan menghukummu setelah ini."


Sabrina mundur selangkah. "Aku tidak peduli dengan hukumanmu, sekarang kita harus menemukan Xella. Dia sedang kasakitan, sejak tadi dia mengalami kontraksi." Protesnya.


"Bagaimana dengan anak kita?" Lagi-lagi Arez mengabaikan ucapan istrinya. Kini tangan kanannya sudah berada di perut rata Sabrina.


"Anak kita? Bahkan kau menyembunyikan dia dariku. Brengsek kau, Al." Sabrina menepis tangan suaminya dengan kasar.


"Kau saja yang bodoh." Arez pun bernjak meninggalkan istrinya.

__ADS_1


"Al!" Kesal Sabrina kembali ketakutan. "Al, perutku sakit."


Langkah kaki lelaki itu tertahan. Kemudian berbalik. Mata elangnya itu menusuk tajam ke arah Sabrina.


"Aku tidak bohong. Perutku agak sakit karena berlari tadi." Rengek Sabrina tak berbohong sama sekali.


Arez keluar dari lembah itu, kemudian mengulurkan tangannya pada sang istri. "Kemari dan naikklah, kau akan mati jika terus berada di sana."


"Ck, kau sama sekali tidak ada romatis-romantisnya, Al." Sabrina mengikuti perintah suaminya meski dengan bibir mengerucut. Kini keduanya pun sudah berada di atas. Namun seketika Sabrina tekejut saat melihat tiga orang lelaki yang sudah terkapar dengan bersimbah darah.


"Al, kau membunuh mereka?" Pekik Sabrina.


"Jika aku tak membunuh mereka, kita yang akan terkapar di sana."


Sabrina menatap Arez begitu dalam. "Jangan membunuh lagi, Al. Aku mohon."


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, ayok jalan." Arez menggenggam tangan istrinya. Membawa wanita itu keluar dari inti hutan.


"Kau kenal hutan ini, Al?"


"Ini rumahku."


"Hah?"


"Jangan banyak bicara."


"Aku hanya bertanya." Ketus Sabrina.


Sabrina mendengus sebal. Namun lagi-lagi dirinya dikejutkan dengan beberapa orang yang tergeletak dengan peluru yang bersarang di kepala mereka.


"Berapa banyak yang kau bunuh, Al?"


Arez sama sekali tak menjawab. Ia terus menarik istrinya menajuh dari tempat itu. Dan mereka pun sampai di sebuah tenda camping dengan beberapa mobil mewah berderet di sana. Tidak lama dari itu, seorang wanita bertopeng dengan pakaian serba hitam keluar dari dalam sana. Wanita itu sedikit berlari dan menghampiri Sabrina, lalu memeluknya dengan erat.


"Syukurlah kau tidak apa-apa, Sab." Sabrina mengerut bingung. Ia tak mengenali wajah itu karena tertutup topeng, tetapi mengenali suaranya. Ia pun mendorong wanita itu perlahan. Menatap wajah bertopeng itu dengan seksama.


"Deena?"


Wanita itu tertawa renyah. "Cepat sekali kau mengenaliku."


Mata Sabrina membulat. "Bagaimana kau ada di sini? Bukannya kau...."


"Itu rencana kami untuk memancingmu keluar. Suamimu menanam chip dalam tubuhmu. Karena itu kami menggunakanmu sebagai umpan untuk mencari keberadaan Alexella dan para pembunuh itu. I am so sorry, Sab. Ini semua salah suamimu. Dia yang punya ide ini." Potong Deena.


Setelah mendengar itu, Sabrina langsung melihat ke arah suaminya yang tengah sibuk memasak sesuatu di dapur kecil yang entah siapa yang membuatnya.


Sialan! Jadi dia menempatkan aku dalam posisi bahaya? Lalu aku begitu berharap dia datang menyelamatkanku, sementara dia sudah tahu posisiku. Suami macam apa dia? Awas saja kau, Al.


Sabrina kembali menatap sahabatnya. Kali ini tatapan itu menajam, seolah Deena adalah musuhnya. "Kenapa kau melakukan ini, De? Siapa kau sebenarnya?"

__ADS_1


"Kau akan tahu nanti, ini bukan saatnya untuk bercerita. Obati dulu wajahmu, ayok." Ajak Deena membawa Sabrina masuk ke dalam tenda. Wanita itu langsung mengobati wajah lembam Sabrina dengan penuh perasaan.


"Sejak kapan kalian di sini?"


"Pagi tadi, awalnya kami akan langsung menyerang tempat itu. Tapi kami melihat pergerakkanmu yang menjauh dari tempat itu. Kami pikir mereka mulai bergerak lagi dan semua rencana kami kacau. Beruntung kami mendengar suara tembakan, itu menandakan kalian berhasil lari. Kau mengacaukan semua rencana kami, Sab."


"Hey, kau menyalahkanku? Kalian menempatkan aku dalam bahaya. Sialan kalian." Kesal Sabrina yang disambut tawa oleh Deena.


"Buktinya kau hanya terluka sedikit," sahut Deena dengan entengnya.


"Tapi tidak untuk Alexella, lelaki itu terus melecehkannya."


"Apa?" Pekik Arez yang baru saja masuk ke dalam tenda dengan sebuah mangkuk cream soup dan gelas berisi susu hangat. Kehadirannya tentu saja berhasil menarik perhatian kedua wanita itu. Arez memberikan mangkuk dan gelas itu pada istrinya. Sabrina menerima itu dengan senang hati karena ia sangat lapar dan haus.


"Karena itu aku memintamu untuk menolong Xella, Al. Aku melihat itu dengan mata kepalaku sendiri. Lelaki itu begitu kejam."


"Bagaimana bisa ini terjadi? Apa sebelumnya Pamanmu itu memiliki riwayat penyakit kelamin?" Tanya Deena menatap Arez.


"Nope, dia menyukai Xella sejak lama. Xella yang mengatakan itu padaku." Sanggah Sabrina menatap Arez dan Deena bergantian.


"Sial! Jadi ini tujuannya menculik adikku." Arez mengusap wajahnya dengan kasar.


"Xella terlihat depresi, Al. Aku tidak tahu bayi dalam kandungannya selamat atau tidak. Aku melihat ada darah di celananya. Tapi aku tak mengatakan itu padanya." Jelas Sabrina.


"Aku harap Jarvis segera membawa adikku keluar dari hutan ini." Ujar Arez terlihat frustasi.


"Jarvis?"


"Ya, Jarvis, Winter, Alexa, Arel dan beberapa anak buah kami sedang mengepung tempat itu."


Mulut Sabrina sedikit terbuka saat mendengar itu. "Siapa kalian sebenarnya?" Sabrina menatap Deena dan Arez penuh intimidasi.


"Red Moon." Jawab Deena tanpa ragu. Namun Sabrina semakin dibuat bingung.


"Tidak perlu menjelaskan apa pun padanya, sebaiknya kita berjaga-jaga, kemungkinan anak buah mereka masih berkeliaran di sini. Aku percaya mereka bisa menangani bedebah itu." Ujar Arez beranjak keluar dari dalam tenda. Benar-benar mengabaikan istrinya.


"Makanlah dulu, aku akan berjaga di luar. Ganti pakaianmu. Suamimu membawa satu set pakaian baru di dalam tas merah. Jangan terlalu banyak bertanya, suamimu akan marah. Ada saatnya kau mendengar semua penjelasan." Deena mengusap bahu Sabrina sebelum meninggalkan tenda.


Sabrina terdiam sambil menatap semangkuk cream soup dan segelas susu di tangannya. Semua yang terjadi benar-benar membuatnya bingung setengah mati.


Sedangkan di luar, Deena menghampiri Arez yang tengah berdiri menatap jauh ke dalam hutan.


"Aku harap kau tak lagi menempatkan Sabrina dalam bahaya seperti ini. Beruntung dia hanya terluka sedikit, bagaimana jika yang Alexella alami terjadi pada istrimu huh?"


"Aku akan mengirim lelaki itu ke dalam penangkaran dalam keadaan hidup-hidup." Geram Arez dengan rahang yang mengerat. "Beritahu mereka untuk menghabisi semuanya tanpa terkecuali. Nyawa dibayar dengan nyawa."


Deena terdiam sejenak. "Akan aku lakukan, sebaiknya kau temani istrimu. Aku yang akan berjaga.


Arez masih terdiam mematung untuk beberapa saat. Kemudian ia pun beranjak masuk ke dalam tenda. Deena yang melihat itu menggeleng pelan dan diiringi senyuman manis.

__ADS_1


Cinta. Aku tak pernah menyesal karena jatuh cinta padamu, Arez. Aku bahagia saat melihatmu bahagia. Aku harap kau tak mengecewakanku untuk membahagiakan Sabrina. Dia satu-satunya keluarga yang aku punya. Dan satu-satunya orang yang menjadi alasanku masuk ke dalam dunia pergulatan ini. Melindunginya adalah tujuan hidupku. Karena dia orang yang menyelamatkan nyawaku.


__ADS_2