
Satu bulan lebih Alex menjalankan masa pemulihan. Lambat laun, ia dapat bergerak dengan normal. Walaupun masih menggunakan bantuan kursi roda. Pemulihan yang Alex jalani memang cukup singkat. Alex memiliki semangat yang tinggi untuk segera sembuh. Meski ia masih sering merasakan nyeri yang luar biasa di bagian dadanya. Bisa disebabkan karena adanya urat yang rusak. Sehingga ia akan merasa sakit saat melakukan pergerakan.
"Selamat, Tuan. Hari ini Anda sudah bisa kembali ke mansion. Semua orang sedang menunggu Anda," ujar Joshua seraya mendorong kursi roda Alex untuk meninggalkan rumah sakit.
"Bagaimana kabar mereka?" tanya Alex.
"Mereka baik-baik saja, Kedua Tuan kecil dan Nona kecil semakin besar. Mereka mulai belajar bicara."
"Josh, aku ingin mempercepat keberangkatanku. Aku ingin segera menimang anak-anakku," ujar Alex tersenyum lebar. Rasa tak sabar untuk bertemu ketiga anaknya begitu bergelora.
"Harap bersabar, Tuan. Setidaknya tunggu hingga kaki Anda kembali normal."
"Kau benar, Josh. Bagaimana mungkin aku menemui mereka dalam keadaan seperti ini. Bagaimana jika istriku banyak bertanya? Aku tidak akan sanggup menanggapinya."
Joshua menaikkan sebelah alisnya. Mungkinkah itu terjadi? Yang aku tahu Nyonya sangat irit bicara. Entahlah, hanya Tuan yang tahu seperti apa Nyonya sebenarnya.
"Josh, bagaimana dengan suntikkan dana pada perusahaan mereka? Apa berjalan dengan baik?" tanya Alex lagi.
"Semua berjalan dengan lancar, Tuan. Tidak ada yang menyadari jika Tuan lah di balik ini semua."
Alex tersenyum mendengar jawaban Joshua. Ya, selama ini Alex lah yang berperan penting dalam kesuksesan perusahaan yang Sweet jalani. Namun wanita itu sama sekali tidak tahu jika Alex di balik semua ini.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan, Josh. Dia begitu keras kepala, tidak membiarkan aku membantunya. Dia istriku, sudah seharusnya aku bertanggung jawab atas segala kebutuhannya. Dan sekarang bertambah tanggung jawabku, tiga malaikatku harus hidup dengan baik."
Joshua tersenyum mendengarnya. Ia akan selalu mendukung apa pun keputusan Tuannya. Joshua membantu Alex masuk ke dalam mobil. Lalu menaruh kursi roda di bagian belakang.
"Maaf, Tuan. Ada informasi baru yang ingin saya sampaikan," ujar Joshua saat mobil mereka sudah beranjak dari rumah sakit.
"Apa itu?" tanya Alex seraya memandang foto istri dan ketiga anaknya.
"Untuk saat ini kita tidak dapat bertindak gegabah, keluarga Sasmitha melindungi Nyonya begitu ketat. Mungkin akan sulit untuk menemui mereka dalam waktu dekat." Jelas Joshua. Alex yang mendengar itu terdiam sesaat.
"Jangan pernah menyakiti mereka sedikit pun. Apa pun yang mereka lakukan, kita tidak bisa melawan. Keluarga mereka sudah hancur karena kita."
"Baik, Tuan. Lalu, bagaimana dengan Tuan Hanz?" tanya Joshua.
Alex memijat pelepisnya, kepalanya cukup pusing untuk mengingat semua masalah hidupnya. Ia juga tidak pernah menyangka jika Hanz ikut campur dalam masalah ini.
"Hanz? Biarkan saja. Selama dia tak mengganggu istriku, biarkan dia menjalani hidupnya."
Joshua tertegun. Alex benar-benar berubah sepenuhnya. Lelaki yang selalu bersikap kasar, bahkan tidak jarang ia menghabisi lawannya. Bukan hanya itu, Alex juga berani menyakiti anggota keluarganya sendiri. Dan akan terus menghabisi siapa pun yang mengusik kehidupannya.
Tetapi kini ia telah berubah menjadi sosok malaikat tanpa sayap. Semua itu ia lakukan hanya karena seorang wanita dingin seperti Sweet. Sungguh keajaiban yang luar biasa.
Sesampainya di Mansion. Alex di sambut hangat oleh Milan dan Mala. Putri kesayangannya itu menangis dan berhambur dalam pelukan Alex.
"Jangan melakukan hal bodoh lagi," ucap Mala dalam tangisannya. Alex yang mendengar itu tersenyum. Mengusap lembut punggung Mala.
"Sudah, biarkan ayahmu istirahat." Perintah Milan. Mala melerai pelukannya, menatap Alex begitu dalam.
__ADS_1
"Satu tahun rumah ini sepi, sekarang Mala senang. Ayah sudah kembali," ujar Mala.
"Sudah aku katakan, cari pasangan hidup. Sampai kapan kau akan menyendiri? Tidak selamanya aku bisa melindungimu," tegas Alex. Mala tersenyum mendengarnya, ia mengangguk sebagai jawaban. Setelah Itu, Alex beranjak menuju kamarnya. Tentu saja dengan bantuan Joshua.
***
Hari demi hari Alex habiskan untuk terapi, atau menghabiskan waktu di ruang bawah tanah. Seperti saat ini, Alex tampak sibuk dengan kuas dan kanvas.
Sedikit demi sedikit Alex mulai bisa berjalan kembali. Hal itu semakin menumbuhkan rasa tak sabar Alex. Untuk segera bertemu keluarga kecilnya.
"Josh, aku merindukan perusahaan. Aku akan berkunjung sebentar," ujar Alex seraya mencuci tangannya yang dipenuhi cat warna.
"Baik, Tuan." Sejak Alex kembali dari rumah sakit, Joshua memang tidak pernah meninggalkannya. Bahkan Joshua menetap di mansion untuk sementara.
Alex beranjak dari ruang bawah tanah menuju kamarnya. Segera bersiap untuk berangkat ke kantor. Untuk melihat seperti apa perkembangan perusahaan selama ia tidak ada.
"Pesankan aku tiket penerbangan ke Indonesia malam ini," perintah Alex pada Joshua.
Joshua terhenyak mendengarnya. "Tapi Tuan...."
"Lakukan saja apa yang aku perintahkan, Josh." Tegas Alex yang tidak mungkin mampu Joshua bantah.
"Baiklah," ucap Joshua mengalah. Lalu mereka pun bergegas pergi menuju perusahaan.
Tepat pukul sembilan malam, pesawat yang Alex tumpangi lepas landas. Tentu saja Alex pergi tanpa Joshua dan memutuskan untuk pergi sendiri. Awalnya Joshua menolak keinginan Alex. Namun, segala cara Alex lakukan agar keinginannya terpenuhi. Dengan memberikan beban perusahaan pada Joshua.
Namun, Alex melupakan jika Joshua begitu setia padanya. Tanpa sepengetahuannya, Joshua ikut berangkat bersamanya.
*Alex kembali bergerak menuju alamat yang ia peroleh dari Gerald. Alamat yang memungkinkan istri dan anak-anaknya berada di sana. Bahkan Alex tidak sepenuhnya yakin.
Sesampainya di rumah yang dituju. Alex disambut hangat oleh pemilik utama rumah itu*.
Joshua yang sejak tadi mengikuti Alex pun masih terus mengawasinya dari jarak jauh. Dan terus berusaha untuk lebih dekat.
"Di mana istri dan anak-anakku?" tanya Alex terus terang. Pemilik rumah itu tertawa kencang. Seakan meremehkan keberanian Alex yang datang sendirian.
"Apa kau yakin masih memiliki istri dan apa kau bilang tadi? Anak-anak?" Lelaki itu kembali tertawa. Lalu menggerakkan kursi rodanya, menghapus jarak antara dirinya dan Alex. Ya, lelaki itu adalah Bian.
"Kau sudah kehilangan mereka sejak lama," bisik Bian dengan senyuman devil.
Bugh! Alex terhenyak saat melihat seorang lelaki bertubuh besar memukul seseorang. Tentu saja Alex mengenal orang itu.
"Josh? Bagaimana bisa kau.... "
"Seorang mata-mata harus segera dimusnahkan." Potong Bian bergerak menghampiri Joshua yang sudah tersungkur di lantai.
Joshua terlalu sibuk memperhatikan Alex, dan melupakan jika saat ini ia berada di kandang musuh. Dan akhirnya ia tertangkap basah oleh anak buah Bian.
"Tuan, jangan pedulikan saya. Pergilah, jangan membiarkan mereka juga menyakitimu." Perintah Joshua seraya menahan rasa sakit. Lalu orang itu kembali menghajarnya.
__ADS_1
"Hantikan itu! Apa yang kau inginkan?" tanya Alex pada Bian.
Bian pun tersenyum mendengarnya. Lalu mengeluarkan selembar kertas dan sebuah pena. "Tanda tangan ini, aku akan melepaskanmu dan anak buahmu."
Alex menatap Bian tajam, dan menerima kertas itu. Lalu membacanya dengan seksama. Alex terkejut, ternyata surat itu adalah surat perceraian.
"Aku menolaknya," tegas Alex seraya merobek kertas itu. Bian yang melihat itu langsung emosi.
"Beri mereka pelajar, sampai dia mau menandatangani surat itu." Setelah mengatakan itu, Bian pun bergegas pergi.
Alex mendapatkan pukulan demi pukulan dari anak buah Bian. Lalu mereka membawanya ke sebuah ruangan yang minim penerangan.
"Tuan, berikan saja tanda tangan Anda. Kondisimu belum pulih, jangan membahayakan diri sendiri." Pinta Joshua saat melihat Alex yang babak belur.
"Tidak, Josh. Aku tidak akan melepaskan mereka sampai kapanpun. Jika aku harus mati, maka aku akan mati dengan ikhlas. Kecuali aku mendengar sendiri dari mulutnya, aku akan mengambulkan itu. Selama dia bahagia."
"Tuan." Joshua tidak mampu berkata-kata lagi. Dan ikuti menerima pukulan keras dari orang-orang bertubuh besar. Bahkan ia juga menyaksikan bagaimana Tuannya di siksa.
Alex masih tetap teguh dengan pendiriannya. Membiarkan mereka menghajarnya habis-habisan. Bahkan ia bisa mendengar suara retakkan tulang rusuknya. Kesadarannya mulai menipis, bahkan luka lamanya kembali terbuka dan mengeluarkan banyak darah.
"Tuan!" Teriak Joshua saat melihat Alex jatuh pingsan. Bahkan dirinya tidak sanggup lagi untuk bergerak. Hingga suara riuh pun terdengar di telinganya. Beberapa orang datang dan menghajar lelaki bertubuh besar itu.
"Kalian berdua memang bodoh!" umpat seseorang yang sangat ia kenal. Orang yang membantu mereka adalah Gerald. Lelaki itu membawa beberapa anggotanya. Setelah mendengar keberangkatan Alex, ia pun langsung melakukan penerbangan menggunakan pesawat pribadi.
"Selamatkan Tuan. Jangan pedulikan aku," ujar Joshua dengan suara lemah. Lalu ia pun mulai hilang kesadaran.
"Kak Bian, kenapa dia melakukan ini semua?" tanya Sweet penuh rasa bersalah.
"Dia hanya melindungimu," jawab Joshua.
Sweet terdiam cukup lama.
"Tuan harus menjalani operasi kedua. Salah satu tulang rusuknya patah. Setelah kejadian itu, kondisi Tuan sering drop. Bahkan proses penyembuhan jauh lebih lama dari sebelumnya. Tapi Tuan terus mencari keberadaan Nyonya. Dalam kondisi sakit sekalipun."
Sweet ingat, saat itu Bian mengajaknya pindah secara tiba-tiba. Dengan alasan perusahaan barunya di Surabaya. Sweet sama sekali tidak menyimpan rasa curiga. Sekarang ia tahu alasan Bian yang sebenarnya. Yaitu ingin menjauhkan dirinya dari Alex.
"Tuan selalu merindukan Anda, Nyonya. Bahkan Tuan tidak peduli jika Bian kembali menyakitinya saat menemui Anda beberapa hari yang lalu." Joshua terus melanjutkan.
"Apa dia tidak bisa melawan? Bagaimana dia bisa sebodoh itu?" Sweet merasa geram dengan sikap Alex yang seperti pengecut.
"Seperti yang saya katakan, Nyonya. Tuan sudah berubah," jawab Joshua.
Sweet mengusap wajahnya dengan kasar. Semuanya begitu menyakitkan untuk di dengar.
"Sekarang Nyonya sudah mendengar semuanya sampai akhir. Silakan Nyonya memutuskan sendiri, untuk tetap tinggal atau pergi dari kehidupan Tuan. Saya rasa Tuan akan menerima keputusan Nyonya." Joshua bangkit dari posisinya. Meninggalkan Sweet yang masih termenung. Tanpa mereka sadari, sejak tadi Arnold mendengarkan pembicaraan.
Lelaki itu bergerak menghampiri Sweet. "Tidak ada yang perlu di sesali. Baik kau atau pun Alex sama-sama bersalah. Dan yang paling bersalah di sini adalah aku. Aku yang menanamkan dendam pada Kakakmu. Aku harap ini adalah akhir dari kesalahpahaman kalian. Kembalilah padanya, aku tahu kau juga mencintai adikku."
Sweet menoleh, dan memberikan tatapan sendu. "Aku begitu egois, bahkan aku mengabaikan perasaan sendiri."
__ADS_1
"Saat ini buka waktunya untuk saling menyesali kesalahan masing-masing. Terus dukung agar adikku kembali sadar, aku tahu dia miliki keinginan untuk terus hidup."
Sweet mengangguk, menyetujui perkataan Arnold. Saat ini dirinya lah yang harus berjuang untuk Alex. Menemani masa sulit lelaki itu. Apa pun yang terjadi, Sweet tidak akan pernah meninggalkan Alex lagi.