Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 22


__ADS_3

Arez terus menatap Ansel, membuat sang empu merasa terintimidasi. Pemuda itu berdeham karena merasa canggung mendapat tatapan aneh dari Arez.


"Apa yang ingin Anda sampaikan, Tuan?" Tanya Ansel mulai jengah terus ditatap seperti itu.


Arez menghela napas panjang, kemudian mengalihkan perhatiannya ke tampat lain. "Ansel, apa kau tidak marah padaku?" Tanya Arez kembali memandang Ansel yang tampak bingung.


"Marah? Saya tidak punya alasan untuk marah pada Anda, Tuan."


"Ini masalah adikmu, aku menolaknya. Apa kau tidak marah padaku?" Tanya Arez lagi.


Kini Ansel sudah paham ke mana arah pembicaraan bosnya itu. Ia tersenyum tipis. "Saya sudah bekerja dengan Anda sejak usia lima belas tahun, Tuan. Saya rasa Tuan tahu saya sangat menghargai keputusan Anda. Saya juga tidak pernah mengambil pasal tentang kehidupan pribadi Clara. Karena saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan Anda."


"Tapi dia tetap adikmu, Ansel. Kau pasti punya rasa kecewa padaku karena aku menyakiti adikmu."


"Tidak, Tuan. Karena sejak awal Anda sudah mengatakan penolakan. Tapi Clara yang memaksakan kehendak. Seharusnya dia sudah tahu resikonya." Jawab Ansel jujur. Karena ia sama sekali tak merasa kecewa atau pun marah atas penolakan Arez terhadap adiknya. Karena ia tahu Clara sangat mirip dengan sang Daddy, keras kepala dan nekat.


"Ah, aku harap hubungan kita akan terus seperti ini. Aku tidak ingin hanya karena masalah pribadi hubungan kita juga merenggang. Aku tak bisa memaksa hatiku untuk memilih adikmu. Aku tahu siapa yang aku inginkan." Jelas Arez.


"Saya mengerti, Tuan."


"Ansel, apa aku harus pulang? Tapi aku tidak ingin berdebat dengan Ibuku."


Ansel terdiam sesaat. "Jika Anda merindukannya, sebaiknya Anda pulang."


"Kau pernah mengatakan cinta pada Ibumu?" Tanya Arez lagi.


Ansel merasa ada yang aneh dengan Tuannya itu. Tidak biasanya ia banyak bertanya seperti ini. "Saya sangat jarang bertemu dengannya, Tuan."


Arez terdiam cukup lama. "Sudahlah, aku harus pulang. Kau juga bisa bersantai lebih lama hari ini." Kata Arez seraya memijat pelepisnya. Kemudian bangun dari posisnya dan beranjak pergi.


Selang beberapa waktu, mobil mewah milik Arez sudah berdiri di depan gerbang kampus Sabrina. Lelaki itu sudah menghubunginya beberapa menit yang lalu dan memintanya untuk segera datang.


Dari kejauhan Sabrina terlihat berjalan santai dengan sebuah buku tebal dalam dekapannya. Gaun selutut yang ia kenakan terus melambai terkena terpaan angin. Memperlihatkan pahanya yang putih mulus. Dan hal itu tentu saja membuat Arez menggeram kesal. Lelaki itu keluar dari mobilnya dengan kesal, melangkah pasti mendekati Sabrina. Sedangkan sang empu merasa heran dengan kening yang mengerut saat melihat keanehan dari ekspresi wajah Arez. "Hey, kenapa kau... aaaa...."


Tanpa aba-aba Arez menggendong Sabrina seperti mengangkat karung beras. Sabrina yang kaget dan syok pun memukul punggung Arez dengan buku tebal itu. Namun Arez mengabaikannya dan membawanya ke mobil. Melempar tubuh ramping itu di kursi penumpang. Lalu menutup pintu dengan kasar.


"Awh...." Ringis Sabrina menyentuh bokongnya. "Brengsek! Apa yang kau inginkan sebenarnya huh?" Sabrina memberikan tatapan membunuh pada Arez yang baru masuk ke dalam mobil. Dan lagi-lagi Arez hanya menanggapinya dengan wajah datar. Melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


"Hey, kau ini kenapa huh? Tiba-tiba menghubungiku dan memintaku datang padamu. Kau tahu? Aku masih banyak kegiatan." Kesal Sabrina meletakkan buku tebalnya di atas dasboard. Melipat kedua tangannya di dada.


"Jangan katakan kita akan menikah hari ini?" Sabrina memiringkan tubuhnya dan menatap Arez penuh curiga.


"Jadi kau berharap aku menikahimu sekarang huh?" Arez malah balik bertanya.


"Tidak sama sekali."


"Temani aku makan siang."


"What?" Kaget Sabrina nyaris tak percaya dengah apa yang dikatakan Arez.


"Setelah itu kita bicarakan soal pernikahan itu, lusa kita menikah. Kau ingin pernikahan seperti apa huh?"


Mulut Sabrina terbuka mendengar itu. "Lu__lusa?"


"Hm. Aku tahu apa yang saat ini ada dalam kepalamu, Sayang. Kau ingin membatalkan pernikahan karena menemukan target baru huh? Mr. A, kau ingin menikah dengannya bukan?"


"Hah? Bagaimana kau tahu?"


"Jadi benar kau ingin menikah dengannya?" Arez mengeratkan rahangnya. Terdengar aneh memang jika dirinya cemburu pada diri sendiri. Namun sepertinya itu benar adanya. Arez merasa kesal saat mendengar Sabrina terus memuji lelaki misterius yang ia buat sendiri. Arez memasang sebuah penyadap di kediaman Sabrina. Karena itu Arez bisa mendengar apa pun yang gadis itu katakan. Termasuk memgumpatinya setiap hari.

__ADS_1


"Wait! Apa kau memasang penyadap di rumahku?" Sabrina langsung memberikan tatapan curiga.


"Tidak."


"Kau bohong, kau mamasang penyadap di rumahku karena itu kau tahu apa yang aku bicarakan? Hey, apa hakmu melakukan itu semua huh?" Kesal Sabrina tidak habis pikir dengan kelakuan Arez.


"Karena kau istriku."


"Kita belum menikah."


"Dan akan menikah."


Sabrina berdecak kesal. "Jika sikapmu seperti ini, lebih baik aku menikah dengan Mr. A. Aku rasa dia lebih baik darimu."


Arez langsung menepikan mobilnya. Lalu menarik tengkuk Sabrina, membuka topeng itu dengan kasar. Tentu saja si empu kaget dan syok. Dengan kasar pula Arez mencecap bibir gadis itu, menggigit ujung bibirnya.


"Akh." Sabrina menjerit kecil karena perih di bibirnya. Arez melepaskan pagutannya, mengunci netra abu gadis itu. "Aku tak akan membiarkan kau mengingat lelaki lain saat bersamaku, Sabrina."


"Sialan! Lepaskan aku. Apa hakmu mengatur hidupku?"


"Kita lihat apakah kau masih bisa bertanya setelah ini." Arez melanjutkan mobilnya kembali dengan memasang wajah datar.


Aarrggh! Kenapa aku harus terjeban dengan lelaki brengsek ini sih? Dan sikap apa tadi? Apa dia cemburu? Cih, mustahil.


Ada apa denganku? Kenapa aku begitu kesal saat gadis ini membicarakan lelaki lain? Sepertinya aku mulai gila.


Arez memukul setir dengan kasar. Dan itu tak lepas dari pengawasan Sabrina. Gadis itu menghela napas gusar, kemudian meraih topengnya yang terjatuh dan memasangnya kembali.


"Hey, kau bilang ingin makan siang. Kenapa kita ke sini?" Tanya Sabrina saat Arez memarkirkan mobilnya di depan KUA.


"Jangan banyak bicara, turun sekarang." Titah Arez penuh penekanan.


"Buat apa kita ke sini? Ini bukan tujuan kita." Bisik Sabrina merasa waswas. Arez sama sekali tak menghiraukan gadis itu.


"Hey, aku bukan muslim. Jika ingin menikah bukan di sini tempatnya."


"Tapi aku muslim."


"What?" Teriakan Sabrina pun tertahan karena di sana terlalu banyak orang. Gadis itu sama sekali tak tahu jika lelaki disampingnya itu seorang muslim.


"Kau ingin memintaku pindah agama? Bermimpi saja."


"Apa aku pernah memintanya? Aku menghargai kepercayaan orang lain."


"Tapi kau tak menghargai aku, kau menciumku terus menerus."


"Tapi kau menyukainya, bahkan membalas semua perlakuanku." Balas Arez.


"Sialan." Umpat Sabrina yang kalah telak.


"Aku ingin menikah sesuai adat agamaku." Pinta Sabrina dengan nada tegas. Tentu saja hal itu menahan langkah keduanya.


"Begitupun denganku. Setelah ini kita akan ke gereja. Bukankah kau memimpikan pernikahan sederhana?"


Sabrina terdiam. "Ya, tapi aku ingin Daddy hadir. Bukan seperti ini caranya."


"Daddymu tidak akan hadir sampai kapan pun."


Sabrina menoleh karena kaget. "Kau__ kau tahu siapa Daddyku?" Tanyanya gugup. Karena tak ada satu pun orang yang tahu siapa Ayahnya kecuali Deena. Sejak lama keluarga Roberto menyembunyikan identitas Sabrina karena ia dianggap anak haram dan nyaris tak dimasukkan dalam kartu keluarga. Hanya saja Ayahnya masih memiliki hati dan menyelipkan namanya di kartu keluarga Roberto.

__ADS_1


Air mata Sabrina menetes. Ia sadar dirinya sama sekali tak diinginkan oleh keluarganya sendiri. "Kau benar, Daddy tidak mungkin datang."


Arez tak lagi menanggapinya, menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Lalu membawanya ke sebuah ruangan.


****


Kini keduanya sudah dinyatakan sah menjadi sepasang suami istri. Hubungan mereka sudah diakui oleh agama maupun negara. Hanya saja pernikahan itu terbilang rahasia, karena hanya dihadiri oleh Ansel dan Deena.


Sabrina menatap lelaki yang kini berdiri dihadapanya saat sang pendeta mempersilakan keduanya untuk mencium pasangan. Lelaki itu kini sudah berubah status mejadi suaminya. Arez membuka kerudung yang menutupi wajah istrinya perlahan. Lalu menarik tengkuk Sabrina dan menempelkan bibirnya dengan lembut di bibir sang istri. Sabrina memejamkan mata bersamaan dengan air mata yang meluncur di pipinya. Arez merengkuh pinggang ramping sang istri agar tak ada lagi jarak di antara mereka, lalu memperdalam ciumannya. Sabrina sama sekali tak menolak, justru terbuai dengan kelembutan yang Arez berikan.


Arez menyudahi ciumannya dan beralih mengecup kening Sabrina. Membuat sang empu kembali memejamkan matanya.


"Silakan pasangkan cincin di jari pasangan kalian." Titah sang pendeta dengan senyuman lebar.


Ansel memberikan sebuah kotak beludur pada Arez.


"Kapan kau membelinya?" Tanya Sabrina penasaran. Namun lelaki itu hanya menatapnya sekilas, kemudian menyematkan cincin bermata berlian itu dijari manisnya. Dan begitu pun sebaliknya.


"Selamat, kalian resmi dinyatakan sebagai suami istri. Semoga Tuhan selalu memberkati kebahagiaan dalam rumah tangga kalian. Amen."


Setekah prosesi itu selesai. Arez langsung membawa istrinya ke sebuah hotel mewah.


"Ke__kenapa kita ke sini?" Tanya Sabrina gugup. Ia sudah cukup dewasa dan memahami apa saja yang akan dilakukan sepasang suami istri jika sudah berada di dalam kamar hotel. Apa lagi di malam pengantin mereka. Sabrina menelan air ludahnya dengan susah payah.


"Masuk." Titah Arez dengan nada dingin. Membuat bulu kuduk Sabrina meremang. Dengan gemetar Sabrina mengikuti langkah suaminya memasuki kamar itu. Netranya melebar saat melihat kondisi kamar yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Layaknya kamar pengantin.


Arez melepaskan jas dan kemejanya tanpa ragu. Membuat Sabrina sedikit mundur ke belakang. Menelan air ludahnya yang terasa kelu.


"Aku akan mandi sebentar, makanan akan segera datang. Aku tahu kau belum makan sejak siang tadi." Ujar Arez yang langsung beranjak menuju kamar mandi.


"Em, Al."


Langkah kaki Arez tertahan saat mendengar panggilan sang istri untuknya. Ia pun berbalik, menatap Sabrina penuh tanya. 



"Maaf jika panggilanku untukmu salah, namamu Alfarez kan? Jadi aku memanggilmu Al, apa aku salah?" Sabrina terlihat gugup dan sedikit takut karena mendapatkan tatapan aneh dari suaminya.


"Tidak, terserah kau saja." Jawab Arez yang kemudian menghilang dibalik pintu kamar mandi. Sabrina menghela napas lega. Ia pun memilih duduk di tepi ranjang sembari menunggu Arez selesai mandi. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar mewah itu.


Lima belas menit kemudian, Arez keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya. "Kau ingin mandi?" Tanyanya pada Sabrina yang tengah berdiri menghadap dinding kaca yang langsung menampakkan pemandangan kota.


"Sebentar lagi." Sahut gadis itu tanpa berniat untuk melihat lawan bicaranya. Arez yang merasa diabaikan pun langsung mendekatinya. Mendekap gadis itu dari belakang. Sontak Sabrina pun terlonjak kaget.


"Al, apa yang kau lakukan?" Sabrina berusaha melepaskan dekapan lelaki itu.


"Memeluk istriku, apa aku salah?" Arez menyibak kerudung yang menghalangi punggung mulus istrinya. Lalu memberikan kecupan-kecupan lembut di sana. Tubuh Sabrina membeku seketika.


"Al, ki__kita sudah sepakat kan pernikahan ini hanya sementara? Ja__jadi kita tidak harus melakukan itu kan?" Gugup Sabrina.


"Apa kita pernah menyepakati sesuatu?"


Sabrina terdiam. Memang benar mereka tak pernah membuat kesepakatan apa pun. "Tapi aku be__belum siap, Al. A__aku belum mengenalmu."


"Kau bisa mengenalku mulai sekarang." Lagi-lagi Arez menjawabnya tanpa beban.


Sabrina memejamkan mata dan menarik napas panjang. "Aku ingin mandi."


"Aku tidak melarangmu, Sayang." Bisik Arez tersenyum tipis.


"Hm. Kalau begitu aku mandi dulu." Gadis itu pun langsung melangkah pasti menuju kamar mandi. Dan itu berhasil menggelitik hati Arez.

__ADS_1


"Akan aku tunggu." Ucapnya dengan senyuman penuh arti.


__ADS_2