
"Dustin, maafkan aku." Ucap Violet menatap Dustin yang tengah mengobati tangannya.
Dustin menghela napas, lalu menatapnya lekat. "Kenapa kau pulang sendirian? Kau lupa kondisimu saat ini? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu di perjalanan, huh? Kau memang bodoh dan ceroboh."
Bibir Violet terus bergerak karena tidak tahu harus mengatakan apa. Ia masih gengsi untuk mengatakan jika dirinya tak ingin Dustin dimiliki wanita lain.
Lagi-lagi Dustin menghela napas, kemudian lanjut mengobati tangan Violet yang sudah membiru. Sedangkan Violet terus memperhatikan wajah Dustin yang lembam karena ulahnya itu.
Violet mengulurkan tangan sebelahnya untuk menyentuh pipi Dustin yang memerah karena bekas tamparan tangannya. "Pasti sakit."
Dustin meliriknya sekilas. "Lebih sakit ketika melihatmu bercumbu dengan laki-laki lain, Vi. Padahal saat ini kau sedang mengandung anakku."
Mendengar itu Violet pun kaget. Ia kembali mengingat ciumannya dengan Paul pekan lalu. "Ba_bagaimana kau tahu soal itu?"
Dustin kembali meliriknya, tetapi tak memberi jawaban.
"Kau memasang cctv di apartemenku?" Kaget Violet lagi.
"Hm." Sahut Dustin seraya menutup kotak p3k. Namun dengan cepat Violet merebutnya.
"Biar aku obati wajahmu." Pintanya. Tanpa bicara Dustin duduk di sebelahnya. Lalu menatapnya penuh arti.
Dengan gugup Violet mulai membersihkan darah di hidung Dustin yang mulai mengering. Sedangkan Dustin terus menatapnya, membuat Violet semakin gugup.
"Jangan menatapku seperti itu." Pintanya dan berusaha fokus mengobati luka di wajah Dustin. Mengabaikan tatapan lelaki itu.
"Kenapa kau datang padaku?" Tanya Dustin yang berhasil menahan pergerakan Violet. Lalu pandangan keduanya pun saling bertemu.
"Karena aku tak bisa membiarkanmu menikahi wanita lain, Dustin. Kau harus bertanggung jawab padaku, aku sedang hamil anakmu." Jawab Violet gugup, lalu memutus pandangan dan kembali mengobati hidung dan pipi Dustin yang mulai membengkak.
Dustin terdiam sejenak dengan tatapan tak lepas dari Violet. "Lalu bagaimana dengan Paul? Bukankah kau mencintainya? Bahkan kau menciumnya begitu mesra, cih." Ketusnya.
Violet menatap Dustin lagi. "Jadi karena itu kan lari dariku?"
Dustin tidak menjawab. Dan itu membuat kesal Violet. "Kau sangat brengsek, Dustin. Aku menunggumu sepanjang waktu, bahkan sampai tak bisa tidur. Dan kau malah pulang dan tidur nyenyak di sini. Dimana hatimu?"
Dustin mendengus sebal. "Aku pikir kau tak membutuhkanku lagi. Sikapmu padaku membuatku bingung. Sedangkan kau mencium pria lain tanpa merasa bersalah sama sekali."
__ADS_1
Mendengar itu Violet pun mendelik. Lalu menekan hidung Dustin sampai lelaki itu mendesis kesakitan. "Kau marah hanya karena aku mencium Paul? Lalu bagaimana dengan dirimu yang meniduri wanita lain sampai hamil, hah?"
"Sheena kekasihku saat itu." Sahut Dustin dengan raut kesal.
"Paul juga kekasihku." Balas Violet tak mau kalah.
Lalu keduanya pun kembali diam.
Sampai Violet pun kembali memulai pembicaraan karena tak ingin membuat suasana semakin canggung. "Saat itu aku sangat ingin menciumnya, aku juga tidak tahu kenapa aku begitu menggebu-gebu ingin mencecap bibir manisnya. Rasanya aku akan gila jika tak mendapatkan itu. Tapi kami tak benar-benar ciuman, karena aku mendadak mual. Bahkan aku terpaksa mengusir Paul karena aromanya cukup menggangguku. Setelah itu juga aku tak pernah bertemu dengannya lagi."
Mendengar penjelasan itu kedua alis Dustin pun saling terpaut. "Kau ngidam?"
Violet menatap Dustin. "Aku tidak tahu." Jawabnya jujur.
"Kenapa ngidammu sangat aneh, Vi. Kau bisa menciumku, kenapa harus Paul?" Kesal Dustin merasa cemburu. Bagaimana tidak, Violet selalu mengusir dan mengumpatinya setiap kali datang. Sedangkan Paul disambut dengan begitu mesra. Bahkan sampai ciumana segala. Menyebalkan!
Melihat kecemburuan Dustin, Violet pun tersenyum. "Bagaimana aku bisa menciummu, Dustin? Melihat wajahmu saja emosiku langsung meluap, jika bisa aku ingin menghajarmu seperti tadi. Dan membuat wajahmu babak belur seperti sekarang ini."
Dustin menatapnya tak percaya. "Hal bodoh apa itu? Sama sekali tidak masuk akal."
"Itu karena aku mengalami baby blues, Dustin. Dokter mengatakan kemungkinan hal itu terjadi karena hubungan kita sebelumnya kurang baik, juga karena aku terlalu stress. Jadi emosiku mudah berubah." Jelas Violet lagi.
Violet menggeleng pelan. Lalu dengan penuh keberanian duduk dipangkuan lelaki itu. Mengusap wajah tampannya dengan lembut. "Maaf untuk semuanya, Dustin. Paul menyadarkanku akan satu hal. Jika semua yang aku lakukan padamu itu salah. Tidak seharusnya aku marah dan melimpahkan semua kesalahan padamu. Sudah seharusnya aku berterima kasih pada Lucas dan Paul karena berusaha menyatukan kita. Sekarang aku tidak menyesali apa pun. Karena dengan yang terjadi saat ini, aku bisa bersammu. Ini yang aku inginkan, Dustin. Kau hanya milikku."
Violet mencium bibir Dustin dengan lembut. "Tolong maafkan aku."
Dustin meraih tengkuk Violet, lalu mecium bibirnya dengan rakus. Violet membalas ciuman itu tak kalah ganas. Bahkan kini kedua tangannya sudah melingkar di leher Dustin. Dan cukup lama mereka saling bertukar saliva.
Napas keduanya terengah setelah mengakhiri ciuman. Lalu saling mengunci pandangan satu sama lain dan melempar senyuman bahagia. Dustin mengecup bibir Violet sekilas, kemudian menyatukan dahi mereka sambil mengecupi bibir seksi Violet lagi dan lagi.
"Ayo menikah, Dustin." Ajak Violet dengan sorot mata penuh harap.
"Aku tidak bisa menikahimu." Jawab Dustin yang berhasil membuat Violet kaget. "Kenapa?"
"Karena belum memastikan hatimu, masih untukku atau sudah digantikan orang lain." Jawab Dustin yang berhasil mengundang senyuman di bibir Violet yang sudah membengkak.
"Tentu saja aku masih sangat mencintaimu, Dustin. Dan akan selalu mencintaimu." Jawab Violet dengan jujur.
__ADS_1
Dustin tersenyum puas. "Baiklah, secepatnya kita akan menikah. Tapi biarkan Gabriel menikah lebih dulu. Setelah itu baru kita menyusul."
Violet mengangguk setuju, tetapi ia mendadak ingat kedua orang tuanya. "Bagaimana dengan Daddy dan Mommyku?"
Dustin tersenyum. "Daddymu akan memberi kita restu jika berhasil membawamu pulang. Karena itu aku terus membujukmu untuk pulang, agar bisa menikahimu secepatnya. Tapi kau terus membenciku."
Violet mengusap pipi Dustin begitu lembut. "Ayo pulang besok, aku merindukan mereka."
Dustin menggeleng. "Aku tidak ingin mengambil resiko, sayang. Kau baru saja melakukan perjalanan yang cukup panjang. Tunggu sampai kondisimu siap. Kita akan pulang sehari sebelum pernikahan Gabriel."
Violet mengangguk patuh, kemudian memeluk Dustin penuh kehangatan. "Aku juga sangat merindukanmu, Dustin."
Dustin memeluk pinggang ramping gadisnya itu dengan erat, lalu mengecup leher Violet dengan intens. Violet pun melakukan hal yang sama, menmberi kecupan leher Dustin tak kalah intens. Hal itu terus berlanjut menjadi pergulatan yang cukup panas. Keduanya benar-benar dikuasi oleh kabut gairah untuk melepaskan rasa rindu yang sudah lama terpendam. Dan kerinduan itu membuat keduanya tenggelam dalam kenikmatan dunia.
Pagi harinya, Violet terbangun lebih dulu. Matanya mengerjap beberapa kali, lalu tersadar jika dirinya masih berada dalam pelukan Dustin. Bibirnya juga perlahan melengkung saat kembali nengingat pergulatan panas mereka malam tadi. Mereka benar-benar melepaskan rasa rindu yang sudah menggebu.
Tangan Violet terangkat ke udara, lalu mendarat di pipi Dustin. "Bagaimana bisa kau masih tampan meski babak belur seperti ini?"
Dustin yang merasa tidurnya diganggu pun perlahan bangun. Namun tak berniat membuka matanya, bahkan menarik Violet agar semakin rapat dengannya. "Tidurlah lagi, ini masih pagi." Gumannya.
"Pagi apanya? Kau tidak lihat matahari sudah mengintip kita?" Kesal Violet. Namun dia pun tak berniat beranjak dari tempat tidur karena terlalu nyaman untuk ditinggalkan.
"Hm. Biarkan saja." Sahut Dustin memeluk Violet dengah mesra.
"Aku lapar, Dustin." Rengek Violet. Kali ini ia tak bohong, ia benar-benar lapar.
Akhirnya Dustin pun membuka mata, ditatapnya Violet lekat. "Kau lapar?"
Violet mengangguk. "Aku ingin makan sup ayam pakai roti kering. Pasti sangat enak."
Dustin tersenyum geli mendengar keinginan kekasih hatinya itu. "Seleramu sangat aneh, sayang."
"Dustin, aku benar-benar ingin. Sekarang." Rengek Violet begitu manja.
"Baiklah, aku akan meminta koki untuk memasaknya untukmu. Tunggu sebentar." Dustin merubah posisinya jadi duduk bersandar. Lalu mengambil ponselnya dan langsung menghubungi orang dapur.
"Buatkan sup ayam super lezat dan roti kering sekarang. Lalu antar ke kamarku. Usahakan cepat. Istriku sedang ngidam, jadi jangan membuatnya hilang selera." Pinta Dustin pada seseorang yang ada di balik telepon dan langsung memutuskan panggilan setelahya.
__ADS_1
Mendengar itu Violet pun tersenyum senang. Lalu memeluk pinggang Dustin. "Terima kasih." Ucapnya dengan tulus.
"Sama-sama, sayang. Ayo kita mandi, jangan sampai maid melihat kondisi kita saat ini." Ajak Dustin yang langsung membopong Violet ke kamar mandi. Dan keduanya pun mandi bersama dengan perasaan bahagia.