
Alexa terus memperhatikan Elena yang tengah mengajak ketiga putranya bicara. Wanita itu terlihat tulus menyayangi anak-anaknya. Sampai terbesit dalam benak Alexa untuk menyatukan Elena dengan Winter. Meski itu sangat menyakitkan. Membayangkan Winter bersama wanita lain membuat hatinya berdenyut sakit. Namun ia tak punya pilihan. Ketiga anaknya membutuhkan sosok Ibu jika dirinya benar-benar pergi. Alexa berharap ia mampu bertahan dalam waktu yang lama, tetapi rasanya itu tak mungkin. Dokter mengatakan usianya tak lebih dari satu bulan. Akan tetapi tak ada yang tahu dengan keajaiban Tuhan.
"Lexa, aku rasa Mike akan sangat mirip denganmu. Lucas dan Dustin lebih condong pada Winter. Mereka sangat tampan dan menggemaskan." Ujar Elena terlihat semangat. Sesekali ia tertawa saat triple twins tersenyum lebar. Saat ini memang hanya ada Elena dan Alexa di kamar bersama tiga bayi mungilnya.
"Ele, apa aku boleh bertanya padamu?"
Elena pun menatap ke arah Alexa. "Ya."
Alexa tampak ragu dan gugup. "Apa kau pernah menyukai Winter?"
Elena terhenyak mendengar pertanyaan aneh Alexa. "Kenapa kau bertanya hal itu? Apa Winter mengatakan hal aneh tentangku padamu?"
"Tidak, aku hanya bertanya padamu. Aku rasa kalian sering bersama dan pasti tumbuh perasaan aneh. Mungkin kau mencintai suamiku."
Elena terdiam sejenak. Kemudian tersenyum lebar. "Jika boleh jujur, Winter memang tipe lelaki yang aku impikan. Dia tampan, sukses, penyanyang dan bertanggung jawab. Aku menginginkan sosok suami sepertinya. Tapi bukan berarti aku menginginkan Winter menjadi pasangan hidupku. Anggap saja tipe lelaki yang aku sukai itu kurang lebih seperti suamimu. Dia itu tipe lelaki setia kau tahu?"
"Kau sudah punya kekasih?"
"Tidak, aku sedang fakum dalam hal percintaan. Aku masih trauma."
"Trauma?" Tanya Alexa bingung.
"Ya, aku hampir di jual oleh mantan kekasihku. Beruntung Daddy menyelamatkanku saat itu, jika tidak mungkin saat ini aku tinggal nama. Sejak itu aku tidak ingin menjalin hubungan dengan lelaki mana pun."
"Sorry, aku tidak tahu kisahmu."
"It's okay. Aku senang bisa bertukar cerita padamu. Sekarang giliranmu, bagaimana bisa kau bertemu dengan Winter? Aku pikir lelaki itu tak akan menikah. Asal kau tahu, dulu Winter pernah menyukai seorang wanita di kampusnya. Hanya saja wanita itu menolaknya karena saat itu Winter menyembunyikan statusnya sebagai pewaris tunggal Winston Crop. Dia ditolak mentah-mentah di depan banyak orang. Dan saat itu aku ada di sana. Sejak saat itu juga Winter menutup hatinya pada setiap wanita. Aku sempat kaget saat mendengarnya memiliki kekasih. Bahkan sampai menikah."
Alexa tersenyum simpul. "Kisah pertemuan kami sangat panjang dan banyak dramanya. Semuanya terjadi karena kesalahanku, karena sangat kesal pada kembaranku. Aku bertemu Winter dan memarahi lelaki itu, memakinya habis-habisan. Aku sangat malu saat mengingat hal itu. Tapi tak disangka, di pertemuan selanjutnya dia malah tertarik padaku dan langsung mengutarakan isi hatinya. Jujur, aku tertarik saat pertama kali melihatnya. Dia sangat tampan dan seksi. Aku pun menerimanya tanpa banyak berpikir."
Elena terlihat serius mendengarkan cerita Alexa. Sepertinya ia sangat penasraan dan mulai tertarik dengan kisah cinta sang Kakak.
"Awal percintaan kami itu sangat datar dan terkesan biasa saja, tidak ada yang spesial. Dia sangat kaku dan aku selalu mengomelinya karena tak suka dengan sikap kakunya itu. Bahkan aku yang mengajarinya berciuman, meski dia adalah lelaki yang aku cium pertama kali."
Elena tertawa renyah mendengar itu. Ia senang bisa mendengar kisah percintaan sepupunya yang ternyata sangat unik.
__ADS_1
"Lambat laun dia mulai menunjukkan sikap manisnya. Aku semakin terbuai dengan cintanya yang tulus. Kami menjalin hubungan selama dua tahun lebih. Kemudian memutuskan untuk menikah. Dan sekarang buah hati kami sudah hadir di sini. Tidak ada yang spesial bukan?"
"Tapi cinta kalian berdua itu terkesan romantis. Aku harap kalian terus bersama sampai kakek nenek dan maut yang memisahkan."
"Aku harap begitu." Sahut Alexa tersenyum getir.
"Lexa, kau tahu? Winter tidak pernah sebahagia ini. Aku besar bersamanya, sekali pun tidak pernah aku lihat dia terus tersenyum sepanjang hari. Kau adalah belahan jiwanya, jaga dia untuk kami. Jangan biarkan kebahagiannya terputus. Winter lelaki setia yang aku kenal, sulit mencari lelaki sepertinya. Jika dia sudah mencintai seseorang, maka dia akan memberikan segalanya untuk orang itu. Dan orang itu dirimu, Lexa."
Alexa mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Kau harus bisa melewati semuanya, Lexa. Kau harus sembuh dan yakin Tuhan akan memberikanmu kesempatan. Ya, kau pasti bisa melewati semuanya.
"Aku akan berusaha."
Elena tersenyum tulus. "Aku selalu mendoakan kebahagiaan kalian."
****
Winter menghampiri istrinya yang tengah menyiapkan pakaian kantor untuknya. Kemudian menarik Alexa dan mendekapnya dengan erat. Membuat Alexa bingung setengah mati.
"Apa yang kau lakukan, Lexa? Kenapa kau menyembunyikan hal besar ini dariku?"
Alexa tertegun. "Apa yang kau katakan?" Winter mendorong tubuh istrinya perlahan. Kemudian menunjukkan hasil rumah sakit yang sempat Alexa buang ke dalam tong sampah. Sontak Alexa pun kaget.
"Winter... aku...."
"Kau berencana meninggalkanku huh? Kau selalu mengoceh tak menentu. Kau jahat sekali, Lexa. Dasar bodoh, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kita akan mencari cara agar kau sembuh. Aku yakin kau bisa melewatinya. Kau tidak boleh meninggalkanku dengan anak-anak. Kau hanya milikku, Lexa." Winter memeluk istrinya kembali. Tangisan Alexa pun pecah seketika.
"Maafkan aku Winter, dokter bilang usiaku...."
"Dokter bukan Tuhan yang bisa menentukan usia seseorang. Asal kita mau usaha, Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. Meski hasilnya gagal, setidaknya kita sudah berusaha. Jangan bodoh, Lexa. Anak-anak dan aku masih membutuhkanmu. Sampai kapanpun aku selalu membutuhkanmu. Aku mencintaimu, Lexa."
"Aku mau sembuh, Winter. Aku mau sembuh."
"Ya, kita akan memulai pengobatanmu. Apa pun caranya akan aku lakukan agar kau kembali sehat seperti dulu. Ya Tuhan, kau kesakitan dan aku tidak tahu. Suami macam apa aku ini, Lexa?"
__ADS_1
Alexa menggeleng kuat. "Aku yang salah karena menyembunyikannya darimu. Maafkan aku, Winter. Aku takut kau akan kecewa jika tahu aku sakit."
"Kau memang bodoh, ingin sekali rasanya aku memukulmu."
Alexa tertawa dalam tangisannya. "Aku bukan anak kecil, Winter."
"Tapi sikapmu menunjukkan kau seperti anak kecil."
Alexa mengangguk kecil. "Bantu aku untuk mengatakan ini pada keluargaku, Winter. Aku tidak sanggup mengatakan semuanya pada mereka. Sejak kecil aku selalu menyulitkan semua orang. Dan sekarang aku kembali me...."
"Berhenti berpikiran bodoh, kau tidak pernah menyulitkan siapa pun. Tuhan hanya ingin menguji kesabaran kita. Bertahanlah untukku dan anak-anak, terutama untuk Mommymu. Apa kau tega membiarkannya kehilangan untuk yang kedua kali?" Sela Winter.
Alexa terkejut. Ia tak pernah memikirkan itu sebelumnya. Dekapannya pun semakin erat. "Aku mau sembuh, Winter. Aku tidak mau Mommy sedih lagi."
"Itu baru istriku. Sejak kapan kau menjadi wanita lemah huh? Aku yakin kau bisa melewati semuanya."
"Aku hanya memikirkan anak-anak, jika aku menjalani pengobatan. Aku akan sulit bertemu mereka dan...."
"Sudah aku katakan berhenti berpikiran konyol. Kau membuatku ingin marah, Lexa." Sela Winter lagi seraya mengecupi pucuk kepala istrinya.
"Winter, bagaimana jika aku menjadi jelek? Rambutku akan habis, kau mengatakan hal yang paling kau sukai dariku adalah rambutku."
"Aku menyukai semua yang ada dalam dirimu. Aku tidak peduli mau rambutmu habis, kulitmu keriput sekali pun. Asal kau bersamaku, Lexa."
"Aku mencintaimu, Winter."
"Kalau begitu bertahanlah. Kau harus percaya keajaiban Tuhan."
"Ya, aku percaya, Winter. Maafkan aku karena sempat putus asa. Aku terlalu pendek berpikir."
"Itulah gunanya keterbukaan, Lexa. Kita butuh saran orang lain. Terutama pasangan kita, jangan menjadi egois. Banyak yang harus kau pertimbangkan."
"Maafkan aku."
"Sudahlah." Winter melerai pelukannya. "Aku akan membuat janji dengan dokter terbaik di dunia. Kau akan sembuh, percayalah."
__ADS_1
Alexa mengangguk antusias. Kemudian memeluk suaminya lagi. Winter menghela napas lega. Mengusap dan mencium kepala istrinya betubi-tubi.