Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (84)


__ADS_3

Emilia menyuapi putranya sambil tersenyum bahagia karena Noah makan begitu lahap. Sudah dua hari Emilia keluar dari rumah sakit, dan sekarang mereka berada di apartemen mewah milik Marvel tentunya.


Tidak lama Violet pun datang membawa sekeranjang buah segar. Spontan sepasang ibu anak itu pun menoleh bersamaan.


"Hai, sedang makan ya?" Tanya Violet sembari menaruh buah-buahan tadi di atas meja. Menatap Noah yang dikelilingi banyak mainan.


Noah tersenyum sembari menunjukkan mainan barunya pada Violet. "Aku punya mainan baru."


Violet tersenyum gemas sembari mengacak rambut Noah. "Lain kali Aunty akan membelikanmu mainan baru, kau mau?"


Noah langsung mengangguk antusias. "Aku suka mainan baru." Katanya dengan suara khas anak kecil. Dan itu membuat Violet semakin gemas sendiri.


Emilia menyuapinya lagi, lalu menatap Violet. "Kau datang sendiri?"


Violet membalas tatapannya seraya mengangguk kecil. "Suamiku ada urusan mendadak."


Emilia mengangguk paham dan kembali menyuapi putranya yang masih sibuk main mainan barunya yang dibelikan Marvel setiap hari. Bahkan sekarang mainan anak itu sudah menggunung.


Emilia tidak pernah melarang Marvel untuk menemui atau bermain bersama putranya setiap hari, toh jika dilarang pun sudah pasti lelaki itu akan tetap datang karena ini apartemennya.


Violet melihat kesekeliling apartemen, lalu kembali menatap Emilia. "Aku masih tidak percaya kau dan Marvel sudah memiliki anak. Bukankah ini takdir yang luar biasa? Kau diam-diam menyukainya, lalu Tuhan diam-diam menitipkan benih Marvel dirahimmu, Em. Itu artinya Noah adalah perantara untuk kalian bersatu."


Emilia membalas tatapan Violet, lalu mendengus sebal. "Aku akui memang sampai sekarang masih menyukainya, tapi untuk hidup bersama rasanya tidak. Aku tidak mau terikat dengan lelaki otoriter sepertinya, Vi. Dia egois dan selalu ingin menang sendiri." Ungkapnya. Dia tidak tahu saja ucapan dan perkataannya itu didengar langsung oleh Marvel yang saat ini memantaunya dari jauh. Lelaki itu mendengus sebal saat mendengar Emilia mengatainya.


Violet terkekeh lucu mendengar ungkapan sahabatnya itu. "Benar juga, dia itu memang terlalu dingin sebagai lelaki yang sudah cukup dewasa. Entah wanita mana yang mau padanya? Kecuali kau, Em. Aku rasa kau bisa mencairkan es baloknya itu. Percayalah."


Lagi-lagi Emilia mendengus sebal. "Omong kosong."


Violet tertawa geli. "Berani taruhan? Suatu hari nanti kalian pasti akan saling jatuh cinta. Apa lagi Noah ada di antara kalian. Tidak menutup kemungkinan lelaki dingin itu jatuh cinta padamu, Em."


Semburat merah perlahan muncul dipipi Emilia. "Berhenti bicara, Vi. Kau sama saja dengannya, menyebalkan." Violet pun semakin tergelak karena merasa lucu.

__ADS_1


"Wajahmu tak bisa berbohong, Em. Pipimu terus merona setiap kali aku mengatakan soal Marvel. Sudahlah, akui saja kau masih sangat mencintainya. Cih, aku tidak tahu apa yang kau sukai darinya selain dia tampan." Ujar Violet memutar bola mataya jengah.


Emilia tertawa kecil. "Aku sendiri bingung." Keduanya pun tertawa bersamaan.


Saat mereka sedang asik bercengkrama, tiba-tiba saja ponsel Violet berdering.


"Sebentar." Violet mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dan ternyata Lea lah yang menghubunginya. Cepat-cepat ia menerimanya. "Halo, Lea. Ada apa?"


"Vio, kau di mana?" Tanya Lea terdengar panik. Tentu saja Violet ikut panik.


"Aku di apartemen Marvel, kenapa nada suaramu seperti itu? Apa terjadi sesuatu di mansion?" Violet memasang wajah cemasnya.


"Vio, datanglah kemari sekarang. Grandma ingin semuanya berkumpul."


Deg!


Jantung Violet serasa berhenti berdetak saya mendengar tentang grandmanya. Pikiran buruk pun langsung memenuhi kepalanya.


"Ada apa dengan grandma, Le?" Panik Violet.


"Ya ya, aku akan ke sana sekarang." Tanpa menunggu lagi Violet langsung menutup panggilan dan bangkit dari posisinya. Tentu saja Emilia menatapnya bingung.


"Em, aku harus pergi sekarang. See you." Pamitnya langsung berlari pergi. Meninggalkan Emilia yang kebingungan,


Sesampainya di mansion, Violet langsung berlari ke kamar utama. Benar saja, semua orang sudah hadir di sana kecuali Alexa, Winter dan Mike yang masih dalam perjalanan. Bahkan suaminya pun sudah ada di sana.


Violet menatap sang grandma yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan dada yang naik turun seperti orang sesak napas. Sedangkan matanya tertutup rapat. "Grandma?" Lirihnya seraya duduk di tepi ranjang di mana Lea dan Eveline juga duduk di sana dengan deraian air mata.


Semua orang tampak bungkam seolah tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


Rhea yang duduk sisi lain Sweet pun terus menggenggam tangan rentanya sambil melantunkan ayat suci Al- Quran. Begitu pun dengan Sky dan Zhea, meski air mata mereka terus menitik.

__ADS_1


Violet mengecup kening wanita terkasihnya itu dengan lembut, lalu berbisik ditelinganya. "Aku Violet, Grandma. Tolong maafkan semua kesalahanku selama ini, aku sudah membuatmu kecewa. Maafkan aku, Grandma."


Napas Sweet masih tercekat dengan dada naik turun tak beraturan. Violet yang melihat itu tanpa sadar menangis.


Lea memeluknya erat. "Kita ikhlaskan Grandma jika memang harus pergi, Vio."


Violet membalas pelukannya lalu mengangguk. Tangisanya pun seketika pecah, bagaimana pun ia merasa masih banyak dosa pada sang grandma.


Langit berbalut awan hitam, bahkan suara guntur terus bersahutan diiringi dengan rintik hujan yang perlahan turun ke bumi. Suara gemercik air seolah mengisyaratnya kesedihan bagi keluarga besar Digantara yang harus mengikhlaskan kepergian Sweet untuk selama-lamanya. Wanita itu mengembuskan napas terakhirnya setelah Alexa tiba. Sepertinya beliau memang menunggu kepulangan putrinya itu.


Setelah prosesi pemakaman selesai, semua orang pun satu per satu meninggalkan pemakaman karena hujan semakin deras. Dan kini hanya tersisa Rhea bersama Gabriel. Lelaki itu dengan setia memayungi istrinya yang masih menatap sedih pusaran terakhir sang grandma.


Gabriel merangkul pundak istrinya lembut. "Sudah cukup, kita harus pulang. Kau bisa sakit, Sayang."


Rhea pun cuma bisa mengangguk lemah, kemudian keduanya pun segera meninggalkan pemakaman keluarga itu dengan gontai.


Sweet dikebumikan tepat di sebelah pusaran terakhir suaminya, sesuai permintaannya.


Sepeninggalan mereka, Marvel pun mendatangi makan sang grandma dengan payung hitamnya. Lelaki itu berdiri di sana dengan tatapan kosong. Hatinya terasa perih karena belum sempat memberi tahu Omanya itu soal Noah. Tidak ada maksud untuknya menyembunyikan kebenaran itu dari keluarganya, hanya saja belum ada waktu yang pas untuk bicara. Dan tidak menyangka sang Oma pergi lebih dulu sebelum ia mengatakan semuanya.


"Maafkan aku, Oma. Semoga kau tenang di sana, sekarang kau sudah bahagia karena bisa bertemu dengan Grandpa di sana." Ucapnya tulus. Setelah itu ia pun beranjak dari sana.


Di mansion, semua orang berkumpul di ruang keluarga. Namun tak ada yang bicara sepatah kata pun. Mereka masih terpukul atas kepergian Sweet yang terbilang mendadak itu.


Evline sejak tadi terus menangis seraya memeluk foto mendiang grandmanya. Lucas hanya bisa memeluk dan mengusap punggungnya untuk menenangkan.


Namun, saat semuanya terdiam. Tiba-tiba saja Rhea merasa mual yang tak tertahankan.


Hoek!


Rhea menutup mulutnya dan langsung berlari meninggalkan mereka semua. Tentu saja Gabriel langsung mengejarnya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Alexella.


"Apa dia hamil?" Tanya Alexa menatap Sky. Mendengar itu Sky pun langsung bangkit dari duduknya dan segera menyusul menantu dan putranya.


__ADS_2