
Pagi hari, Alexella terlihat mondar mandir di depan pintu kamar orang tuanya. Ia gugup dan sedikit segan untuk menemui sang Mommy. Hingga ia dikejutkan dengan pintu yang terbuka secara tiba-tiba.
"Xella?" Alex menatap putrinya bingung. "Ingin menemui Mommymu huh?"
"Ya, Dad." Sahut Aexella.
"Masuklah, sepertinya Mommymu kurang sehat. Daddy sudah meminta dokter datang."
Alexella terkejut mendengar itu. Seketika rasa bersalahnya semakin membara. "I am sorry, Mom." Tanpa banyak berpikir lagi Alexella pun masuk ke kamar mewah itu.
Hati Alexella terenyuh saat melihat Sweet terbaring lemah di atas pembaringan. Wajahnya terlihat pucat. Alexella duduk di tepi ranjang. Mengusap kepala Sweet dengan lembut. Membuat sang empu membuka matanya.
"Xella." Suara Sweet terdengar begitu lemah. Dan itu membuat hati Alexella sangat sakit.
"Maafkan aku, Mom." Alexella menempelkan pipinya di kepala Sweet. Memeluk wanita berharganya dengan lembut. Bahkan buliran bening yang tertahan di pelupuk matanya mulai menitik.
"Aku membuat Mommy sampai seperti ini. Maafkan aku." Alexella mengecupi kening sang Mommy bertubi-tubi.
"Enggak, Sayang. Mommy cuma kurang tidur aja. Nanti juga sakit kepalanya menghilang. Mommy mau bersandar." Dengan sigap Alexella membantu Sweet bersandar di kepala ranjang. Sweet mengusap wajah sembab putrinya.
"Apa Mommy membuat kamu menangis sepanjang malam, Xella?" Tanya Sweet memasang wajah sedih. Alexella menggeleng pelan.
"Mommy minta maaf, Xella."
Alexella menggengam tangan sang Mommy yang masih menempel di pipinya. "Aku yang harus meminta maaf, Mom. Aku membuat Mommy kecewa."
"Mommy cuma ingin kalian bahagia, tidak ada maksud untuk menyakiti hati kalian. Maaf jika selama ini Mommy terlalu keras padamu."
"Jangan bicara seperti itu, Mom. Aku tahu Mommy menyayangi kami." Alexella mengecup punggung tangan Sweet dengan lembut.
Tidak lama dari itu Alex pun masuk bersama seorang dokter keluarga. Alexella bangun dari posisinya, membiarkan sang dokter memeriksa kondisi Sweet.
"Nyonya mengalami tekanan darah rendah karena kurang tidur. Istirahat penuh dan makan-makanan yang bergizi akan mempercepat Nyonya untuk sembuh. Jangan terlalu memikirkan hal berat." Jelas sang dokter setelah memeriksa kondisi Sweet.
"Terima kasih, Dok." Ucap Sweet tersenyum simpul.
"Sama-sama, Nyonya. Ini vitamin pemambah darah, diminum dua kali sehari. Semoga Anda cepat pulih, Nyonya." Dokter itu meletakkan vitamin itu di atas nakas.
Sweet mengangguk lemah.
"Kalau begitu aku pamit dulu, usahakan tidak memikirkan hal yang terlalu berat."
"Baik." Sahut Sweet.
"Mari aku antar." Tawar Alex membawa dokter itu keluar. Dan kini Sweet dan Alexella saling terdiam untuk beberapa saat.
"Mom, ada yang ingin aku sampaikan." Kata Alexella memulai pembicaraan. Sweet menatap putrinya dengan seksama.
"Apa itu?"
Alexella menggenggam tangah Sweet erat. "Please, jangan membenciku. Mungkin apa yang aku sampaikan ini akan membuat Mommy kecewa."
"Katakan, Xella. Jangan buat Mommy penasaran."
Alexella menghela napas dalam. "Sebenarnya... aku... aku dan Jarvis sudah menikah."
"Apa?" Sweet benar-benar kaget dengan ungkapan putrinya.
"Mom, please. Dengarkan penjelasanku dulu." Alexella menatap sang Mommy penuh harap. Ia tak ingin kejadian kemarin terulang kembali.
__ADS_1
"Katakan." Tegas Sweet menatap putrinya tajam.
"Aku kalah taruhan dengannya." Ucap Alexella dengan cepat.
"Taruhan? Kau main judi Alexella? Lalu kau berhutang banyak dan meminta Jarvis melunasi hutangmu?"
"Mom, aku tidak mungkin melakukan itu. Sebenarnya... a__aku ikut balapan liar."
"What?" Lagi-lagi jantung Sweet hampir copot karena anak bungsunya itu.
"Mom, kau tahu sejak kecil aku suka dengan balapan. Jadi aku sering melakukannya sejak sekolah menengah. Kemarin aku ikut balapan dan melawan Jarvis. Aku kalah dan...."
"Apa taruhan yang kau berikan padanya huh?" Potong Sweet mulai geram pada kenakalan putrinya itu.
Alexella menggigit ujung bibirnya. "Menghabiskan malam bersamanya." Jawab Alexella dengan cepat.
Sweet mendadak lemas. "Kenapa kau tak bunuh saja aku secara langsung, Xella?"
"Mom, kami melakukan itu setelah menikah. Jarvis menghargaiku, dia menikahiku sebelum... sebelum kami melakukan itu."
"Menikah dengan cara apa yang kau maksud Xella? Kau wanita dan membutuhkan wali."
"Ya, aku tahu Mom, Daddy sendiri yang mejadi waliku. Kami tetap menjalankan semua prosesi sesuai keyakinan kita."
"Daddymu?" Tanya Sweet nyaris tak percaya.
Alexella mengangguk pasrah.
"Jadi Daddymu tahu kalian sudah menikah? Lalu menyembunyikannya dariku? Hebat, kalian semua sudah melupakan aku. Belum mati saja kalian tak menganggapku, bagaimana jika aku sudah mati huh?"
"Mom, bukan begitu...."
"Mom, please. Sekarang aku bertanya, apa Mommy akan setuju jika Mommy tahu kami menikah saat itu?"
Sweet terdiam dengan napas tersengal menahan emosi.
"Nope, Mommy memang tidak akan setuju. Itu jawabannya. Bahkan Mommy sudah berniat untuk menjauhkan aku dengannya bukan? Mommy ingin mengirimku ke Indonesia kan? Aku tahu itu, Mom." Timpal Alexella.
Sweet memalingkan wajahnya ke samping. Ia tak menyangka Alexella bisa mengetahui semua rencananya. Ya, Sweet memang beniat untuk mengirim Alexella ke Indonesia dengan alasan Alexella harus mengurus perusahaannya di sana.
"Please, Mom. I love him, aku hanya ingin dia."
"Dia bukan lelaki baik-baik, Xella. Dia lelaki yang sering berganti pasangan. Dia brengsek. Lelaki seperti itu tak akan berubah sampai tua. Kau lihat Gerald, sampai detik ini dia masih bermain wanita." Kesal Sweet menyentuh kepalanya yang semakin berdenyut.
"Mom, aku percaya dia bisa berubah. Aku yakin itu, percayalah padaku, Mom."
"Bagaimana jika dia tak berubah huh? Ke mana kau akan membawa masa depanmu?"
Alexella terdiam sejenak. "Aku akan tetap disisinya apa pun yang terjadi, he is my husband."
Sweet memejamkan matanya mendengar jawaban Alexella. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi. "Kau dibutakan cinta, Xella. Sekarang mungkin kau hanya memikirkan hal indahnya saja. Kau tidak tahu betapa curamnya perjalanan dalam membina rumah tangga. Ditambah lagi Jarvis bukan lelaki sembarangan, dia digilai banyak wanita di luar sana."
"Aku tidak peduli dengan wanita-wanita itu, Mom. Aku akan menyingkirkan siapa pun yang berani menyentuh suamiku." Tegas Alexella yang berhasil membuat Sweet tercengang.
"Apa yang kau pikirkan Xella?" Sweet menatap putrinya curiga.
"Mom, aku tak akan membiarkan wanita mana pun menyentuh Jarvis. Akan aku pastikan itu, dia suamiku sekarang. Aku memiliki hak penuh atas dirinya."
Dan diwaktu bersamaan Alex pun masuk.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Alex ikut duduk di dekat Alexella.
"Semua kekacauan ini kamulah penyebabnya, Mas." Kesal Sweet menatap suaminya tajam.
"Hey, kenapa jadi aku? Aku baru bergabung." Alex menatap Sweet dan Alexella bergantian.
"Kau menikahkah putriku pada lelaki brengsek itu, Alex. Apa kau sudah melupakan aku huh? Aku masih hidup, dan kalian melupakanku seolah aku sudah mati." Sweet meluapkan emosinya. Bahkan kini air matanya menetes.
Alex mematap putrinya, lalu sedikit mengerlingkan matanya. Meminta Alexella keluar. Wanita muda itu pun beranjak pergi dari kamar orang tuanya.
"Sayang." Alex meraih tangan istrinya. Namun Sweet langsung menepisnya. Memalingkan wajah dari lelaki itu.
"Alexella sudah dewasa, dia bukan anak kecil lagi yang bisa kita atur sesuka hati. Aku tahu kau kecewa, Ana. Tapi aku punya alasan menikahkannya dengan Jarvis. Alexella mencintai lelaki itu. Kau tahu putrimu itu sangat keras kepala, jika dia ingin A, maka dia harus mendapatkan A. Jika aku bersikap keras sepertimu juga, kita hanya akan menghancurkan masa depannya. Bagaimana jika mereka melakukan hal terlarang sebelum mereka menikah?"
"Tapi bukan seperti ini caranya, kau menikahkan putrimu tanpa persetujuanku. Kau tahu Jarvis seperti apa, aku tidak pernah suka dengan lelaki itu, Mas."
"Ana...."
"Kau terlalu memberinya kebebasan, sampai lupa norma agama kita. Aku gagal menjadi Ibu yang baik, Mas. Aku gagal." Tangisan Sweet pun pecah.
Alex menghela napas berat. Lalu menarik istrinya dalam dekapan. "Jangan bicara seperti itu, Sayang. Kamu sudah menjadi Ibu yang baik untuk mereka. Satu yang harus kamu ingat, mereka hidup di zaman modern dan dilingkungan yang bebas pula. Meski kita membatasi mereka sekali pun, mereka akan tetap ikut lingkungannya. Mereka tak akan berkembang jika kita terus mengekangnya. Kita tidak bisa memaksa mereka harus mengikuti keinginan kita. Kau tahu mereka sama kerasnya sepertimu."
"Mas!"
"Aku serius, Sayang. Jangan samakan kebiasan hidup di negara kita dan di sini. Berpikirlah kritis, mereka tak akan bisa menjadi orang besar seperti saat ini jika kita terlalu membatasi hidup mereka. Saat ini mereka sudah menemukan kehidupan masing-masing, biarkan mereka bahagia. Takdir sudah mempertemukan jodoh mereka masing-masing. Doakan agar mereka selalu bahagia." Ujar Alex meyakinkan istrinya.
Sweet mengangguk, memeluk Alex dengan erat. Alex tersenyum, mengecup kening Sweet begitu dalam. "Istirahatlah, kau masih sakit. Jangan membuat anak-anakmu cemas."
"Jangan beri tahu mereka aku sakit, besok aku sudah sembuh. Kapan pesta pernikahan Alexella dilangsungkan? Bukankah kita harus mempersiapkan semuanya?"
"Ck, kau ini, masih sakit saja sudah memikirkan hal itu. Kita akan membicarakan itu setelah kau sembuh. Satu lagi, anak sulungmu itu sama sekali belum membahas masalah pernikahannya. Aku tidak tahu rencananya, dia benar-benar misterius. Kau saja yang urus anak itu."
Sweet tersenyum lucu mendengar ocehan suaminya. "Aku akan bicara padanya nanti, biarkan mereka fokus membuat cucu baru untuk kita."
"Ck, jangan ragukan masalah itu. Semua keturunan Digantara tak diragukan dalam memproduksi keturunan. Kau lihat, Arel bisa menghadirkan Gabriel dalam sekali tembak. Dan sebentar lagi kita akan mendengar kabar Arez junior akan hadir. Aku harap kita masih bisa melihat mereka sampai anak cucu. Entahlah, aku merasa tak akan bisa melihat mereka terlalu lama lagi. Aku sudah sangat tua."
"Mas, jangan bicara seperti itu. Kau membuatku takut. Aku belum siap kehilanganmu, atau meninggalkanmu. Aku selalu berdoa, semoga Allah memberikan waktu yang panjang untuk kita berdua." Sweet mengeratkan pelukkannya.
"Aku juga selalu berharap begitu, Sayang. Biarkan hari ini aku memelukmu sepanjang hari. Aku merindukanmu." Balas Alex.
"Aku juga."
"Bagaimana kalau kita bulan madu lagi huh? Sudah lama kita tidak berlibur."
"Kita sudah tua, Mas." Protes Sweet.
"Memang apa salahnya orang tua seperti kita bulan madu huh? Mengulang kembali masa muda kita. Bulan madu bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak harus pasangan muda."
"Hm. Memangnya mau ke mana?"
"Tempat kau yang menentukan, Sayang."
"Aku ingin pulang ke Indonesia."
"Okay, kalau begitu kita pergi ke sana."
"Terima kasih, Mas."
"Welcome."
__ADS_1