
Satu bulan sudah sejak kepulangan Bian ke Indonesia. Selama itu pula hidup Mala tak tenang. Bagaimana tidak, lelaki itu dengan sengaja tak menghubungi Mala beberapa minggu ini. Tentu saja Mala khawatir. Lebih tepatnya ia merindukan suara lelaki itu. Mungkin perkataan Bian benar adanya, saat ini Mala merindukan perhatian dan senyumannya. Mala tidak bisa membohongi hatinya.
"Mala." Panggil Sweet yang kini sudah berdiri di ambang pintu. Menatap Mala yang masih termenung menatap ke luar jendela. Dan masih tak menyadari kehadiran Sweet. Sepertinya ia benar-benar tenggelam dalam lamunan.
"Mala." Panggil Sweet lagi. Kali ini Mala menoleh dan sedikit tersentak saat melihat keberadaan Sweet.
Sweet menghela napas berat dan berjalan pelan menghampiri Mala. "Aku pernah di posisimu, Mala. Aku sangat merindukannya, tapi aku malu untuk menghubunginya saat itu. Aku marah padanya, tapi rasa rindu itu membuatku hampir gila. Tapi posisimu berbeda saat ini. Kau masih bebas menghubunginya. Apa kau sudah coba menghubunginya huh?"
Mala menatap Sweet cukup lama, kemudian menggeleng pelan. "Aku... aku malu untuk menghubunginya." Mala terlihat gugup dan menunduk lemah.
Sweet tertawa renyah. "Hubungi dia sekarang, Mala. Kau istrinya, jadi hakmu untuk memarahinya karena dia sudah membuatmu seperti ini."
Mala mengangkat wajahnya, menatap Sweet sendu. "Tapi...."
"Hubungi dia, jangan terlalu mengikuti egomu. Aku berkata seperti itu karena pengalamanku dulu, aku malu untuk menghubunginya dan bicara terus terang. Pada akhirnya perpisahanlah yang menyadarkan perasaanku padanya. Itu sangat menyakitkan, Mala."
Mala terdiam cukup lama. Mencoba meyakinkan hatinya. Jika dirinya benar-benar merindukan Bian. Sepertinya perkataan lelaki itu menjadi kenyataan. Dalam waktu singkat, ia bisa mengubah suasana hati Mala.
"Segera, Mala. Akad nikah Ibumu akan dilangsungkan satu jam lagi. Beri Kakakku kesempatan utuk mendengar suara hatimu. Kami menunggumu di ruang depan." Pungkas Sweet yang langsung bergegas meninggalkan kamar Mala.
Mala menggigit ujung bibirnya, bimbang dengan keinginan hatinya.
Apa aku harus menghubunginya? Tapi... bagaimana jika dia berpikir aku wanita gampangan? Akh... apa yang harus aku lakukan? Lupakan pikiran burukmu, Mala. Hungungi dia sekarang, dia suamimu.
Mala berjalan pasti menuju meja di mana ponselnya berada. Lalu mencari nama suaminya di kontak panggilan. Hubungi dia, Mala. Dia suamimu, kau berhak menanyai kabarnya. Mala terus meyakinkan hatinya. Dengan tangan gemetar Mala mulai menghubungi nomor suaminya. Dan duduk di sofa sambil menunggu jawaban.
Mala menghela napas dalam-dalam, lalu menempelkan ponselnya di telinga. Dan... suara nada sambung berhasil membuat jantungnya berlari maraton.
"Halo."
Detak jantung Mala semakin kencang saat mendengar suara itu. Suara yang amat ia rindukan.
"Halo, Sayang."
Mala memejamkan matanya saat mendengar panggilan itu.
"Sayang, kamu baik-baik aja kan di sana? Kenapa kamu tidak bicara?"
"Aku sakit, Bian." Sahut Mala dengan napas tersengal. Ia sangat kesal pada lelaki itu, juga rindu dalam waktu bersamaan.
"Sakit? Sakit apa, Sayang? Aku akan memesan tiket dan terbang ke sana sekarang."
Mala tersenyum mendengar nada cemas suaminya. "Ya, aku sakit. Sakit karena kau mengabaikanku, Bian."
"Apa?"
"Aku sakit, Bian. Kau sangat jahat padaku, dua minggu lebih kau tak memberiku kabar. Kau mengabaikanku. Katanya kau mencintaiku, tapi kau berpaling saat melihat wanita lain. Kau sudah menemukan wanita lain kan di sana? Dasar brengsek! Aku membencimu, Bian. Sungguh." Omel Mala panjang lebar. Untuk pertama kalinya ia mengoceh pada suaminya. Bahkan tanpa sadar, air matanya menetes.
Terdengar suara tawa renyah Bian. "I miss you so much, Honey. Jika saat ini kamu ada dihadapanku, mungkin aku akan langsung melahap bibirmu. Bisa kita beralih ke video call?"
"Hm."
Tidak lama layar ponsel Mala dipenuhi wajah tampan suaminya. Mala tersenyum dengan air mata yang masih menetes. Kini rasa rindu itu lenyap sudah.
"Kamu menangis? Ada apa huh?"
Mala mengusap jejak air mata di pipinya dengan kasar. "Ini salahmu, kau tidak memberiku kabar. Dasar suami tidak tahu malu."
__ADS_1
Bian tersenyum mendengar makian manis istrinya.
"Aku... aku merindukanmu, Bian." Ucap Mala terbata. Ia benar-benar malu untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.
"Ah... akhirnya aku mendengar ucapan sakral itu dari mulutmu, Sayang. Aku juga merindukanmu."
"Merindukanku? Dasar pembohong. Jika kau merindukanku, kau akan terus menghubungiku. Bahkan satu pesan pun tak ada. Aku membencimu." Kesal Mala memberikan tatapan tajam pada Bian.
"Aku pikir kau akan bosan jika aku terus menghubungimu. Aku juga takut mengganggumu karena kamu terlalu sibuk untuk mempersiapkan acara. Karena itu aku tidak menghubungimu akhir-akhir ini. Kamu juga sama sekali tak memberiku kabar, Sayang."
"Bian. Jangan pernah hilangkan sikap perhatianmu padaku. Aku... aku mulai terbiasa dengan sikap manismu. Aku sangat merindukanmu, Bian."
Lagi-lagi Bian tersenyum manis. Membuat Mala geram dan ingin mencubit lelaki itu. "Kapan kau akan datang padaku, istriku? Sudah sangat lama aku menantikanmu."
Mala tersenyum samar. "Aku tidak akan pernah datang jika kau mengabaikanku lagi." Ancamnya.
"Hah, padahal kasurku sudah kedinginan setiap malam. Dia butuh kehangatan."
"Dasar! Sedang apa sekarang? Apa sudah makan?" Tanya Mala seraya menyandarkan punggungnya di sofa.
"Baru saja selesai makan siang. Tapi selera makanku hilang sejak sebulan yang lalu, aku merindukan orang yang selalu duduk disiiku saat aku makan."
"Jangan menggodaku terus, Bian. Takutnya aku jatuh cinta padamu."
"Itu yang aku inginkan, Sayang. Aku akan terus menggodamu sampai kamu benar-benar mencintaiku. Cepatlah kemari, aku sangat merindukanmu, Sayang."
"Bian," panggil Mala dengan tatapan penuh arti.
"Ya, Sayang?"
"Apa kau akan terus mencintaiku, meski nanti aku berubah jelek dan tua?"
Mala terdiam cukup lama. "Aku akan memberi kepastian itu saat menemuimu nanti. Tapi jangan pernah kecewakan aku, Bian. Aku tak akan segan untuk langsung membunuhmu jika kau berani curang."
"Aku siap mati untukmu, Sayang." Balas Bian tersenyum begitu menawan. Dan hal itu berhasil mengundang senyuman di bibir Mala.
"Secepatnya aku akan datang padamu," ucap Mala sedikit berbisik.
"Aku menunggumu, Sayang." Balas Bian yang juga ikut berbisik, lalu keduanya tertawa bersama.
"Sayang, aku harus bekerja. Akan aku hubungi lagi nanti. Oh iya, kamu sangat cantik. Aku suka dengan model rambutmu yang seperti itu. Aku mencintaimu, istriku." Ucap Bian yang di jawab anggukkan oleh Mala. Kemudian Bian pun memutuskan panggilan. Mala memeluk ponselnya, ia benar-benar bahagia kali ini.
Dengan langkah cepat Mala berjalan menuju cermin, di tatapanya pantulan dirinya di cermin. Saat ini ia memang sangat cantik dengan balutan dress berwarna broken white. Wajahnya yang cantik sedikit di poles sehingga tampak lebih segar. Juga memilih gaya rambut half updo. Ternyata ia tak salah pilih gaya, karena berhasil mendapat pujian dari sang suami.
"Hah, sepertinya aku mulai gila. Sudahlah, lebih baik aku segera keluar. Semua orang sudah menunggu." Mala pun menyambar tas branded miliknya. Lalu bergegas keluar dari kamar. Benar saja, semua orang sudah bersiap dan sedang menunggunya.
Sweet tersenyum bahagia saat melihat raut wajah Mala lebih berseri dibandingkan tadi. Selama ini Sweet selalu memperhatikan Mala. Sejak Bian pergi, Mala lebih sering termenung dan menyendiri. Sweet tahu, Mala maupun Bian perlu dukungan untuk saling memahami satu sama lain. Mereka masih ragu pada perasaan masing-masing. Sejak awal Mala lah yang masih belum berani membuka hati. Dan sepertinya sekarang hati Mala mulai terbuka untuk Bian.
"Keluarga kita sudah lengkap, sekarang kita berangkat. Jangan sampai kita terlambat." Ujar Alex bangun dari posisinya. Lelaki itu terlihat menawan dengan balutan tuxedo berwarna gading.
"Ayok anak-anak," ajak Sweet ikut bangun dari posisinya. Lalu mengaitkan tangannya di lengan Alex. Kemudian mereka pun segera berangkat menuju hotel di mana acara resepsi dilangsungkan.
***
Keesokan harinya, Mala memutuskan untuk langsung terbang ke Indonesia bersama Ara dan Arlan. Di hari itu juga, Milan mengikuti jejak suaminya ke Belanda. Itu artinya mansion Digantara harus kehilangan dua anggota sekaligus. Membuat suasana mansion lebih lengang dari biasanya.
"Aku merasa kehilangan Mala dan Milan, mereka keluar dari mansion ini dalam waktu bersamaan. Suasana saat ini jadi sepi." Ujar Sweet menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Alex yang tengah memakai kemeja pun tersenyum simpul.
__ADS_1
"Masih ada anak-anak, Sayang." Sahut Alex seraya menyambar jas miliknya.
"Anak-anak sibuk belajar, kamu juga kerja, Mas. Nenek harus istirahat penuh. Sekarang aku menjadi Nyonya kesepian di sini."
Alex tertawa renyah mendengar keluhan istrinya. "Kamu mau ikut ke kantor?" Tawar Alex.
"Enggak, di kantor juga kamu gak kasih aku kerja. Kalau cuma duduk, mending di mansion aja. Mungkin hari ini aku akan berkeliling mansion lagi. Ah... atau mengunjungi galeri." Oceh Sweet sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Terserah padamu, Sayang. Asal jangan terlalu capek. Dokter bilang kamu harus banyak diam dan jangan terlalu aktif bekerja. Jangan sampai perutmu kram lagi."
Sweet mengangguk pelan, lalu mengelus perutnya yang masih rata. Seminggu yang lalu, Sweet dan Alex melakukan cek up kandungan. Dan dokter mengatakan jika Sweet tidak bisa bekerja terlalu berat. Karena setiap kali Sweet banyak bergerak, perutnya akan mengalami kram hebat. Padahal saat kehamilan pertama, ia sama sekali tak mengalami masalah. Bahkan ia bisa bekerja setiap hari. Namun sepertinya kehamilan kali ini sangat berbeda. Sweet benar-benar tak bisa capek sedikitpun. Seperti tiga hari yang lalu, Sweet terus bergerak ke sana ke mari untuk membantu persiapan pernikahan Milan. Dan keesokan harinya, Sweet harus istirahat penuh karena mengalami kontraksi. Oleh karena itu Alex begitu posesif pada istrinya.
"Aku pergi dulu, Sayang. Jangan lupa minum vitaminya dan jangan terlalu aktif bergerak." Pesan Alex seraya duduk di tepi ranjang. Menatap Sweet yang masih berbaring dengan tatapan kosong.
"Sayang," panggil Alex saat tak mendapat sahutan dari istrinya. Ia sedikit berbaring, lalu mengecup pipi Sweet. Membuat wanita itu tersentak kaget. "Kamu melamun?"
Sweet memiringkan tubuhnya. Menatap Alex lamat-lamat. "Mas, aku takut terjadi sesuatu pada Baby. Aku gak tahu kenapa kehamilan kali ini bermasalah. Apa karena aku terlalu banyak bekerja saat hamil si kembar?"
Alex menyentuh pipi mulus istrinya, mengunci netra coklat itu rapat-rapat. "Jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Kita harus banyak berdoa, supaya Baby dan Mommy sehat terus. Aku yakin kita bisa melewati ini semua."
"Aku takut." Ucap Sweet menggengam tangan Alex begitu erat. "Bagaimana jika aku gagal melahirkannya, atau gagal bertahan saat melahirkannya? Aku benar-bener takut, Mas." Air mata Sweet mentes dengan derasnya. Alex bisa melihat ketakutan yang mendalam di mata istrinya. Ia menghela napas, lalu menarik Sweet dalam dekapannya.
"Dengar, Sayang. Kita akan melewati semua ini bersama-sama. Aku akan selalu ada untukmu dan akan terus menemanimu. Jangan takut, okay?" Alex mengecup pucuk kepala Sweet cukup lama. Berusaha menenangkan perasaan istrinya.
Sweet mengangguk pelan dan mempererat pelukannya. "Jangan pernah pergi apa pun yang terjadi."
"Tentu, aku akan selalu disisimu. Aku janji."
Cukup lama mereka terdiam, tenggelama dalam pikiran masing-masing.
"Aku akan menghubungi, Josh. Hari ini dia yang akan menggantikanku untuk meeting. Aku ingin menemanimu." Ujar Alex melerai pelukan mereka.
Sweet tersenyum senang. "Aku ingin keliling mansion di atas punggung kamu, Mas. Boleh kan?"
Alex mengangkat sebelah alisnya saat mendengar keinginan Sweet. "Siapa takut?"
Sweet tersenyum senang dan langsung bangun dari posisinya. "Ayok." Ajaknya dengan penuh semangat.
"Sebentar, Sayang. Aku harus menghubungi Josh." Alex pun segera menghubungi asistennya agar menggantikannya rapat pagi ini. Karena dirinya akan menemani sang istri berkeliling. Ia tahu Sweet sedang membutuhkan ketenangan.
"Ayok," ajak Alex setelah menghubungi Joshua. Ia pun sedikit berjongkok dan meminta Sweet naik ke atas punggungnya. Tanpa banyak berpikir, Sweet naik ke atas punggung Alex.
"Akh... kau sangat berat, Sayang." Keluh Alex saat bangun dengan Sweet yang menempel dipunggungnya. Saat ini Sweet terlihat seperti anak kecil yang menempel di gendongan Ayahnya.
"Kamu sanggupkan, Mas? Apa dadanya tidak sakit?" Tanya Sweet yang baru menyadari jika Alex memiliki banyak luka bekas jahitan. "Sebaiknya aku turun aja, Mas. Nanti kalau kamu sakit gimana? Aku gak mau itu terjadi."
"Jangan khawatir, aku tak selemah itu. Pegang yang erat. Kita akan segera berkeliling." Sahut Alex mulai berjalan dan keluar dari kamar. Sweet tersenyum senang dan memeluk Alex begitu posesif.
"I love you," ucap Sweet mengecup pipi Alex. Sang empu pun tersenyum bahagia mendapat kecupan penuh cinta dari sang istri.
Alex benar-benar membawa Sweet berkeliling di atas gendongannya. Tentu saja Sweet sangat bahagia. Wanita itu terus berceloteh ria selama berkeliling mansion. Bahkan para pelayan yang melihat kemesraan mereka pun ikut bahagia. Sungguh keberuntungan bisa melihat kemesraan Tuan dan Nyonya mereka seperti saat ini.
"Semoga Tuan dan Nyonya selalu dilimpahi kebahagiaan. Aku senang melihat Tuan sebahagia ini. Nyonya benar-benar membawa perubahan besar." Ujar salah seorang dari mereka. Pelayan itu memang sudah lama bekerja di sana. Tak heran jika ia tahu betul siapa Alex sebelumnya.
"Tentu saja mereka harus bahagia. Tuan sangat baik dan memiliki istri berhati bidadari. Mereka akan bahagia sampai anak cucu."
"Ya, kita harus banyak berdoa untuk kebahagian Tuan dan Nyonya. Juga anak- anaknya."
__ADS_1
Para pelayan itu saling mengucapkan doa untuk kebahagiaan Tuannya. Karena kebaikan Alex maupun Sweet tak mungkin mereka lupakan. Mungkin dulu para pelayan hanya di perbolehkan tinggal di rumah kecil. Namun sekarang mereka dibuatkan kamar khusus di dalam mansion dengan fasilitas yang lengkap. Semuanya benar-benar berubah.