Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 39


__ADS_3

Dalam beberapa hari ini Alex benar-benar merubah sikapnya. Begitu lembut dan penuh perhatian, tetapi semua itu hanya ditujukan pada Sweet. Jika dengan orang lain sikapnya masih sama seperti dulu, begitu dingin dan tegas. Terkadang Sweet begitu heran dengan perlakuan Alex padanya, bahkan ia selalu membentengi diri agar tidak termakan rayuan Alex. Sebenarnya perubahan sikap Alex membuat hatinya sedikit menghangat, tetapi ia masih ragu untuk membuka hati pada lelaki itu. Bagaimana jika itu hanya permainan? Sweet sendiri masih dilanda kebingungan. Jika boleh jujur, sesekali Sweet memang terbuai dengan perlakuan Alex. Wanita mana pun akan terbuai jika pasangan mereka bersikap manis bukan? Sweet masih wanita normal dan memiliki perasaan seperti wanita kebanyakan. Meski hatinya sedikit keras dibanding yang lain.


Saat ini Sweet berada di balkon kamar, karena hari libur, ia pun memilih untuk bersantai. Menatap jauh penampakan taman depan.


"Apa yang kau pikirkan, Sayang?"


Sweet terperanjat saat tiba-tiba Alex memeluknya dari belakang. Hampir setiap saat Alex melakukan semua itu. Tangan kekarnya melingkar sempurna di perut ramping Sweet. Alex menghirup aroma manis dari rambut Sweet begitu dalam. Merasakan kehangatan yang perlahan menggelitik hatinya.


Seperti biasa, Sweet selalu menolak apa pun perlakuan lembut Alex. Ia takut dirinya benar-benar masuk dalam perangkap Alex. "Jangan seperti ini, aku tidak suka."


Gadis itu memutar tubuhnya, menatap Alex sebentar. Lalu beranjak pergi dari sana, namun dengan cepat Alex mencekal lengannya. "Bagaimana aku bisa meyakinkanmu, Anna? Aku bingung harus berbuat apa lagi padamu?"


"Tidak perlu melakukan apa pun, karena aku tidak akan pernah berubah." Sweet melepaskan diri dan langsung beranjak pergi. Hawa dingin terasa begitu menyengat saat gadis itu benar-benar pergi dari sana. Alex menarik ujung bibirnya sehingga menerbitkan sabit indah. "Kita lihat sampai kapan kau bisa bertahan?"


"Sweet, kau mau kemana?" tanya Mala saat berpapasan dengan Sweet. Gadis itu memang berniat untuk keluar, ia bingung harus melakukan apa di Mansion besar ini. Nissa dan Dika yang baru keluar dari kamar pun langsung memperhatikan Sweet.


"Kakak cantik, mau pergi ya? Dika boleh ikut?" tanya Dika yang langsung berlari menghampiri Sweet, memeluk pinggang gadis itu dengan begitu erat.


"Aku tidak pergi ke mana-mana, cuma mau cari angin ke luar." Sweet mengusap lembut rambut tebal Dika.


"Bagaimana jika kita bermain di belakang? Aku dengar hari ini tukang kebun sedang menanam beberapa sayuran dan bunga," kali ini Nissa mengeluarkan sebuah tawaran menarik. Awalnya Sweet merasa ragu, namun bujukan Dika berhasil membawanya ke taman belakang.


"Wah, Dika mau ikut menanam juga ya, Ma?" seru Dika begitu semangat.


"Boleh sayang," sahut Nissa lembut. Sweet selalu terpana dengan sikap lembut Nissa. Tidak heran Alex begitu mencintai wanita itu. Sweet merasa ada yang aneh dengan hatinya, ada gelenyar sakit saat mengingat Alex begitu mencintai Nissa. Bahkan sampai saat ini tidak ada yang benar-benar tulus mencintai dirinya. Termasuk orang tua kandungnya, Sweet belum pernah merasakan kasih sayang mereka secara nyata. Semasa kecil Sweet lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang nenek, lalu ia pun ikut bersama orang tuanya saat masuk sekolah. Tidak lama dari itu ia di adopsi orang lain, yang sama sekali tidak memiliki cinta yang tulus padanya.


"Sweet, kamu baik-bain saja?" tanya Nissa saat melihat Sweet begitu jauh termenung. Sweet terhenyak, dan langsung menatap Nissa. Wanita paruh baya itu tersenyum penuh ketulusan.


"Ya," sahut Sweet tanpa ekspresi. Nissa semakin melebarkan senyuman saat melihat reaksi Sweet.


"Ikut denganku." Nissa menarik Sweet ke pinggiran kebun dan duduk di sebuah kursi panjang. Untuk beberapa saat mereka pun terdiam. Berusaha untuk menyesuaikan diri.


"Kau tahu Sweet, ah aku panggil Anna saja ya?" Sweet mengangguk kecil.


"Dulu suami kamu itu begitu baik, bahkan ia cukup perhatian dan penuh kasih sayang. Hanya saja keadaan yang membuatnya seperti itu," ujar Nissa menatap Sweet lekat.

__ADS_1


Sweet masih bergeming dan tidak memberikan respon apa pun.


"Kamu harus tahu, Anna. Suamiku, Arnold, dia lebih kejam dari Alex. Maaf jika aku sedikit mengungkit masa lalu suamiku padamu. Mungkin ini akan menjadi petunjuk untuk hubungan kalian berdua." Nissa menghela napas panjang. Kemudian melanjutkan pembicaraan.


"Saat itu, Arnold merupakan ketua dari para mapia yang ada di Indonesia maupun Jerman. Sampai saat ini aku juga tidak pernah tahu alasan dia menikah denganku, yang aku tahu dia hanya ingin membalas dendam pada kedua orang tuaku. Itu pun aku tidak tahu apa alasannya. Awal mula pernikahan kami begitu penuh lika liku, tidak jarang ia melakukan kekerasan."


"Tanpa rasa ragu Arnold terus memukulku, dan apa yang Alex lakukan? Dia selalu membantuku dan menghiburku. Saat itu dia masih duduk di bangku kuliah, masih polos dan penuh kejujuran. Aku terhibur saat Alex bersamaku, merasa dilindungi dan disayangi. Aku menganggapnya seperti adik sendiri, hingga tanpa aku sadari dia memiliki perasaan padaku. Lalu dia pun mengungkapkan seluruh isi hatinya padaku, dan tanpa sepengetahuan kami. Arnold mendengar semua itu, dia sangat marah dan menghukum Alex tanpa ampun. Saat itu Alex hampir mati akibat kemarahan Kakaknya. Beruntung dia lolos dan bisa kabur, tapi setelah kejadian itu sifat dan sikapnya berubah. Alex seperti iblis yang penuh rasa dendam," Nissa mengusap air matanya yang sempat jatuh karena kembali mengorek luka lama.


Sweet mulai tertarik dengan cerita Nissa, menatap wanita itu, dan berharap untuk melanjutkan ceritanya.


"Milan, adalah satu-satunya tempat pelarian Alex. Wanita itu yang merawat Alex hingga sembuh dan bangkit dari keterpurukkan. Hingga lelaki itu berhasil merebut setengah dari kekuasaan Arnold. Dia memberontak untuk membalas dendam, sempat terjadi perpecahan yang cukup mengerikan di antara mereka. Semua itu terjadi begitu cepat. Aku sangat bersyukur Allah mengubah hati Alex yang begitu keras kembali lunak."


"Jadi Mala itu anak kandung Alex?" Sweet memberanikan diri untuk bertanya. Nissa yang mendengar itu tertawa renyah. Membuat Sweet semakin bingung.


"Apa yang kamu pikirkan tentang Alex, huh? Bahkan dia belum pernah menikah sekali pun, kecuali denganmu, Anna. Mala mempunyai saudara kembar laki-laki yang menjadi anak angkat kami. Ayah mereka juga masih hidup di Indonesia. Jadi mereka bukan darah daging Alex, melainkan anak angkat."


Sweet tehenyak mendengar pengungkapan Nissa. Jadi selama ini ia sudah salah sangka pada Milan dan Alex.


"Lalu, apa agama lelaki itu?" tanya Sweet lagi. Sejak awal Sweet begitu penasaran dengan agam lelaki yang sudah mengikatnya sebagai tawanan. Alex tidak pernah terlihat ke gereja atau pun melaksanakan ibadah lainnya. Bahkan Sweet selalu berpikir jika lelaki itu tidak memiliki agama.


"Islam, Alex cukup pandai mengaji dan setahuku sebelum kejadian itu dia anak yang rajin beribadah. Tidak tahu setelahnya," jawab Nissa apa adanya.


Islam? Apa itu mungkin, lelaki kejam sepertinya memiliki keyakinan pada tuhan?


"Anna, aku tahu kau masih ragu padanya. Sebenarnya aku cukup bahagia Alex memilihmu sebagai istrinya. Karena aku bisa melihat perubahan dari diri Alex, perlahan ia semakin menunjukkan sikap aslinya. Lelaki yang penuh dengan kelembutan dan penuh kasih sayang. Aku melihat itu dalam diri Alex saat bersamamu. Bahkan dia begitu cemas saat kau sakit beberapa hari yang lalu, bahkan dia memarahiku karena begitu lama mengambil air hangat. Ingin sekali rasanya aku tertawa saat itu," jelas Nissa sambil tersenyum geli.


Sweet tidak dapat membayangkan semua yang dikatakan Nissa. Ia masih tidak percaya dengan semua itu. Alex tetap saja Alex, selalu bersikap sesuka hati dan tidak memiliki perasaan. Tetapi, apa benar ia tidak memiliki perasaan apa pun padanya? Semua itu masih jadi misteri.


***


Sweet terduduk lemas di bibir ranjang, perkataan Nissa masih terus berputar di kepalanya. Menimbulkan denyutan nyeri dikepala. Ia bingung harus berbuat apa? Apa mungkin menerima lelaki itu sebagai suami seutuhnya, tetapi hatinya belum yakin dengan segala keputusan.


Karena terlalu serius memikirkan semua itu, Sweet tidak menyadari jika sejak tadi Alex terus memperhatikannya dari ambang pintu. Lelaki itu memberikan tatapan penuh kagum, lalu berjalan perlahan menghampiri Sweet.


Sweet yang menyadari kehadiran Alex pun langsung terbangun dari duduknya dan sedikit mundur. Berharap Alex tidak lagi memeluk seperti biasanya.

__ADS_1


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Alex hendak menggapai pundak Sweet. Dengan cepat gadis itu mundur dan menjauh dari Alex. Alex menatap tangannya yang bergantung di udara, lalu menarik kembali tangannya. Sepertinya Alex sudah terbiasa dengan penolakan Alex.


"Berikan aku alasan kenapa kau berubah?" tanya Sweet memberikan tatapan penuh selidik.


Alex tersenyum tipis mendengarnya, ia memilih duduk di tepi ranjang. Lalu menepuk bagian kosong di sampingnya. "Duduklah, aku akan menjawab semua pertanyaan yang akan kau berikan padaku."


Terlihat jelas keraguan dari tatapan Sweet. Ia enggan untuk menuruti keinginan Alex.


"Baiklah, alasanku adalah... Aku ingin kau tetap di sampingku apa pun yang terjadi, menjadi pasangan hidupku. Apa alasanku belum cukup untukmu?"


"Kenapa harus aku?" tanya Sweet kesal. Jawaban yang Alex berikan terlalu umum dan bukan itu yang ingin ia dengar. Entah lah, Sweet sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ingin ia dengar dari mulut Alex.


"Mungkin karena kau selalu ada di dekatku, karena itu aku mulai nyaman denganmu." Alex menjawab seadanya. Untuk masalah perasaan, Alex sendiri masih bingung dengan hatinya. Begitu banyak problem dalam hubungan mereka.


"Aku tidak mau menjadi bonekamu, aku ingin hidup layaknya manusia normal." Sweet memalingkan wajahnya.


Terdengar helaan napas berat dari mulut Alex. Ia bergerak untuk mendekati wanita yang selalu membuat perasaannya berguncang. Alex menarik tangan mungil Sweet, untuk kali ini sama sekali tidak ada penolakan. "Biarkan aku mencoba untuk mencintaimu, Anna."


Sweet kembali menatap Alex, tatapan yang penuh dengan perasaan geram.


"Apa sangat sulit percaya padaku, untuk kali ini saja?" Alex mengecup punggung tangan Sweet dengan begitu lembut. Membuat perasaan hangat kembali menyelimuti hati Sweet.


"Aku tidak percaya padamu," ucap Sweet menarik tangannya dari genggaman Alex. Namun dengan sigap Alex merengkuh tubuh mungil Sweet. Sontak gadis itu merasa kaget dan melebarkan kedua matanya. Alex tersenyum lebar saat melihat wajah lucu Sweet. Begitu menggemaskan, ingin sekali rasanya ia melahap habis gadis yang ada dalam dekapannya.


"Lepaskan aku," pinta Sweet meronta agar terlepas dari rengkuhan Alex. Tidak mudah bagi Alex untuk melepaskan apa yang sulit ia dapat. Mata biru itu bergerak menuju bibir mungil Sweet. Bagian yang selalu ia rindukan setiap saat. Tidak heran jika setiap malam ia mencuri kecupan atau ciuman dari Sweet. Alex menghapus jarak di antara mereka secara tiba-tiba. Membuat gadis itu memejamkan matanya karena kaget.


Alex memberikan ******* lembut dan penuh sensual. Membuat sang gadis merasa kaget untuk yang kesekian kali. Sweet tidak berani membuka mata, sudah bisa ditebak jarak antara mereka cukup tipis. Ia memilih diam tanpa membalas perlukan yang Alex berikan. Setelah Alex benar-benar menyudahi aksinya, Sweet perlahan membuka matanya. Ia merasa ada yang aneh dengan bibirnya, terasa lembab dan membengkak. Padahal mereka melakukan itu untuk yang kesekian kali.


"Kau tahu, salah satu alasanku ingin selalu bersamamu karena ini. Aku tidak akan rela jika orang lain menyentuhnya," ujar Alex seraya mengusap lembut bibir Sweet. Sang pemilik pun masih terdiam membisu. Alex selalu berhasil membuatnya tak berkutik, sekuat apa pun ia berusaha lepas, Alex akan kembali mengikatnya hingga apa yang diinginkan itu dapat.


"Beri aku kepastian, jangan terus menyentuhku tanpa sebuah ikatan suci." Alex cukup kaget mendengar perkataan Sweet.


"Itu artinya kau mengizinkan aku untuk memilikimu? Ah, aku harap ini bukan mimpi." Alex tersenyum senang. Kedua tangannya bergerak untuk menangkup wajah Sweet. Lalu sebuah kecupan hangat ia hadiahi di kening Sweet. Gadis itu membeku seketika. Untuk yang pertama kalinya Alex memberikan keucupan yang penuh dengan kehangatan.


"Aku tidak pernah memberikan kesempatan kedua untuk siapa pun," ucap Sweet menatap Alex begitu dalam.

__ADS_1


"Aku akan mengingat itu," ucap Alex semakin mengembangkan senyumannya. Sweet tertegun melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Alex. Seperti melihat sosok lain dalam diri Alex. Pertama kali bertemu, Alex selalu memasang wajah dingin dan hampir tanpa ekspresi. Kali ini berbeda, sebuah kebahagiaan sedang menyelimuti hatinya.


Mungkin ini memang takdirku, jika benar. Tolong bimbing aku agar dapat membuka hatiku untuknya, Ya Allah. Izinkan aku untuk bahagia dengan segala keputusan yang sudah aku ambil. Batin Sweet.


__ADS_2