Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (9)


__ADS_3

Arez menopang dagunya, tatapannya begitu tajam. Bahkan rahangnya terlihat mengeras. Ansel yang melihat itu tampak bingung.


"Tuan, Nona Eveline masih di tempat yang sama. Apa kita harus bergerak sekarang?"


Arez mengangkat tangannya, memberik kode pada Ansel untuk tidak gegabah. "Biarkan aku yang mengurusnya sendiri."


Ansel mengangguk patuh.


"Dasar anak kurang ajar. Aku akan menghajarnya setelah ini." Kesal Arez bangkit dari posisinya. Kemudian berjalan ke arah dinding kaca raksasa. Melihat penampakan kota Berlin dari sana.


"Tuan, bagaimana dengan lelaki itu?"


"Biarkan, selagi dia tidak berulah. Biarkan dia juga mencarinya."


Ansel menghela napas panjang. "Baik, Tuan."


Arez tersenyum penuh arti. Maafkan Daddy, Nak. Ini demi kebaikkanmu. Bertahanlah untuk beberapa saat.


Di mansion, Sabrina terus bersedih karena sudah tiga hari Eveline tidak kunjung kembali. Violet dan Lea terus menemaninya.


"Aunty, aku rasa Eveline baik-baik saja. Dia bukan wanita lemah." Ujar Violet.


Sabrina menangis dalam pelukkan Violet. "Bagaimana aku bisa tenang. Putriku seorang wanita. Bisa saja mereka menyakitinya."


"Aunty, percayalah. Anak laki-laki pasti bisa menemukan keberadaannya." Kali ini Lea ikut menimpali.


"Sudah tiga hari, Lea. Dia belum ditemukan."


Tidak lama dari itu Sky pun masuk ke kamar. Lalu ikut bergabung. "Sab, jangan seperti ini. Mommy sangat sedih melihatmu seperti ini. Kita semua juga cemas, tapi kau harus yakin jika Eveline baik-baik saja. Semua orang sedang mencarinya."


Sabrina hanya bisa diam. Bagaimana ia bisa tenang sebagai seorang Ibu. Eveline putri kesayangannya hilang. "Biarkan aku sendiri."


"Sab."


"Aku ingin sendiri, Sky."


Sky menghela napas gusar. "Baiklah. Ayok anak-anak." Ajak Sky pada anak-anak. Lalu ketiganya pun meninggalkan kamar Sabrina. Seketika tangisan Sabrina pun pecah, ia meratapi kehilangan putrinya dengan kesedihan yang mendalam.


****


Lucas datang ke markas keluarga besar. Dan di sana sudah ada kedua kembarannya dan saudara-saudari yang lainnya.


"Dari mana saja kau, Luc?" Sembur Violet.


Lucas duduk di sebelah gadis itu, lalu melirik Marvel yang terus menatapnya penuh permusuhan. "Hey, kenapa kau menatapku seperti itu? Kemarin aku kembali ke California. Ada sedikit masalah di perusahaan." Bohongnya.


"Mommy bilang kau tidak pulang." Ujar Mike menatap Lucas curiga.

__ADS_1


"Aku tidak mampir. Kepalaku bercabang karena memikirkan Eveline. Apa kalian pikir aku tidak ikut mencarinya? Semua tempat sudah aku telusuri. Jika tidak percaya tanyakan saja pada Harry dan William. Sudah aku katakan, dibalik semua ini adalah Summer."


"Lelaki itu tidak bersalah, Luc. Dia tidak tahu apa-apa." Geram Marvel.


"Tahu dari mana kau? Apa kau sudah mencari tahu latar belakangnya?"


Marvel terdiam.


"Luc, kau yakin tidak tahu di mana Eveline?" Kali ini Melvin ikut bertanya. Lucas pun menatap lelaki itu lekat. "Jadi kau juga curiga padaku? Kalian semua curiga padaku?"


Semua orang terdiam. Lucas tertawa hambar. "Lihat, bagaimana keluarga kita bisa berjaya? Bahkan di antara kita saja tidak ada kepercayaan satu sama lain. Hah, terserah kalian ingin menuduhku apa. Aku muak dengan semua ini."


Lucas bangkit dari tempatnya dan beranjak pergi. Bahkan lelaki itu membanting pintu dengan kasar. Namun, ia tersenyum setelah keluar dari sana.


Bukankah ini bagus. Aku punya alasan untuk betemu kekasihku lagi. Ah... aku sangat merindukannya.


Di dalam sana, semua orang masih terdiam.


"Aku rasa... kita sudah menyakiti perasaan Lucas." Ujar Gabriel sebagai anak tertua di sana mencoba mengingatkan. "Tidak seharusnya kita menuduh anak itu sembarangan. Kita semua tahu Lucas menyukai Eveline. Bagaimana bisa dia menyakiti adik kita?"


"Kakakku benar, bagaimana pun Lucas itu bagian dari kita. Tidak baik jika kita menuduhnya. Aku juga akan marah jika dituduh tanpa bukti." Sahut Lea.


"Sudahlah, sebaiknya kita lupakan Lucas. Dan fokus mencari keberadaan Eveline. Aku rasa dia baik-baik saja. Siapa pun yang menculiknya, aku rasa orang itu tidak akan menyakitinya. Buktinya sampai detik ini tidak ada yang menghubungi keluarga kita untuk meminta tebusan atau apa pun." Jelas Violet.


"Siapa yang berani mengusik keluarga kita? Dia mencari mati." Gumam Dustin. Dan suasana pun kembali canggung.


Di apartemen, Eveline sedang melihat-lihat foto yang terpajang di meja. Tangannya bergerak ke sebuah foto di mana Lucas menggendongnya saat kecil dulu. Eveline baru sadar, jika sejak kecil dirinya begitu dekat dengan Lucas. Bahkan banyak sekali foto mereka berdua saat itu. Tanpa sadar Eveline tersenyum.


Cukup lama Eveline memeluk foto itu. Sampai suara pintu terbuka pun mengejutkan dirinya. Cepat-cepat ia meletakkan foto itu di tempat semula.


"Sayang, aku membelikan makanan kesukaanmu. Fizza." Lucas meletakkan makanan itu di atas meja. Kemudia ia pun kembali ke luar.


Eveline menatap makanan itu lekat. Namun, ia tak berniat untuk memakannya. Sampai pintu kamar pun kembali terbuka. Menampakkan Lucas yang membawa dua gelas kosong dan apa itu? Wisky?


"Duduklah, Darling. Kita makan sama-sama." Ajak Lucas duduk di sofa. Lalu membuka penutup botol itu dan menuangkan isinya ke dalam gelas.


Karena tak kunjung duduk, Lucas pun menatap Eveline. "Ada apa? Kau tidak lapar?"


"Kau masih minum, Luc?"


Lucas terdiam sejenak. "Hanya sesekali. Saat aku sedang pusing."


Eveline menatap Lucas.


"Ada apa? Cepat duduk dan makanlah. Jika kau tidak ingin minum, aku bisa mengambilkan air mineral." Tawar Lucas seraya membuka kotak pizza dan mengambilnya sepotong. Lalu melahapnya tanpa ragu. "Ini sangat enak, toping keju dan sosis."


Eveline menelan air liurnya sambil menatap sisa potongan pizza. Bahkan Lucas hampir menghabiskan dua potong. "Luc, sisakan aku satu."

__ADS_1


Tanpa banyak berpikir lagi, Eveline pun langsung duduk dan mengambil kotak pizza itu ke pangkuannya. "Ini untukku, kau tidak boleh mengambilnya lagi."


Lucas tersenyum senang. Bahkan ia bahagia saat melihat Eveline makan dengan lahap. "Pelan-pelan, sayang."


"Ini makanan kesukaanku." Gumam Eveline dengan mulut yang penuh.


"Aku tahu." Lucas mengusap sisa makanan di ujung bibir Eveline. Membuat tubuh gadis itu menegang. "Kau seperti anak kecil. Makan perlahan, tidak akan ada yang menghabiskan."


Eveline berdeham kecil. Dan melanjutkan makannya. Setelah menghabiskan sepotong pizza, Eveline menyambar gelas wisky dan meneguknya dengan cepat. Tentu saja Lucas terkejut.


"Apa aku boleh minta lagi?" Pintanya. Membuat Lucas kaget.


"Sejak kapan kau pandai minum?"


"Berikan saja, jangan banyak bertanya." Ketus Eveline menuangkan sendiri wisky itu ke dalam gelas dan kembali meneguknya. Membuat Lucas terperangah.


Eveline pun kembali melahap pizza dengan semangat. Lucas yang melihat itu cuma bisa menggeleng kecil. Dan ia pun meneguk wisky beberapa kali.


Entah bagaimana keduanya kini sudah dalam keadaan mabuk. Dan di sini Eveline yang lebih parah. Sedangkan Lucas masih setengah sadar.


Eveline menatap Lucas. "Kau... kenapa kau ada di sini?"


Lucas membalas tatapan Eveline. "Ini apartemenku."


"Ah... aku lupa kau sedang menculikku. Lepaskan aku brengsek." Eveline menarik rambut Lucas dengan kasar. Bukannya melawan, Lucas justru memeluk gadis itu dan membenamkan wajahnya di dada Eveline.


"Aku mencintaimu, Eve."


Eveline terdiam beberapa saat. "Aku ingin pulang."


"Belum saatnya sayang." Lucas mengecupi bagian dada Eveline yang tak tertutup kain. Membuat Eveline tanpa sadar mengeluarkan d*s*h*n kecil.


Perlahan Lucas membawa Evelien ke pangkuan. Lalu dikecupnya bibir seksi itu dengan lembut. "Kau ingin melakukannya lagi?"


"Melakukan apa?" Tanya Eveline dengan tatapan polos. Sepertinya gadis itu benar-benar sudah dikuasai alkohol.


"Bercinta."


Eveline terdiam sejenak. "Tidak, kau sangat kasar. Aku kesakitan."


"Aku akan pelan-pelan kali ini."


Lagi-lagi Eveline terdiam. Lucas yang melihat itu kembali menyambar bibir Eveline. Dan menciumnya dengan penuh kelembutan. Tidak ada pemaksaan dan penuntutan. Ciuman penuh cinta.


"Ahh...." Eveline m*nd*s*h saat Lucas melepaskan pagutannya. Lalu ciuman itu beralih ke leher. Lagi-lagi Eveline meringis nikmat. Setiap sentuhan Lucas membuatnya seakan melayang.


Dan... keduanya pun kembali melakukan hal terlarang. Tetapi kali ini tidak ada penolakan atau tangisan. Yang ada hanya d*s*h*n dan erangan saat keduanya mendapat pelepasan.

__ADS_1


Tbc....


Untuk yang protes soal karakter Lucas dan tidak suka. Tidak jadi masalah kok, karena itu gak akan merubah segalanya. Aku cuma ingin menghidupkan komentar kalian aja hehe... dan jangan samakan pergaulan di luar dengan nusantara ya. Sudah pasti jauh berbeda. So thanks masih setia di ceritaku yang ini. Semoga kalian tetap menikmati. Aku gak maksa kalian buat lanjut baca atau enggak. See you all.


__ADS_2