
"Apa yang kau rasakan?" tanya Arnold pada Nissa yang baru saja siuman. Wanita berparas damai itu tersenyum tipis.
"Haus," sahutnya begitu lemah. Dengan sigap Arnold mengambil gelas di atas nakas dan membantu istrinya minum.
"Di mana Dika?" tanya Nissa sambil sesekali memejamkan mata.
"Dia aman bersama Milan dan Mala," jawab Arnold seraya mengusap pipi Nissa.
"Ana? Bagaimana dengannya? Wanita itu... Apa dia mencelakai Ana juga?"
Pertanyaan yang Nissa lontarkan membuat Arnold bingung. Ia tidak faham siapa yang sebenarnya wanita yang Nissa sebut.
"Wanita? Jadi saat itu ada orang lain?" tanya Arnold bingung. Nissa mengangguk, ia juga tampak bingung saat melihat reaksi Arnold.
"Tunggu sebentar, aku harus menghubungi Alex." Arnold bangun dari posisi duduk, dan sedikit menjauh dari Nissa.
Sedangkan di tempat lain, Alex terlihat seperti orang tidak tahu arah. Sudah ke sana ke mari ia mencari keberadaan Sweet. Namun, tidak ada satu pun jejak tentang istrinya itu. Saat ini ia berada di bandara, masih berupaya menemukan Sweet.
"Tuan, mereka tidak menemukan penerbangan atas nama Nyonya. Bahkan tidak ada satu pun nama yang mirip," ujar Joshua dengan tegas. Ia juga sedikit kewalahan mencari sosok Nyonya Alexander.
Kabar yang Joshua bawa membuat Alex semakin uring-uringan. Kepalanya seakan pecah, memikirkan keberadaan Sweet yang tak kunjung ia temukan. Bahkan langit pun mulai berubah menjadi jingga. Hingga suara ponsel membuat pikirannya buyar.
Itu kah kau, Ana?
Dengan tergesa Alex merogoh ponsel dari saku celananya. Harapannya sirna seketika saat melihat nama yang muncul bukanlah sang istri, melainkan Arnold. Dengan perasaan kecewa Alex pun menerima panggilan sang Kakak. Pembicara mereka cukup singkat, hanya hitungan detik.
"Josh, kita harus kembali ke rumah sakit." Alex bangkit dari kursi, lalu melangkah pasti meninggalkan bandara. Joshua mengikuti langkah kaki Tuannya, ia pun merasa sedih melihat keadaan Alex saat ini. Seakan melihat kejadian silam yang terulang kembali. Harapannya hanya satu, jangan sampai Alex menggila seperti dulu. Jika itu terjadi, maka tidak ada satu orang pun yang bisa menghentikannya.
"Kau sudah merasa baikkan?" tanya Arnold pada Grace. Wanita itu mengangguk tak berdaya. Seluruh tubuhnya terasa nyeri. Matanya masih berat untuk terbuka karena efek obat.
__ADS_1
Hati Joshua terenyuh saat melihat kondisi buruk pujaan hatinya, untuk yang kesekian kali gadis itu menerima rasa sakit.
Lain halnya dengan Alex, ia terdiam seribu bahasa di sofa. Setelah mendengar penjelasan Nissa, emosinya kembali memuncak. Bahkan ia mengutuk diri sendiri, jika dirinya sangatlah bodoh. Ia berhak menderita setelah mencampakkan Sweet.
"Lelaki itu memiliki rambut pirang dan lumayan tinggi, aku tidak tahu pasti. Karena dia memakai topeng di wajahnya," jelas Grace mencoba mengingat lelaki yang menculik Sweet.
"Sweet, aku harus ke rumah sakit lebih dulu. Setelah itu kita akan pergi sama-sama, agar tidak ada kecurigaan pada mereka. Kau bisa menungguku di mobil," ujar Grace melirik Sweet yang masih termenung.
Grace menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Aku tahu kau mulai mencintai suami brengsekmu itu, tapi kau harus ingat! Dia selalu menyakitimu, lupakan dia dan hiduplah dengan damai."
Mendengar itu, Sweet menoleh dan menatap Grace lekat.
"Aku akan melupakannya," ujar Sweet tanpa ragu. Rasa sakit dihatinya mungkin tak dapat diobati lagi. Kecewa, itu lah yang ia rasakan saat ini.
"Baiklah, kau memang sahabatku. Aku...." Grace menghentikan ucapannya saat menyadari sebuah mobil terus mengikutinya.
Apa yang Grace lakukan adalah kesalahan besar, ia tidak menyadari jika sebuah mobil tiba-tiba menghadang mereka. Akhirnya ia pun membanting stir dan mobilnya berputar dengan cepat. Mereka pasrah dengan apa yang akan terjadi, meski mati adalah jalan terakhir. Namun, takdir belum mengizinkan mereka untuk meninggalkan dunia. Mobil yang mereka kendarai melaju ke luar jalur, di mana rumput hijau tumbuh dengan subur. Hingga memasuki lajur sebelah. Laju kecepatan mulai berkurang, dan akhirnya membentur sebuah tiang listrik.
Sweet tidak lagi sadarkan diri akibat benturan di kepalanya. Sedangkan Grace, ia masih setengah sadar saat seseorang berusaha memecahkan kaca mobil. Ia sedikit menggeser kepalanya untuk melihat sosok itu, yang ternyata seorang lelaki berperawakan tinggi dengan rambut pirang. Wajah lelaki itu tertutup topeng hitam. Sangat sulit untuk dikenali.
Grace masih bisa bergerak, ia memegang erat tangan Sweet. Tidak membiarkan orang itu membawa sahabatnya. Namun, tenaganya cukup kalah jauh. Dengan mudah lelaki itu membawa Sweet pergi.
Grace tidak tinggal diam, ia tetap berusaha keluar dari mobil. Tidak ada satu orang pun di sana. Padahal biasanya tempat itu cukup ramai pejalan kaki atau pengendara. Apa semuanya sudah direncanakan? Hanya itu yang dapat Grace pikirkan. Tidak mau membuang banyak waktu, Grace mencari keberadaan ponselnya. Hanya benda itu yang dapat membantunya, tetapi benda itu sama sekali tidak ia temukan. Grace mulai panik, ia pun memilih untuk berjalan menuju rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari tempat kejadian. Dengan terhuyung ia pun sampai di tempat tujuan, tanpa menghiraukan seruan para suster yang mengkhawatirkan kondisinya.
Arnold langsung melirik Alex yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Aku mohon, temukan Sweet." Grace menggenggam erat tangan Arnold. Memohon agar mereka segera menemukan Sweet. Lalu pandangan Grace pun tertuju pada Alex, iris matanya melebar.
"Ini semua karena kau, kau lah yang menyebabkan semua ini terjadi. Aku harus kehilangan sahabatku karena lelaki sepertimu, kau berjanji untuk menjaga dan membahagiakannya bukan? Lalu apa yang kau lakukan sekarang?" Grace meluapkan semua kesal dalam hatinya. Kali ini ia benar-benar membenci Alex.
__ADS_1
"Kau brengsek, lelaki pecundang." Alex sama sekali tidak peduli dengan makian yang Grace lontarkan.
"Tenanglah," Arnold berusaha menenangkan Grace.
"Dan kau!" Grace menunjuk Joshua dengan tatapan benci, "aku tidak akan mempercayaimu lagi."
Joshua terhenyak, tak pernah sedikit pun membayangkan jika wanita pujaan hatinya memberikan tatapan penuh kebencian. Hatinya seketika perih dan ngilu. Mulutnya ikut terkatup rapat, bahkan matanya tak berani memandang Grace. Semua ikut terdiam, tidak ada lagi perdebatan atau sekedar perbincangan ringan. Suasana ruangan kini dihiasi kecanggungan.
***
"Bagaimana bisa kalian mencelakai cucuku?" Sorot mata tajam tertuju pada dua lelaki yang tertunduk patuh. Lalu, seorang lelaki yang duduk di atas kursi roda pun memberanikan diri untuk mengangkat kepala.
"Ini semua di luar kendali, Nek. Ada yang menginginkan kematiannya," sahutnya dengan begitu tenang.
"Lalu?" pertanyaan dingin itu begitu menusuk dan penuh makna.
"Mereka sudah dibereskan," jawab lelaki itu lagi.
"Jangan sampai terulang kembali," ujar wanita yang memiliki usia tak muda lagi. Hampir seluruh rambutnya telah berubah putih.
"Tidak akan terjadi lagi." Kedua lelaki itu pun memberi hormat. Sedangkan wanita itu sudah duduk di samping sang wanita yang masih terbaring lemah.
"Ada yang ingin aku sampaikan, Nek. Ini hasil lab miliknya," ujar pria berkursi roda itu seraya memberikan amplop putih yang merupakan hasil keterangan lab.
Dengan sabar wanita tua itu membuka dan membaca setiap baris kata yang tertera dalam surat keterangan, sesekali iris matanya melebar. Sedikit terkejut dengan hasil yang ia lihat. Setelah itu, beliau kembali memasukkan surat keterangan ke dalam amplop. Dan mengembalikannya pada sang pria.
"Lakukan perawatan jalan mulai besok, lebih aman menyembunyikannya di rumah." Wanita tua itu pun menatap wajah pucat sang cucu. Wajah yang hampir sepenuhnya mewarisi putra bungsunya. Tangannya yang mulai keriput bergerak untuk menyentuh wajah itu. Lalu mengecup mesra kening sang wanita.
Tidak ada lagi yang bisa menyakitimu, maaf kami terlalu lama menjemputmu. Akan Nenek pastikan, kamu bebas memilih duniamu sendiri.
__ADS_1