Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (32)


__ADS_3

Berkat bantuan Dustin. Panti asuhan itu pun akhirnya ditutup karena laporan Sheena benar adanya. Bahkan panti asuhan itu tidak terdaftar dalam pembangunan legal. Kini semua pelaku kejahatan pun dibekuk. Sedangkan anak-anak dipindahkan ke panti asuhan yang lebih besar.


Sheena memeluk Carlote saat kasus itu berhasil dituntaskan. Setelah itu ia menghampiri Dustin.


"Dustin, terima kasih. Berkat dirimu kami bisa mendapat tempat yang lebih layak. Kami tidak akan melupakanmu." Ucap Sheena.


"Sama-sama."


"Dustin, apa kau akan mampir ke sini lagi jika ada waktu? Aku akan menyiapkan hadiah untukmu."


"Em... akan aku pikirkan." Sahut Dustin.


Sheena mengangguk. Dan pertemuan pertama mereka pun terus berlanjut ke pertemuan berikutnya. Karena Dustin akan menyempatkan diri untuk mampir ke panti saat dirinya berkujung ke Berlin. Tentu saja keluarga besar tidak ada yang tahu soal itu.


Satu bulan kemudian, Dustin datang lagi. Tentu saja Sheena bahagia. Namun, ada yang aneh dengan Dustin. Lelaki itu terlihat berantakan.


"Apa terjadi sesuatu padamu, Dustin?" Tanya Sheena.


Dustin tidak menjawab, ditatapnya gadis itu lamat-lamat. "Ikut denganku," ajaknya.


Sheena pun tidak menoleh. Dan kini mereka ada di halaman belakang yang sepi. "Ada apa, Dustin?"


"Sheena, kau sudah punya kakasih?"


Deg!


Jantung Sheena berdetak kencang mendengar pertanyaan itu. Sejak awal Sheena memang sudah jatuh hati oleh pesona Dustin. Tidak ada yang mempu menolak ketampanan pria itu.


"A-aku tidak pernah punya kekasih." Jawabnya dengan gugup.


Dustin tersenyum tipis. "Kalau begitu, jadilah kekasihku."


Sheena terkejut, jantungnya semakin berpacu hebat.


Ya Tuhan, apa aku sedang bemimpi?


"Kau mau?" Tanya Dustin. Dengan polosnya Sheena mengangguk. Seketika senyuman Dustin mengembang, memperlihatkan dua lesung pipinya yang indah. "Jadi sekarang kau resmi jadi kekasihku, Sheena."


Sheena menggangguk malu. Dustin tersenyum lagi, membuat jantung Sheena semakin berdebar hebat.


Maafkan aku, Sheena. Aku harus melakukan ini agar hatiku tidak semakin menginginkannya, bantu aku kali ini saja. Batin Dustin.


"Sheena."


"Ya?"


"Kau pernah berciuman?"


Mendengar itu seketika wajah Sheena merona. Lalu gadis polos itu pun menggeleng.


"Kau ingin mencobanya?"


"Aku malu, Dustin." Lirih Sheena.

__ADS_1


Dustin tersenyum. "Biar aku mengajarkanmu," dan sejak saat itu keduanya terikat satu sama lain. Meski Dustin tidak menaruh hati pada gadis itu. Tetap saja ia selalu memperlakukan Sheena layaknya kekasihnya. Sikap penyayang Dustin itu justru membuat Sheena semakin jatuh ke dalam lembah terdalam. Sampai ia tak rela jika suatu hari nanti Dustin akan mencampakkannya.


"Sayang." Sheena membuka matanya saat tangan dingin seseorang menempel dipipinya.


"Ah, Dustin. Apa kita sudah sampai?" Kagetnya.


Dustin tersenyum. "Ya, kau siap bertemu Mommy dan Daddy?"


Sheena menggigit bibirnya karena cemas kedua orang tua Dustin akan menolaknya. Dustin yang bisa melihat kecemasan itu tersenyum. Dicecapnya bibir ranum sang kekasih dengan lembut dan singkat. "Jangan cemas, Mommy dan Daddy tidak seburuk yang kau pikirkan."


Sheena mengangguk. "Dustin, bisakah aku berdandan dulu sebelum bertemu mereka?"


Dustin tertawa kecil. "Kau sudah cantik, buat apa lagi berdandan?" Ia tidak berbohong, Sheena memang cantik meski tanpa riasan. Gadis itu terlihat begitu alami dalam melakukan segala hal.


Sheena menyebikkan bibirnya. "Tetap saja aku gugup, Dustin."


"Menggemaskan. Ayo turun, Mommy dan Daddy sudah menunggu kedatanganmu."


"Dustin." Rengek Sheena semakin gugup.


"Berhenti merengek, kau harus membiasakan diri untuk menjadi Nyonya Winston. Hanya hitungan bulan kau akan menjadi milikku." Bisik Dustin, membuat pipi Sheena merona.


"Berhenti menggodaku, Tuan. Ayo, aku rasa sudah siap bertemu orangtuamu."


Dustin tersenyum yang diiringi dengan anggukan, lalu mereka pun bergegas meninggalkan pesawat. Memasuki mobil jemputan yang akan langsung membawa mereka ke mansion.


****


Ditatapnya kamar asing itu dengan seksama. Tentu saja Violet ingat jika tadi malam ia pulang bersama Paul. Gadis itu bangun dari tempat tidur, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia mencari keberadaan sang pemilik apartemen.


Aroma masakan menyeruak masuk ke hidung Violet saat dirinya memasuki area dapur. Ia juga bisa melihat punggung kekar Paul yang membelakanginya.


"Paul."


Lelak itu menoleh. "Hey, kau sudah bangun?" Lalu pandangnnya jatuh pada penampilan Violet saat ini, di mana hanya memakai kemeja besar miliknya. Paul mendesis saat melihat lekuk tubuh Violet yang membayang dibalik kemeja putih itu.


Sial! Dari sekian banyak kemeja, kenapa dia memilih yang putih? Sial sial, adikku sakit sekarang.


Tanpa berdosa Violet mendekati Paul. "Kau masak apa? Harum sekali."


"Hanya membuat omelet daging. Kau suka tidak?"


"Aku pemkan segala." Sahut Violet mendekat dan melihat cara Paul memasak.


"Baguslah, jadi aku tidak perlu pusing saat menyiapkan sarapan untukmu setelah kita menikah." Ujarnya dengan penuh percaya diri.


Violet tertawa kecil. "Kau sangat percaya diri. Hadapi dulu Daddyku."


"Aku pasti bisa menghadapinya." Paul tersenyum begitu manis. Dan sesekali ia melirik ke arah belahan dada Violet.


Sial! Kenapa mataku terus tertuju ke sana? Dan dia tidak memakai bra. Itu sangat seksi.


Violet tersenyum, tentu saja ia sadar ke mana arah pandangan Paul. Gadis itu memang sengaja ingin menggodanya. Penolakan malam tadi membuat harga dirinya dipertaruhkan.

__ADS_1


"Duduklah, sebentar lagi selesai."


"Paul, aku meminjam pakaianmu. Apa aku terlihat lucu?"


"Tidak, kau itu cantik."


"Benarkah, tapi kau menolakku malam tadi."


Paul menghentikan pergerakannya sejenak. Kemudian menoleh. "Aku bukan menolakmu, sayang. Tapi belum saatnya kita bercinta."


"Tapi kenapa? Semua orang pernah melakukannya. Aku rasa kau juga pernah kan?"


"Tidak." Sahut Paul yang berhasil membuat Violet tertawa. "Aku memang tidak pernah."


Tawa Violet pun terhenti. "Kau serius?"


"Ya. Aku tipe setia."


"Wow, sulit mencari lelaki sepertimu, Paul."


"Ya, kaulah yang beruntung mendapatkan aku."


Violet tersenyum. "Ayo kita lakukan, aku ingin mencobanya. Apa kau tidak penasaran?"


Lagi-lagi Paul mendesis. "Jangan memancingku, Vio."


Violet tertawa kecil. "Apa kau terpancing?"


Paul mematikan kompor.


Sret!


Dengan sekali angkat Violet sudah terduduk di atas pantry. "Jangan membangunkan singa yang sedang tidur, Violet."


"Apa dia benar-benar bangun?" Bisik Violet seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Paul.


"Tentu saja. Kenapa kau sangat nakal huh?" Paul menoel hidung mancung Violet.


"Aku hanya penasaran rasanya, usiaku akan memasuki dua lima, tapi aku belum tahu seperi apa rasanya. Lagian kau pasti akan menikahiku kan?"


Paul tersenyum. "Aku tidak akan melakukan itu sebelum kau jatuh cinta padaku. Ayo sarapan."


"Aku ingin sarapan dirimu, Paul." Goda Violet menggigit bibir bawahnya.


Paul mendesis lagi. "Stop it. Kau menguji kesabaranku."


"Hm, memang itu tujuanku. Aku tidak akan membiarkanmu menolakku lagi."


"Sayangnya kau memang harus kecewa." Paul mengangkat tubuh Violet dan mendudukkannya di kursi. Tentu saja Violet kaget. "Sarapanmu pagi ini omelet, bukan aku, sayang. Bersabarlah."'


"Paul!" Geram Violet, dan tawa Paul pun pecah.


Menyebalkan, kenapa sulit sekali menggodanya? Padahal aku sudah berusaha berpakaian seperti ini. Apa aku kurang menarik? Argg... mungkin Lucas benar, aku sudah expired.

__ADS_1


__ADS_2