Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (66)


__ADS_3

Sudah seminggu sejak kejadian itu, Dustin benar-benar tak pernah berkunjung lagi. Bahkan lelaki itu tak bisa dihubungi. Dan itu membuat Violet sedih. Meski begitu, ia tetap menanti kedatangannya. Lalu meminta maaf atas apa yang sudah terjadi.


Violet terbangun dari tidurnya saat mendengar deringan ponsel. Karena berpikir itu Dustin, Violet pun langsung bangkit dan menyambar ponselnya. Namun, ia harus kecewa karena si penelepon bukanlah Dustin, melainkan Lea yang melakukan panggilan video. Dengan malas ia pun menerimanya.


"Vio!" Seru Lea saat Violet menerima panggilan. Tentu saja Violet kaget dan langsung memelototinya.


"Kenapa kau berteriak, Lea?" Kesal Violet kembali berbaring karena sangat mengantuk. Pasalnya di Jakarta masih gelap karena waktu menunjukkan pukul dua malam.


"Vi, ini darurat." Pekik Lea lagi dengan wajah paniknya.


"Apa lagi sih?" Sahut Violet dengan malas. Bahkan matanya kembali terpejam.


"Omg anak ini. Masih saja kau bisa santai, lihat pesanku. Kau pasti tidak akan sesantai ini." Kesal Rea.


Violet membuka matanya yang masih lengket, lalu melihat undangan itu sekilas. "Siapa yang akan menikah? Apa Gabriel?"


Lea membulatkan matanya. "Ya Tuhan, Vi. Buka matamu dan baca baik-baik namanya."


"Ck, aku sangat ngantuk, Le. Kau yang akan menikah ya? Hah, selamat untukmu." Ucap Violet kembali memejamkan mata. Ia benar-benar malas karena mengantuk berat sekarang.


Lea menghela napas berat. "Bukan aku, tapi Dustin. Ya Tuhan, Vi. Sejak kapan kau bodoh?"


Mendengar itu Violet pun langsung terduduk. "Dustin?" Kagetnya. Lalu dilihatnya undangan itu baik-baik. Benar saja, di sana tertulis nama Dustin dan Sheena yang akan menikah dua hari lagi. Mata Violet pun membulat sempurna.


Lea mengangguk. "Sudah aku katakan ini gawat. Kau harus menghentikan semuanya sebelum terlambat. Lusa mereka akan melangsungkan pernikahan."


Seketika wajah Violet pun langsung panik. Bahkan memerah karena terlalu emosi. "Brengsek kau, Dustin. Setelah membuatku hamil, sekarang kau ingin menikahi orang lain?"


"Berhenti mengumpatinya di sana, itu tak ada gunanya. Sekarang kau pulang, hentikan pernikahan mereka. Sekarang kau punya hak karena hamil anaknya." Lea pun semakin memprovokasi.


Dengan napas terengah dan emosi yang sudah memuncak. Violet bangkit dari tempat tidur, lalu menatap Lea serius. "Carikan aku tiket pulang sekarang juga, Lea. Aku akan mengabisinya setiba di sana. Brengsek! Aku akan membunuhnya jika dia berani menikahi wanita lain."


"Ya, aku akan membelikanmu tiket pulang sekarang juga. Cepat bersiap." Kata Lea yang kemudian tersenyum tipis. "Kau harus memberinya pelajaran, jika bisa tendang saja batangnya."


"Ya, kau benar. Aku akan memberinya pelajaran. Segera kirimkan tiketnya padaku. Secepatnya, Le." Lea pun mengangguk, setelah itu langsung memutuskan panggilan.

__ADS_1


Violet melempar asal ponselnya di atas kasur. Kemudian beranjak menuju lemari dan mengambil sebuah jaket kulit. Setelah membereskan semua barang-barang penting ke dalam tasnya, Violet pun bergegas menuju Bandara. Ia benar-benar tidak sabar untuk menghajar lelaki itu sampai puas. Enak saja ingin menikahi wanita lain saat dirinya sedang hamil anak lelaki itu.


Setelah perjalanan yang cukup panjang, Violet tiba di kediaman Winston tepat pukul tujuh malam. Namun, ia merasa heran karena tidak ada tanda-tanda pesta pernikahan di sana. Suasana mansion juga sangat sepi saat ini.


Karena sudah dirasuki kemarahan, Violet pun tidak banyak berpikir lagi dan menekan bel bertubi-tubi sampai ada yang membukakan pintu untuknya. Ia tak peduli jika kedatangannya saat ini benar-benar mengganggu istirahat orang lain.


Tidak berapa lama pintu pun terbuka, menampakkan kepala pelayan yang kaget saat melihat kehadiran Violet di sana. "Nona, kau...."


Kepala pelayan itu berhenti bicara karena Violet nyelonong masuk dan mengabaikannya begitu saja.


"Loh, ada apa dengan Nona? Kenapa datang malam-malam begini?" Herannya. Tidak lama dari itu Alexa dan Winter pun keluar dari kamarnya. "Siapa yang datang, John?"


Lelaki paruh baya itu menjawab. "Nona Violet, Nyonya."


Sontak Alexa pun kaget mendengarnya. "Violet?"


Lelaki bernama John itu mengangguk. Seketika Alexa pun menatapn suaminya. "Dustin!" Pekik Alexa yang langsung berlari menuju kamar putranya. Disusul oleh Winter tentunya.


Di kamarnya, Dustin membuka pintu karena pintunya terus digedor oleh seseorang. Namun, lelaki itu terhenyak saat melihat Violet di sana.


Sebuah tinjuan berhasil mendarat di hidung lelaki itu. Dustin sempat terhuyung kebelakang sangking kuatnya pukulan yang Violet berikan. Bahkan kepalanya sampai pening dan pandangannya mengabur.


"Brengsek!" Teriak Violet mengikis jarak antara dirinya dan Dustin. Lalu memberikan tamparan dipipi lelaki itu. Tentu saja Dustin kebingungan karena mendapat serangan dadakan. Setelah hidung, kini pipi menjadi sasaran empuk Violet.


"Apa yang kau lakukan?" Kesal Dustin seraya menyeka darah yang keluar dari hidungnya. Dan lagi-lagi Violet memberikan tamparan dipipinya.


Alexa dan Winter yang baru saja tiba pun kaget saat menyaksikan itu. Bahkan Alexa sampai menutup mulutnya tak percaya dengan yang dilihatnya barusan.


Sheena yang juga mendengar keributan itu pun keluar dari kamarnya dan bergegas ke kamar Dustin.


"I hate you, Dustin!" Teriak Violet lagi seraya menjambak lelaki itu. Dustin sama sekali tidak melawan dan membiarkannya begitu saja. Bahkan Alexa, Winter dan Sheena pun mematung sangking kagetnya.


"B*j*ng*n! Lelaki tidak tahu malu." Umpat Violet yang kemudian menangis. Perlahan pergerakannya pun mengendur.


Tentu saja kesempatan itu Dustin manfaatkan dengan memegangi kedua tangan Violet. Ditatapnya wanita itu lamat-lamat. "Ada apa denganmu, Vi?" Tanyanya dengan nada lembut.

__ADS_1


Seketika tangisan Violet pun semakin kencang, lalu menarik kedua tangannya dari genggaman Dustin. Lalu memukul dada lelaki itu bertubi-tubi. "Kenapa kau terus lakukan hal ini padaku, Dustin? Apa salahku padamu?"


Mendengar itu Dustin semakin bingung dibuatnya. "Apa maksudmu, Vi?" Dustin menahan kedua tangan Violet agar berhenti memukulnya.


Violet melayangkan tatapan tajam padanya. Lalu berteriak lagi. "Jangan berpura-pura bodoh, Dustin. Kau akan menikahi Sheena bukan? Lalu apa artinya aku bagimu, hah? Kenapa kau terus mempermainkan perasaanku? Apa salahku padamu? Katakan Dustin!"


Dustin benar-benar tak memahami semua perkataan Violet. Bukan hanya dirinya, Alexa, Winter dan Sheena pun terlihat kebingungan.


"Siapa yang akan menikah?" Tanya Dustin dengan raut bingungnya. Melihat itu amarah Violet pun perlahan meredup, meski dadanya masih naik turun karena sisa emosinya.


"Iya, Vio. Siapa yang akan menikah?" Timpal Alexa beranjak mendekati mereka. Spontan Violet pun berbalik.


"Aunty, Dustin dan Sheena akan menikah besok. Bagaimana mungkin kau tidak tahu?" Adu Violet dengan hidung dan mata yang memerah karena menangis.


"Violet, tidak ada yang akan menikah besok. Aku dan Dustin sudah tidak memiliki hubungan apa pun." Jelas Sheena ikut masuk ke kemar Dustin.


Sedangkan Winter, ia hanya menonton sambil tersenyum geli.


Dan kali ini gantian Violet yang kebingungan. Gadis itu berbalik menghadap Dustin. Spontan Dustin pun menggeleng.


"Tapi... Lea yang memberi tahuku. Bahkan dia mengirimku undangannya. Karena itu aku langsung terbang ke sini. Kalian lihat ini." Violet mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan undangan itu pada semua orang.


Alexa menghela napas berat, lalu menghampiri Violet dan menyapu jejak air mata gadis itu. "Ya ampun, sayang. Siapa saja bisa menbuat undangan palsu. Dan itu sama sekali tidak benar. Tidak ada yang akan menikah besok. Lagipula yang akan menikah itu Gabriel, dan itu baru dilangsungkan minggu depan."


Mendengar itu Violet pun langsung sadar jika dirinya sudah dibohongi. Ia pun menangis lagi karena sangat malu atas kehebohan yang dibuatnya barusan.


Alexa yang melihat itu pun tersenyum geli dan langsung memeluknya. "Tidak apa, Aunty paham perasaanmu."


"Maafkan aku." Lirih Violet memeluk Alexa erat. "Aku benar-benar bodoh."


Dustin meraih tangan Violet, dan melihat jika tangan gadis itu membiru akibat memukulnya terlalu kuat.


Violet menarik diri dari dekapan Alexa, lalu berbalik. Ditatapnya Dustin dengan perasaan bersalah. Apa lagi hidung lelaki itu masih mengeluarkan darah. "Dustin, aku...."


"Ayo obati tanganmu." Sela Dustin membawa Violet duduk di sofa.

__ADS_1


Alexa pun langsung mengajak Winter dan Sheena keluar. Lalu menutup pintu kamar, memberikan waktu untuk mereka berdua.


__ADS_2