
Sudah tiga hari lamanya Violet tak kunjung pulang ke mansion, bahkan nomornya juga tak bisa dihubungi. Membuat kedua orang tuanya cemas setengah mati.
"Jarvis, di mana putri kita?" Tanya Alexella dengan air mata yang sudah membanjiri pelupuk matanya.
Jarvis memeluk istrinya itu dengan lembut. "Aku masih mencarinya, sayang. Mungkin saja dia sedang liburan."
"Liburan apanya? Dia tidak pernah pergi tanpa pamit. Seseorang pasti sudah menculiknya. Bahkan Paul juga tidak tahu dia kemana. Cari dia sampai dapat, Jarvis. Aku ingin putriku." Tangisan Alexella pun pecah.
"Jangan menangis, putri kita itu bukan gadis lemah. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Aku yakin dia sedang bersenang-senang di suatu tempat." Ujar Jarvis mencoba menenangkan istrinya meski ia sendiri tak yakin dengan perkataannya itu.
"Bagaimana aku bisa tenang, Jarvis? Violet tidak pernah pergi tanpa jejak sebelumnya. Dia pasti meminta izin kita dulu." Alexella memukul dada suaminya karena kesal. Jarvis pun membiarkannya karena dirinya pun sama cemasnya. Hanya saja ia menyembunyikan semua itu agar Alexella tak semakin khawatir. Sudah puluhan anak buahnya ia kerahkan untuk mencari keberadaan Violet. Sayangnya sampai detik ini tak ada satu pun yang menemukan gadis itu. Bahkan mereka sudah memeriksa data penumpang baik darat, laut maupun udara. Sayangnya Violet tak terdaftar di mana pun. Itu artinya gadis itu masih ada di Berlin.
Menghilangnya Violet pun mulai terdengar oleh keluarga besar Digantara. Sweet yang mendengar kabar buruk itu pun terkejut sampai kesehatannya menurun. Karena itu Alexella dan Jarvis pun dipanggil ke mansion. Kini semua orang sudah berkumpul di mansion utama.
"Siapa yang berani mengusik ketenangan kita, dia cari mati. Brengsek!" Umpat Gabriel dengan amarah yang membara.
Semua orang terdiam cukup lama sembari menatap Sweet yang terbaring lemah di atas ranjang. Sedangkan Eveline terus mengusap punggung tangan sang grandma dengan lembut. Berharap wanita tersayangnya itu segera sadar.
"Aunty, apa sebelumnya Violet sedang ada masalah?" Tanya Lea menatap Alexella penasaran.
Alexella pun menggeleng. "Dia tidak pernah mengatakan apa pun. Bahkan sebelum menghilang, dia masih ceria seperti biasanya. Tapi...." Alexella terlihat menggantung kalimatnya. Dan itu berhasil mencuri perhatian semua orang.
"Tapi apa Xella?" Tanya Arez dengan tatapan penuh selidik.
"Beberapa hari lalu Violet menerima sebuah surat, aku tidak tahu apa isinya. Tapi kemungkinan itu ada hubungan dengan menghilangnya putriku," jelas Alexella.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal itu padaku, sayang?" Tanya Jarvis kaget.
"Maaf, aku baru mengingatnya."
"Em... lalu di mana surat itu sekarang?" Kali ini Melvin yang angkat bicara.
Alexella pun menatapnya. "Aku tidak tahu, mungkin Violet menyimpannya."
"Sebaiknya kita cari surat itu, supaya kita tahu apa isinya. Mungkin saja itu sebuah petunjuk." Ujar Marvel. Yang lain pun mengangguk setuju.
"Kalian cari saja di kamar Violet, biasanya dia akan meletakkan barang penting di dalam laci lemari bagian dalam." Kata Alexella.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu biarkan aku yang mencari benda itu." Tukas Melvin.
"Aku ikut denganmu," pinta Lea yang langsung dijawab anggukkan oleh Melvin. Kemudian keduanya pun bergegas meninggalkan tempat itu.
Suasana pun kembali sunyi karena tidak ada yang bersuara, sepertinya mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
****
Baik Melvin maupun Lea tidak tahu harus mengatakan apa setelah menemukan benda yang mereka cari. Mereka sendiri terkejut melihat isinya.
"Sebaiknya kita tidak perlu memberi tahu orang lain soal isi surat ini. Aku yakin Violet juga sengaja menyembunyikannya." Ujar Lea menatap benda ditangannya dengan nanar.
"Ya. Kita juga harus menyelidikinya lebih jauh. Siapa yang mengirim benda ini? Apa tujuannya? Lalu apa masalah apa yang Violet hadapi saat ini."
"Tentu saja soal hubungan asmaranya." Sahut Lea memutar bola matanya malas
"Tapi aku yakin bukan itu penyebabnya, pasti ada hal yang lebih penting sampai Violet memutuskan untuk menghilang." Kata Melvin.
"Tapi aku sangat yakin Dustin ada hubungannya dengan hal ini." Timpal Lea lagi.
Mendengar itu Melvin langsung menatap Lea. "Sepertinya kita harus terbang ke Washington malam ini juga."
"Aku akan meminta Melvin menghadapi mereka untuk sementara waktu."
Lea pun mengangguk.
"Kita harus menemui akar masalahnya lebih dulu untuk tahu inti masalahnya."
Lagi-lagi Lea pun mengangguk setuju. Kemudian mereka pun kembali meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan rencana mereka.
Di sisi lain, Dustin terus mengurung dirinya di kamar beberapa hari ini. Ribuan kali dirinya mencoba menghubungi Violet, sebanyak itu juga ia harus menelan pahitnya kekecewaan. Karena sampai detik itu Violet tak bisa dihubungi.
Dustin pun berteriak frustrasi seraya melempar ponselnya ke atas ranjang. Setelah itu ia ikut menjatuhkan bokongnya di sana sambil mengusap-ngusap wajahnya dengan kasar. Mengutuk dirinya sendiri atas kebodohan yang dibuat.
Tok tok tok tok
Entah sudah yang keberapa kali pintu kamarnya diketuk. Namun Dustin terkesan mengabaikannya. Sekali pun Sheena yang melakukan itu, Dustin tetap diam diposisinya.
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanya Alexa pada Sheena.
Sheena menggeleng. "Dia masih tak menjawab, Mom." Jawabnya dengan wajah cemas.
"Ya ampun, apa yang sebenarnya terjadi? Setelah bertengkar dengan Lucas, dia malah mengurung diri seperti ini. Lucas juga tidak mau membuka mulut atas apa yang terjadi. Membuatku pusing saja." Omel Alexa panjang lebar.
Sheena pun tidak bisa memberikan komentar apa pun, ia hanya diam dengan wajah cemas.
"Sudahlah, sebaiknya kau juga istirahat, Sheena. Mungkin besok Dustin akan keluar dari kamarnya. Anak itu memang begitu jika sedang menghadapi masalah besar. Setelah masalahnya selesai, dia pasti akan keluar sendiri."
Sheena pun cuma bisa mengangguk. Kemudian beranjak dari sana.
Saat hendak ke kamar, Sheena tidak sengaja berpapasan dengan Lucas. Lelaki itu meliriknya dengan tatapan tak bersahabat.
"Berhenti bermimpi terlalu tinggi, kau tidak akan pernah bisa memisahkan mereka. Sebesar apa pun usahamu, kau akan tetap gagal." Gumam Lucas sambil berlalu melewati Sheena. Tentu saja Sheena masih bisa mendengar itu.
"Apa maksudmu?" Serunya yang berhasil menahan langkah kaki Lucas.
Lelaki tampan itu pun berbalik, lalu tersenyum kecut. "Jangan berpura-pura polos di depanku, Sheena. Aku tahu apa yang kau perbuat dibelakang Dustin akhir-akhir ini."
Mendengar itu wajah Sheena mendadak pucat. "A...apa maksudmu? Aku tidak paham." Gugupnya.
Lucas tertawa hambar, lalu maju beberapa langkah. Spontan Sheena pun mundur. "Kau benar-benar kucing liar, Sheena. Berusaha mendapat kasih sayang pemungutmu, hah? Sayangnya caramu itu kotor. Mungkin kau lupa, Violet masih sepupuku."
Lucas tersenyum puas saat melihat ketakutan di mata Sheena. "Berhenti mengacau di keluargaku, jika kau tahu diri. Maka pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah kembali. Sebelum kekasihmu tahu akal busukmu. Kau memang kucing liar yang hebat. Berani sekali mengusik keluargaku."
Sebelum pergi Lucas menepuk pipi Sheena. Tentu saja gadis itu semakin ketakutan bukan main. Puas dengan hal itu, Lucas pun bergegas pergi meninggalkannya.
Sepeninggalan Lucas, Sheena langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. Tubuhnya bergetar hebat karena rasa takut. Lalu seketika tubuhnya pun luruh ke lantai. Air matanya pun ikut luruh. "Maafkan aku, Dustin. Aku melakukan semua ini hanya untuk memilikimu sepenuhnya. Aku tahu kau masih sangat mencintainya. Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Kau hanya milikku, Dustin. Kau hanya milikku."
Sheena memeluk kedua lututnya, lalu menangis sesegukkan. Benar, memang Sheena yang mengirim surat itu pada Violet. Juga berpura-pura menerima surat yang sama dari pengirim tak dikenal. Tujuannya yaitu untuk merenggangkan hubungan Violet dan Dustin. Dengan memanfaatkan kebaikkan dan ketulusan Dustin padanya. Ia melakukan hal tak masuk akal itu semata-mata ingin memiliki lelaki itu sepenuhnya. Karena ia tahu Dustin sangat mempercayainya.
Ia tahu, setelah menerima surat itu. Violet pasti akan menghubungi Dustin untuk mengetahui kebenarannya. Lalu Dustin pun akan salah paham dan mengira Violet lah pelakunya. Dan rencananya itu berhasil.
Melihat hubungan mereka yang mulai renggang, Sheena memanfaatkan hal itu lagi dengan membayar seseorang untuk menjebak Violet. Membuat drama seolah-olah Violet menghabiskan malam bersama lelaki asing agar Dustin semakin membencinya. Dan sama sekali tak berniat melakukan hal buruk pada gadis itu. Hanya ingin membuat hubunganya dengan Dustin renggang.
Sayangnya tanpa ia ketahui, Lucas mengetahui rencananya itu dan memutar keadaan. Yang mana juga memanfaatkan kondisi Dustin yang sedang mabuk berat saat itu. Dan meminta sang mata-mata yang dikirimnya itu untuk menaruh obat perangsang dalam minuman kembarannya. Lalu menjadikan momen itu untuk mempersatukan keduanya.
__ADS_1
Namun, Dustin yang sejak awal sudah salah paham pada Violet. Membuat lelaki itu gelap mata dan melimpahkan semua kesalahan pada Violet. Dan semuanya malah menjadi kacau seperti saat ini.