Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 9


__ADS_3

Sky terus termenung di dalam kamar. Kepalanya terasa sakit memikirkan semua masalah yang tengah ia hadapi saat ini. Ia harus memutuskan semuanya malam ini juga. Sedangkan saat ini waktu sudah menunjukkan sore hari. Ia hanya punya waktu beberapa jam.


Tangan Sky yang bergetar mencoba untuk meraih ponsel. Ditatapnya wajah sang kekasih yang ia jadikan sebagai wallpaper. Seulas senyuman terbit di bibirnya yang tipis. Ia kembali mengingat bagaimana lembutnya perlakuan lelaki itu pada dirinya. Bahkan setiap kali mereka bersama, Arel selalu berhasil membuatnya tertawa.


"Apa yang harus aku lakukan, Arel? Apa kau akan marah padaku jika aku pergi tapa pamit?" Sky memeluk dirinya sendiri. Dan kembali terhanyut dalam lamunan.


Beberapa saat kemudian, Sky bangkit dari posisinya. Menyambar tas kecil di atas meja dan memasukkan ponsel ke dalamnya. Lalu bergegas keluar dari kamar.


"Mau ke mana, Sky?" Tanya sang Ibu.


"Mengakhiri hubunganku dengan Arel, Mom." Jawab Sky yang langsung beranjak pergi dari rumah.


Kini Sky sudah berdiri di depan pintu panthouse sang kekasih. Dengan tangan yang gemetar, Sky menekan bel. Tidak lama pintu terbuka dan menampakkan seorang pria tampan dengan senyuman yang mengembang. Arel terlihat sangat tampan dengan rambut yang masih basah. Sepertinya lelaki itu baru selesai mandi.


"Masuklah Darling." Tanpa ragu Arel menarik tangan Sky dan membawanya masuk ke dalam. Lalu membiarkan Sky duduk di tepi rajang.


"Kebetulan kau datang, Sayang. Aku ingin kau mengeringkan rambutku." Pinta Arel memberikan handuk kecil. Lalu duduk di atas ranjang dan menundukkan kepalanya, meminta Sky segera melakukan tugasnya. Arel selalu terlihat begitu manja saat di depan Sky.


Sky tersenyum dan segera mengeringkan rambut kekasihnya dengan lembut.


"Aku merindukanmu, Sky. Seharian ini kau ke mana saja huh?" Tanya Arel merangkul pinggang ramping Sky. Lalu menariknya hingga gadis itu duduk di atas pangkuan. Sky pun memberikan tatapan tajam pada kekasihnya.


"Arel, rambutmu masih belum kering," protesnya.


"Biarkan saja, saat ini kau obati dulu rasa rinduku." Kata Arel menatap netra biru langit Sky. "Kenapa matamu merah, Sayang? Kau menangis?"


Sky tersenyum dan menggeleng. "Aku kelilipan tadi." Alibinya. "Arel, apa kau mencintaiku?"


Alis Arel pun terangkat sebelah. "Aku rasa tanpa menjawab pertanyaanmu itu kau sudah tahu jawabannya." Arel mengecup bibir manis kekasihnya.


Sky menatap netra coklat keemasan kekasihnya begitu dalam. Arel merasa ada yang aneh dengan sikap kekasihnya itu.


"Kamu sangat aneh, Sayang. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu huh?" Bisik Arel menyampirkan rambut panjang Sky ke belakang.


Sky tersenyum begitu manis. "Dirimu, Arel. Dirimu yang saat ini menganggu pikiranku. Apa yang terjadi jika aku pergi dari hidupmu?"


Arel menanggapi itu dengan senyuman menawan. "Tidak akan terjadi apa pun, aku percaya kau akan selalu menemaniku sampai mataku tertutup selamanya. Aku tahu kau juga sangat mencintaiku."


Sky terdiam sejenak. "Berjanji untuk selalu bahagia."


"Aku akan selalu bahagia bersamamu, Sky." Arel sama sekali tak menyimpan curiga pada gadis itu. Ia begitu mempercayai jika gadisnya tak akan pernah pergi.


Sky mengusap pipi Arel dengan lembut, lalu mencecap bibir sang kekasih begitu dalam. Tentu saja Arel membalasnya dengan penuh kelembutan. Ia merengkuh pinggang ramping Sky. Menariknya agar lebih dekat.


Sky melepaskan pagutannya, memperdalam tatapan pada netra sang kekasih. "Aku ingin melakukan itu denganmu, Sayang." Bisiknya.


Arel terhenyak sejenak menatap wajah cantik itu penuh tanya. "Kita akan melakukannya setelah menikah, Sayang. Tidak sekarang."


"Aku ingin sekarang, Arel." Tatapan Sky penuh permohonan.

__ADS_1


"Ada apa denganmu, Baby? Kau sangat aneh. Bukankah kita sudah berjanji tak akan melakukan itu sampai kau menjadi istriku. Beri aku waktu satu tahun lagi, aku akan langsung menikahimu. Saat ini aku belum punya apa-apa, Sky. Aku tak mungkin membiarkan hidupmu susah."


Sky meneteskan air mata haru. Hatinya begitu sakit mengingat masalah yang ia hadapi. Mungkinkah ia rela meninggalkan lelaki yang selalu bersikap manis padanya? Bahkan cinta lelaki itu lebih besar dari pada cintanya sendiri.


"Tapi aku ingin sekarang, Arel. Aku menginginkanmu." Dada Sky terasa sesak. Dengan kasar ia mendorong Arel hingga terbaring. Diciumnya bibir manis itu dengan penuh hasrat.


Arel terhenyak dan menghentikan ciuman mereka. "Sayang?" Arel bisa melihat tatapan penuh luka di mata kekasihnya. "Ada apa huh?"


"Kau masih bertanya? Aku sudah bilang kan, aku menginginkanmu. Kau lelaki tak peka." Rengek Sky memukul dada Arel. Membuat lelaki itu tertawa renyah. Wajah Sky sangat lucu dengan hidung dan pipi yang memerah. Arel merengkuh pinggang Sky, mengecup bibir itu dengan lembut.


"Jangan menyesal, aku pria normal Sky. Kau sudah membangunkan hasratku, kau sangat nakal karena berani menggodaku."


Sky terkekeh. "Kau sangat murahan, digoda sedikit langsung luluh." Ledek Sky.


"Itu karena dirimu, Sayang. Ah, sepertinya besok aku akan langsung menikahimu. Aku tak bisa melepasmu setelah aku tahu kau senakal ini." Ujar Arel membingkai wajah kekasihnya. Saat ini pisisi Sky masih berada di atasnya.


"Fokuslah untuk pelantikan ahli waris, jangan pikirkan aku. Kau harus mendapatkan hak yang sama seperti Arez. Berjanjilah padaku untuk menjadi sesukses Ayahmu." Pinta Sky dengan tatapan memohon.


"Aku berjanji, selama kau ada disisiku. Aku merasa ada yang aneh, apa kau berniat untuk meninggalkanku huh? Karena aku belum punya apa-apa sekarang?"


Sky terdiam cukup lama.


"Aku bercanda, Sayang. Sudah aku katakan, aku percaya padamu." Arel memutar posisinya menjadi di atas Sky. "Kau harus tahu di mana posisimu, Sayang."


Sky tersenyum, menangkup wajah Arel dan menatapnya dengan penuh cinta. "Aku serahkan diriku padamu, Arel. Aku milikmu." Karena setelah ini kita mungkin tak bisa bertemu lagi. Sambung Sky dalam hati.


"Kau akan selalu menjadi milikku, begitu pun sebaliknya." Bisik Arel di telinga Sky. Keduanya pun mulai terhanyut dalam permainan panas. Sky tersenyum bahagia, setidaknya ia sudah memberikan mahkotanya pada Arel, kekasih yang amat ia cintai.


Malam hari, Sky terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam dinding. Ternyata sudah menunjukkan pukul delapan. Sky mendongak dan langsung melihat wajah tenang Arel yang masih tertidur pulas. Sky tersenyum, memberikan kecupan terakhir di bibir manis kekasihnya.


"Maafkan aku, kau harus bahagia tanpa aku, Arel. Aku sangat mencintaimu. Mungkin takdirku memang bukan untukmu, maafkan aku." Sky meneteskan air matanya. Ia bangkit dari tidurnya dan beranjak dari ranjang perlahan, tak ingin membangunkan kekasihnya. Karena dirinya tak akan bisa pergi jika Arel terbangun. Dengan gerak cepat pula ia memakai kembali pakaianya.


Sky meringis kecil saat dirinya melangkah pergi. Sisa permainan panas mereka masih membekas dan membuatnya sedikit kesakitan. Namun Sky tak peduli akan hal itu. Ia langsung meninggalkan penthouse Arel dengan luka yang mendalam. Kakinya terasa berat meninggalkan tempat itu. Tempat yang penuh dengan kenangan. Namun ia tak punya pilihan, di satu sisi ada kedua orang tuanya dan disisi lain ada lelaki itu.


****


Kini Sky sudah berada di sebuah kamar hotel yang sudah didekorasi layaknya kamar pengantin. Satu jam yang lalu, Sky resmi menjadi seorang istri. Ia sudah mengucapkan janji suci pernikahan di sebuah gereja, dihadapan pendetan dan kedua orang tuanya. Namun tak ada sedikitpun kebahagian yang terpancar dalam dirinya. Hanya ada tatapan kosong, seolah tak ada kehidupan di sana. Karena jiwanya memang sudah mati sejak meninggalkan lelaki yang ia cintai.


Sky masih mengenakan gaun pengantin sederhana. Sejak tadi, ia terus terdiam di ujung pembaringan. Sky memutuskan untuk menerima pernikahan itu. Karena ia tak mungkin membiarkan orang tuanya mati. Meski ia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri.


Pintu kamar pun terbuka, lalu tertutup kembali dan terdengar suara pintu itu di kunci. Sky sama sekali tak peduli dan masih bergeming. Lelaki bertubuh jangkung yang merupakan suami Sky pun melangkah pelan menghampiri sang istri. Lelaki itu melepas tuxedonya dan melemparnya asal. Tatapannya terus tetuju pada gadis cantik yang sudah resmi menjadi istrinya. Ia tersenyum penun arti, lalu duduk di sisi sang istri.


"Kau...." lelaki itu hendak menyentuh pundak Sky. Namun pergerakannya tertahan saat melihat begitu banyak bercak kemerahan yang mulai memudar di lehet jenjang Sky. Rahang lelaki itu mengerat dan dengan kasar ia membalik tubuh Sky. Ia bukan orang awam yang tak tahu tanda apa itu.


Sky yang terkejut pun langsung menatap lelaki itu dengan tatapan tajam. Seolah tak ingin disentuh olehnya.


Lelaki itu melayangkan tatapan sengit pada Sky. Lalu bangun dari posisinya. "Sialan!" Umpatnya mengacak rambut karena frustasi. Kemudian dengan gerak cepat ia menarik rambut Sky dengan kuat. Sky meringis kesakitan, tetapi wanita itu masih diam.


Plak! Wajah Sky tertoleh karena mendapat sebuah tamparan keras dipipinya. Ia juga meraskanan panas dan perih di pipinya. Namun rasa sakit itu seolah tenggelam dalam rasa sakit di pangkal hatinya.

__ADS_1


"Berani sekali kau memberikan kesucianmu pada orang lain, padahal kau tahu akan menikah denganku. Aku paling benci barang bekas orang lain." Bentak lelaki itu mendorong Sky hingga terlentang di atas ranjang. Kemudian bergegas pergi meninggalkan kamar malam pertama mareka. Tangisan Sky pun pecah seketika, hatinya benar-benar sakit. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan erat. Meratapi nasibnya yang malang.


Pagi hari, Arel terbangun dari tidurnya. Namun ia tak menemukan keberadaan sang kekasih. Lelaki itu tersenyum saat mengingat kejadian sore kemarin. Sampai membuatnya tertidur hingga pagi. Karena itu pengalaman pertama untuknya. Pengalam yang berhasil membuat hatinya tergelitik.


"Sky, kau di kamar mandi, Sayang?" Teriaknya seraya bangun dari tidurnya. Ia memakai kaos dan celanya kembali, lalu beranjak menuju kamar mandi. Namun keningnya mengerut saat tak menemukkan gadisnya.


"Apa dia pulang? Tapi biasanya dia akan menungguku sampai bangun. Sky, kau di mana sayang?" Arel keluar dari kamar menuju dapur. Namun di sana juga ia tak menemukan Sky.


Arel kembali ke kamarnya, mungkin menghubungi Sky adalah hal yang benar. Bisa saja gadis itu langsung pulang karena ada urusan. Arel pun segera menghubungi Sky. Namun lagi-lagi ia merasa heran karena ponsel gadis itu tak bisa dihubungi.


"Kau kemana Sky? Jangan membuatku cemas." Arel menyambar kunci mobilnya, lalu mengambil jaket dan segera keluar dari penthouse.


Hanya butuh lima belas menit Arel sampai di depan rumah kecil keluarga Sky. Namun rumah itu tampak sepi dan tak memperlihatkan kehidupan.


"Sky." Panggilnya sembari menggedor pintu. Namun tak ada sahutan dari dalam. Sampai seorang pria tua menghampiri Arel. Menarik perhatian pemuda itu.


"Kau cari siapa, Tuan? Keluarga ini sudah pergi, mereka ikut bersama suami putrinya."


Arel mengerut bingung. "Suami putrinya? Bukankah mereka hanya memiliki seorang putri, yaitu Sky?"


"Ya, kau benar Tuan. Sky sudah menikah malam tadi."


Deg! Jantung Arel seakan melompat keluar dari tempatnya. Perkataan pria itu membuatnya tak percaya. Arel pun tertawa renyah.


"Anda bercanda, Tuan? Saya kekasihnya, kami merencanakan pernikahan tahun depan." Ujar Arel dengan tawa sumbangnya.


"Saya tidak bercanda, bahkan malam tadi saya melihat sendiri gadis cantik itu memakai gaun pengantin dan di jemput seorang pria kaya."


Arel tersenyum getir. Ia masih tidak percaya. Sebelum dirinya melihat sendiri kenyataan itu. Pria tua itu menggeleng dan meninggalkan Arel sendirian.


"Sky." Arel mencoba untuk menghubunginya lagi. Namun hasilnya masih sama, ponsel Sky tak bisa dihubungi. Arel mengusap wajahnya frustasi.


"Kau tak mungkin meninggalkanku kan, Sky. Kita sudah melewatkan waktu bersama, bahkan kau yang memintanya." Arel menggeram kesal karena gadis itu benar-benar tak bisa dihubungi. "Akh... sialan kau Sky!"


Arel melangkah pasti menuju mobilnya, membanting pintu mobil dengan keras. Lagi dan lagi ia menghubungi sang kekasih. Dan jawabannya tetap sama tentunya.


Berjanji untuk selalu bahagia.


Dirimu, Arel. Dirimu yang saat ini menganggu pikiranku. Apa yang terjadi jika aku pergi dari hidupmu?


Fokuslah untuk pelantikan ahli waris, jangan pikirkan aku. Kau harus mendapatkan hak yang sama seperti Arez. Berjanjilah padaku untuk menjadi sesukses Ayahmu.


Sekelebat penggalan suara Sky sore kemarin kembali terputar dimemorinya. Arel mulai frutasi dan memukulkan tangannya disetir mobil. "Jadi ini alasan kenapa sikapmu kemarin sangat aneh, Sky. Aku pikir kau hanya ingin menakutiku, bahkan aku tak menaruh curiga sedikit pun saat kau menginginkan hal itu. Jika itu benar, jahat sekali kau, Sky. Kau mencampakkan aku setelah apa yang kita lalukan kemarin? Apa aku begitu tak berarti dalam hidupmu?"


Tetes demi tetes air matanya mulai membasahi pipi. Semuanya terasa menyakitkan. Kekasih yang teramat ia cintai mengkhiantianya setelah semua yang mereka lewati. "Akhhh...." Arel mengacak rambutnya frustasi.


Dengan emosi yang memuncak, Arel melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tak peduli jika dirinya akan mati. Saat ini hatinya benar-benar hancur. Bahkan otaknya tak bisa berpikir jernih, karena dalam kepalanya hanya ada Sky dan Sky.


Sesampainya di penthouse. Arel menghancurkan semua benda yang ada di sana. Tidak peduli benda itu mahal sekali pun. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat emosi. Dan tak ada yang bisa meredamnya, kecuali Sky dan Ibunya. Mungkin Alexa bisa mengajaknya bicara, tapi tak bisa meredam amarah lelaki itu.

__ADS_1


Arel terus berteriak frustasi, bahkan tanpa ragu menghujamkan tangannya ke dinding kokoh hingga mengeluarkan darah segar. Tidak cukup sampai di sana, Arel kembali melayangkan tinjuan pada pas berukuran besar, sampai benda itu pecah berkeping-keping.


"Sky." Teriak Arel frustasi. Ia menjatuhkan dirinya ke lantai. Menangis dalam kesedihan yang mendalam.


__ADS_2