
"Aku sudah sering mengingatkanmu, Sab. Berhenti menjadi orang misterius. Orang-orang akan berpikir negatif padamu." Omel seorang gadis berusia 20-an yang kini tengah berada di apartement mewah milik sahabatnya.
"Aku tak peduli dengan pemikiran orang, Deena." Sahut seorang gadis bernama Sabrina.
Sabrina Alicia Roberto merupakan gadis berusia 20 tahun bersurai coklat, juga pemilik wajah yang teramat cantik. Sejak kecil, banyak lelaki yang terpikat dengannya. Karena gadis itu benar-benar memiliki paras yang elok layaknya dewi Yunani. Ia pernah mengalami hal tak mengenakan saat sekolah menengah dulu, salah satu gurunya hampir melakukan hal senonoh padanya hanya karena wajahnya yang terlalu cantik. Karena itu ia memutuskan untuk memakai topeng ke mana pun ia pergi.
Sabrina memang tinggal sendirian di Berlin, sedangkan kedua orang tuanya menetap di L.A. Gadis itu merupakan salah satu mahaiswi di kampus ternama.
"Terserah padamu, Sab. Lalu siapa laki-laki yang kemarin itu?" Tanya Deena sahabat karib Sabrina.
"Putra sulung keluarga Digantara, Alfarez Digantara. Aku tahu itu karena dia sangat mirip dengan si playboy Alfarel. Kau ingat kan undangan yang Daddy kirimkan padaku? Di pesta itulah aku bertemu dengannya. Dia menuduhku sebagai penyusup. Karena aku sangat kesal, aku pun menciumnya di depan banyak orang."
"What? Kau menciumnya?" Pekik Deena si gadis berambut pirang itu beringsut dari tidurnya, menatap Sabrina yang tengah mengerjakan tugas salah satu dosennya.
"Ya, dia terus menuduhku seorang penyusup, mengancamku dengan wajah dinginnya yang hampir membuat jantungku membeku. Jadi hanya itu cara untuk membungkam mulutnya."
"Kau gila, Sab? Kau membungkam dengan ciuman? Itu kan ciuman pertamamu. Jangan bilang kau sudah tidur dengannya?"
Sabrina melirik sahabatnya sekilas. "Ck, kamu berpikir berlebihan. Lagipula aku tidak keberatan menciumnya, dia sangat tampan dan bibirnya terasa sangat manis. Kau tenang saja, setelah itu aku langsung kabur dibalik kerumunan orang."
"Aku rasa hidupmu tak akan aman lagi, Sab. Lelaki itu sepertinya mengenalimu dan akan terus mengganggu hidupmu. Keluarga mereka bukan hal yang mudah untuk dihadapi."
"Entahlah, aku malas memikirkannya." Sahut Sabrina dengan malas. Ia menutup macbooknya dan beranjak menuju sebuah ruangan yang masih berada di dalam kamarnya.
"Mau kemana kau? Ini sudah malam, jangan menghabiskan waktu di studiomu itu. Kau bisa sakit dan aku yang akan repot." Teriak Deena yang sama sekali tak dihiraukan oleh Sabrina.
Gadis cantik itu terus melangkah menuju ruangan yang sudah dipenuhi berbagai lukisan hasil karyanya. Ia duduk di kursi kecil, menatap sebuah lukisan seorang lelaki tampan. Sabrina menghela napas gusar. "Kau sangat tampan, tapi sayang kau begitu dingin. Aku benci laki-laki dingin."
Cukup lama ia terdiam, memperhatikan wajah itu dengan seksama. Tatapan itu seakan menyiratkan sesuatu. Setelah itu ia pun kembali ke kamarnya.
****
__ADS_1
Digan't Group
"Katakan apa yang kau dapat, Ansel?" Tanya Arez pada kaki tangannya.
Lelaki berkulit putih bersih itu sedikit berdeham dan mulai mengutarakan semua informasi yang ia peroleh.
"Ia bernama Sabrina Alicia Roberto, gadis berusia 20 tahun dan salah satu mahasiswi di kampus A. Pernah mengalami percobaan pelecehan saat dirinya masih duduk dibangku sekolah. Gadis itu mendapat julukan 'Sang Dewi' karena kemolekan yang ia miliki. Setelah pelecahan itu, ia menutup wajahnya. Menghindari godaan para lelaki. Untuk orang tuanya, tidak ada petunjuk. Data keluarga gadis itu tersembunyi. Sepertinya seseorang menutupinya. Tapi ada yang bilang keluarganya berada di L.A. Tidak ada organisasi apa pun yang gadis itu ikuti." Jelas Ansel panjang lebar. Arez menang meminatnya menyelidiki gadis bernama Sabrina itu.
Arez menopang dagu diatas kepalan tangannya. "Roberto? Kenapa aku merasa tak asing. Segera cari tahu seluruh marga Roberto di L.A. Kau bisa kembali ke ruanganmu, Ansel."
"Baik, Tuan." Jawab Ansel yang langsung beranjak pergi dari ruangan Arez.
"Sabrina, kita akan bertemu lagi." Gumam Arez tersenyum Devil. Selanjutnya ia pun melanjutkan pekerjaanya.
Sedangkan di tempat lain, Arel terlihat memasuki mansion dengan langkah cepat. Sudah dua hari ia tak bertemu dengan Sky ataupun putranya. Rasa rindu dihatinya tengah memuncak kali ini.
"Maaf, Tuan Muda. Anda dilarang memasuki mansion, ini perintah Tuan besar." Dua orang lelaki bertubuh besar menahan langkah Arel.
"Kalian berani mengalangiku untuk masuk ke rumahku sendiri?" Tanya Arel nyaris tak percaya. Ia tak pernah menyangka Mommynya benar-benar memisahkan dirinya dan Sky.
"Cih, menyingkir atau aku akan membunuhmu." Ancam Arel. Ya, itu hanya sebuah ancaman karena tak mungkin ia membunuh orang.
"Maaf, Tuan." Dua orang itu sama sekali tak goyah dengan ancaman Arel.
"Sialan." Kesal Arel mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mom! Apa kau tega membuat anakmu mati karena merindukan anaknya? Jika dalam hitungan tiga, pintu tak terbuka. Aku akan menyakiti diriku sendiri." Teriak Arel sekencang mungkin. Berharap sang Mommy mendengar dan membuka pintu untuknya.
"Satu."
"Dua."
__ADS_1
"Tiga." Pintu itu masih tertutup rapat. Tentunya membuat Arel semakin frustasi.
"Mom, aku benar-benar akan melukai diriku sendiri. Kalian menginginkan itu kan? Baiklah." Arel mengedarkan pandangan ke penjuru halaman. Sampai matanya menangkap sebuah sekop tanaman. Dengan gerak cepat ia mengambil benda itu dan kembali pada posisi awal.
"Mom." Teriaknya lagi sembari mengarahkan sekop itu ke arah lehernya. Meski benda itu kecil, tapi mampu menembus lehernya. Dan Arel tak main-main dengan ancamannya kali ini. Ujung runcing benda itu mulai menyentuh lehernya, merobek kulit lehernya perlahan. Arel tahu saat ini ada seseorang yang tengah memantaunya melalui CCTV.
Arel memejamkan mata saat merasakan perih di lehernya, bahkan darah segar mulai menetes. Dirinya benar-benar nekat. Ia lakukan itu hanya untuk bertemu kekasih dan anaknya. Tidak lama, pintu mansion pun terbuka dan menampakkan sang Mommy yang kini memberikan tatapan tajam padanya. Juga sebuah kemoceng di tangannya.
Sweet berjalan cepat menghampiri putranya, memukul Arel tanpa ragu dengan kemoceng itu. Arel yang terkejut pun langsun menjatuhkan sekop ditangannya.
"Brengsek! Kau ingin bunuh diri bukan? Lakukan itu di tempat lain, jangan di sini. Kau pikir aku akan mengampunimu huh?" Sweet terus menghajari putranya tanpa ampun.
"Mom, awh... ampun. Aku hanya ingin bertemu putraku." Arel pun mengambil kesempatan emas, ia berlari masuk kedalam.
"Sialan! Dasar anak nakal." Kesal Sweet menyusul putranya masuk ke dalam. Ia benar-benar dibuat emosi oleh putranya yang satu itu.
"Awh... sakit Mom." Ringis Arel saat Sweet mengobati lukanya. Ya, saat ini keduanya sudah berada di ruang tengah. Mata Arel terus menerawang ke seluruh penjuru mansion. Berharap menemukan sosok yang ia rindukan. Sweet yang menyadari itu menekan luka di leher putranya. Sontak Arel pun menjerit kesakitan.
"Mata itu di jaga, kamu mau cari siapa huh? Jangan harap bisa bertemu dengan menantu Mommy." Protes Sweet sambil memasang perban di leher putranya.
"Jika dia menantu Mommy, itu artinya dia istriku, Mom. Apa salah seorang suami merindukan istrinya." Arel berusaha memanfaatkan suasana.
"Dalam mimpi saja, ini hukuman untukmu karena sudah melanggar norma agama kita."
"Mom, biarkan aku bertemu putraku. Kali ini saja, Mom." Arel terus memohon. Ia tak bohong kali ini. Bertemu dengan Gabriel saja itu sudah cukup.
Sweet terdiam sejenak. Sebenarnya ia juga tak tega melihat Arel memohon seperti ini. Namun ia masih harus memberikan anak itu pelajaran. "Okay, hanya lima menit. Tunggu di sini, Mommy akan membawa Gabriel turun."
"Kenapa tak membiarkan Sky yang datang Mom."
Sweet yang mendengar itu langsung memelototi putranya. Arel menghela napas pasrah. "Okay... Gabriel saja sudah cukup."
__ADS_1
"Lagian Mommy tak akan membiarkan kamu bertemu Sky walau ancaman kamu bunuh diri sekali pun." Sweet pun langsung melenggang pergi dari sana.
"Hah, sepertinya aku harus bersabar sampai waktu itu tiba. Mommy menghancurkan semua rencanaku untuk memberi pelajaran padanya. Tapi tidak jadi masalah, setelah aku menikahinya. Aku akan menghukum gadis nakal itu tanpa ampun." Arel pun mengeringai penuh muslihat.